Bisikan Pembalasan
Tipu Muslihat
“Sudah saya katakan, jangan main-main dengan saya.”
”Baiklah, apa maumu, serahkan semua sandera,” Arifin merasakan nada ancaman dan kebekuan di seberang telepon, nadanya tampak ngos-ngosan seolah sedang marah.
”Sudah saya katakan, saya hanya ingin bermain-main saja sejenak.”
”Anda gila.”
”Benar! Saya telah gila. Ha..ha.., kalian telah berani bermain strategi dengan saya. Maka, akan saya perlihatkan kegilaan itu, kegilaan yang kalian inginkan!”
Tut. Tut. Tut.
”Dengarka...” Arifin memukulkan bawah handphone itu di telapak tangan kirinya, dia melihat bahaya yang sebentar lagi seolah membayang. Deri masih dirawat dan sekaligus diinterogasi, namun dia teramat ketakutan dan terus mengigau. Lukanya hanyalah terserempet saja, apakah si penyandera memang sengaja atau karena asal menembak?. Arifin segera ke ruang mobil tempat Deri dirawat oleh dokter yang didatangkan, harus segera mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang si penyandera.
@ @ @
Malam mulai merayap pelan, Dedi melihat empat orang yang tengah menunduk lemah di hadapannya. Dedi duduk di kursi, sambil memainkan pistol rakitannya, sedangkan keempat orang itu tengah duduk bersandarkan tembok di lantai.
Mega sesekali menatap lelaki kurus itu, namun ketika dia menatapnya, Mega segera menundukkan kepalanya kembali.
Krieet!
Dedi mendirikan tubuhnya, dia bergerak mendekati keempat orang yang terikat itu. Dipegangnya pundak Jaka kuat, Jaka tak kuat lagi meronta, tubuhnya demikian lemah. Cengkraman itu membuat Jaka sedikit merintih, namun akhirnya dia berdiri dengan lemah. Jaka didudukkan di kursi, ketiga orang yang masih terikat melihatnya penuh was-was.
Dedi mendekati meja salah satu guru, disana ada plastik hitam. Dedi mengambil roti di dalamnya, tinggal satu bungkus dan isinya lumayan besar. Itu adalah roti bagiannya, yang tidak dimakannya sejak kemarin. Selera makannya telah hilang. Dedi mengambil roti tersebut dan mengambil isinya.
Tanpa banyak kata, Dedi memberi isyarat dengan tangannya itu agar Jaka membuka mulutnya. Jaka yang ketakutan tanpa menolak membuka mulutnya, dia memang juga sudah kelaparan. Jaka makan dengan lahap, ketiga temannya memperhatikannya, Dedi melihat kearah lain sambil tangannya menghulurkan roti itu ke mulut Jaka.
Dedi mengambilkan air minum yang diambil dari galon, satu gelas besar. Dia juga meminumkan ke mulut Jaka, dan Jaka pun meminumnya hingga beberapa tetes tumpah dan menetes dari dagunya.
Sejenak, waktu tergulir dan terjadi kesenyapan di malam itu. Tidak ada yang bersuara, Dedi pun terduduk di salah satu kursi tanpa ekspresi sambil memainkan pistolnya.
Keempat sandera itu tahu, bahwa akan ada sebuah rencana yang tengah disiapkan Dedi. Mereka hanya berani menduga dalam otaknya masing-masing.
”Sudah waktunya...”
Suara itu membuat Mega, Jaka, Roni dan Firman terkaget dan melihat ekspresi beku milik Dedi. Ada dengus angin keras yang keluar dari bibir Dedi.
Dedi memegang lengan kanan Jaka, diangkatnya dengan paksa dan dibawa keluar dari kantor.
”Ded,” ada sebuah suara lembut yang muncul. Suara milik Roni.
Dedi menoleh kearah suara itu, tanpa ekspresi, tanpa suara.
“Kau tahu, kami memang bersalah padamu. Kami memang kurang ajar, kami memang bajingan. Tapi, maafkanlah kami. Kami tidak akan pernah mengulanginya lagi kepadamu dan pada siapapun. Kami sadar sekarang, tapi jika kamu meneruskan ini semua..., kamu akan mengalami kesulitan dan berurusan dengan hukum. Saya mohon, hentikanlah semua ini. Aku mohon...”
Kini, semua mata menatap syahdu pada Roni. Dan akhirnya, segera beralih kembali kepada Dedi, mata mereka memohon penuh pengharapan. Sedetik, ada kedip kerling di mata Dedi, ada kelembutan yang seolah tercipta sejenak, bagai sebuah bahagia yang telah lama hilang dari mata itu.
”Sudah terlambat! Karena, semuanya akan berakhir,” Dedi kembali menarik lengan jaka dan membuka pintu.
”Ded, kami mohon. Hentikan semua ini, kita bisa memulainya kembali dengan baik,” kini suara itu dari Firman, ”Kita akan menjadi teman, kami telah sadar kini, maafkanlah kami.”
”Kenapa sadar kalian baru sekarang? Jika aku tak melakukan hal ini, apakah kalian akan sadar? Sekarang, biarlah aku mengakhiri semuanya!”
Dedi menutup pintu kembali dan menguncinya dari luar, ada sesak di hatinya, ada pengab di seluruh syarafnya; antara menghentikan atau mengakhiri segalanya. Hatinya teramat bimbang sesungguhnya.
”Maafkan aku Ded, hentikanlah semua ini...,” sambil ditarik, Jaka memohon.
Kau tahu, ini berarti tindakanmu ini adalah benar. Buktinya, mereka semua telah sadar. Maka tuntaskanlah..., karena kau akan menghilang.
Kepala Dedi seolah tertusuk jarum-jarum tajam, pening.
Hentikanlah, semua belum terlambat untuk memulai dengan lebih baik.
”Ahhhh!” Dedi memegangi kepalanya dengan tangan kirinya.
Biarlah..., semuanya telah menganggapmu hancur, sekalian saja kau akhiri semuanya. Kau tidak akan diterima kembali. Lihatlah, bagaimana mereka sore tadi menipumu dan hampir membunuhmu!
Mata Dedi kembali menajam, ditariknya lengan Jaka lebih kuat. Suara-suara malam menimpali perjalanan mereka berdua menuju lorong-lorong itu. Mereka hendak membuat tipu daya, dan aku juga menyiapkan tipu daya yang lebih baik dari kalian. Kita lihat strategi perang siapa yang paling hebat!
Dedi tak lagi mempedulikan suara memohon Jaka, dia terus menarik tubuh itu. Dan, rencana-rencana telah mengolah otaknya yang terisi bagaimana mengakhiri semua kejadian yang telah terjadi seolah kini di luar kontrolnya.
@ @ @
Pagi gelap, seusai shubuh itu...
Rahma mengendap memasuki terowongan tersebut, entah kapan secara pasti dia menemukan beberapa siswa sekolah membolos melewati terowongan tepat di bawah Sekolah Karya Bakti. Saat terowongan itu, menghubungkan dengan ruangan di belakang toilet belakang, tepat di sebelah rerimbunan pepohonan pisang yang ditanam sekolah.
Rahma mempersiapkan diri, dan mulailah dia memasuki terowongan tersebut. Merayap dan terus merayap, dia juga heran pertama menemukan terowongan itu, terowongan yang setengahnya adalah di bawah pondasi dan setengahnya adalah tembok gerbang yang digempur dibagian pondasinya. Tentu, ada orang yang melakukannya untuk suatu kepentingan.
Suatu kepentingan? Apakah... pikiran itu berkecamuk demikian cepat di otak Rahma. Apakah benar pemikiran yang tiba-tiba menyeruak di dalam benaknya, berarti jika benar, telah terjadi sebuah persiapan yang matang tentang semua ini. Tentang niatan yang matang hendak dilakukan suatu hari.
Namun...
Mata Rahma benar-benar terbelalak, terowongan berdiameter sekitar 50cm dari mulai setengah bawah tanah dan setengahnya tembok itu membuatnya berhenti. Padahal Rahma hampir melewati ujung terowongan tembus jarak pendek itu. Di depannya ada tumpukan batu bata merah yang rapat, meninggi ke atas. Rahma keluar dari terowongan itu, dan di depannya telah berdiri tumpukan batu-bata setinggi dirinya lebih sekitar satu panjang lengan orang dewasa.
Apa ini?
Diambilnya satu barisan bata yang berada di depan secara memutar itu, yang menutupi dirinya dari masuknya ke sekolah. Tidak ada tempat membuang ke depan, karena tumpukan bata terlihat tebal ke belakang. Maka, terpaksa Rahma membuangnya secara kuat di dalam lubang terowongan yang baru saja dilewatinya. Rahma mulai bergegas membuangi batu bata dengan kedua tangannya, dia harus segera masuk ke Sekolah dan berusaha melihat rahasia apa yang tersembunyi dalam penyanderaan ini. Karena seluruh syarafnya menuju pada sebuah nama, Dedi!
Sekitar dua tumpukan bata setengah lingkaran yang mengelilinginya itu ditemukan sebuah kertas terjatuh di antara selipannya. Sebuah surat? Rahma membacanya dengan bantuan alat komunikasinya yang dihidupkan agar mempermudah membacanya, karena suasana masih berkabut pagi itu. Matanya membaca seksama untaian kata beberapa kalimat tersebut ...
Rahma ...
Aku tahu, kau yang akan melewati terowongan ini untuk menemuiku. Sudahlah, jangan kau teruskan. Aku hanya sejenak menyelesaikan semuanya, maafkanlah aku...
Rahma menggelengkan kepalanya, dia semakin terpacu untuk memunguti satu persatu bata dengan cepat, namun dia harus berhati-hati karena dia tahu. Bajunya telah kotor sempurna oleh debu dan butiran bata yang beterbangan, batu bata itu pasti tebal beberapa kali, maka dia harus menatanya di lubang yang baru saja dilewatinya dengan baik.
Genap dua tebal bata kembali dibersihkan, secarik kertas terjatuh kembali. Hari mulai terang, namun tulisan tersebut masih belum terbaca, Rahma menggunakan alat komunikasinya kembali untuk membaca tulisan tersebut.
Rahma...
Aku tahu kau tidak akan pernah berhenti menyibak bata ini..., aku sangat mengenalmu dengan baik. Tapi..., aku sudah mempersiapkan segalanya, seperti pernah kukatakan padamu.
Aku ingin mengakhiri semua ini..., jika kau selesai pun, pasti semuanya sudah berakhir sahabatku.
Ada tetes bening yang jatuh di pipi Rahma, dia tak mau berhenti, dia terus berusaha. Mengejar sebuah harapan, bahwa segalanya belum berakhir. Bayangan Dedi yang selalu murung dan bertubuh kurus itu, membuatnya seolah tersuplai tenaganya. Maka, dia terus berusaha walau tenaganya telah banyak terkuras dan juga air matanya satu-persatu menetes membasah pipinya, sesekali dia harus menghapusnya dengan baju yang menutupi lengan kanan dan kirinya.
Kenapa kau lakukan ini Ded, kau tidak salah. Ya Allah, tolonglah dia...
Dan saat Rahma mulai kelelahan, sebuah kertas terjatuh kembali di antara selipan batu bata tersebut.
Sudahlah...
Terimakasih untuk persahabatanmu, aku tak akan pernah melupakanmu. Selamat tinggal Rahma. Sungguh, aku bahagia seandainya di dunia ini aku hanya memiliki kamu sebagai temanku.
”Dediii!”
@ @ @
Beberapa hari ini, berita mulai marak dan dalam berita-beritanya memuat tentang penyanderaan yang terjadi di Sekolah Karya Bakti. Bahkan, secara serius Presiden membuat pernyataan bahwa kasus penyanderaan itu sedang diselesaikan dengan baik dan kepada masyarakat agar tidak panik. Seolah stasiun televisi telah berjajar di depan Sekolah dan sedang mencuri-curi agar dapat menggambarkan kisah tersebut sebaik-baiknya saling mengejar rating tertinggi sebagai pencari berita terdepan dan tercepat.
Saat Arifin menginterogasi Deri, Deri menjelaskan dengan sempurna, bahwa si penyandera adalah seorang siswa, satu orang. Bernama Dedi Hasanudin. Dan, informasi demikian cepat merebak, karena seorang wartawan mencuri informasi itu tanpa diketahui. Jadilah seluruh berita mengetahuinya, dan ditayangkan di seluruh stasiun televisi dan media massa.
”Ada yang ingin bertemu dengan anda Pak.”
”Siapa?” Arifin membenahi topinya.
”Seorang wanita, katanya dia pernah diminta tolong oleh Dedi,” foto Dedi Hasanudin telah terpampang di seluruh stasiun televisi sebagai penyandera. Stasiun televisi begitu berlebihan memuatnya, dan mengabarkan dengan masing-masing data yang diperolehnya walau belum jelas seluruhnya.
”Amankan dengan baik, jangan sampai ketahuan wartawan. Bawalah kesini dan jaga dengan ketat.”
”Baiklah Pak.”
Arifin nampak gelisah, memikirkan kasus ini seolah seperti dalam komik atau film-film saja. Seorang anak, demikian cerdasnya, menggunakan sebuah patung yang di letakkan jika malam di pinggir gerbang. Dan, polisi terkecoh.
”Ini pak orangnya.”
Beberapa polisi telah datang, membawa seorang wanita setengah baya yang memakai rok panjang dan rambut di gelung.
”Kenapa anda mau menemui saya? Apakah anda berhubungan sesuatu dengan Dedi?”
Agak ragu-ragu, wanita itu mulai bercerita, ”Saya..., saya sangat prihatin dengan kasus ini Pak. Siang itu, saya sedang berjualan di kaki lima. Anak itu membeli minuman, dan meminta saya menolongnya untuk menelpon seorang lelaki untuk segera datang ke tempat seseorang karena membutuhkan bantuannya. Anak itu tidak mau menghubunginya sendiri, karena katanya dia sedang ada masalah dengan lelaki itu. Baru saya tahu, bahwa yang saya hubungi itu adalah Kepala Sekolah Karya Bakti. Kepala sekolah yang menghubungi saya kembali, dan saya tahu anak itu adalah yang menyandera dan menjadi sorotan berita saat ini. Sungguh, saya tidak terlibat apa-apa Pak. Saya hanya menolongnya, tolong jangan tangkap saya.”
Arifin menatap wanita tua itu sejenak, ”Baiklah, tapi kami minta beberapa info lebih lengkapnya. Kami tidak akan menangkap orang yang tidak bersalah, percayalah pada kami.”
”Terimakasih Pak,” Wanita itu terlihat mulai lega wajahnya.
”Pak!” seorang masuk ke dalam mobil itu tergesa-gesa.
”Ada apa?”
”Disana Pak,” Petugas itu menunjuk arah sekolah.
Pak Arifin langsung menghambur melewati petugas itu, dan berlari diikuti beberapa polisi yang lain. Kerimunan pagi itu mulai tersibak, terang pagi ini membantu pandangan manusia dalam melihat dunia. Arifin berusaha menyibak kerimunan manusia, serta beberapa wartawan yang saling berdesakan mencari posisi rekam terbaiknya.
Beberapa polisi membantu menyibak kerumunan padat itu, sedikit mendorong paksa agar mereka dapat melewati kerumunan. Dan..., saat itulah mereka terkaget bukan karena apa-apa, melainkan ternyata kerumunan di depan garis polisi itu, sebuah layar televisi salah satu stasiun menampilkan gambar seorang yang tengah diikat di tiang bendera. Dan dia adalah salah satu sandera.