Bidadari untuk Raka

Ada Makna Tersembunyi

Raka melihat prospek ke depan dari bisnis di bidang aplikasi, ternyata memang memiliki potensi bisnis yang baik. Apalagi, aplikasi yang sedang disiapkannya adalah aplikasi berbasis baca novel gratis, dan novelnya sendiri adalah novel Islami. Ternyata, ketika membuka data lengkap di Google play maupun Play store, belum ada yang merupakan khusus novel Islami. Semua novel umum dan begitu ramai pembaca, pangsa pasar masih luas.

Raka tersenyum.

Aplikasi membaca novel Islami dan gratis pasti akan menjadi daya tarik bagi para peselancar internet, apalagi yang hobi membaca novel dan diarahkan dengan novel Islami yang Indonesia sendiri merupakan mayoritas beragama Islam.

Sangat tepat!

Peluang tinggi, apalagi ketika membaca satu novel milik Sarah dia yang awalnya tak suka novel tiba-tiba ingin membaca dan terus membaca sebelum ending novel seolah tersihir.

Raka pun tersenyum. Dia sudah memahami alur bagaimana mendaftar menjadi provider hanya tinggal bagaimana memulainya. Selanjutnya, urusan teknis dan development bisa sambil berjalan dan sambil belajar. Malam itu, Raka hampir lupa pada suasana yang makin hening, dia mengotak-atik laptopnya dan membuat web situs untuk dijadikan preview pada aplikasinya nanti.

Sudah jadi. Tinggal mulai posting untuk novel, untuk masuk ke Playstore dan lainnya tentu saja menunggu web siap terlebih dahulu.

Raka mengambil Hpnya, dan chat nomor Sarah. Dia meminta kepada Sarah untuk mengirim naskah novelnya dalam bentuk biasa, word kemudian dikirim lewat chat dan dikirim dokumen asli.

Pesan terkirim.

Raka menunggu balasan sambil mengotak-atik template kembali agar tampilan aplikasinya nanti lebih mudah dibaca ketika ada pembaca yang membacanya. Tampilannya juga harus friendly agar pembaca betah dan tidak logout atau menghapus aplikasinya.

Sekitar setengah jam kemudian, ada chat balasan.

“Kak Raka kok belum tidur?”

Raka melihat chat itu. Raka pun menggelengkan kepalanya, diminta kirimkan naskah malah tanya belum tidur segala. Raka pun kembali mengetik chat untuk membalasnya, dan mereka pun berbalas chat.

“Sudah kirimkan saja, urusan tidur bisa lain kali. Segera!”

“Baiklah! Saya kirim segera.”

Beberapa detik kemudian ada sekitar 10an dokumen dalam bentuk word terkirim lewat chat dengan format document.

“Baik! Saatnya upload buat persiapan aplikasinya.”

“Dasar kak Raka!”

“Kenapa?” Raka heran dengan chat Sarah.

“Lihat jam!”

Lihat jam? Raka pun kemudian melihat hpnya, Masyaallah! Raka terkaget begitu melihat jam pada hp-nya. Pukul 04 pagi. Jadi…, benar Raka tak menyadari karena begitu asyik dan begitu sunyi bahkan itu sudah pukul 04.00 pagi. Pantas saja, Sarah bertanya belum tidur.

Raka mengusap wajahnya, ya Allah. Ditutupnya laptopnya perlahan, bisa dilanjutkan nanti lagi. Waktunya shalat terlebih dahulu, setidaknya witir lalu kemudian sedikit merebahkan tubuhnya sebelum adzan subuh datang.

Raka pun beranjak dan mengambil air wudhu segera. Kesegaran menyelimuti dirinya, ketenangan dan juga kejernihan hati dan pikirian segera didapatkan. Saatnya shalat.

***

Raka menstater motor maticnya, saatnya berangkat sekolah untuk kembali bertemu dengan murid-muridnya dan berbagi ilmu bersama.

Suasana sekolah kini berbeda jauh, setelah penangkapan beberapa siswa kemarin mereka pun menjalani rehabilitasi bagi yang menggunakan narkoba. Sedangkan, bagi mereka yang juga menjadi bagian dari kenakalan pelajar meskipun tak memakai narkoba akhirnya ditertibkan dengan diberi pelajaran lebih intensif soal moral oleh Bimbingan Konseling sekolah dan juga oleh guru agama.

Raka ikut serta dalam pembinaan moral pelajar di sekolahnya, terkadang bekerjasama dengan guru agama dan guru BK dari sekolah lain.

Pembinaan berkelanjutan ini diharapkan dapat menjadi pencegah yang baik bagi kenakalan remaja dan membuat mereka sibuk dengan kegiatan positif yang menjauhkan mereka dari tindak kekerasan antar pelajar.

Beberapa mafia yang terlibat pun dapat diberantas perlahan dengan informasi dari para pengedar yang tertangkap. Jaringan narkoba memang masih selalu ada, namun penyebarannya dapat diminimalisir terutama bagi pelajar sekolah. Mereka adalah masa depan Negara ini, jadi kalau mereka dirusak, alangkah suramnya masa depan Negara juga.

Raka menghembuskan napasnya perlahan. Perjuangan masih harus terus dilakukan untuk membina generasi muda.

“Pak Raka sudah makan?” Suara lembut dari seorang wanita, nampak agak ragu dan dia berdiri di dekat Raka yang tengah duduk.

Iffah?

“Eh… Eh Alhamdulillah tadi sudah sarapan Bu Iffah,” Raka terkaget, wajah cantik Iffah tampak sedikit memerah karena dipandang oleh Raka sejenak tadi.

“Apakah Ibu Iffah belum makan?” Raka memberanikan diri bertanya.

“Sebenarnya… saya ingin mengajak pak Raka makan di kantin tapi pak Raka sudah makan. Jadi…”

“Ehm.. baiklah akan saya temani bu Iffah makan. Setidaknya, walau hanya makan kue atau minum teh bisa.”

Wajah Iffah tiba-tiba terlihat berseri, “Baiklah pak Raka. Saya sudah beresan, jadi kita ke kantin?”

Raka pun tersenyum, “Baiklah, Ibu duluan kesana saya akan segera menyusul setelah membereskan beberapa hal disini.”

“Baiklah, sekalian saya ingin membahas soal konseling untuk beberapa siswi.”

“Iya,” Raka membelas cepat.

Iffah pun berjalan keluar dan menuju kantin, sementara Raka bergegas memberesi beberapa buku yang berantakan di mejanya dan menata beberapa buku yang masih terbuka. Apakah Allah menunjukkan jalan bagi kisah cinta asmara bagi Raka? Raka pun tersenyum dan kemudian berdiri dan menyusul ke kantin. Hatinya seolah berdetak gembira, sebagaimana detak jam yang terus berjalan menuju jalan detaknya dengan penuh semangat.

Tuhan! Permudah urusanku dalam urusan menjemput bidadari, begitu doa Raka sambil berjalan menuju kantin.

di kantin, Raka melihat bu Iffah sudah memesan makanan kesukaannya seperti biasa, soto ayam kampung. Raka pun menuju kantin sekolah tersebut dan memesan secangkir kopi. Kantin di sekolahnya sendiri sudah mendapatkan pengawasan ketat agar mengutamakan kebersihan dan kenyamanan sehingga kantin sekolah yang biasanya terlihat kumuh, kini menjadi nyaman dan bersih. Seperti restoran besar yang selalu mengutamakan kenyamanan dan kebersihan pelanggannya.

Raka duduk di samping bu Iffah yang sudah memulai memakan sotonya perlahan dengan sendok. Agak canggung Iffah terlihat memakan sotonya, namun Raka mengetahui dan mencoba menatap lurus agar tak melihat bu Iffah makan.

Beberapa menit kemudian, minuman kopi pun datang. Mereka menikmati pesanan mereka masing-masing sambil mengobrol soal konseling untuk para siswa yang jumlahnya juga bertambah. Selain para siswa yang dibimbing, para siswi juga dibimbing agar lebih mengutamakan moral yang baik; baik bagi orangtua mereka, teman maupun pergaulan mereka.

Raka pun memberikan usul agar bimbingan untuk para siswi sebaiknya dipegang oleh guru wanita sehingga akan lebih cocok dan nyambung dalam masalah psikologi. Berbeda bagi guru lelaki karena kurang memahami kondisi psikologi pada perempuan sehingga lebih tepat untuk para siswi tetap dibimbing namun yang membimbing adalah guru wanita.

Iffah pun menyetujui hal itu karena memang dirasa sesame wanita akan lebih saling memahami dan juga mudah langsung beradaptasi.

Lama berbicara soal para siswa dan siswi dalam bimbingan demi agar mereka tidak terpengaruh dalam pergaulan buruk dan juga kenakalan remaja. Tiba-tiba pertanyaan dari bu Iffah membuat Raka berpikir dalam untuk menjawabnya, pertanyaan soal jodoh.

“Setelah kejadian itu, apakah pak Raka merasa trauma?”

Kejadian itu adalah kejadian pernikahan Azkia, bu Iffah berkata bahwa dia baru tahu soal hubungan Azkia dengan Raka sebelumnya yang memang sudah hampir menikah.

Mereka bertemu saat pernikahan Azkia dan Azzam. Azzam adalah sahabat dari Iffah namun saat itu Iffah belum tahu soal hubungan Raka dan Azkia. Karena merasa percakapan mereka lama terdiam, tiba-tiba Iffah menanyakan hal itu pada Raka karena merasa ingin tahu lebih dalam soal Raka.

“Itu sudah masa lalu bagi saya bu Iffah, seperti matahari yang tenggalam di ufuk barat dan esoknya dia akan bersinar lagi dari ufuk timur. Bagi saya, masa lalu hanyalah rahasia dari masa depan dan batu pijakan untuk melangkah di masa depan.”

Raka menyeruput kopinya, rasanya nikmat dan membuat pikiran segera refresh kembali seolah menyegarkan pikiran.

“Berarti…, pak Raka sudah menemukan pengganti untuk…,” ada sedikit kecewa pada raut wajah Iffah. Iffah mengambil gelas berisi minuman jeruk hangatnya dan meminumnya dua teguk. Kata-katanya seolah terhenti begitu saja.

“Maksud bu Iffah, pengganti?”

“Bukankah tadi pak Raka bilang, seperti matahari yang terbenam dan kemudian terbit kembali. Berarti…, sudah mendapatkan pengganti dari wanita sebelumnya yang akan bapak nikahi?”

Raka baru memahami arti pengganti oleh bu Iffah, dia pun tertawa kecil dan tersedak sekaligus karena kaget.

“Kenapa Pak?”

“Tidak,” Raka terbatuk kecil, “Saya baru paham, jadi maksud saya adalah kehidupan itu seperti hari-hari yang berlalu. Kadang suka dan kadang sedih, namun dunia akan terus berputar dan tak peduli pada siapapun. Jika bukan jodoh, tentu juga tidak akan Allah izinkan dua hati menyatu bukan?”

“Jadi…, pak Raka belum mendapatkan penggantinya?”

Raka kembali tersenyum, “Apakah bu Iffah belum punya calon suami?” Raka membalas pelan sambil menatap wajah indah bu Iffah.

Wajah itu tiba-tiba memerah dan tangannya mencoba menutupi rasa canggungnya dan dia pun menjadi serba salah, “Saya… saya belum ada yang berani ke rumah untuk melamar Pak.”

Keduanya pun terdiam kembali dan sibuk dengan lamunannya masing-masing.

“Saya mencari seseorang yang berani datang ke rumah dan melamar saya dengan sungguh-sungguh. Bukan untuk bermain semata tanpa ikatan yang jelas. Saya masih menunggu pria itu datang pak, doakan saya,” kata-kata Iffah nampak ragu namun seolah menegaskan kalau dia sedang bersungguh-sungguh.

“Kenapa wanita seperti bu Iffah belum ada yang datang melamar? Mungkin, karena bu Iffah terlalu membuat kriteria sehingga lelaki tidak berani dan tidak sesuai standar dari bu Iffah. Mungkin?” Raka mencoba menerka sambil terlihat bercanda agar suasana tidak kaku.

“Bukan begitu pak Raka. Tapi…? Tapi, memang saya sedang mencari yang sungguh-sungguh saja. Dia yang mau datang ke rumahku untuk meminangku dengan sungguh-sungguh.”

Mata Iffah tajam menatap Raka, Raka pun merasa tersihir oleh pandangan itu seolah itu adalah pandangan permintaan bahwa dirinya harus berani datang dan menjemputnya.

Benarkah demikian?

Iffah mengalihkan pandangannya pada Raka dan kembali menekuni makanan dan minumannya. Wajah Iffah tiba-tiba tertunduk agak lama menatap meja dan minuman di depannya. Iffah pun terlihat menghembuskan napasnya perlahan dan ada desahan lembut yang terdengar oleh Raka, “Beberapa hari yang lalu, ada lelaki yang datang ke rumah dan ingin kenal lebih dekat dengan saya. Namun…, saya kurang menyukainya.”

Raka pun hanya terdiam mendengarkan kata-kata bu Iffah tersebut yang seolah sedang curhat dan mengeluhkan permasalahan hidupnya.

“Dia…, melamar bu Iffah?” suara Raka agak canggung dan perlahan. Takut menyinggung dan takut salah ucap.

Iffah diam sejenak tanpa mengalihkan pandangannya ke bawah, “Belum…, seandainya…”

Raka masih mendengarkan dan menunggu dengan penasaran kata apa yang akan keluar lagi dari mulut Iffah.

“Ah…, saya sudah kenyang. Maaf Pak, malah curhat dan jadi ngelantur. Kalau begitu saya duluan ya Pak, tiba-tiba saya teringat ada sesuatu yang harus saya kerjakan segera.”

Raka tak menjawab, ada senyuman yang seolah dipaksakan oleh Iffah dan dia menuju ke kasir dan menaruh uangnya begitu saja. Bahkan, kembaliannya pun tidak diambil dan berkata untuk mereka saja. Dia meninggalkan Raka yang masih terduduk diam di kursinya.

Namun, Raka sempat menatap wajah senyuman terpaksa Iffah yang seolah terpaksa tadi. Bahkan…, Raka menangkap ada butiran bening yang jatuh dari wajah bersih bu Iffah yang sempat ditangkapnya.

Kenapa?

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!