Bisikan Pembalasan

Penipuan Besar

Malam sabtu yang dingin, hujan gerimis menghantam ke bumi. Rintik-rintik hujan terasa bagai jarum-jarum yang ditumpahkan dari langit. Hujan adalah pertanda cinta Tuhan, yang diturunkan buat kesejahteraan manusia. Apa jadinya bumi tanpa air hujan? Tentu tak ada kehidupan.

Mendung halus nampak memenuhi langit, bulan dan bebintang tak nampak sama sekali. Hujan memang gerimis, tapi sebuah hati yang tidak hanya mengalami gerimis, namun membadai.

Lelaki itu, lelaki kurus itu. Dia mendekap lututnya, dinginnya udara yang bertiup, sama sekali tak membuat tubuhnya menggigil, karena gigilannya adalah lesatan imajinasi menakutkan. Matanya tajam menyorot, seekor induk kucing dan tiga anaknya nampak seling merapatkan tubuh mereka. Keempat kucing itu menggigil kedinginan, bulu-bulu mereka basah.

Dedi melihat kucing-kucing kedinginan itu, ketiga anaknya tampak terus membunyikan suara ketakutan. Petir sesekali menyapa dengan suaranya yang menggelegar, menciptakan garis-garis patah, menerangi sejenak kegelapan di bawah kolong jembatan itu.

Dedi berdiri, namun tak sempurna, kepalanya akan tersangkut cor jembatan itu jika berdiri tegak. Dibukanya jaket yang sedari tadi dipakainya, perlahan didekatinya segerombol kucing itu, si induk kucing nampak waspada, hendak pergi, namun dia melihat anak-anaknya yang kian menjerit, akhirnya si induk bertahan. Saat dekat, Dedi menutupkan jaketnya, sebagai selimut buat kucing-kucing itu, tanpa senyum, dan kembali ke tempatnya semula.

Sekali lagi, kilat menyambar dengan ganas, suara mengguntur pekak.

Dari sekejap cahaya yang terjadi, mata Dedi teramat mengerikan. Mata beku dan seolah berkobar-kobar. Sudah dua hari Dedi bertahan tak pulang ke rumah, tak kemana-mana setelah transaksi malam itu, dia bersembunyi di bawah kolong jembatan itu.

Dedi keluar dari jembatan, tak peduli gerimis yang masih menyisa. Ditatapnya langit gelap, tubuhnya semakin terlihat kurus dan teramat tak terurus, rambutnya tak teratur lagi.

Esok sudah waktunya! Hari penentuan akhirnya tiba juga. Tunggulah, dan mata dunia akan terbuka!

Sekali saja dunia! Liriklah aku.

@ @ @

Hari ini, di Sekolah Karya Bakti, ada sesuatu yang lain. Beberapa guru nampak ada yang sedang mempersiapkan kado, buat pernikahan pak Mahfudz. Para guru, setelah pulang sekolah akan ke acara pernikahan pak Mahfudz, ada yang membungkus kado buku, ada yang barang pecah belah, ada bahkan sarung, dan lain sebagainya.

Tentu saja, pak Mahfudz hari ini izin, bahkan kemarin pak Mahfudz masih memaksakan diri untuk mengajar, walau pihak sekolah memberinya izin. Baginya, tugas mengajar adalah sebuah tugas penting, izin hanyalah untuk hal-hal yang penting saja. Jadi, hanya waktu akad beliau izin tidak masuk.

Beberapa siswa juga telah menyiapkan hadiah, setidaknya patungan setiap kelas, untuk membeli hadiah dan dibungkus bersama. Setidaknya, untuk kelas-kelas yang diajar oleh pak Mahfudz. Seolah suasana Sekolah Karya Bakti, tampak wajah-wajah ceria di hari ini. Ada juga yang ceria, karena persepsinya hari ini akan pulang cepat, untuk menghadiri pernikahan salah satu guru mereka.

Tapi, mereka tak tahu, malapetaka telah mengintip mereka. Seseorang memakai seragam teramat kotor, telah masuk ke sekolah, sejak tadi malam, entah bersembunyi di ruangan mana, di bagian mana, yang jelas, semua telah bermain di otaknya. Semua dirinya telah tergadaikan oleh imajinasi yang melesat-lesat.

Sesosok wanita tampak wajahnya sedikit resah, walau senyumnya tak pernah terlewat kala siswa melewatinya, dialah Rahma. Pasalnya, kemarin dia ke rumah Dedi, disana ditemuinya bu Halimah bercerita padanya bahwa Dedi telah dua hari tak pulang. Halimah menceritakan kejadian yang dialami Dedi, suaminya masih di rawat di Rumah Sakit. Bu Halimah pun baru sadar, dan kembali seperti semula.

Masalahnya adalah kemana Dedi pergi? Dua hari tidak masuk sekolah. Ada apa denganmu Ded? Rahma teramat khawatir.

Jangan-jangan?

Astaghfirullah. Rahma segera menepis segala prasangka. Dia kembali berbaur dengan teman-temannya yang lain. Hanya saja, dari lubuk hatinya terdalam, perasaan was-was dan gelisah masih saja tersisa, walau telah ditepisnya dengan dzikir dan meminta pertolongan pada Allah, agar melindungi segala sesuatu hal yang buruk.

Sesosok siswa kelas X, nampak memakai kacamata, melewati Rahma dan bertegur sapa.

”Mari Kak,” senyumnya mengembang.

”Iya, Dik. Kelihatannya terburu-buru?”

”Tidak Kak, hanya mencari kak Jaka, kelas XI. Kakak lihat?”

”Oh, tadi di luar kelas, coba saja kesana.”

”Makasih Kak.”

”Sama-sama.”

Laki-laki berkacamata itu pamitan dan berlalu. Rahma berbalik arah, ada rapat kecil istirahat ini, di ruang OSIS buat pengurus Pengurus Harian. Ada-ada saja mencari anak-anak nakal itu. Bisa-bisa diminta uang juga anak berkacamata itu. Astaghfirullah, kenapa berprasangka lagi. Rahma bergegas ke ruang OSIS.

Lelaki berkacamata itu terus melangkah, menuju kelas yang ditunjukkan Rahma tadi. Disana, tampak Jaka tengah berduaan dengan seorang siswi, duduk di kursi panjang depan kelas. Lelaki berkacamata itu mendekat.

”Kak Jaka?” tangannya menunjuk.

”Iya! Ada apa? mengganggu saja!” nadanya kesal, meminta maaf pada teman wanitanya, dan menghampiri si siswa berkacamata.

”Maaf Kak, kak Jaka dipanggil pak Kepala Sekolah, katanya penting, sepulang sekolah tepat. Ada masalah penting dengan kak Jaka katanya,” si lelaki berkacamata sedikit memelankan suaranya.

”Apa?” Jaka sedikit kaget mendengarnya, ”Kenapa kamu yang disuruh?” Jaka ikut memelankan suaranya.

”Ini tentang puterinya Kak, tentang Mega, pak Kepala Sekolah ingin bertanya sesuatu yang mungkin agak rahasia.”

”Baiklah, baiklah, nanti saya akan menemuinya. Terima kasih ya.”

”Sama-sama Kak,” si lelaki berkacamata pergi, ada senyuman simpul di sudut bibirnya. Tugasnya meyakinkan Jaka agar datang ke kantor berhasil dengan mulus. Dia meneruskan langkahnya, masih ada tiga orang yang harus ditemuinya.

Jaka kembali ke tempat duduknya, dia heran, pasti kepala sekolah ingin bertanya tentang Roni. 

”Kamu kenapa?” Siswi sekelasnya heran melihat wajahnya yang berubah.

”Tidak apa-apa, masalah ringan,” mereka kembali bercengkerama, sepasang kekasih, biasanya hanya berbincang ngalor-ngidol. Tak ada kerjaan.

@ @ @

Lelaki berkacamata melihat Roni tengah duduk di kantin bersama Mega, sedang makan.

”Kak Roni?”

”Iya! Kenapa? Mengganggu orang lagi makan saja.”

Lelaki berkacamata duduk, menyeret kursi, ”Kakak diminta kepala sekolah menghadap, pukul setengah tiga nanti Kak. Kata beliau ada yang ingin dibicarakan pada Kakak,” lelaki berkacamata memelankan suaranya.

Seketika, raut wajah Roni berubah, ”Be..., benarkah?”

”Iya Kak. Kakak harus datang, ke ruang kepala sekolah.”

”Baiklah, bilang pada kepala sekolah, saya akan datang.”

”Baik Kak,” siswa berkacamata pamitan, melangkah dengan santai. Tugasku selesai, enak sekali mendapatkan uang. Tak penting untuk urusan apa, Kakak kelas yang aneh itu meminta hal aneh ini. Mengerjai? Tak masalah. Yang penting, aku tak ikut campur apa-apa, dia telah menjamin, tanggung jawab ada padanya semuanya.

Seperginya siswa berkacamatan.

”Untuk apa Ayahmu memanggil gue ya?”

”Aku juga tidak tahu Kak.”

Roni semakin bingung saja, selera makannya tiba-tiba hilang. Apakah tentang hubungan dengan Mega? Kacau!

@ @ @

Kepala sekolah tampak tengah makan siang, isterinya teramat perhatian padanya, sempat-sempatnya selalu membawakan menu untuknya, untuk dibawa ke Sekolah. Saat tiga suapan masuk ke mulutnya, teleponnya berdering.

”Halo,”

Kepala sekolah mendengarkan seksama. Suara seorang perempuan.

”Baiklah, saya akan segera kesana jika memang pak Mahfudz membutuhkan kedatangan saya.” ditutupnya telepon, ditutup pula kotak nasi, dia mengambil tas dan segera berlalu, menitipkan pada para guru untuk pergi dahulu ke rumah pak Mahfudz, biar yang lain menyusul setelah para siswa pulang.

Sebelum pergi, dikuncinya ruangannya, namun..., ada  yang aneh dengan pintunya. Tapi apa? entahlah, tak ada apa-apa. lalu mengunci pintu dan berlalu.

@ @ @

Sepulang sekolah itu, Jaka agak ragu hendak ke kantor guru, ruangan masih terbuka. Dia masuk, guru-guru telah sepi, pastilah semuanya sudah pergi ke rumah pak Mahfudz. Langkahnya agak gemetaran mendekati ruang kepala sekolah, agak gemetaran mengetuk pintunya.

”Masuklah!” terdengar suara dari dalam ruangan.

Jaka membuka pintu itu, perlahan. Kursi kepala sekolah tampak membelakangi, tampak kepala dengan wajah membelakang, hanya terlihat rambutnya saja.

”Duduklah.”

Jaka mendekati kursi, dan perlahan duduk.

”Ada apa Pak, memanggil...,”

”Brek.” suara pintu tertutup dari dalam, belum sempat wajah Jaka hendak menengok, sebuah benda telah menyentuh tengkuknya. Matanya berkunang, agak pusing, hendak menengok, tapi kembali benda itu lebih kuat memukul tengkuknya. Seketika, dia roboh, tak sadarkan diri, dan terjatuh dari kursinya.

@ @ @

Pukul 14.25

Dua orang manusia tengah berjalan mendekati pintu ruangan kepala sekolah. Roni dan Mega.

”Sebaiknya kamu tidak usah ikut.”

”Aku ingin tahu apa yang ingin dibicarakan Papiku.”

”Terserah kamu saja.”

Mereka berhenti di depan pintu kepala sekolah. Ruangan di depannya, ruangan para guru, telah sempurna kosong, hanya kursi-kursi telah merapat rapi di mejanya masing-masing.

Mega mengangguk, memberi isyarat kepada Roni untuk mengetuk pintu. Roni pun mengetuk pintu.

”Masuklah,” sebuah suara agak serak menyambut ketukannya.

Roni memegang gagang pintu, menekan ke bawah, suara engselnya meregang. Roni masuk duluan, kakinya yang kanan telah masuk. Perlahan pintu itu terbuka semakin lebar, tampak di kursi kepala sekolah, seseorang duduk membelakangi, hanya terlihat rambutnya dari belakang.

”Bapak mencari saya?”

”Duduklah.”

 

Roni masuk perlahan, tiga langkah. Sesosok bayangan di belakang pintu tepat, telah mengangkat sebuah benda tinggi-tinggi, saat menahan napas dan hendak melepaskan pukulan, tangannya terhenti di atas kepalanya. Pasalnya, sebuah langkah mungil masuk begitu saja mengikuti langkah Roni.

Sial! Kenapa Mega ikut masuk!

Benda di atas kepalanya masih siap-siap memukul, namun sedikit gemetar.

Kenapa? Kau takut? Musnahkan saja semuanya!

Hatinya menjadi bimbang untuk sepersekian detik.

Persetan dengan semuanya!

Inilah kesempatan terakhir! Tak akan ada lagi! Dan, biarlah dunia menyaksikanku, sekali saja!

Sosok kurus itu merangsek maju, benda itu dipukulkan kuat ke punggung Roni. Namun, kaki kanannya masih sempat menendang tubuh Mega agar tak terkena sedikit pun pukulan yang dilancarkannya. Roni tak ayal, tubuhnya membentur meja kepala sekolah, berantakan seluruh isi di atas meja. Sedangkan Mega, pundak kirinya mementur tembok di sisi kirinya.

Roni masih sempat hendak bangun, namun kepalanya terasa ngilu, dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, cepat. Mencoba menerka-nerka apa yang terjadi. Namun belum sempurna berdiri, benda yang tadi memukulnya kini dilemparkan ke punggungnya sekali lagi. Dia tersungkur, terkulai di lantai.

Masih ingin bergerak, Roni meyangga tubuhnya dengan kedua tangan, menolak lantai keramik, berusaha bangkit. Namun, sebuah kaki dengan bungkus sepatu telah menginjak lehernya kuat, tenaganya telah habis, seluruh tubuhnya remuk. Keningnya begitu kuat menempel di lantai.

”Lumayan hebat juga kau!” mata si kurus mengkilat.

Mega mendengar suara itu, tubuhnya yang sakit tiba-tiba terasa hilang, dia teramat heran dengan suara itu, matanya yang lentik memaksanya untuk melihat seorang yang berdiri tegak sambil menginjak leher Roni.

”Dedi!”

Mega masih mengucek-ucek matanya, dia mencoba menakar mimpi atau nyatakah. Dedi sama sekali tak bergeming, matanya menatap Roni yang diinjaknya, mata itu amat beku dan tajam.

”Apa yang kamu lakukan Ded! Hentikan semua ini!”

”Diam,” suaranya pelan, namun mencekam.

”Kamu gila Ded!”

Mega hendak berdiri, hendak mendekati Dedi. Namun, Dedi mengambil sesuatu dari balik jaket yang dikenakannya, sangat cepat, dan sebuah pistol rakitan telah sempurna ujung lubangnya telah terulur, 10 cm dari wajah Mega. Mega terdiam, bibirnya gemetaran.

”Diamlah Mega,” Dedi menoleh kearah Mega, wajah itu..., bukan lagi milik Dedi yang biasa Mega lihat setiap harinya. Mega tak kuasa bergerak, dia terpaku di tempatnya.

Sebuah senyum tercipta di bibir Dedi, dipejamkan matanya sejenak, angin di sekitarnya kini seolah menyembah dan memujinya. Dan senyumnya semakin lebih lebar terbuka. Dunia, lihatlah permainanku!

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!