Cincin Bulan Persahabatan

Kenapa Mawar?

”Bolehkah aku bertanya, tapi kau harus menjawabnya jujur isteriku,”

”Aku akan selalu jujur padamu suamiku, kaulah imamku.”

Aku memegang kedua pipinya, wajah kami begitu dekat berpandangan. Kutatap bening matanya dalam-dalam, ”Kenapa kau memakai nama Mawar, ketika kau berteman dengan Ihsan?”

Kulihat kekagetan dari wajahnya. Matanya yang bening lembut menatapku, ”Da.. dari mana Kakak mengetahuinya. Tidak ada yang tahu tentang itu kecuali...,”

”Iya isteriku, akulah Ihsan. Sahabatmu..., sahabatmu ketika kecil. Sahabat dari sebuah desa yang kau tinggalkan bersama hilangnya Mawar,” kami saling berpandangan lama.

Bibir Zahra bergetar, ”Kau Ihsan...,” aku mengangguk. Dia memelukku erat, tangisnya pecah. Isaknya memenuhi ruangan kamar, tasbih bergetar di setiap detak napas kami. Beriringan dengan kesyukuran. Zahra masih betah menangis di pelukanku, di depan jendela yang terbuka. Bulan malu-malu menatap kami.

”Kau jahat sahabatku..., kau jahat,” sesenggukannya memiris hatiku.

”Kau tahu Dik, Allah mengatur pertemuan ini begitu indah. Dulu..., kau ingat, aku pernah menciummu dan kau marah lalu memukulku. Sekarang..., bolehkan aku menciummu?” wajahnya bersemu merah, airmatanya masih menetes. Dia memejamkan matanya. Aku menatapnya lama, wajahnya putih sangat beda ketika kecilnya dulu. Bibirnya yang merekah bagaikan mawar yang masih merah ranum, lentik matanya begitu lembut. Aku ingat sebuah hadits;

”Sesungguhnya seorang suami yang memandang isterinya dan isterinya pun memandangnya (dengan syahwat); maka Allah akan memandang kedua insah itu dengan pandangan rahmat. Dan saat ia memegang telapak tangan isterinya maka dosa-dosa kedua insan itu berjatuhan dari sela jemari-jemarinya.”

Aku menyatukan tanganku dengannya, kutelusuri sela-sela jemarinya. Agar dosa-dosa kami berjatuhan, Insyaallah. Aku melepaskan tanganku dari jemarinya, Zahra masih menutup matanya. Seolah dia menunggu aku menciumnya, tanganku beralih memegang kepalanya dan mengucek-ucek telekungnya, ”Dasar gadis nakal.”

Dia membuka mata dan balas mengucek rambutku. Kami tersenyum bersama, ada kebahagiaan yang ingin ditumpahkan, teringat kembali wajah kecilnya dulu ketika bersama almarhum Bapak, memukul-mukulkan tangkai padi ke sabetan.

”Ini balasan karena Adik dulu memukulku tiga kali kali,” aku mengambil bantal dan melemparnya, dia pun membalasnya. Suara sedikit gaduh. Seseorang mengetuk pintu.

”Ali..., kalian tidak apa-apa,” suara Ustadz Wahid.

Isteriku membalas, ”Tidak apa-apa ’Ammu, biasa pasangan pengantin, butuh penyesuaian,” suaranya nyaring. Dasar. Aku sendiri tak habis pikir, semua yang menimpaku tanpa bisa kuperkirakan. Allah-lah yang menciptakan segala rekayasa indah ini.

”Segala sesuatu selain Dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai isterinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (panah), dan seseorang yang berlatih perang.”

Malam itu, pukul 02.30. Kami bercerita tentang perjalanan kami setelah berpisah belasan tahun yang lalu. Ternyata semua jelas. Siapa Ustadz Umair, siapa Syaikh Wahid yang ternyata adiknya yang telah diceritakan Ustadz Umair. Perihal cincin bulan itu ternyata sejak kecil telah diambil Kakak kembarnya, Wardah. Tanpa izin, setelah dia menikah lalu mengembalikan cincin itu dan menceritakan bahwa dia mengambilnya sewaktu kecil dulu.

Satu hal yang masih mengganjal dalam jiwaku.

”Dik, lalu kenapa ketika kubacakan puisiku tadi kau tidak sadar kalau aku adalah Ihsan? Bukankah kau menuliskannya untukku sewaktu kau akan pergi dulu?”

”Tidak. Aku hanya menuliskan surat perpisahan saja.”

Aku membuka dompetku, walau dompetku sudah pernah ganti, tapi surat yang kusimpan sejak kecil itu tak pernah kubuang. Aku menyodorkan surat itu, istriku membacanya.

Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarakatuh

Ihsan Sahabatku

Perpisahan memang akan menyakitkan kita, tahukah kamu aku pasti akan selalu merindukanmu, merindukan setiap detik kebersamaan denganmu. Saat senja menyapa kita, kala barisan tegak padi menorehkan keindahan di sayup-sayup penglihatan, saat berada pada cermin kehidupan, air menggoyangkan perasaan, menciptakan keteduhan disaat menekuri persahabatan, membelai heningnya kesepian.

Engkau adalah sahabatku yang telah menjadikan hatiku tentram, perpisahan ini mungkin akan menjembatani pertemuan yang akan tercipta kelak. Sampai kapan pun dan apapun yang terjadi, aku akan berusaha menjadi sahabatmu.

Bulan menyapa saat siang telah lelah

Menyapa insan dalam kesenyapan

Menciptakan keteduhan dalam jemari yang menyatu

Tataplah bulan dari jemariku

Biarkan secara mesra

Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya

Ihsan! Aku menunggumu di Universitas Indonesia. Aku akan menunggumu untuk persahabatan yang abadi, yakinlah pada keyakinanku, maka aku juga yakin akan keyakinanmu. Aku hanya akan bertemu denganmu jika engkau menjadi yang terbaik, berprestasi dan tidak kalah dengan siapa pun, aku akan menerimamu dan syaratnya Engkau harus menjadi nomor satu.

Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh

Zahra menggeleng-gelengkan kepalanya padaku, ”Aku tak pernah menuliskan itu suamiku. Sungguh. Berarti Mbak Ningsihlah yang menulis itu.”

Kami merasa semua telah diatur oleh Allah, jodoh, rizki, mati, telah diatur oleh Allah. Kami menikmati takdir Allah dengan penuh kesyukuran. Zahra kecil mengatakan namanya Mawar, karena dia sangat membenci pada Kakaknya Wardah yang selalu mendapatkan perhatian lebih darinya. Bukankah Wardah artinya Mawar dan Zahra adalah bunga?

”Bagaimana kalau kubuatkan masakan?”

Aku berpikir sejenak, ”Boleh, tapi jangan lama-lama ya Dik,” dia menyilangkan jarinya di kening kanannya. Mirip tentara yang siap menjalankan tugas. Senyumnya sangat menawan, dia keluar dengan mukena yang masih dikenakannya. Memang tidak lama, hanya lima belas menit tapi serasa ribuan tahun aku menunggunya.

Dia mendekat kepadaku sambil tersenyum, dan meletakkan mangkuk sayur di meja rias, “Kak, maaf kalau masakannya kurang sesuai dengan lidah kakak. Aku belajar memasak dari restoran-restoran Abi belumlah lama,” dia tertunduk pelan, aku sempatkan sebelum makan mengecup keningnya, dan wajahnya kulihat memerah. Aromanya membangkitkan seleraku, semerbak. Masakan yang belum pernah kulihat, telur yang diberi kuah. Kuambil sendok dan kubuka telur itu, isinya daging cincang.

Aku mencicipi kuahnya, masih hangat. Lezat. Kulihat Zahra begitu tegang melihatku makan sehingga aku menyuapinya pula. Setelah selesai makan bersama.

“Bagaimana rasanya Suamiku?” kulihat raut mukanya seperti terdakwa yang menunggu vonis hakim dengan berdebar-debar.

“Masakanmu terlalu pedas, padahal aku paling tidak suka rasa pedas, dan jika sudah kepedasan biasanya akan sembuh lama mungkin dua hari. Tapi tidak apa-apa, masakan Dinda begitu nikmat apalagi dicampur dengan bumbu cinta,” jujur kuakui bahwa masakannya sebenarnya tidak kurang susuatu apapun. Aku ingin mencandainya saja.

Waktu menunjukkan pukul 03.00. aku mengajaknya shalat malam. Dia mengangguk. Wajahnya tampak sedikit murung, biarlah sedikit kukerjai. Insyaallah besok ba’da subuh aku akan memuji masakannya. Untuk saat ini, aku ingin tertawa tapi kutahan. Alangkah kecewanya dia bersusah payah memasak? Tapi, kulihat lagi wajahnya yang murung, aku tak tega. Insyaallah nanti sesudah shalat akan kupuji dia.

Sesudah shalat, aku merasa lelah. Hari ini aku belum sempat istirahat tidur. Mataku tak kuasa ingin memejam.

”Sahabatku,” aku menatapnya, ketika bibirnya mencium punggung tanganku.

”Ada apa Kak,” kulihat senyumnya seolah dipaksakan.

”Bolehkah aku tidur di pangkuanmu, aku ingin sejenak tidur, menunggu adzan subuh. Aku belum tidur sejenakpun hari ini,” kepalanya mengangguk. Aku merebahkan kepalaku di pangkuannya. Aku berdoa. Zahra membelai rambutku hingga aku terlelap. Seolah terbang ke alam nirwana, semua hal adalah cahaya dan semua cahaya adalah kesejukan, dan setiap kesejukan akan bermuara kepada kesejatian.

Tiada kusangka kata-kataku, benar-benar diingatnya sepanjang malam itu aku kelelahan dan tidur. Ketika pagi beranjak aku, merasakan seperti percikan air yang membasahi wajahku ketika mataku masih terpejam, aku mengira bahwa Zahra pasti membangunkanku untuk shalat subuh dengan memerciki air.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!