Bisikan Pembalasan
Treachery
’Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. ’
Manusia diciptakan sebaik-baiknya oleh Allah. Jika Allah memulyakan anak adam (manusia), kenapa ada orang yang meremehkan orang lain? Apakah nilai kuasa manusia lebih tinggi dari Allah? Kenapa ada orang yang menganiaya dan melecehkan orang lain?
Kehendak Allah dalam menciptakan kesempurnaan manusia, merupakan keutamaan bagi umat manusia. Maka, ’Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaanNya) dan menentukan kadar (masing-masing) serta memberi petunjuk, ’ karena setiap manusia telah diberikan kadar atas fitrah penciptaannya masing-masing. Tapi, ketetepan dan takdir Allah itu, meski dijemput dan diusahakan. Ada sebab, maka takdir akan dijadikanNya.
Berarti harus berusaha, sekuat tenaga! Dedi mencermati setiap kata-kata dalam buku pinjaman pak Mahfudz itu. Ketidakberdayaan, kelemahan, ketakutan memanglah wajar. Tapi, tidak sepantasnya harga diri selalu diremehkan. Ada nyala yang berkobar, ada semangat untuk berani. Namun, perasaan sepi dan takutnya memanglah berlebihan. Jika ingat masa kecilnya sendiri, Tuhan..., sejak kecil Dedi telah dididik dengan ketakutan dan ketidakberdayaan.
Ayah yang seharusnya mengajarkan kekuatan dan cinta, telah mengajarkan padanya tentang ketakutan dan pukulan. Sang Ibu yang diharapkan mengajarkan empati dan kasih sayang, tak mampu memberi apa-apa padanya, semenjak sakit karena setiap hari menjadi pelampiasan kemarahan suaminya. Ah! Sudahlah. Dedi tak mau memikirkan masa lalu kelam itu. Dia ingin memulai menatap masa depannya dengan cerah.
Dedi memakai sepatu, dan pergi berangkat ke sekolah. Ayahnya tak pulang, mungkin sedang tugas kembali. Tentu saja, ini menguntungkan bagi Dedi. Tak ada insiden untuknya. Bahkan, sering Dedi berharap ayahnya tak pulang untuk selamanya. Buat apa mengharapkan kedatangan, jika hanya untuk memukuli dan memarahinya.
Dedi melenggang dengan kakinya, saat melihat Ibunya terbengong di kursi tamu, tak ada reaksi tanda-tanda kehidupan di sepasang mata itu. Dedi berhenti, didekatinya tubuh ibunya. Hatinya terenyuh, walau tak pernah merasakan belaian kasih ibunya lagi. Tapi, perasaan ikatan darah itu, telah sama-sama mengalir pernah bersatu.
Didudukkan lututnya ke lantai, tepat di depan kursi ibunya. Dedi meraih tangan kanan ibunya, dikecupnya pelan di bibir dan di keningnya.
”Ibu..., Ibu....,”
Tak ada sahutan, pandangan mata itu tetap saja kosong. Mata yang dipenuhi pengorbanan, sacrifice.
”Dedi berangkat ya?” ada titik airmata yang menetes, Dedi segera menghapusnya. Lalu mulai berdiri, menyongsong matahari pagi yang telah menyemburatkan sinarnya. Ditatapnya mentari pagi itu, ada kemilau yang membuat matanya berkeriyip, membawa semangat baru untuk hari ini. Memulai dengan semangat.
Dan angan sayap imajinasinya, kembali memainkan peran. Hingga sampai ke Sekolah Karya Bakti. Dedi melihat sesosok wanita yang amat dikenalnya, Dedi merasa ingin menyapanya. Wanita itu tengah membelakanginya, dia tengah berbincang dengan temannya.
”Assalamu’alaikum Rahma.”
Rahma terpaku di tempat berdirinya, ada ketidakpercayaan atas pendengarannya. Suara itu? Bukankah? Dengan cepat, Rahma menoleh ke belakangnya.
”Wa’alaikumsalam, Dedi.”
Tatapan mereka bertemu. Dedi tersenyum lebih dahulu, disusul Rahma. Ada senyum ketulusan yang menyatu diantara mereka.
”Kamu...,” Rahma tak berani meneruskan kata-katanya, jari tangan kanannya terangkat, mencoba menunjuk wajah Dedi. benar-benar Rahma merasakan hari ini terlalu beda dengan hari-hari yang pernah dilaluinya. Wajah di hadapannya itu, sangat berbeda dari biasanya. Seolah memang ada manusia baru di hadapannya, teman yang selama ini tak pernah mengangkat wajahnya, apalagi tersenyum demikian manis seperti saat ini.
Dedi memanggut-manggutkan kepalanya. Dikedipkan mata sebelah kanannya, agar Rahma semakin percaya padanya. Bahwa, dia telah memulai hidup baru. Tidak akan lagi hilang kepercayaan dirinya.
”Kau percaya Rahma, ini aku, Dedi Hasanudin.”
Dedi merasa bahagia, selama ini dalam kehidupannya, dia hanya punya satu teman yang demikian baik padanya dan tidak menganggapnya aneh. Dialah Rahma, sang ketua OSIS. Maka, perubahannya itu harus dikabarkannya pada satu-satunya temannya itu.
”Kau hebat Ded.”
”Doakan aku ya?”
”Untuk apa?” Rahma penasaran.
”Aku ingin memulai hariku, dengan baik.”
Dedi tersenyum kembali. Seolah, penderitaan dan ketidakpercayaan dirinya lebur dalam keceriaan hari ini, terserap sinar mentari di hari istimewa ini. Paling istimewa dalam pandangan Dedi.
”Tentu Ded. Oya, aku terlupa sesuatu. Ada titipan untukmu,” Rahma melepaskan tasnya, tangannya masuk ke dalamnya, dan mencoba mencari sesuatu.
Dedi penasaran, ”Untukku?”
”Iya,” Rahma masih sibuk mencari.
Tiba-tiba bel masuk menggema. Dan Rahma belum menemukan apa yang dicarinya.
”Baiklah, nanti saja. Kamu masuk kelas saja dulu. Aku ingin bertemu pak kepala sekolah sebentar.”
”Baiklah,” mereka saling tersenyum, dan melangkah dengan arahnya masing-masing. Dedi terus melangkah masuk, menuju kelasnya. Walau masih penasaran, tapi ditepisnya praduga yang macam-macam. Bukankah sebagian praduga itu adalah dari syetan? Astaghfirullah. Lalu, hatinya menjadi tenang kembali, setenang air danau kala malam purnama.
Langkahnya kakinya terpaku di depan kelas itu, bagai satu denting suara air yang jatuh dari atap, saat itulah matanya menajam. Di ujung koridor sana, terlihat dua orang tengah berjalan, mereka bercanda ria, saling tersenyum. Dan, kedua tangan mereka menyatu. Dedi hampir-hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Itu adalah, Mega dan Roni.
Berarti? Tadi malam.
Tangan kanan Dedi tiba-tiba mengkristal, stiff, kaku dan tegang. Urat-urat di tangan kanannya menyembul keluar, tangan itu mengepal. Menjalar hingga kedua matanya yang menegang, syaraf dalam tubuhnya terasa ingin meledakkan dan memuntahkan semua darah dalam raganya. Perasaan berkecamuk memenuhi otaknya, dia tak ingat lagi tentang dirinya. Adanya kembali ketakutan dan kemarahan yang menyala-nyala.
Seolah hidup ini,
Tergilir tanpa kehendak
Bilakah menemui sebuah puncak
Jika rintang dan durinya teramat dingin dan tajam
Tak mudah, untuk menemukan sempurna
Walau telah kutumbuk dalam kaca-kaca yang pecah
Hingga luka membilur, darah keluar, dan airmata terkuras.
Mata itu kembali menyala, kepala itu tertunduk kembali. Hilang sudah pesona bahagia yang baru berpijar di pagi tadi. Yang ada, kemarahan. Dedi masuk ke kelasnya, pandangannya tertunduk dan mencapai kursinya. Dadanya bergemuruh bagai ombak menggila. Dedi tak memahami apa yang dialami hatinya saat itu, berkecamuk demikian hebat.
Di luar kelas tepat, Mega tengah tersenyum saat Roni pamitan padanya. Dengan manja, tas yang bergoyang-goyang, alisnya yang indah, dan kedua mata lentik itu berpijar. Dia masuk ke kelas dengan gemulai indah, mendekati tempat duduknya, dan duduk di sebelah Dedi yang sempurna menunduk, melihat jari-jarinya yang saling beradu.
”Hai Ded,” Mega menaruh tasnya di lacinya. Tak ada sahutan.
”Bagaimana kabarmu hari ini?”
Tak ada sahutan.
”Ceilee, yang baru jadian nih. Ceria banget nih!” dan suara itu berasal dari Jaka dan Deri menimpali dengan suitan. Beberapa siswa yang lain juga menimpali dengan tepuk tangan dan siulan pula. Kelas riuh, tawa gelak ramai, itulah suasana kelas kala ada yang jadian. Hanya satu yang tetap terdiam, bahkan bibirnya bergetar hebat, keriuhan kelas itu telah membakar hati dan seluruh jiwanya.
”Pastilah ada yang cemburu nih!” Jaka kembali berkoar.
Kenapa cinta yang bersemi
Harus terbakar?
Allah, apa yang terjadi?
Kenapa hatiku gundah?
”Selamat ya Mega,” ”Sejak kapan jadiannya nih!” ”Wah, ada acara makan-makan nih.” Suara-suara serupa telah penuh, menyumpal telinga Dedi. dicobanya bertahan, tapi seluruh emosinya ingin tertumpah.
”Cukup sudah!” sebuah teriakan.
Seluruh siswa dalam kelas itu terdiam. Bibir-bibir mereka bagai bunga kuntum yang kuncup, tak tertetes air embun sama sekali. Suasana lengang itu terjadi. Dan semua mata menatap kaget pada sumber suara teriakan itu. Dedi telah sempurna berdiri, dengan kepala tertunduk, dan rambutnya tergerai, menutupi dahi dan kedua matanya.
Teriakan yang membahana itu, mengagetkan semua orang di dalam kelas itu. Teramat lantang. Wajah dan tubuh Dedi bergetar, tangan kanannya mengepal kuat, terangkat ke atas, sejajar dengan wajahnya.
Berakhirnya, dengan benturan keras kepalan tangannya itu ke meja. ”Bukk!” beberapa siswa terperanjat, ada yang merindung, ada yang memeluk teman di sampingnya. Wajah-wajah mereka terlihat ketakutan. Apalagi, saat Dedi mengedarkan wajahnaya ke seluruh siswa, satu persatu, terangkat tiba-tiba dan mengedar kasar. Mata itu teramat menyala. Ditimpali desah napas yang memburu.
Dedi mengambil tas dalam lacinya, dipakainya kasar dan pergi meninggalkan kelas itu, berlalu begitu saja. Masih sempat pula menendang pintu kelasnya dengan keras, dan suara terakhir benturan itu telah memisahkannya dengan teman-teman di kelasnya.
@ @ @
”Kamu mau kemana Ded?” Rahma berlari, melihat Dedi yang memegang tasnya hendak keluar menuju gerbang keluar. Wajah Dedi ditekuk ke bawah, tepat dua kilan dari ujung sepatunya yang menjejak bumi. Itulah yang membuat Rahma segera berlari, kenapa sudah berubah lagi?
Dedi tak peduli, dia terus berjalan. Rahma segera mempercepat langkahnya dan menghadang di depan Dedi. Terpaksa Dedi terhenti, jika yang menghadang tembok pastilah di tabrak, atau pintu pastinya dia dobrak, bahkan angin badai pun akan diterjangnya. Tapi, kali ini, seorang sahabat satu-satunya. Menghadangnya. Dedi berhenti, napasnya masih memburu.
”Kamu kenapa?”
”Tidak apa-apa.”
”Kau tidak bisa bohong padaku.”
”Sudah kubilang, aku tidak apa-apa Ma.”
”Kau bohong. Kau pikir aku teman barumu? Kita telah berteman lama, dan kau telah kembali seperti dulu. Mana keceriaanmu pagi tadi? Kau bilang akan berubah bukan? Lalu, hanya karena masalah sepele, kau menyerah?!” sindiran dan pertanyaan yang tajam.
Dedi mengangkat wajahnya, ditatapnya Rahma. Benar, Dedi tak bisa bohong pada satu temannya ini.
”Kau akan berubah kan? Kau akan ceria?”
Angin bertiup teduh.
”Kau benar Rahma. Aku tak boleh menyerah,” mereka tersenyum.
”Ayo ke kelas, kita masuk.”
”A..aku, tidak mau masuk kelas.”
”Kenapa?”
”A..aku...,”
”Ingat, tak boleh menyerah. Kau harus kuat, agar tak ada yang meremehkanmu lagi Ded.”
Dedi luruh. Dia akhirnya menuruti kata-kata Rahma, untuk kembali ke kelas. Saat berjalan itulah, Dedi mulai mengatur senyumnya kembali. Senyum yang telah dibangunnya susah payah, senyum yang dimulainya sepagi tadi. Dan, senyum itu terbangun kembali, walau tak sesempurna esok tadi. Setidaknya, cukup untuk menenangkan hatinya.
Hatinya kembali berdzikir, itu sedikit bisa membantu, mengobati hatinya yang labil.