Bisikan Pembalasan

Dia Seorang yang Cerdas

Polisi telah datang, dua kompi diterjunkan dengan senjata lengkap. Mereka berbaris di depan garis kuning yang terpasang mengelilingi sekolah, terutama penjagaan ketat dilakukan di gerbang, mengingat keluarga beberapa korban sedari tadi ingin masuk dan bertemu anak mereka, wajah-wajah kepanikan tampak disana-sini.

Beberapa polisi nampak menenangkan keluarga korban penyanderaan, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Seorang polisi, dikawal satu di sebelah kanannya, mendekati kepala sekolah yang terduduk di depan mobilnya. Polisi itu adalah Kapolres kota ini. Mereka saling sapa, sudah saling mengenal, dan pembicaraan segera beralih ke masalah penyanderaan di Sekolah Karya Bakti.

”Usahakan sebaik mungkin pak Arifin,” pinta Kepala Sekolah.

”Akan saya usahakan Pak. Oya, apakah Bapak tahu berapa orang yang menyekap para Siswa?”

”Saya belum tahu Pak, saya juga tidak tahu apa yang mereka inginkan.”

”Baiklah, Bapak tenangkan diri, kami akan usahakan sebaik mungkin.”

”Terima kasih Pak.”

Beberapa orang bergabung dengan mereka, para dewan guru Sekolah Karya Bakti, diantaranya ada Mahfudz. Tiba-tiba, handphone kepala sekolah berdering. Dari Mega. Kapolres mempersilakan mengangkatnya.

”Halo” ”Iya, saya akan mendengarkan” ”Baiklah” ”Puteriku” ”Baiklah, baiklah, tapi jangan apa-apakan puteriku.” perbincangan itu cukup lama.

Tut...tut...tut...

”Bagaimana Pak,” pak Arifin melepas topi polisinya, beberapa guru ikut mendengarkan dengan seksama, apa yang akan dikatakan kepala sekolah.

Kepala sekolah menceritakan, bahwa tadi diberi kesempatan berbicara pada puterinya. Permintaan sang penyandera, jangan berani-berani masuk dan mencoba membebaskan sandera. Jangan biarkan polisi masuk melalui atap rumah, atau melalui pepohonan, atau menggunakan sniper untuk melumpuhkan. Jika tidak, satu orang akan dibunuh.

”Lalu, siapa pelakunya Pak?” bu Ida tak tahan bertanya, ”Lalu, apa yang diinginkannya?”

”Saya belum tahu, tapi dia bilang, dia tak akan menyakiti puteriku jika menuruti apa yang dimintanya.”

”Misterius!” Arifin berbicara sendiri, ”Ada motif terselubung. Dan point pertama adalah, bahwa para penyandera itu cerdas.”

@ @ @

Dedi melihat ikatan keempat orang lelaki yang kini melihatnya, raut wajah mereka penuh kecemasan. Ikatan mereka kuat. Setelah memeriksanya, Dedi berdiri dan menarik Mega untuk dimasukkan ke ruang kepala sekolah.

”Apa yang akan kau lakukan padaku Ded?” Mega ketakutan.

”Diamlah! Aku akan menguncimu di ruang kepala sekolah, aku tak mau kau mencoba membebaskan mereka lagi.”

Mega tak bisa menolak lagi, ruang kepala sekolah. Dedi masuk dan mengambil sebuah boneka yang duduk di kursi kepala sekolah, boneka yang digunakan untuk menipu keempat orang yang dibencinya, yang dari belakang kursi hanya terlihat rambutnya saja. Boneka itu dibawanya, dan mengunci pintu itu, membiarkan Mega sendirian di dalamnya.

Dedi keluar dari ruang guru tersebut, menggandeng boneka tersebut setelah sebelumnya memasang kayu berbentuk L, di tangan boneka manusia itu. Dedi terus berjalan menuju koridor sekolah, dan bayangannya pun terlihat di keremangan malam itu, polisi waspada melihat dua bayangan yang berjalan tersebut.

Dedi menghubungi kepala sekolah sekali lagi. Handphone kepala sekolah berdering, Kapolres mempersilahkan kepala sekolah mengangkat Hp-nya.

”Halo”

”Dengarkan baik-baik, saya berdua bersama teman saya, teman saya akan saya tempatkan di luar, untuk mengawasi. Jika berani macam-macam, satu sandera akan saya bunuh.”

”Katakan, apa sebenarnya mau anda?”

”Tenang saja, saya hanya ingin bermain-main.”

“Tapi…”

Tut…tut…tut.

Dedi mematikan kembali Hp itu. Lalu, menyandarkan boneka manusia itu di sandaran tembok. Boneka itu disandarkan mirip orang yang bersiap-siap menembak dari balik tembok, dengan memegang pistolnya. Bayangannya hanya terlihat kaki dan pistol yang mengacung di koridor tersebut.

”Bagaimana selanjutnya Pak?” kepala sekolah sangat panik.

”Tenang dulu pak kepala sekolah, untuk sementara kita hanya bisa menunggu. Kita belum tahu apa motif sebenarnya dari penyandera tersebut.”

Sementara itu, Dedi tersenyum sambil berjalan menuju ruang guru, esok pagi dia harus segera mengambil boneka itu, agar penyamarannya tidak ketahuan. Sekarang, saatnya untuk sedikit bermain-main. Tiba-tiba matanya mengkilat kembali, menyala bagai nyala bulatan api berkobar.

Dia masuk ke ruang guru, menyeret Jaka dan Roni bergantian ke ruang toilet. Mega dapat melihatnya dari keca kecil segi empat, di pintu masuk kepala sekolah. Dedi melepaskan ikatan Jaka, Jaka terlihat demikian lemah dan tak berdaya.

”Cepat kencing!” tangan kiri Dedi memberikan gelas plastik bekas minuman mineral, tangan kanannya erat memegang pistol dan mengarahkan moncongnya. Jaka amat gemetar.

”Cepat! Sekarang!”

Jaka tak bisa berbuat apa-apa, dia menyelesaikan buang airnya.

”Sekarang! Minumkan pada Roni.”

”Tapi Ded, ini air kencing?” wajahnya gemetaran.

“Lalu kenapa! Bukankah kalian dulu gembira ketika memaksaku meminumkannya padaku. Aku sudah berteriak jangan, tetapi kalian semakin terbahak-bahak. Cepat minumkan, atau kalian kubunuh sekarang!” Dedi berteriak keras.

Jaka tak bisa berbuat apa-apa, tangannya terulur ke mulut Roni, Roni menggelengkan kepalanya, dia merasa jijik.

“Jangan Jak! Jangan Jaka!”

Saat gelas itu hampir mendekati bibirnya, Roni meronta, tangannya terikat kuat namun kepalanya sempat menyenggol gelas itu dan isinya tumpah sedikit.

”Sial!” Dedi bertindak, sepatu wariornya menginjak kepala Roni agar tak bergerak, ”Cepat minumkan sekarang!”

”Tidak!” Roni menjerit, ”Aku tidak mau!”

”Bugh!” dan tendangan Dedi mengarah pada perut Roni, lalu kaki itu kembali menginjak kepala Roni. Roni tak berani berujar lagi, tapi dia menangis terisak.

”Cepat minumkan!” kini moncong pistol itu sempurna mengarah ke kepala Jaka, Jaka tak berani berujar lagi, tubuhnya menggigil. Dia tak berpikir sehat lagi, dijambaknya rambut Roni dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya memaksa meminumkan air seni itu ke dalam mulut Roni, Roni meronta, air seni itu tumpah kemana-mana. Dedi tertawa melihatnya, kepuasan melingkupi jiwanya. Kepuasan yang dia sendiri tahu maksudnya atau tidak. Dia tidak peduli sama sekali.

Dedi kembali menggiring dua sosok manusia itu ke dalam ruangan kantor kembali, tubuh mereka kuyup oleh air. Dedi kembali menutup pintu, jalan milik Roni dilihatnya begitu lemah dan terhuyung hendak jatuh. Dedi menendangnya dari belakang hingga menjatuhkan tubuh itu menimpa Deri dan Firman yang masih terduduk bersandarkan tembok.

Mereka mengaduh, perut Roni serasa robek terkena lutut milik Deri yang menusuk perutnya. Mereka kepayahan untuk bangkit dan akhirnya mendudukkan tubuh mereka masing-masing. Dan, tawa Dedi kembali menggema, memantul-mantul di tembok-tembok ruangan.

Pagi menjelang, Dedi bergegas keluar dan mengambil boneka yang ditempatkan diluar, Polisi melihatnya namun tak berani bertindak sama sekali hingga bayangan kedua orang itu menghilang dan masuk kembali ke sekolah.

Dan hari itu, berakhir dengan matahari yang kembali bersinar menggantikan hari yang baru. Sekolah Karya Bakti diliburkan, bukan karena para guru sedang rapat, atau liburan seusai semesteran. Melainkan ada sebuah berita penyanderaan para murid sekolah, dan stasiun televisi serta media massa telah ramai menempatkan berita ini di headline mereka.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!