Bisikan Pembalasan

Apakah Ada Keceriaan

”Ulangilah,” pak Mahfudz tersenyum.

Dedi melirik sejenak, lalu kembali ke buku Iqra’ -nya, ”Man-a-naa, tsa-maa-ni-yah,...”

Udara demikian sejuk, bertiup dan bertolak di praflon triplek mushila Sekolah. Beberapa cicak terlihat berkejaran, ada yang bersembunyi di balik usuk, dia malu karena terlihat oleh manusia. Namun, ekornya terdiam, tunduk pula bersama dzikir manusia, membersamai mengagungkan keagungan Rabb Semesta Alam.

”Bagaimana perkembangan saya Kak?” Dedi memberanikan diri, menatap wajah gurunya itu. Wajah itu tampak muda dan ceria, matanya demikian sejuk kala dipandang. Jenggot tipisnya terurai segelintir, hanya beberapa helai. Gurunya ini baru saja lulus dari kuliahnya di pendidikan, dan mengajar honor di Sekolah Karya Bakti.

Sewaktu pertama belajar, Dedi masih ingat. Saat dikumpulkan satu kelas yang laki-laki, dan Dedi bersama yang lainnya. Saat pertemuan pertama, sepulang sekolah itu, sepulang belajar agama di luar jam sekolah itu pula, Dedi mengatakan tidak ingin ikut mengaji lagi. Pak Mahfudz membujuknya saat bicara empat mata.

Dan hasilnya, Dedi mau belajar agama, jika sendirian, minta di hari yang lain. Pak Mahfudz menyanggupinya, tapi pak Mahfudz tidak mau dipanggil Pak, kala mengaji, melainkan Kakak. Dan mereka sepakat.

Mahfudz memegang pundak kanan Dedi pelan, ”Perkembanganmu sungguh cepat Ded, bahkan jika kau mulai membaca Al-Quran sekarang, Kakak yakin kamu akan lancar,” wajah itu menyiratkan sebuah apresiasi mendalam, sebuah perhatian yang tulus.

Dan senyum mereka bertemu, dan senyum Dedi adalah senyum terindah yang pernah dilakukannya, seumur hidupnya, former, seolah lahir kembali.

”Kak Mahfudz tidak bohong kan?”

”Guru agama tidak boleh bohong kan?”

”Kenapa harus guru agama Kak?”

”Maksud Dedi?”

”Bukankah semua orang, di dunia ini tidak boleh berbohong. Tak peduli apapun jabatannya?”

”Tentu saja.”

Dan mereka kembali tersenyum. Dedi seolah menemukan keceriaan, find the soul. Seolah, dedi baru menemukan dirinya sendiri. Sebuah perjalanan panjang kehidupan manusia, yang sesungguhnya adalah menemukan dirinya sendiri, mengenalnya, dan mengapresiasikannya. 

“Apakah hari ini Dedi ada acara?”

“Tidak.”

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Naik motorku?” Mahfudz menatap penuh pengharapan pada Dedi.

Dedi mengangguk, dan mereka segera memberesi meja kecil untuk belajar, ditaruh di pojok belakang mushola. Dan mereka melenggang, menuju tempat parkir. Suasana telah sepi di Sekolah Karya Bakti. Lengang. Mungkin sebagian besar sudah pulang, yang tersisa mungkin satu organisasi yang mendapat giliran untuk latihan di hari ini.

Mereka menaiki motor vespa milik Mahfudz, motor melaju meninggalkan bunyi yang keras, pertanda mesinnya telah tua.

”Kau siap Ded?”

”Siap untuk apa Kak, eh Pak?” sesuai perjanjian, hanya Kak saja yang digunakan saat mengaji.

”Ngebut!”

”Motor setua ini Pak?”

Mahfudz tak menjawab, melainkan mengeraskan gas di pergelangan tangan kanannya. Motor vespa memiliki cc besar, walau mesinnya terlihat tua, namun Mahfudz dengan lincah meliuk-liuk, membalap beberapa motor produksi baru. Lincah di antara mobil dan motor yang menderukan pula suara-suara bising.

”Bagaimana?”

Dedi tak menjawab, tiba-tiba angannya melayang. Inilah mimpinya, seperti lembaran-lembaran imajinasinya yang tercecer, menikmati pemandangan alam, mengepakkan sayap-sayap yang selama patah dalam nyata. Kini, nyata sudah sayapnya terkembang, membubung angin, menadah derunya.

”Kita terbang Pak,” sebuah suara lirih keluar, tanpa sadar, Dedi membentangkan kedua tangan. Seperti sayap pesawat terbang yang lurus, merasakan hempasan angin, semilir yang dipaksa karena kecepatan motor.

”Katupkan tanganmu, ini di jalan raya Ded.”

Dedi menurunkan tangannya. Tapi, angannya segera terlukis sayap-sayapnya mengepak, dalam hidupnya, yang Dedi tahu, baru sekali ini dia naik motor. Apalagi, motor vespa yang suaranya amat berisik, tapi itulah nikmatnya. Angannya terus mengembara, dan mengundang senyum tulus di bibirnya.

Motor berhenti di sebuah bulak, tak panjang, hanya sekitar 300 meteran. Mahfudz menghentikan motornya di pinggir jalan itu.

”Kenapa berhenti Pak?” Dedi turun.

”Ini terpaksa Ded, bensinnya habis. Bapak lupa mengeceknya tadi.”

Di depan sana, setelah bulak itu, tampak perumahan baru terlihat. Mahfudz yang berkisar usia 23 tahun itu, mengangkat kedua pundaknya kepada Dedi, dan Dedi tersenyum. Apa boleh buat? Mahfudz memegang kedua stang motor dari sebelah kiri, dan menuntun motor itu. Dedi mengikuti dari belakangnya.

Mahfudz merasa gerah, kemejanya terlihat sedikit basah terkena keringat. Dia menoleh sejenak ke belakang, Dedi berjalan demikian pelan, menunduk dan melihat dua kilan di depan ujung sepatunya. Langkah Dedi teramat gontai, seolah tak memiliki daya hidup.

Tiba-tiba ide terlintas di pikiran Mahfudz.

”Capek sekali rasanya Ded, bisa bantu Bapak?”

Dedi mengangkat kepalanya, ”Bantu apa Pak?”

”Tapi kelihatannya tubuhmu demikian ringkih.”

”Saya kuat Pak,” kalimat menyindir itu, membuat Dedi seolah segera ceria, memperlihatkan bahwa dia kuat, ”Saya biasa bekerja Pak.”

”Baiklah..., kau dorong vespa ini dari belakang ya. Siapa tahu sambil saya gas bisa hidup. Tubuh Bapak pegal-pegal soalnya menuntun sudah setengah lebih perjalanan bulak ini. Bagaimana?” Mahfudz mengangkat sebelah kanan alisnya.

”Baiklah,” Dedi sebenarnya tahu sesuatu, tapi dia mengiyakan. Bukankah jika bensin habis, dibunyikan seperti apapun tak akan hidup? Apalagi didorong. Tapi, dengan senang hati, Dedi sedikit merunduk sedangkan Mahfudz naik di motor itu. Dedi mendorong demikian kuat, terus, dan seolah hampir berlari.

Serpihan angin kembali menyapa kedua wajah manusia itu, menyapa dengan riang, seriang semesta yang selalu menghadirkan simponi. Dedi tak lagi murung, dia mendorong sambil pura-pura berat, seolah mendorong beban yang memang benar-benar berat, walau bajunya sedikit lengket karena keringat, tapi dia seolah tak merasakan keletihan itu.

Dari depan motor itu, Mahfudz melirik dari spion motor vespa-nya. Lalu, senyum kecilnya tercipta, walau ada perasaan tak enak karena meminta Dedi mendorong. Tapi, setelah melihat raut wajah ceria itu, tak apalah membiarkan Dedi agak kelelahan. Karena Mahfudz, semenjak pertama kali bertemu dengan Dedi, ada perasaan lain yang menyelimutinya. Selain karena pendiam dan selalu sendirian, ada sesuatu yang disembunyikan dari pribadi Dedi.

Mahfudz kembali menatap pemandangan di depannya, aku tak mau ada anak seperti Dedi, yang memiliki kehidupan sepertiku. Selalu kesepian, cukuplah aku saja ya Allah. Cukup aku saja, karena aku merasakan jiwanya mirip dengan jiwaku. Sama-sama kesepian.

”Pak Mahfudz melamun?”

”Mungkin, tahu darimana?” Mahfudz segera tersadar.

”Karena Bapak diam saja, biasanya selalu bercanda.”

”Seperti itulah kamu yang selalu melamun, benar kan?”

Dedi baru sadar, ternyata pertanyaan itu adalah untuk dirinya sendiri. Dan, pak Mahfudz demikian telah memahaminya. Memang, semenjak pertama berkenalan sepulang sekolah, Dedi merasa seolah mereka adalah sahabat kecil yang telah demikian lama tak bersua.

Mereka mulai memasuki perumahan kembali.

”Berhenti, itu di depan ada yang berjualan bensin.”

”Tidak Pak, biar sampai di tokonya sekalian. Saya masih kuat, saya tidak mau disebut ringkih.”

Mahfudz tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bukankah menghentikan kehendak manusia, sama saja menghentikan imajinasi dan kreatifitasnya? Karena melakukan yang disukai, adalah sebaik-baik pekerjaan dan sebaik-baik produktifitas?

Mereka berhenti di depan sebuah toko, di depannya berjejer bensin dalam setiap ukuran. Rak paling atas berukuran satu liter, di bawahnya dua liter, dan di bawahnya lagi dalam wadah drigen-drigen, karena tak ada lagi raknya.

Seorang lelaki setengah baya keluar dari dalam toko itu, sambil tersenyum. Mahfudz memesan dua liter bensin campur,  lelaki tua itu melayani dengan cekatan, sedangkan Dedi tampak mengipasi wajah dan bajunya dengan kedua tangannya. Tetes-tetes keringat nampak berembun di wajahnya.

Mahfudz mengucapkan terima kasih dan membayar bensin itu, ditatapnya wajah salah satu muridnya itu. Wajah itu tampak kemerahan terbakar, Mahfudz tersenyum, gigi serinya terlihat dan ada bunyi tawa kecil di sela-selanya.

”Kenapa Pak?”

”Kamu memang kuat Ded.”

Dedi tersenyum, hampir seluruh episode hidupnya, tak ada yang memberi pujian demikian. Selalu hinaan dan celaan, jika teringat seluruh celaan dalam hidupnya, tiba-tiba tampak mendung di wajahnya.

”Hei, jangan sedih lagi. Ayo naik!”

Dedi segera menyusul Mahfudz naik di vespa belakang. Motor kembali menderu, suaranya tampak bising, maklum, mesin tua. Namun, baru seratus meter dari toko bensin itu, motor kembali berhenti. Dedi nampak keheranan.

”Rusak lagi motornya Pak?”

”Sudah, turun saja dan ikuti Bapak,” Mahfudz menunggu Dedi turun, lalu menstandarkan motornya. Berjalan melewati jembatan di trotoar itu, dan masuk di kedai rumah makan itu. Dan memesan dua porsi makanan, kesukaan Mahfudz. Wanita setengah baya penunggu kedai langsung paham.

”Pesan apa Pak?”

”Makanan favoritku, kau cicipi saja.”

Dedi tak berani lagi bertanya, hingga makanan terhidang di depan mereka. Ada wajah keheranan dari raut wajahnya; tiwul, tempe goreng dua biji dan ikan asin, serta sambal dan lulupan serta sayur berkuah telah tersedia.

”Kau pasti ketagihan, ini memang makanan orang miskin. Tapi, rasanya tak kalah dengan pitzza atau hotdog lho,” Mahfudz tak lagi melihat pada Dedi, dia asyik memberi kuah pada nasi tiwul-nya, ”Kau akan menyesal jika tak mau makan. Ini rejeki Ded.”

Si pemilik kedai itu hanya senyam-senyum, satu langganannya itu memang selalu melebih-lebihkan. Bilang tak kalah rasanya dengan pitzaa? Yang benar saja. Itu itu bisa benar, bukankah jika kita bersyukur dengan rejeki Allah, semuanya adalah kenikmatan dan kesyukuran? Apapun makanannya, semuanya dariNya, dan adalah nikmat. Karena, banyak di belahan dunia yang lain, yang tak bisa makan, bahkan makanan yang tak layak dimakan.

Mahfudz sedikit kaget saat melirik kearah Dedi, makan anak itu sungguh lahap, melebihi dirinya. Mahfudz tersenyum, pasti itu gara-gara Dedi kelelahan mendorong motornya tadi, ternyata ada untungnya juga. Selain itu, ada bahagia tersendiri, membagi kebahagiaan pada anak yang selalu pendiam. Bahkan, beberapa siswa yang lain mengatakan bahwa Dedi memiliki kelainan.

Dedi makan demikian lahap, sambalnya terasa nikmat. Sesungguhnya, bukan karena dugaan Mahfudz benar tentang lahapnya Dedi. Dedi demikian lapar, di rumah, sering tak makan. Ayahnya selalu marah saat menemukannya tengah makan, dan akhirnya perutnya bisa kosong seharian kecuali air putih saja.

”Boleh tambah Pak nasi tiwul-nya?”

Mahfudz tampak kaget, tapi segera mengangguk lalu memesan kembali pada si pemilik kedai itu. Dan, Dedi kembali makan dengan lahapnya.

Selesai makan, Dedi tampak kekenyangan. Tangannya memegangi perutnya, berputar-putar. Mahfudz hanya tersenyum.

”Makanya, makannya jangan berlebihan.”

”Habis enak Pak.”

”Kamu ingin langsung pulang?”

”Apakah Bapak ada acara?”

”Ada sih, tapi bisa diundurkan, kenapa?”

”Temani saya hingga sore Pak?” tatapan mata Dedi, aneh, tampak kesepian menyemburat disana.

”Baiklah.”

Mereka kembali melaju, deru vespa kembali menggema, membelah jalanan. Ada keceriaan kecil dari wajah Dedi. Dia mulai merasakan, bahwa dunia sesungguhnya, tak setiap bagiannya adalah malapetaka, ternyata ada ruang celah kecil untuk sebuah keceriaan. Hingga, dia tidak mau pergi dari ruang kecil itu.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!