Bidadari untuk Raka
Sarah yang Tersipu Malu
Malam kembali menyapa, bulan menampakkan dirinya kembali dan menggantikan tugas matahari yang sudah lelah melakukan tugasnya. Meskipun tak benar, sebenarnya matahari tetap berpijar, hanya saja dengan perputaran sehingga seolah-olah malam tak berpijar padahal dia tengah menunjukkan teriknya di belahan bumi sebelah lainnya.
Rahmiza shalat di dekat kamar pasien, Raka mengimami shalat Isya. Mereka khusyuk, Raka masih terduduk bersandarkan bantal di belakang punggungnya. Perutnya yang terluka masih kadang nyeri saat bergerak terlalu banyak.
Raka membaca surat Al-Waqi’ah dalam shalatnya meskipun tidak sampai selesai. Ruangan itupun seolah dipenuhi cahaya yang indah dan menyejukkan bagi siapa saja.
“Idzaa waqo’atil waa qi’ah,” Raka membacanya begitu meneduhkan. Menghayati arti dalam ayat yang dibaca akan menjadikan seseorang memahami dengan baik dan bisa merasakan dengan baik tentang ayat yang dibacanya. Ayat pertama itu tentang pengandaian jika kiamat terjadi saat ini. Apabila terjadi hari Kiamat (QS. Al-Waqi’ah: 1).
“Laysa liwaq ‘atihaa kadzibah,” seluruh langit ruangan di kamar itu seolah ikut berdzikir bersama, beberapa nyamuk yang ada di kamar pasien itu seolah diam seribu bahasa, menempel di tembok dan mereka pun menimpali dengan dzikir terbaik mereka. Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal). (QS. Al-Waqi’ah: 2)
“Khoo fidhotur roo fi’ah,” malaikat pencatat seolah tak mau melewatkan sekejappun raga dan hati seseorang dari catatan yang mereka buat. Semua, akan dipertanggungjawabkan. Hal remeh dan hal besar, semua dipertanggungjawabkan. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (QS. Al-Waqi’ah: 3).
Dunia ini akan binasa, jika demikian tak ada yang perlu ditakutkan dari dunia ini. Semua hal merupakan ciptaan Allah swt, jadi yang bisa memberi manfaat dan mudharat hanyalah Allah swt. Setiap muslim wajib berserah diri dan ikhtiar, agar mendapatkan ridha Allah dan mendapatkan petunjuk serta keberkahan dariNya.
Ketika kiamat terjadi, orang yang mulia sebenarnya akan terlihat. Bisa jadi, orang yang terlihat mulia saat di dunia dulu akan terhina nanti di akhirat. Juga, orang yang di dunia seolah menjadi biasa dan diremehkan, bisa jadi di akhirat mereka adalah penduduk langit yang terkenal dan mendapatkan predikat mulia di hadapan Allah swt.
Ibadah adalah jalan mendapatkan ridha Allah, itulah inti dari ibadah sesungguhnya.
Raka salam pada shalat berjamaahnya dengan Ibunya, mereka pun meneruskan dengan dzikir sebagai pelengkap dalam shalatnya.
Shalat sudah ditunaikan, Raka meraih Qur’an di meja dekat dengan kamar tidurnya. Dia membaca Qur’an yang dibawakan oleh Ibunya, beberapa menit ketika membaca Quran, terdengar salam dari balik pintu. Suara wanita yang cukup dikenal oleh Rahmiza dan Raka. Bu Fatma Wati, teman baik ibunya.
Rahmiza bergegas mendekati pintu dan membukakan pintu. Benar, dia adalah Fatma temannya. Mereka berangkulan, dan saat Rahmiza melihat di dekat Fatma, dia melihat sosok gadis cantik dengan jilbab warna biru mudanya.
“Ini…” Rahmiza sedikit menebak, apakah benar itu adalah puteri dari Fatma temannya, sepertinya memang sudah beberapa tahun Rahmiza tak bertemu dengan puteri dari Fatma. Dulu saat bertemu dia masih Sekolah Menengah Atas.
“Benar… dia Sarah, kamu pangling ya?” ucap Fatma
Sekali lagi, Rahmiza menatap gadis itu. Gadis itu telah menjelma menjadi sosok yang cantik sekarang, tak terasa waktu seperti seolah seperti angin yang berlalu dengan cepat.
“Kudengar nak Sarah kuliah di Yogyakarta, tahu-tahu sudah besar saja, apalagi kalau misal beberapa tahun tak bertemu lagi. Kamu pasti sudah bawa anak,” Rahmiza menggoda anak gadis dari temannya itu.
Wajah Sarah Nisaka nampak tersipu malu mendengar kata anak, bahkan calon suami saja dia belum ada.
Ayah Sarah tak bisa ikut menengok Raka karena di rumah ada aktivitas, selain itu di rumah juga menjaga Fadil. Sarah memang jarang pulang karena harus menyelesaikan sarjananya di Yogyakarta, selain itu juga sibuk dengan aktivitas hobinya, menulis novel, dia sangat menyukai sastra.
“Kita ngobrolnya malah disini, kalian kesini kan menengok Raka bukan? Ayo masuk dulu kita bicara di dalam saja,” Rahmiza sampai terlupa karena bertemu teman lamanya saat sekolah dulu. Dia pun segera mempersilakan tamunya masuk untuk menjenguk Raka.
“Iya, seperti biasa, kalau udah ngobrol kita jadi lupa sedang dimana,” Fatma menyahut.
Sarah pun hanya geleng kepala, kedua sahabat itu memang selalu ramai jika berbicara. Meskipun sudah menjadi ibu-ibu, tetap saja seperti geng muda kalau sudah bertemu, “Iya bu Rahmi, padahal tadi Ibu kesini niatnya khawatir pada Kak Raka.”
Mereka bertiga pun tertawa ringan dan akhirnya mereka masuk. Ibu Fatma melihat kondisi Raka dan mendoakan kesembuhan padanya, semoga lekas sembuh dan dapat beraktivitas kembali seperti biasanya.
Meski berbicara renyah dan ramai, namun yang ramai hanya Rahmiza dan Fatma sedangkan Sarah dan Raka sering hanya mendengarkan saja dan hanya beberapa kali menimpali karena kedua itu sangat ramai jika bertemu, seperti biasanya. Raka sempat menatap tak sengaja wajah Sarah, Sarah pun demikian. Pandangan mereka bertemu sekejap, lalu keduanya langsung gugup kembali dan mengalihkan pandangan.
“Eh, kalian dulu itu sering bermain bersama lho. Bahkan, Raka sering mengajari tugas sekolah Rahma. Raka gak ingat sama puteriku yang cantik sedunia ini?”
Sarah tersipu malu, wajahnya menjadi merah padam, :”Ibu…, malu kan Sarah. Masak puterinya sendiri dipermalukan.”
Manjanya Sarah itu tertangkap oleh sekilas pandangan Raka, nyatanya meski dulu sering bersama saat kecil dan tak punya perasaan apapun namun nyatanya berbeda dengan sekarang. Apa memang karena usianya memang tengah menghadapi banyak godaan terhadap wanita dan dia memang merindukan sosok yang dapat menenangkan pikirannya?
Raka pun mengalihkan pandangannya dan lebih menatap Ibunya dan bu Fatma. Sarah pun demikian. Namun, pandangan Raka tiba-tiba tertuju pada sebuah buku yang dibawa oleh Sarah, sebuah buku berjudul, ‘Lembaran Hujan.’ Pandangan Raka semakin menajam kesana, sebuah novel?
“Sarah suka membaca novel ya?”
Sarah segera tersadar kembali, dia memang sedari tadi membawa novel tersebut dan ternyata Raka malah fokus kearah Novel yang dipegangnya. Sesekali, Raka juga suka membaca novel Islami. Raka biasanya akan membaca saat suasana longgar dan sedang tidak ada jadwal aktivitasnya.
“Nak Raka ini. Anak gadisku ini memang suka menulis novel, itu adalah salah atu hasil karyanya yang baru saja terbit dan dia ingin membacanya untuk mengecek dan siapa tahu ada yang salah tulisannya,” Fatma langsung saja menjawab pertanyaan Raka dan seolah mewakili putrinya karena khawatir puterinya sulit menjelaskannya sendiri.
“Jadi…,” Raka berpikir sejenak, seorang Novelis?
Raka melanjutkan ucapannya sambil lebih serius matanya, “Sarah seorang Novelis?”
Raka seolah masih tak percaya dengan hal itu. Memang, dulu waktu kecil dan remaja mereka pernah akrab, tapi tak lama. Itupun karena kedua ibu mereka kadang bertemu dan teman lama. Raka juga terkadang mengajari pekerjaan rumah Sarah, namun tak menduga kalau ternyata Sarah menulis buku.
“Boleh Kakak pinjam untuk mengisi waktu luang?”
Pangan mereka pun bertemu kembali.
“Silakan Kak, masih ada di rumah juga. Rilisan terbaru dari novel ini saya diberi gratis 5 eksemplar, ini boleh buat Kakak.”
Sarah mendekat kearah Raka dan menyerahkan novel yang cukup tebal berjudul ‘Lembaran Hijau.’ Covernya cukup menarik dan tentu saja kualitas untuk novel yang sudah berani cetak memang sudah diakui oleh penerbit tersebut sebagai karya yang layak untuk dipasarkan.
“Baiklah terima kasih, Kakak akan membacanya,” Raka memegangi novel itu sambil tersenyum kearah Sarah.
“Sekalian jangan lupa koreksi kalau ada yang salah ketik, juga kalau ceritanya kurang menurut Kakak bisa untuk memberi saran agar Sarah bisa memperbaikinya di kemudian hari.”
Raka tersenyum, “Dasar Penulis, selalu seperti itu mereka sangat suka mempromosikan tulisan mereka.”
Sarah kembali tersipu malu.
Kedua orang ibu di sekitar mereka; Rahmi dan Fatwa ikut tersenyum.
Langit malam sudah gelap sekarang. Fatma dan puterinya itu pun berpamitan, rumah mereka tidak terlalu jauh karena Rumah Sakit tempat menginap Raka memang dekat dengan tempat tinggal mereka.