Cincin Bulan Persahabatan

Airmata Sahabat (Akhir)

Aku membuka mataku berat. Bau obat-obatan menyeruak memenuhi adrenalinku. Aku mencoba bangkit. Seprei putih, ruangan serba putih, mataku menangkap tas terbuka di atas meja. Sebuah kertas terjatuh di bawahnya, aku memungutnya.

Sebuah kertas pelunasan administrasi Rumah Sakit.

Aku membacanya, tertulis pelunasan untuk biaya rumah sakit atas namaku, dan tertulis nama di bawahnya, tertanda, Wiati.

Kini aku tahu, siapa yang membayar biaya rumah sakit, saat aku dulu pernah di rawat di Rumah Sakit ini. Dia adalah Zahra, Zahra Mutaqwiati. Ternyata dialah Malaikat yang kucari itu. Zahra masuk kamar dan kaget melihatku telah sadar.

”Suamiku..., kau telah sadar,” matanya terlihat mengantuk. Dia duduk di pinggir ranjang. Dia baru saja keluar untuk shalat malam, meminta kesembuhan untukku dan Allah mengabulkannya dengan segera.

”Kak..., aku mengizinkan Kakak menikah dengan Aisyah. Apapun yang terjadi nanti, biarlah kita hadapi bersama. Denyut nadi Aisyah saat ini semakin melemah, dia ingin menikah dengan Kakak, agar engkau menjadi kakak Fadli dan memeliharanya dalam pengawasan kita. Dia memang mencintaimu Kak, tapi dia ingin adiknya bersama orang yang dicintainya, yaitu Kak Ihsan.”

Aku menatapnya, ”Sejak kapan kau berubah pikiran Dik?”

”Sejak aku berpikir jernih, sewaktu shalat layl barusan.”

”Bagaimana jika aku yang tidak mau menduakanmu, aku sangat mencintaimu isteriku..., aku sangat mencintaimu sahabatku..., kau tahu ini?” aku menunjukkannya kertas pembayaran yang baru kutemukan tadi.

Airmatanya luluh, ”Maafkan Zahra Kak, menyembunyikannya dari Kakak. Aku melakukannya karena Kakak dulu, kudengar pernah menyelamatkan Kak Salim sewaktu mengantarkanku dan Wardah ke Asrama UI.”

Aku memeluknya erat. Aku tak akan melepaskanmu sampai kapanpun sahabat, ”Aku mencintaimu Mawar kecil, tak akan pernah kutinggalkan dan kubagi cintaku untuk orang lain,” aku sesenggukan.

”Kak, nikahilah Aisyah. Saat ini dia kritis. Semoga ini dapat menyelamatkannya, jika tidak, Insyaallah dia akan lebih tenang dalam keadaan sudah menikah dengan orang yang dicintainya. Dia amat mencintaimu Kak, dia sangat membutuhkanmu. Demi cinta kita, kumohon lakukanlah untukku,” dia menatap mataku tajam, ”Percayalah padaku, dia sangat membutuhkanmu,” tangis kami pecah di ruang Rumah Sakit itu.

Kami buru-buru menuju Kamar Melati 2, dini hari 03.30. Saat kami mendekati Aisyah, dia sangat lemah dan terus meneteskan airmata. Aku tak tega.

”Nikahkan kami Pak,” Pak Bejan menatapku, airmatanya ikut meleleh.

Ijab qabul terucap, dua orang pegawai Rumah Sakit kuminta menjadi saksi. Sempat aku bingung mas kawinnya, Zahra menyerahkan cincin bulan persahabatan itu. Dan setelah Ijab Qabul, aku memasangkannya pada jemari kiri Aisyah, dia menangis. Aku mencium ubun-ubunnya dan mendoakan untuk kebaikan kami. Kulirik Zahra menangis sesenggukan, bersandar di pintu masuk. Aku tak kuasa melihat airmatanya, airmata Sahabat lebih pedih kurasa dari pada sebilah pisau yang menusuk jantungku.

”Suamiku,” lirih Aisyah, ”Setelah tak ada kebahagiaan dalam dunia kecuali hari ini. Kumohon setelah hari ini, jagalah Fadli untukku dan jika kau mampu jagalah ibuku, ibu kita. Tolong aku suamiku, aku akan menunggumu disana. Di tempat yang tiada lagi kesakitan dan penderitaan.”

”Kau tidak boleh bicara seperti itu Ais. Allah akan memberi kesembuhan kepadamu, kita akan selalu berusaha dan berdoa untukmu.”

”Mungkin tak akan bisa, aku sudah tidak tahan suamiku. Aku tadi bermimpi bertemu Almarhum bapak, dia bersama Ibu dan mengajakku pergi bersamanya, dan meninggalkan Ibuku sendirian. Terimakasih untuk semua cinta dan kelembutanmu suamiku. Terimakasih atas jalan yang kau tunjukkan pada Tuhan. Allah...” napasnya senggal, aku berteriak memanggil Dokter. Zahra ikut panik.

Tiba-tiba pak Bejan masuk, ”Mu’jizat! Adik iparku sadar, dia sadar! Dia memanggil-manggil nama Aisyah!”

Kami kaget. Aisyah masih menatapku, ”Tolong pertemukanku dengan Ibuku, aku ingin melihat senyumnya yang terakhir kali..., selama ini aku hanya melihatnya kaku... kumohon sekarang... juga..heek”

Aku mengangkat dan membopong tubuh Aisyah, Zahra membantuku memegang infus. Kami menyusuri lorong, para wajah yang melihat kami keheranan tak kami hiraukan. Airmataku berhamburan, Aisyah menatapku, dalam senggalnya kulihat senyuman yang teduh. ’Bertahanlah Aisyah’

”Di kamar apa pak Bejan?”

”Ikuti saja aku,” dia berjalan lebih cepat mendahului kami. Fadli berlari di belakangku.

Zahra yang memegangi infus menangis menatapku, dia mengusap airmatanya sendiri dengan tangan kirinya. Pak Bejan berhenti, dia berada di depan kami. Dia membuka pintu kamar yang ada di depannya. Aku yakin itulah kamarnya.

”Sebentar lagi Aisyah, kumohon bertahanlah,” kepalaku yang pusing seolah tak terasa lagi. Saat sampai di depan pintu itu. Tangan Aisyah bergerak ke atas, dia memegang pipiku, tepat di luka goresan pisau saat aku menyelamatkan kesuciannya. Tangan itu jatuh terkulai ke bawah seiring desahan hembusan. Dia tersenyum pada dunia.

”Mana Aisyah! Aku ingin menciumnya,” Suara wanita kurus di depan kami lantang, Aku dan Zahra tertunduk kelelahan. Malam semilir menyapa teduh kota Depok. Seteduh hati insan yang pulang dengan jiwa ridha padaNya.

---- Selesai ----

(Untuk semua yang sedang memilih

Karena cinta tak pernah salah memilih)

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!