Bisikan Pembalasan

Cukup Sudah

Bunyi bel, tanda pulang berdentang sudah. Wajah-wajah siswa yang semula mulai mengantuk dan menguap, kini sumringah, cerah bagai purnama kala tanggal lima belas tepat. Bagai bunga rose yang mekar, karena saatnya tiba, telah sempurna waktu, yang ditunggu-tunggunya.

Dedi memasukkan bukunya ke dalam tas, bu Lastri berpamitan untuk mengakhiri pelajarannya. Mega tak berani bersuara lagi, dia ikut memasukkan buku ke dalam tasnya. Matanya melirik sejenak kearah Dedi yang tampak menunduk dan terdiam. Sedari tadi, semenjak insiden pagi itu, banyak yang berbisik-bisik tentang kepribadian Dedi yang aneh.

”Paranoid,” ”Sudah sedikit miring,” ”Kepribadian ganda,” ”Gila,” dan sederet sebutan bisik-bisik itu menyebar sesungguhnya.

Mega merasa kasihan pada Dedi, perasaannya di hatinya nampak aneh. Tentang pria yang duduk di sebelahnya itu, entah perasaan apa yang berada di hatinya. Kasihan? Ataukah cinta? Atau yang lainnya...

”Tak perlu kau pandang aku seperti itu Mega. Aku sama sekali tak perlu dikasihani. Aku bisa mengatur hidupku sendiri. Pulanglah, lihat ayahmu telah menunggumu.”

Benar saja, kepala sekolah menyembulkan kepalanya di pintu. Sapaan khas kepala sekolah berkacamata itu, seperti hari-hari biasanya, sapaan pada puteri tercintanya, untuk mengajaknya pulang bersama. Dedi sudah bosan melihat keakraban itu, bukan bosan sesungguhnya, mungkin karena dia tak pernah mengalami hal itu seumur hidupnya.

”Aku pulang Ded.”

”Pulanglah.”

Tak seperti kemarin, walau sekarang Mega benar-benar melambatkan langkah kakinya, sejenak-sejenak menoleh. Berharap ada sebentuk wajah terangkat, dan melihatnya, untuk memberikan senyum perpisahan di siang itu. Tapi nihil, tak ada, nothing. Dedi tetap tertunduk, tak sejenakpun berdongak kepalanya. Mega akhirnya menyerah dan berjalan bersama ayahnya.

Seperginya Mega, ruangan itu hanya terdiri dari lima orang. Tiga siswi tengah asyik berbincang di pojok ruangan, satunya masih membenahi buku, dia Rahma. Dan Dedi yang masih terdiam di kursinya.

”Kau masih belum mau pulang Ded?”

”Sebentar lagi Ma.”

”Aku tahu kejadian tadi pagi, aku sudah mendengar ceritanya. Tentang bisik-bisik yang beredar. Kamu...,”

”Sudahlah Rahma, aku tidak apa-apa. Bukankah aku sudah membuat keputusan, bahwa aku akan berubah?” ada senyum yang keluar dari bibir Dedi. Senyuman khas, tapi Rahma bingung menerjemahkan senyuman itu. Rahma membalas senyum itu.

”Alhamdulillah, kamu memang telah berubah Ded. Tapi, kau perlu berjuang untuk memantapkan diri. Kau harus kuat, tidak boleh lemah lagi.”

”Tentu saja.”

”Kudengar dari teman-teman, kau kemarin berkelahi dengan Jaka ya?” Rahma mendudukkan dirinya di depan Dedi, terpisah satu meja.

”Dia memukulku tiga kali, aku tak bisa tinggal diam Ma.”

”Aku tahu Ded, itu memang yang harus kamu lakukan jika diremehkan. Sebaiknya, jika mereka membuat ulah lagi, kau laporkan saja kepada kepala sekolah atau guru BP, aku akan membantumu Ded.”

”Makasih Ma.”

”Oya Ded, aku terlupa tentang titipan yang akan kuberikan padamu tadi pagi,” Rahma mengeluarkan kertas berwarna biru muda. Terbungkus plastik transparan, direnda demikian lembut ikatannya, walau pita merah, namun ikatan simpul itu begitu indah terlihat.

”Seperti undangan?”

”Memang.”

”Undangan pernikahan?”

”Kau lihat saja.”

”Baiklah,” tak lupa senyum tersungging sambil membuka undangan itu, sempat terbesit dalam otaknya, jangan-jangan pernikahan Rahma? Ah! Tidak mungkin, dia kan masih kelas XI, bukankah masih terlalu dini untuk menikah? Senyumnya bertambah lebar, ditambah gelengan kepalanya.

”Kau kenapa? Senyummu aneh Ded.”

”Oh, tidak Ma. Aku hanya penasaran saja.”

Dipegangnya kertas undangan yang telah terbuka dari plastiknya, perlahan dia membukanya, dengan penasaran sepenuh-penuhnya. Matanya begitu tak sabar membaca isinya.

Undangan pernikahan

Mohon doa restunya. Bla...bla...bla...

Mahfudz Sidiq 

Bin Abdullah firmanuddin.

Dengan...

................

Dedi tak meneruskan kata-kata yang dibacanya, senyumnya hilang sudah, angin bertiup berbeda menghempas wajahnya. Matanya terpaku, undangan itu terjatuh begitu saja.

Pak Mahfudz? Guru yang masih mengajar honor di Sekolah Karya Bakti itu hendak menikah? Mahfudz yang masih terdaftar di Universitas di dekat Sekolah Karya Bakti itu, sedang menyelesaikan skripsinya, hingga bisa part time mengajar agama di sekolah ini.

”Acaranya tiga hari lagi, kemarin aku lupa memberikannya padamu. Sekalian surprise kan?” Rahma tersenyum. Dia tak melihat wajah Dedi, karena dia juga sedang membaca undangannya sendiri.

”Kenapa aku baru tahu?” suara itu sangat datar.

”Maafkan aku, aku telat memberikannya padamu Ded.”

Dedi tak mendengar jawaban itu. Sebenarnya, pikirannya jauh berkelana, menyusuri lorong-lorong angan, tak ada di dunia, entah dimana lorong itu. Sangat asing dan tak terkunjungi. Labirin-labirin pengap nan sepi. Pikiran itu jauh berkelana, dan menemukan titik ujung lorong itu. Sebuah kata yang tiba-tiba membuatnya ketakutan.

Perpisahan!

”Mungkin, setelah menikah pak Mahfudz akan pindah. Skripsinya pun telah selesai, calon isterinya itu cantik dan...”

”Citt!” suara kursi tergeser cepat.

Rahma menengok, Dedi telah raib dari tempat duduknya. Dedi berlari, terlihat larinya telah melewati pintu. Rahma sempat kaget, dan terdiam dalam tempat duduknya. Matanya tertuju pada sebuah kertas dan plastik di lantai keramik, di bawah meja. Kertas undangan itu? Telah bengkok-bengkok bentuk kertas itu, bekas remasan? Apa yang terjadi?

Dedi?

@ @ @

Dedi bergegas mempercepat langkahnya. Kenapa? Itulah kata-kata yang memenuhi hatinya. Hatinya sangat kacau, ketakutan akan kehilangan orang  yang paling dibanggakan dan dipatuhinya itu. Telah sempurna keinginannya berubah, keinginan untuk melawan ketidakberdayaan, kekuatan itu muncul untuk melawan ketidakpercayaan dirinya. Kenapa harus berpisah?

Orang yang dipercayainya satu-satunya itu. Kenapa tega akan meninggalkannya? Tas yang lumayan berat di punggungnya, tak terasakan sama sekali. Ingin terbang pula jiwanya, dengan sayap-sayap angannya, menembus langit, mencapai matahari, dan terbakar bersama, meledak bersama matahari. Itu lebih baik mungkin. Benar-benar kacau pikirannya.

Tanpa disadarinya, tanda disengaja, sebutir air jatuh mendekati bibirnya, bukan sebutir tapi bersusulan butir-butir lainnya. Hatinya perih, kejadian pagi tadi, saat melihat Mega bersama Roni, tak terlalu melukai hatinya. Tapi, undangan yang diberikan Rahma tadi, kenapa begitu terasa lebih sakit?

Dedi benar-benar tak paham apa yang menimpanya, sedih untuk apa? depressed, dejected. Ada kegundahan yang menyayat-nyayat ulu di hatinya. Tapi, sekuat apapun Dedi menerjemahkan luka di hatinya, dia benar-benar tak paham. Otaknya tumpul dan tak mampu memikirkannya.

Yang dirasakannya hanya perih.

Saat kepalanya semakin pusing, saat itulah, di lepas koridor itu. Tubuhnya tercekal beberapa orang, hendak berontak, ototnya tak kuat terlepas. Seolah seluruh sendinya dipasung. Tangan, kaki, kepala, lengan, leher. Seperti ada tangan-tangan syetan di seluruh penjuru tubuhnya. Tubuhnya diseret paksa, dan Dedi terus memberontak, tapi tenaganya kalah saingan.

Cengkraman-cengkraman kasar itu, begitu bernafsu mengekang jiwanya, jiwa-jiwa penuh kesumat. Tubuhnya berhenti dari seretan panjang yang menyakitkan itu, ada lega. Tapi tak lama.

Karena pukulan demi pukulan menghantam bertubi-tubi memenuhi tubuhnya, wajahnya, perutnya. Tendangan dan bogem mentah mendarat asal, carut-marut tak terencana. Empat orang telah melancarkan serangan yang ganas lagi kesumat membara di ubun-ubun mereka.

”Sampai babak belur!”

”Dia akan kapok!”

”Dasar cecurut, hia!”

”Bangsat! Berani-beraninya mendekati pacarku!”

”Ini balasanku. Huaa!” tendangan mendarat di pundak kanannya.

”Terus!”

”sampai puas!”

”Ha...ha...ha...!”

”Buk! Buak! Dues!...”

Diantara puluhan rentetan pukulan dan tendangan itu, seperti meriam yang memberondong tubuhnya. Dalam keriuhan kata kasar, lagi meremehkan. Dedi melihat sebuah sinar, dan hilanglah semua sakit yang sedang dialaminya. Ingin dicapai cahaya itu, tangannya terulur hendak meraihnya. Dedi seolah terbang, kehilangan raga yang mewadahi rohnya.

”Cuih!”

Dedi tersadar, ada air yang mengenai wajahnya yang tergerus luka. Dedi tersadar, dan tubuhnya terasa sembilu seluruhnya. Menggerakkan tubuhnya saja, terasa berat. Patah seolah sendi-sendi tulangnya. Gerakannya hanyalah gerak gemetaran.

”Awas Loe jika masih berani! Ayo!”

Roni berjalan meninggalkan Dedi yang duduk selonjor di atas korset depan toilet. Seluruh bajunya kotor, memar-memar membilur di sekujur tubuhnya.

Ketiga orang mengikuti ketua gang-nya, Jaka terakhir berjalan di belakang. Satu tendangan masih sempat dia layangkan di kepala Dedi. Tapi, Dedi tak mengaduh sama sekali. Bagaimana hendak mengaduh, suaranya telah tersekat mati di tenggorokan, tak bisa keluar.

Bermenit-menit Dedi bersusah-payah mengumpulkan tenaga yang tersisa. Berat sekali menggerakkan kaki-kakinya. Dipaksakan, terus dipaksakan.

Aku harus melawan ketidakberdayaan.

Karena aku, aku adalah kekuatan

Jika tak bisa kunikmati hidup ini

Orang lain pun, tak boleh menikmatinya.

Ada nyala membara dalam matanya yang berkilat-kilat, bagai petir bersahut-sahutan memenuhi langit. Dan sendi-sendi tubuhnya, entah mendapat kekuatan darimana, seolah tak pernah terluka. Dia bangkit, tubuh itu kaku. Pandangannya masih tertunduk.

Angin membelai rambutnya pelan.

Kedua tangannya mengepal demikian kuat, urat-urat di lengannya bertonjolan besar dan seolah hendak meledak. Wajah itu terangkat dengan tiba-tiba, mata itu? Menatap tajam ke koridor kosong di depannya.

Cukup sudah! Aku tak mau mengalah lagi!

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!