Cincin Bulan Persahabatan
Ikut Memanen Padi
Esoknya, saat matahari dhuha menyapa kehidupan kembali, “Bapak udah berangkat ya Bu?” Ihsan mendekati Ibunya yang sedang memasak.
“Setelah Shalat dhuha tadi, Bapak langsung berangkat ke sawahnya Lek Pardi, hari ini Panen. Kamu udah shalat dhuha belum?”
“Belum Bu? Memangnya dhuha wajib juga ya bu?”
“Shalat Dhuha banyak manfaatnya, walau hanya dua rekaat, itu sebagai Shadaqah semua organ tubuh kita.”
Ihsan mengangguk pelan, “Ihsan shalat dulu, habis itu Ihsan mau bantuin Bapak ya Bu?” Ihsan menatap Ibunya, berharap mendapat izin.
“Baiklah, mumpung liburan,” senyum itu membuat Ihsan segera melonjak hilang.
Ihsan mengayun sepedanya, melewati rumah pak Bayan Yadi, yang berada di dekat jembatan bambu menuju sawah, pedalannya terhenti karena seseorang memanggilnya.
“Ada apa War? Kamu tidak menemani mbak Fatimah?”
“Mbak Fatimah sedang sibuk, aku boleh ikut gak San?”
“Tapi…, aku mau ke sawah, membantu Bapak mengumpulkan padi.”
Karena memaksa, Ihsan tak bisa berbuat apa-apa hingga mawar telah berada di boncengan sepedanya. Lagu-lagu ajaran Bu Syarmi guru kesenian, mengalun ceria.
Pak Ali nampak mengenakan caping , ketika mengumpulkan padi yang telah ditatanya rapi per-ikat, wajahnya nampak kepanasan kemerahan. Saat angin sepoi membelai wajah lelahnya, saat burung Dadali melintas di atas kepalanya, saat kaki-kakinya telah kelelahan kian kemari, saat itulah tiba-tiba wajah piasnya berubah bagaikan malam berhiaskan bintang gemintang. Wajah lelah itu telah sirna, menyaksikan buah hatinya datang dari arah matahari bersinar.
Ihsan dan Mawar mendekati pak Ali, yang telah selesai mengumpulkan tanaman padi yang baru disabitnya, tempat pemukul berbentuk segitiga telah terpasang di pinggir terpal. Siap untuk memukul.
Senyum Ihsan membuat Ali segera memukulkan damen padi, hingga butiran padi rontok dan jatuh di terpal. Udara panas mulai terasa.
“Kamu disini saja, nanti terkena gatel-gatel. Aku mau membantu ayahku,” Ihsan meninggalkan Mawar dan menggengam damen , tangannya yang kecil hanya mampu menggenggam sekitar 7 helai dan memukulkannya, butiran beterbangan tak tentu arah, ada yang keluar jauh mencelat dan ada yang tersangkut di rambutnya. Ali tertawa menyaksikan anaknya, yang berusaha keras memukul hingga napasnya turun naik.
Mawar yang melihat segera menghambur, dan ikut memukul-mukulkan helaian padi damen, hingga semakin banyak buliran-buliran pada mencelat, namun masih banyak yang masuk ke dalam terpal. Ali membiarkan mereka membantunya, baginya memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan yang mereka sukai, adalah termasuk membantu mereka menemukan jati dirinya kelak.
Selesai sudah, Ali mengumpulkan butiran padi dan membersihkan sisa-sisa helai yang masuk ke dalam terpal, lalu memasukkannya ke dalam kantong kandi. Dapat 3 kandi, Alhamdulillah, Ali mengelap keringat di dahinya dengan menggunakan baju yang diikatkannya di kepala.
Ihsan dan Mawar mengikuti mengelap muka mereka, dengan tissue yang selalu dibawa Mawar, tampak keceriaan di wajah mereka. Menyelesaikan suatu pekerjaan adalah sebuah kepuasan, yang tidak bisa dinilai walau dengan hasilnya sekalipun. Karena kenikmatan itu terletak pada prosesnya.