Bisikan Pembalasan
2 Peluru
”Ada informasi berharga Pak.”
”Apa itu?” Arifin mengalihkan perhatiannya serta menutup buku informasi tentang Dedi Hasanudin yang diberikan dari pihak sekolah. Secara lebih detail, dia melihat kehidupan keluarganya. Ibunya yang sakit, ayahnya yang seorang preman yang kerap menyiksanya. Hal itu diperkuat dengan keterangan dari ibunya. Setidaknya, kini Ibunya telah sadar dan semoga bisa meredakan kemarahan Dedi.
Polisi baru saja mengidentifikasi tentang ledakan yang terjadi. Bahwa sebuah benang telah dipersiapkan jauh waktu, benang yang dihubungkan dengan korek bensol. Saat benang itu ditarik dari jauh, otomatis akan menekan di ujungnya pada korek dan di dekat korek tersebut bensin telah dibuat bocor tetesan yang sangat lambat dan kecil. Dedi telah memikirkan hal tersebut jauh-jauh hari.
”Ada seorang yang mengaku menjualkan pistol kepada Dedi.”
”Suruh dia masuk, dan rahasiakan.”
”Baik Pak.”
Arifin nampak gelisah, memikirkan kasus ini seolah seperti dalam komik atau film-film saja. Seorang anak, demikian cerdasnya, menggunakan sebuah patung yang di letakkan jika malam di pinggir gerbang. Dan, polisi terkecoh.
”Ini pak orangnya.”
Beberapa orang telah datang, membawa seorang lelaki yang agak serabutan bajunya dan kumis yang melintang agak tebal.
”Kenapa anda mau menemui saya?”
”Saya..., saya sangan prihatin dengan kasus ini Pak. Sayalah yang menjualkan pistol rakitan itu pada anak itu. Saya telah melihat acara televisi, saya begitu ketakutan dengan kenekatan anak itu. Dan..., saya melihat dia seperti orang yang sangat marah dan aneh saat dia membeli senjata itu, namun saya merasa kasihan ketika mendengarkan beberapa stasiun televisi menyiarkan informasi tentangnya. Saya sangat menyesal pak.”
Arifin mendengarkan kisah lelaki itu.
”Tapi, satu hal yang pasti pak. Saya memberikan dua peluru saja padanya.”
Ada kekagetan di wajah pak Arifin. Ini merupakan informasi yang penting baginya. Dua peluru saja. Namun, hal ini akan berbahaya ketika banyak orang yang tahu, jika Dedi diketahui semua orang hanya memiliki satu peluru. Ada kemungkinan Dedi akan semakin nekat dan bisa jadi membunuh dirinya sendiri karena keadaan yang terlihat memaksanya. Maka, Arifin meminta beberapa orang di sekitarnya untuk merahasiakan hal ini kepada siapapun.
@ @ @
Suasana masih menegangkan, hingga semua orang menunggu apa yang akan terjadi. Korban luka dari beberapa polisi telah diantisipasi, hanya luka terkena ledakan api, tidak ada yang parah. Namun, hal ini membuat polisi semakin waspada.
Kemudian di dalam Sekolah. Dedi merasa gelisah, sambil terus memegangi pistol rakitan yang kini hanya tinggal terisi satu peluru. Dia beberapa kali berjalan mondar-mandir, Roni dan Mega terdiam melihat tingkahnya.
”Sial! Kenapa semua jadi begini?!” Dedi menghentakkan kaki kanannya kuat ke lantai dan tangan kirinya sedari tadi tak lepas menggaruk-garuk kepalanya. Terus terang, dia tidak menginginkan semua ini, misinya pertama hanyalah membuat kapok gengnya Roni, serta memberi pelajaran kepada semua orang agar tidak ada yang menghina dan meremehkannya. Namun, kini semua kejadian seolah memancingnya untuk menghancurkan segalanya dengan sempurna. Dan, senyumnya tiba-tiba tersungging kembali.
Namun...., senyumnya kali ini sungguh terasa berbeda dari senyum-senyum sebelumnya. Entah apa makna senyuman itu, hanya saja senyum itu lebih mendekati sebuah senyum kala lelaki tua yang sadar bahwa nyawanya tinggal dua tiga napas di depannya.
Langkah kakinya pelan mendekati dua tawanannya, lalu..., duduklah Dedi perlahan di depan mereka berdua.
@ @ @
Angin pagi mendekati siang ini, harusnya masih sejuk. Namun, baju yang dikenakan Rahma tampak mulai basah oleh percik-percik keringat yang bermunculan semakin banyak. Dia terus memunguti batu-bata, semakin lama semakin terampil serta semakin gesit. Dalam pikirannya, hanya ada satu nama sahabatnya. Dia harus bergegas, karena dia tahu ini adalah detik-detik terakhir setelah ledakan besar yang tadi baru saja didengarnya.
Derai airmatanya pun tak terhitung, berkejaran dengan derai keringatnya. Tangannya mencoba menggapai ke atas, dirabanya bata yang tersisa di depannya. Tiga bata lagi yang harus disingkirkannya.
Namun...
Tak ada lagi kesabaran dalam dirinya. Dia mendorong bata itu dengan pundak kanannya, kakinya menjejak kuat sebagai pertahanan kebelakangnya. Seluruh sisa kekuatannya dikerahkan.
”Brukkk!”
Bata itu rompal ke depan, namun keseimbangan Rahma tak terjaga dengan baik akibat kelelahan yang telah dialaminya. Dia ikut terjatuh ke depan, bersama tumpukan bata yang jatuh. Debu-debu bata beterbangan, beberapa biji bata mengenai punggungnya, untunglah kedua tangannya sigap membuat perlindungan di atas kepalanya sehingga tangannya terluka karena bata yang jatuh.
Rahma tak lagi mempedulikan luka di tangannya, sesaat setelah tubuhnya jatuh bersama tumpukan bata, dia segera berdiri dan berlari. Larinya pun sempoyongan, namun dia tidak mempedulikan tubunya lagi.
Dedi...
@ @ @
Arifin dan beberapa polisi yang mempunyai posisi penting telah mempelajari karakter Dedi dari seluruh sumber yang mereka ketahui. Mereka telah menerima keterangan secara detail, baik dari bentuk tertulis maupun laporan secara lisan. Laporan tertulis mereka dapatkan dari bu Sri selaku wali kelas Dedi sekaligus laporan lisan tentang salah satu siswa yang menjadi tanggung jawab di kelas. Selain itu, pak Yudo ikut memberikan keterangan apa yang diketahuinya tentang Dedi, siswa yang selalu dipandangnya kasihan itu karena selalu dihina dan dipermainkan teman-temannya.
Tanpa di duga, setelah kejadian ledakan besar yang terjadi pada mobil sekolah itu, ada seorang lelaki yang datang sambil menceritakan tentang Dedi. Dia adalah Santo, bos polibek tempat dimana Dedi bekerja sepulang sekolah. Barulah Santo tahu, kalau uang kerja selama ditempatnya dikumpulkan untuk menyiapkan sebuah malapetaka besar ini.
Hasil identifikasi ledakan mobil sekolah di dekat gerbang itu sudah menemukan hasilnya. Sebuah benang telah diikat di dekat gerbang dalam, tempat dimana Dedi menarik benang tersebut. Disana, benang itu terhubung dengan sebuah korek tekan, yang ketika benang ditarik maka akan menarik pelatuk korek, sehingga api akan muncul atau setidaknya akan memunculkan percik.
Dan keahliannya adalah, derigent bensin telah dijungkirbalikkan dan meneteskan tetes demi tetes bensin di dalamnya pelan-pelan. Maka, ketika percik atau api menyala, akan segera menyambar tetes bensin dan meledakkan mobil tersebut. Selain itu, di dekat derigent telah dipasang karbit yang disimpan rapi dalam sebuah wadah plastik, sehingga saat panas menyambar bensin akan membakar plastik tersebut, dan akhirnya ledakan itu terjadi.
Dedi telah menyiapkan semua itu dengan imajinasinya.
Informasi selanjutnya, secara lebih detail dan inilah yang membuat polisi dan beberapa wartawan mendengarnya secara seksama, mereka merasa empati dengan apa yang dialami Dedi. Cerita ini dari bu Halimah, ibu kandung Dedi Hasanudin. Seluruh masyarakat Indonesia, bisa mendengarkannya lewat stasiun televisi, bagaimana Halimah menceritakan kehidupan Dedi yang tak terurus dan penuh kesendirian.
Halimah menceritakannya sambil terus menangis, dia sangat menyesal karena tidak bisa membimbing Dedi dan menjerumuskannya hingga seperti ini. Semua orang menjadi terharu mendengarnya.
Selain itu, polisi mempunyai satu informasi yang belum dikuak, dan mereka merahasiakannya dari wartawan. Siang itu, seorang lelaki datang kepada mereka, dia adalah Mahfudz Sidiq, beliau menceritakan hubungannya dengan Dedi sedetail mungkin tentang semua tekanan, dan perasaannya Dedi selama ini. Seluruh karakter diceritakan dengan terperinci dan Mahfudz meminta izin untuk dapat berbicara baik-baik pada Dedi.
”Izinkanlah saya masuk kesana Pak, saya akan mengusahakan yang terbaik.”
Arifin masih terdiam, ”Tapi ini berbahaya Pak, bapak lihat saja dia sudah senekat tadi.”
”Saya sangat mengenalnya Pak, dia hanya tertekan,” Mahfudz terus meyakinkan.
”Kami tidak mau mengambil resiko lebih parak pak guru,” seorang polisi sudah tidak bisa mentolerir permintaan Mahfudz.
”Tapi Pak...,”
”Gleduaar!”
Ledakan besar terdengar. Semua polisi sangat kaget dengan kejadian tiba-tiba itu. Mereka segera bergerak, bahkan tak mengira akan terjadi sebuah suara memekakkan telinga seperti itu. Keadaan formasi mereka menjadi kacau. Mahfudz merasa ada sesuatu yang juga direncanakan Dedi, dia segera berlari keluar tak mempedulikan semua kepanikan yang terjadi.
@ @ @
Pijakan kaki Rahma saat berlari menjadi goyah, ledakan besar itu membuatnya hampir saja terjatuh, ditambah tubuhnya telah lelah membersihkan bata untuk lewat barusan. Airmatanya tak henti, masih mengalir. Dia membayangkan apa yang terjadi dengan penuh kekhawatiran.
Hampir saja dia terjatuh, namun segera dikuatkan dirinya dan terus berlari melewati kelas-kelas belakang sekolah. Dia harus segera sampai di ruangan dimana Dedi menyandera teman-temannya. Dia dia terus berlari.
Saat berlari melewati ruang kantor, pintunya tertutup namun tidak terkunci. Rahma mendorong pintu itu dengan cepat, tak ada apa-apa, hanya ada percik-percik darah yang kering di lantai. Dia kebingungan, dan suara gemuruh manusia serta teriakan-teriakan terdengar dari luar gerbang dalam menuju gerbang utama. Tak ada lagi yang dipikirkannya kecuali berlari menuju arah tersebut.
Hentikan Ded
@ @ @
Saat posisi para polisi bersenjata kacau, mereka terkaget oleh ledakan yang tiba-tiba. Saat itulah pintu gerbang dalam sekolah terbuka dan seorang terlihat berlari dengan cepat, dia adalah Roni. Polisi masih berjaga-jaga, mereka membidik senapannya dengan hati-hati. Mega terus berlari dan hampir mendekati jangkauan mereka.
Beberapa polisi segera paham, mereka melemparkan gas airmata hingga pandangan mulai sedikit tidak manajam. Dan sedetik kemudian, belum genap Roni sampai dalam jangkauan mereka, seorang perempuan keluar dari gerbang dalam itu dan berlari pula menyusul Roni. Pandangan mereka masih jelas karena yang berlari adalah Mega.
Dan..., Mahfudz melihat keganjilan ini. Dia segera berlari menuju arah police line. Polisi melemparkan gas airmata kembali, hingga suasana seolah kabut tebal kala pagi di pegunungan. Roni telah sampai pada jangkauan polisi, mereka meraihnya. Sedangkan Mega hanya tinggal beberapa langkah lagi.
”Selamatkan Dedi! Selamatkan Dedi!”
Suara Mega terdengar nyaris tak terdengar oleh keriuhan setiap manusia, kepanikan sisa-sisa ledakan yang masih tersisa. Namun, Mahfudz sempat mendengarnya saat melewatinya, pikirannya hanya menjurus sebuah nama. DEDI. Kenapa Mega berucap ’selamatkan Dedi?’ namun, ini adalah firasat baginya, bahwa Dedi memang merencanakan ending dari semua rencananya. Maka, Mahfudz berlari memasuki gas yang semakin menyusahkan pandangan, dia berlari melewati polisi dan melewati Mega yang telah sampai di gerbang depan dan diamankan polisi.
Saat itulah...
”Aku puas sekarang!”
Teriakan itu berasal dari seorang yang baru saja keluar dari gerbang dalam dan memegang seorang tawanan di depannya. Pistol di tangan kanannya tepat mengarah ke kepala di samping kanan tawanan itu. Tawanan itu adalah Jaka. Pelan mereka berjalan kearah asap yang mengepul, pandangan polisi mulai kabur. Dan seorang sniper telah ditugaskan sejak ledakan tadi, untuk membidik dan menembak jika diperlukan dan terdesak.
Dedi, tanpa rasa takut terus melangkah. Tampak sekali wajahnya diantara asap itu, wajah yang penuh ketenangan, seolah siap menghadapi kematian dirinya.
”Tembak aku segera, jangan ragu! Aku akan hitung sampai tiga, jika kalian terlambat maka kepala temanku ini akan meledak!”
”Hentikan Ded! Kami tahu, kamu hanya tinggal punya satu peluru! Kau tak akan melakukannya! Serahkan dirimu!”
Seorang polisi yang ditugaskan untuk membantu kasus ini mengambil microphone. Tapi, kekhawatiran semakin terlihat di wajah Mahfudz, dia tahu hal itu akan semakin meyakinkan Dedi akan jalan yang diambilnya.
”Satu!”
Hitungan telah dimulai Dedi. Semua kebingungan, sniper dan para polisi bersiap dengan senjata mereka.
”Cepat tembak aku kalau berani, sudah hitungan kesatu!”
”Hentikan! Serahkan dirimu, kau mungkin akan dibebaskan. Semuanya belum terlambat! Kita bisa mulai lagi dari awal Ded!” suara polisi tadi.
Dedi tersenyum, ”Dua!”
”Hentikan Ded! Atau kami terpaksa melumpuhkanmu!” polisi tersebut adalah orang yang mengambil alih tugas pak Arifin karena dinilai selalu mentolerir sikap penyandera. Dan polisi ini, baru memegang alih kasus ini.
”Ti...,”
Mahfudz berlari sekuat tenaga, menembus asap dan berlari kencang kearah Dedi.
Sedetik itu, Dedi terdiam dan bibirnya bergetar melihat seorang berlari kearahnya, dia adalah orang yang amat dihormatinya. Pegangan pistolnya bergetar.
”Ahhhh!” Jaka yang merasa pegangan Dedi longgar, menggigit pergelangan tangan Dedi kuat. Namun, Jaka yang masih terikat hanya bisa menggigit dan Dedi menendang punggung Jaka kuat hingga tersungkur ke bawah. Selanjutnya, Dedi mengarahkan pistolnya kearah Jaka yang terjatuh tepat di bawahnya. Manarik pelatuknya dengan cepat, ”Cklek!”
”Duarr!”
@ @ @
Saat keriuhan terdengar membahana, Rahma mencapai gerbang dalam sekolah. Di bawahnya ada sebutir peluru yang terinjak di kakinya, Rahma memungutnya dan memegangnya dengan tangan kanannya. Tangannya bergetar, dan matanya yang berair menatap lurus dimana gerbang di depannya terbuka, sesosok tubuh yang jatuh di balik asap yang menutupi pandangannya.
Mata berairnya tak kuasa melihat kejadian di depannya. Mendung berarak melewati matahari yang terus meninggi. Seolah, suara alam senyap hilang ditelan semesta yang menyerap seluruh suara yang ada.
Seluruh pantulan suara seolah hilang dan punah. Yang ada, gambarannya adalah seolah semua bergerak tak beraturan, namun tak bersuara.