Bidadari untuk Raka
Permintaan Nisa
Hari berganti hari, dan beberapa minggu terlewati. Dan hari itu, Raka berangkat sekolah seperti biasanya. Program yang sudah dibangun beserta Sarah sudah hampir siap, cukup sulit menyiapkan semua piranti dan hal-hal penunjang. Raka bahkan harus sibuk untuk belajar dengan seorang developer dan memintanya membantu untuk menjalankan semua progresnya.
Siang itu, Iffah seperti biasa masuk ke ruangannya. Namun, sepertinya dia dari tadi Nampak gelisah. Raka paham pasti ada sesuatu, tapi Raka mencoba untuk tetap tenang.
Dan, setelah keberanian Iffah muncul. Dia mendekati meja Raka.
“Assalamu’alaikum pak Raka,” suara Iffah Nampak ragu.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” Raka juga kaget dan akhirnya menggerakkan kepalanya dan mengangguk, “Aa. ada yang bisa saya bantu, bu Iffah?”
Raka terlihat grogi, sudah cukup lama mereka tidak berbincang.
Iffah mengeluarkan sesuatu dari belakang tubuhnya, sebuah kertas dan dia menyodorkan kertas itu ke meja di depan Raka.
Undangan pernikahan!
“Saya harap, pak Raka bisa datang ke acara pernikahan saya.”
Deg!
Jantung Raka hampir saja terlepas, dia kaku dan gemetaran. Untuk beberapa detik, tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Raka memejamkan matanya untuk beberapa saat dan membukanya segera. Dia harus kuat. Dia sudah menjalani banyak hal, dan dia pun terbiasa dengan hal seperti ini.
“Selamat ya Bu, semoga Allah mempermudah segala urusan bu Iffah. Saya insyaallah akan datang.”
Raka mencoba menguatkan ucapannya, meskipun begitu suaranya masih terlihat bergetar.
“Terima kasih, pak Raka.”
Iffah berbalik dan meninggalkan meja Raka, meskipun sebenarnya Iffah mencoba memberanikan diri untuk melakukannya. Dia masih menyimpan hati pada Raka, tapi dia sudah menganggap bahwa Raka memang tidak mengharapkannya. Hal itu karena setelah kedatangannya dulu, tidak ada perubahan apapun dan tidak terlihat niat apapun dari Raka untuk melanjutkan hubungan mereka.
Mungkin, inilah takdir. Iffah pun mencoba untuk menerima lelaki yang sudah melamarnya dan sebentar lagi akan menikah dengannya. Takdir harus dijalani, hidup akan terus berjalan.
Dan, hati keduanya sedang meresapi takdir yang menimpa mereka berdua. Jalan Tuhan tentu adalah jalan yang terindah.
***
Telepon Raka bordering, saat itu Raka sedang makan bersama ibunya. Raka membersihkan tangannya dan melihat siapa yang menelepon. Itu adalah nomor Nisa? Kakak dari Farel.
Raka mengangkat telepon tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu, mbak Nisa?”
Dan, obrolan mereka berlanjut cukup lama. Nisa membutuhkan Raka karena mendapatkan informasi bahwa Raka bisa mengisi acara agama. Farel yang menceritakan hal itu, Raka sering mengiji pesantren di sekolah. Pengisian Raka sangat baik menurut Farel. Raka juga mengisi kajian di tempatnya, hal itulah yang didapatkan oleh Nisa.
“Jadi …, calon dokter menjadi detektif juga?” goda Raka.
Jadi intinya, Nisa mendapatkan tugas akhir untuk membuat penelitian akhir. Apakah ketenangan hati pasien yang sedang sakit bisa membuat sakitnya cepat sembuh. Mentalitas dari jiwa yang sehat dan bahagia, menurut ilmu jiwa mampu menambah kekuatan fisik untuk sembuh.
Raka pun mendengarkan pernyataan dari Nisa. Jadi, tugas akhir itu adalah penelitian Nisa selama satu bulan di Rumah Sakit yang sudah dituju. Seminggu sekali, Nisa mengharapkan bantuan Raka untuk mengisi kajian spiritual agar para pasien yang diteliti kesehatannya oleh Nisa mendapatkan pencerahan dan ketenangan hati.
Tentu saja, pasien yang sudah dipilih adalah beragama Islam. Raka cukup bingung untuk menolak permintaan dari Nisa. Nisa mengatakan tak mengenal banyak guru agama yang bisa diajaknya. Dia mendapatkan informasi dari adiknya, bahwa pak Raka adalah ustadz.
“Farel pasti sedang menggodaku?” Tanya Raka.
Pada akhirnya, Raka tak bisa menolak permintaan dari Nisa. Tentu saja, Nisa tak mau membebani Raka dan hanya memintanya memberi kajian seminggu sekali. Setelah satu bulan, Nisa akan membuat laporan tentang penelitiannya tersebut.
Jadwal pun dibuat oleh Nisa disesuaikan dengan jadwal Raka agar tidak mengganggu aktifitas Raka.
“Sekali lagi …, terimakasih pak Raka.”
“Baiklah mbak Nisa.”
***
Hari yang ditentukan, Raka bertemu di sebuah Rumah Sakit dan Nisa sudah menunggunya di sana.
Raka pun masuk dalam sebuah ruangan yang cukup besar, itu seperti sebuah aula di Rumah Sakit. Dua puluh pasien yang ada di sana, ada yang terbaring dan juga ada yang duduk di kursi roda. Nisa ada di antara mereka dan memeriksa mereka bergantian.
Nisa memperkenalkan Raka pada para pasien. Raka pun sedikit bingung, bagaimana Nisa bisa melakukan hal ini? Tentu dia membayar mahal dengan meminta penelitian yang seperti ini.
Raka pun dipersilakan Nisa setelah Nisa memulai dengan kata sambutannya. Raka memberikan motivasi pada para pasien dengan hadits-hadits Nabi saw.
Salah satunya hadits tentang keadaan seorang Muslim yang sangat mulia dengan menakjubkannya seorang muslim tersebut.
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).
Penjelasan demi penjelasan Raka, membuat para pasien tersihir tentang kehidupan kita yang harus bersyukur. Bahkan, bu Nisa tersenyum puas. Dia tak menyangka bahwa Raka adalah seorang dai atau penceramah yang hebat!