CEO Muda Yang Tampan
Permainan pun Dimulai
Rembulan yang terlihat indah dengan cahayanya di malam hari ditemani kelap-kelip ribuan bintang, betahnya Kevin sejak tadi memandang ke arah langit ditemani Tasya di sampingnya.
Yah malam ini Tasya datang ke apartemen Kevin atas perintah orang tuanya disuruh mengantarkan makanan untuk pewaris tunggal itu namun tampaknya Kevin tidak sedang berselera untuk makan.
"Kamu kenapa sih beb? Biasanya kamu suka dengan makanan ini," ujar Tasya saat suapannya ditolak oleh Kevin.
"Maaf Tasya, tapi aku sudah kenyang tadi pulang dari kantor aku mampir ke restoran dan makan di sana," jawab Kevin cuek.
Tasya pun menyentuh kedua bahu Kevin dan mengusapnya perlahan, membuat cowok itu seketika meremang oleh sentuhan Tasya ditambah lagi cewek itu datang dengan penampilan yang skimpy outfits.
"Ya sudah kalau gak mau makan, bisa kan kamu ajak aku bercerita tentang pekerjaan atau orang tua kamu tentang kelanjutan hubungan kita." Tasya memang pandai dalam mengalihkan topik, dia memeluk Kevin dari belakang dengan manja.
Yg"Aku tidak bisa melamarmu tahun ini," bisik Kevin dia memang sudah membicarakan tentang lamarannya kepada kedua orang tuanya karena dia ingin menghilangkan perjodohan bisnis ini.
"Kenapa?" Tasya melepaskan pelukannya dan menatap Kevin.
Tasya pun memeluk Kevin dengan erat dia tidak pernah memiliki banyak waktu untuk bisa bersama kekasihnya ini.
Tangan Tasya sangat pandai membuat Kevin tegang, mengusap-usap dada bidang hingga perut cowok itu, munafik jika dia tidak ingin bercumbu mesra dengan cewek cantik yang sedang bersamanya kini namun bagaimanapun dia harus bisa menahannya.
Perlahan Kevin melepaskan pelukan Tasya yang membuatnya meremang bahkan juniornya pun ikut tegang akibat sentuhan manja Tasya.
"Tasya, sudah berapa kali aku peringatkan jika pergi ke luar pakailah pakaian yang tertutup itu demi kebaikanmu loh, aku tidak ingin ada laki-laki lain melirikmu." Kevin selalu saja memberi peringatan kepada Tasya dia tahu bagaimana nafsu para laki-laki diluar sana jika melihat cewek dengan penampilan seperti ini.
Tasya membelai pipi Kevin sekilas, "Aku sangat suka jika kamu cemburu seperti ini, ya sudah aku pulang dulu yah selamat istirahat beb." Dia memberikan kiss di pipi kanan Kevin sebelum pergi dari apartemen kekasihnya itu.
"Hati-hati!" teriak Kevin sambil mengembuskan napasnya yang terasa berat, sejak tadi dia mengharapkan kepulangan Tasya dari apartemennya jika tidak habislah cewek itu oleh dirinya.
Begitu sayang bagi Kevin meninggalkan wanita cantik dan seksi seperti Tasya, jika semua sahabat-sahabatnya selalu bertanya apakah dia pernah tidur bersama cewek itu jawabannya adalah belum pernah, meski baginya wanita itu adalah permainan namun dia juga harus dihargai dan dijaga kewanitaannya.
Kevin belajar dari kakak perempuannya yang hancur dinodai oleh laki-laki brengsek yang kabur meninggalkan kakaknya setelah memberikan sperma dalam rahim kakaknya. Syukurnya sahabat cowok kakaknya yang memang telah jatuh cinta mau menerima dan menikahi kakaknya jika tidak Kevin tidak bisa membayangkan hancurnya kakaknya itu. Maka dari itu dia tidak ingin menghancurkan wanita manapun meski dia harus menahan nafsunya.
Keesokan harinya Kevin pergi berangkat ke kantor dengan menggunakan seragam kerjanya yang rapi.
Agus, supir pribadinya yang diutus oleh orangtuanya Kevin untuk menemani dan membantu cowok itu.
"Mari Tuan, mobil sudah saya siapkan di depan apartemen," tukas Agus mempersilahkan.
"Baiklah terimakasih." Kevin berlalu sambil terus menatap ponsel miliknya hingga masuk ke dalam mobilnya pun cowok itu masih berkutik dengan bendahara kecil yang hebat itu.
Agus membawa mobil Kevin dengan begitu cepat, membelah jalanan hingga melesat di depan gedung yang menjulang tinggi itu.
Kevin turun dan langsung disambut oleh para karyawannya serta sang sekretarisnya Sindy.
"Pagi Tuan," sapa Sindy dari balik meja kerjanya sambil melempar senyuman terbaiknya.
Namun, Kevin tidak menyahut ataupun membalas senyuman Sindy, membuat cewek itu duduk kembali di bangku kerjanya, dia tidak tersinggung dengan sikap cuek Kevin dia sudah mengenal dekat bos nya itu karena dia sudah lama bekerja sebagai sekretarisnya cowok itu.
Sedangkan Arabella sudah siap untuk kuliah online, semakin ke sini dia banyak mendapatkan jadwal perkuliahan melalui zoom meeting atau Mr. Team.
"Bella, kamu gak kerja hari ini sayang?" tanya Ibunya Sindy yang entah sejak kapan berada di kamarnya.
"Eh Ibu, Bella pagi ini ada jadwal kuliah jadi kerjanya dari sore sampai malam." Arabella menoleh menatap Ibu yang merupakan saudari Ayahnya.
"Yasudah jika mau sarapan Ibu sudah siapkan di meja makan yah."
Arabella akhirnya bangkit dari duduknya menghampiri Ibunya Sindy, "Ibu sudah makan dan sudah minum obat?" tanyanya. Ibu Vivin, Ibunya Sindy menganggukkan kepalanya, "Sudah kamu jangan khawatir yah, sana makan dulu atau Ibu yang akan bawanya ke sini?"
"Eh tidak usah Bu, selesai kuliah Bella pasti makan." Bella tersenyum. "Ibu istirahat saja yah, jangan capek-capek urusan pekerjaan rumah biar Bella saja," ujarnya.
"Iya sayang, makasih yah." Ibu Vivin pun akhirnya pergi untuk istirahat perkataan Bella ada benarnya dia harus istirahat untuk bisa kembali sehat.
1 jam setelah berkutik di depan ponselnya Bella bersiap-siap untuk pergi mengantarkan jas milik Kevin.
"Permisi Pak," ujar Sindy sambil mengetuk pintu ruangan Kevin.
"Iyah masuk!" teriak Kevin tanpa menoleh.
"Saya mau mengantarkan berkas Bapak yang sudah saya periksa dan semuanya aman Pak," tukas Sindy meletakan berkas yang dibawanya ke atas meja. "Kalau begitu saya pamit keluar dari ruangan terlebih dahulu."
"Ya terima kasih."
Ketika Sindy keluar dari ruangan Kevin dia menemukan Arabella.
"Hey, ada apa kamu kesini? Memangnya tidak bisa jika lewat via chat sampai harus ke kantor," omel Sindy menduga jika Arabella ingin menghampirinya.
"Kakak, aku ke sini mau ketemu Kevin dimana dia? Dia menyuruhku untuk langsung bertemu dengannya, padahal tadi aku hendak menitipkan pakaian ini kepada security," pekik Arabella tampak kesal.
"Syuttt! Sebut namanya menggunakan Tuan, ya Tuan Kevin," tegur Sindy dia menepuk bahu saudarinya menyuruhnya memperbaiki ucapan Arabella yang terdengar lancang di kantor kekuasaan cowok itu.
"Ah ya, dimana ruangannya kak?" Arabella malas untuk mengikuti Sindy dengan menghormati cowok arogan itu.
"Di sana, mari kakak antar." Sindy berjalan lebih dulu untuk menghantarkan Arabella.
Kevin mempersilahkan Sindy untuk keluar dari ruangannya, setelah memberitahu kedatangan Arabella ke kantornya.
"Selamat datang di kantor saya!" sambut Kevin dengan hangat.
Mendengar itu Arabella terkejut ya cowok yang sudah mengusik hidupnya kini adalah pemilik company Rahardian.
"Saya kesini mau memberikan pakaian tuan, nih saya taruh di sini dan masalah kita sudah clear okey saya permisi pulang," ujar Arabella hendak pergi meninggalkan ruangan.
"Hebat, kamu adalah cewek berani yang baru saya temui." Kevin menepuk mejanya dan bangkit dari duduknya.
Cowok itu menghampiri Arabella, ditatap tajam oleh Kevin membuat Arabella mundur ketakutan hingga tubuhnya menempel di dinding.
Kevin tersenyum puas melihat wajah Arabella yang tampak ketakutan, "Kamu harus tanda tangan kontrak perjanjian yang saya berikan atau kamu bakal kehilangan pekerjaan kamu itu!"
"Saya tidak akan mau!" Pekik Arabella berusaha mempertahankan prinsipnya.
Mendengar ucapan Arabella yang masih menolak, membuat Kevin semakin merasa tertantang, "Okey sepertinya kamu masih tidak takut yah!"
Kevin menekan nomor seseorang lalu menelponnya, "Hallo, Iya Tuan muda ada apa?" Terdengar suara orang di seberang sana.
"Di Restoran ada pelayan bernama…." Kevin menoleh menatap Arabella yang tampak terkejut, "Arabella," katanya kepada Haris kepala restoran yang diutus oleh Ayahnya itu.
"Hemm, sebentar saya cek dulu."
Arabella pun berpikir keras, jika dirinya tidak mengikuti perintah cowok itu maka habislah riwayatnya.
"Bagaimana?" tanya Kevin memberikan kesempatan kepada Arabella untuk berpikir.
Arabella menatap Kevin dengan sendu, dia tidak punya pilihan lain saat ini.