Bidadari untuk Raka

Kamu Sebaiknya Berhenti

Meski nampak biasa bagi orang yang beruang, namun bagi Raka itu adalah rumah yang sangat mewah. Raka pun agak minder kembali ketika melihat rumah besar itu dan dia berada di depan gerbangnya. Bahkan mungkin, rumahnya sendiri jika dibuat gerbang rumah itu maungkin setara.

Raka menghembuskan napasnya perlahan, tapi apa mau dikata. Janji adalah janji, apapun yang terjadi, Raka akan melangkah penuh keyakinan.

Setelah memasuki halaman depan itu, Raka memencet bel rumah. Beberapa menit kemudian, ada seorang wanita tua yang membukakan gerbang dan menyambutnya. Raka bertanya lagi untuk meyakinkan, apakah rumah itu adalah rumah Iffah Inshira? Dan, wanita tua itu pun mengiyakan dan bahkan bertanya apakah tamunya itu bernama Raka. Raka mengangguk maka wanita tua itu mempersilakannya masuk dan menuju ruang tamu yang terlihat mewah dan kursi kayu penuh ukiran yang indah dalam pandangan Raka.

“Tunggu Ibu…,” Raka menyapa wanita tua itu lagi ketika dia hendak masuk ke dalam setelah mempersilakan Raka duduk, “Apakah Iffah tidak di rumah?”

Wanita tua itu berbalik menghadap Raka, “Mbak Iffah tadi masih keluar dengan Ibu Helmi. Mbak Iffah diajak belanja sebentar oleh Ibunya itu yaitu bu Helmi. Semoga sebentar lagi pulang karena berangkatnya tadi habis maghrib.”

Raka pun mengangguk, jadi Raka mau tak mau harus menunggu. Bukankah mereka sudah membuat janjian, kenapa Iffah malah pergi keluar? Ah tidak! Raka mencoba berprasangka baik, mungkin saja barang yang akan dibeli adalah penting sehingga mereka pergi sejenak dan katanya tadi bahwa sebentar lagi kemungkinan sudah pulang ke rumah.

Beberapa menit kemudian, wanita tua yang bernama bu Minah itu pun kembali dan membawa minuman teh dalam cangkir berukuran sedang. Bu Minah menatanya di depan Raka tepat dan ada kue cemilan yang juga dibawanya.

“Sebentar lagi, Bapak akan turun dan menemui mas Raka. Beliau bilang tunggu sebentar.”

“Baiklah bu Minah, saya akan menunggunya.”

Bu Minah pun meninggalkan Raka dan mempersilakan dirinya untuk minum teh tersebut. Sepeninggal bu Minah, Raka melihat sekeliling ruangan tamu itu dan melihat ada foto lelaki dan perempuan, serta dua anak kecil mereka. Itu foto lawas, di shet foto yang lain nampak lelaki dan wanita itu terlihat semakin tua dan dua anak kecil tadi sudah dewasa. Satunya adalah Iffah dan satunya lelaki yang tentunya adik dari Iffah.

Masih agak lama, Raka pun mengambil minuman dalam cangkir dan mencoba menyeruputnya meskipun seteguk. Bismillah, masih hangat dan membuat Raka nyaman di perut dan terasa hangat.

“Assalamu’alaikum,” seseorang datang dari arah depan dan masuk karena pintu rumah sudah terbuka. Seorang pemuda dengan kaos panjang kepalanya juga ditutupi dari bajunya, hoodie. Pemuda itu sekitar berumur 17 an tahun dan mungkin dia juga masih sekolah menengah atas. Pemuda itu masuk dan melihat Raka sejenak, dia pun tersenyum dan menghampiri Raka.

“Apakah anda temannya mbak Iffah?”

Raka tersenyum dan langsung menerima uluran tangan pemuda itu, “Benar, saya temannya mbak Iffah. Apakah kamu adiknya?” Raka teringat foto yang tadi dilihatnya di dinding, mirip dengan foto tersebut.

“Benar, nama saya Rizki,” Rizki pun tersenyum pada Raka.

“Baiklah, saya adalah Raka, guru di sekolah tempat mengajar mbak Iffah.”

Keduanya langsung terlibat pembicaraan akrab. Rizki menaruh tasnya seenaknya di bangku sebelahnya. Mereka terlibat perbincangan, bahkan Rizki antusias bertanya soal kenakalan remaja yang terjadi di sekolah tempat Raka mengajar. Berita dan media sudah memberitakan hal itu, bahkan kakaknya Iffah juga sempat disandera oleh para penjahat itu.

Rizki juga bercerita bahwa ada polisi yang beberapa kali datang dan terlihat akrab pada orangtuanya. Lelaki polisi itu yang membawa Iffah pulang setelah kejadian penangkapan tersebut.

Rizki pun terkadang diceritakan oleh Kakaknya, Iffah soal kejadian kenakalan remaja di sekolahnya dan bercerita sedikit soal Raka yang menjadi pahlawan saat memisahkan tawuran antar siswa terjadi.

Dengan antusias, Rizki terus bertanya soal awal mula kejadian dan hingga terjadi penumpasan dan penangkapan para pelaku. Bagaimana para siswa ada yang terjerumus dan menjadi pecandu serta bagaimana mereka mendapatkan uang dengan memalak para siswa sekolahan. Rizki mendengarkannya dengan seksama, psikologi Raka memang tepat ketika berbicara dengan seorang pemuda, dia paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka sehingga tidak terkesan menggurui.

“Apakah kak Raka juga pintar berkelahi?”

Pertanyaan seperti itu memang sering ditanyakan para pemuda, seolah dengan punya atau belajar ilmu beladiri terkesan keren bagi para remaja. Benar saja, jika hal itu menjadi tren yang disukai, maka kekerasan antara remaja menjadi hal wajar karena mereka ingin memamerkan kemampuannya.

“Dulu, Kakak hanya belajar sebentar saja.”

Semakin lama mereka semakin akrab. Rizki sendiri sampai lupa kalau selama dia berbincang kakaknya yaitu Iffah kenapa belum muncul.

“Apakah mbak Iffah tadi sudah menemui Kakak? Kenapa kok belum keluar daritadi sih.”

Raka menjelaskan kalau Iffah sedang keluar sebentar dengan Ibunya untuk membeli keperluan atau belanja barang. Bu Minah tadi juga mengatakan bahwa Iffah diajak Ibunya keluar sebentar untuk berbelanja.

Rizki sendiri pun merasa agak aneh, bukankah pak Raka sudah janjian datang ke rumah, tapi kenapa mereka malah keluar? Tak biasanya kakaknya itu pergi belanja pas ada janji dengan orang lain.

“Apakah kak Raka akan bersaing dengan polisi itu?”

Raka mengerutkan keningnya tanda ada yang dipikirkannya, dia tak paham maksud perkataan dari Rizki itu, “Makasud kamu…, bersaing bagaimana?” Raka agak memelankan ucapannya.

Rizki diam sejenak dan mulai memajukan kepalanya perlahan dan membuat suara yang agak pelan, “Polisi yang datang itu, namanya kak Hamid. Dia juga naksir sama mbak Iffah, bahkan sudah resmi meminta izin pada Bapak bahwa dia menyukai mbak Iffah. Maka dari itu, apakah kak Raka juga datang untuk bersaing dengan polisi itu. Wah keren nih, harus terus berjuang ya Kak!” Rizki seolah memberi semangat dan mengepalkan tangannya ke depan, mensupport Raka, Raka pun tersenyum namun di sisi lain di hatinya juga baru paham bahwa sudah ada yang menyatakan cinta pada Iffah sebelum dirinya.

“Kamu ini bisa saja berpikir seperti itu Rizki,” Raka menyungging senyum mencoba bersikap santai.

“Eh benar Kak, kalau Kak Raka suka dengan mbak Iffah, maka kak Raka harus berjuang lebih ekstra. Apalagi, Ayah kami galak lho Kak.”

Ucapan Rizki itu langsung menghunjam dalam perasaan Raka, meski Iffah adalah wanita yang akan menjadi dambaan banyak pria karena parasnya yang bersih dan cantik. Namun juga, keadaan ekonominya sudah mapan dan apalah dirinya yang bahkan hanya seorang pegawai honorer.

“Dan lagi Kak…”

“Ehm…”

Belum sempat Rizki menyelesaikan perkataannya, seseorang sudah datang dari ruangan dalam sambil berdehem. Wajahnya nampak terlihat ovale, perutnya agak besar dan memakai baju kemeja bersih berwarna biru tua.

“Anda pak Raka?” Lelaki itu menghulurkan tangannya kearah Raka, Raka pun berdiri dan menyalami lelaki itu.

“Ayah, ini adalah pak Raka…” Rizki mencoba mengenalkan Raka pada Ayahnya itu namun sudah dipotong dulu oleh Ayahnya.

“Sudah Rizki, kamu masuk dulu saja. Lihat kamu belum cuci tangan dan mengganti bajumu. Bau sekali, sudah sana!”

“Baiklah Ayah!” Rizki paham dan segera mengambil tasnya dan masuk ke ruangan. Sepertinya, dia baru memahami jika ada percakapan penting antara ayahnya dan Raka, apakah menguping itu boleh? Asyik bukan? Begitu imajinasi Rizki tiba-tiba muncul.

Di ruang tamu itu pun akhirnya mereka bertemu. Lelaki yang merupakan Ayah dari Iffah dan Rizki itupun duduk di kursi dan bersebelahan dengan Raka. Raka terlihat agak salah tingkah, namun hanya sejenak dan keduanya pun terlihat lebih biasa beberapa saat.

“Pak Raka, Kamu sebaiknya berhenti.”

Tak ada angin atau hujan, tiba-tiba jantung Raka seolah terhenti dengan ucapan tiba-tiba dari lelaki yang duduk itu. Lelaki tua itu menatap Raka tanpa ekspresi dan seolah seorang hakim yang tengah menghakimi terdakwa dalam persidangan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!