Cincin Bulan Persahabatan

Kejadian Perampokan

Aku resmi menjadi penghuni Asrama, setelah Dzuhur aku mengurusnya. Beberapa syarat-syarat telah kupersiapkan dari Lampung, karena melihat informasi di interned. Di antaranya surat keterangan sehat dari dokter, fotokopi kartu keluarga, dan pas foto 4x6, hanya keterangan dari wakil Dekan Fakultas yang belum ada, maka aku segera menaiki Bikun – bis kuning – meluncur ke Fakultas Ekonomi. Syarat tinggal di asrama hanya diperbolehkan selama dua tahun, setelah itu harus hengkang untuk semester baru.

Asrama UI mempunyai kapasitas kamar berjumlah 1.059, 444 putra dan 615 putri, fasilitasnya juga lengkap, ada televisi yang berada di kantin, wartel, warnet, rental komputer dan lain-lain.

Di Asrama Mahasiswa aku tinggal di kamar C.3/31, berada di tingkat ke-3. satu kamar untuk satu orang, dan biayanya Rp 125.000/bulannya. Ini termasuk murah, jika dibandingkan kost di luar asrama yang bisa berlipat-lipat. Kamar Asrama UI sangat banyak, mungkin jumlahnya mendekati angka seribu atau malah lebih. Aku duduk di teras ketinggian lantai 3, pepohonan rindang nampak sejuk. Setiap beberapa menit kereta api lewat, menderukan bunyi pekak karena stasiun sangat dekat dengan asrama. Setiap jam juga pesawat lepas landas, terlihat menderu awan karena letaknya juga dekat dengan asrama. Pemandangan yang sangat berbeda dengan kampungku.

Beberapa Mahasiswa melewati lorong dan diriku, ada yang tersenyum dan ada yang berlalu begitu saja. Hari ini, aku terlalu lelah untuk berkeliling sambil melihat Fakultas Ekonomi tempatku selanjutnya belajar. Ada empat konsentrasi disana. Ada Manajemen Keuangan, Pemasaran, Sumber Daya Manusia, dan Manajemen Operasi. Aku mengambil konsentrasi Manajemen Pemasaran. Aku masuk ke kamar, saatnya berbenah dan bersih-bersih. Kamar 2,5 x 3 meteran ini akan menjadi saksi, bahwa pernah ada yang kuliah di UI. Seorang kampung yang mencari persahabatannya. Aku tersenyum, mengedarkan pandangan ke seluruh pojok kamar.

Malam menyapa, aku merasa lapar. Aku turun dan menuju kantin Asrama, begitu besar dan kursi tertata rapi dibagi dalam tiap meja masing-masing. Ada yang makan sambil berbincang, ada yang makan sendirian, ada yang menikmati dengan lahapnya, aku memesan nasi sayur daun singkong ditambah tempe. Ah! Nikmatnya. Sambil makan, aku terus terbayang bagaimana caranya dapat bertahan hidup di Depok, kuliah sambil kerja. Harus!

Ba’da Isya’, aku keluar dari Asrama, berjalan-jalan menghirup udara malam, dingin. Aku sempat berbincang kepada supir Bikun yang tadi siang kutanyakan ongkos bus. Namanya pak Bejan dari Jombang, Jawa Timur. Pak Bejan memiliki istri dan tiga orang anak yang tinggal di dekat Pasar Minggu, di dekat terminal kereta api, sekitar 1 km dari asrama. Dia begitu semangat mengatakan aku anak desa, karena tingkahku tadi siang. Aku tersenyum padanya. Kutahu dari kata-katanya yang tulus, bahwa pekerjaan baginya adalah ibadah. Sungguh sejuk terasa di hatiku.

“Apakah Bapak bisa membantu saya?” aku mencoba membuka diri.

“Apa yang bisa kubantu orang Lampung?”

Orang Lampung selalu jadi sorotan di seantaro Indonesia, terkenal karena kasarnya. Tidak tahu darimana awalnya, hanya saja jika suku apapun pokoknya kalau lahir di Lampung, bisa dipastikan pandangan pertama adalah keras dan kasar perkataannya. Susahnya adalah ketika melamar pekerjaan, jika tertulis lahirnya di Lampung, biasanya akan di tumpuk di urutan terakhir.

“Aku di UI dengan biayaku sendiri, orangtuaku kepayahan membiayai pendidikan kedua adikku. Aku mohon, carikan aku pekerjaan Pak, yang bisa disambi dengan kuliah?” aku menatapnya, berharap tulus.

“Pekerjaan? Waduh Bapak juga bingung Nak. Bapak mah kenalnya sama orang-orang di seputaran Pasar Minggu, paling ada pekerjaan jadi kuli Pasar Minggu. Maaf, Bapak cuma bercanda.”

Aku memotong senyumnya cepat, “Tidak apa-apa Pak, saya mau,” kini giliran pak Bejan melongo, mulutnya membentuk lingkaran, hilang sudah senyumnya. Dia berjanji akan menanyakan tentang kerja kuli di Pasar Minggu, dan memberi informasi kepadaku jika sudah dapat. Dia minta izin pamit pulang, karena waktu kerjanya habis dan harus kembali ke keluarganya. Aku menyalaminya, berharap dia mau membantuku. Dia mengangguk dan berkata padaku, bahwa aku adalah orang yang punya semangat tinggi. Katanya pula, aku akan menjadi orang besar dan berpesan untuk selalu belajar dengan sungguh-sungguh. Aku mendapat teman baru yang baik-baik di UI. Aku tersenyum menatap langit yang tertutup jubah malam, rembulan terlihat remang, terima kasih Allah. Aku berjalan menyusuri jalan, menghilangkan kebosanan di kamar.

Waktu menunjukkan pukul 22.00, aku kembali ke Asrama. Langkahku terhenti di jalanan sepi, di antara pepohonan karet. Tiga orang mengendap-endap di tengah jalan pembatas, antara jalur kiri dan kanan. Sebuah mobil Xenia dari kejauhan terlihat menyorotkan lampunya. Salah seorang, si rambut gondrong melebarkan tangannya di tengah jalan, yang akan dilalui mobil tersebut, dua orang lainnya merunduk di balik pohon. Aku memperhatikan secara seksama, ada yang tidak beres.

Mobil mengerem, cericit agak kuat. Si lelaki di depan mobil mendekati mobil dan mengetuk jendelanya, aku mendengar jelas karena nadanya sedikit berteriak. Lelaki itu meminta si pengemudi mobil membantunya, karena temannya terkena kecelakaan di jalan depan. Dua orang yang mengendap di belakang mobil, memukul sesuatu di ban mobil dan, “pesss!” tepat disaat si pengemudi mobil turun, dan pisau telah mengkilap berada di perutnya. Si pengemudi mengeluarkan dompetnya pelan. Handphone dan arloji dilucuti secara paksa. Aku teringat Bapak, aku harus bertindak.

“Hentikan! Kembalikan barang yang bukan hak kalian!” kulihat wajah kekagetan mereka, si penodong memberi isyarat kepala, dua orang lainnya mendekatiku sambil menyinyir kuda. Ocehan menghina keluar dari mulut-mulut mereka, aku mencoba tenang, setenang Bapak bekerja dengan senyumannya. Si kumis tipis mendekatiku dan melihat celah punggungku. Tendangannya mengayun, aku menepis dengan tangan kiriku dan tangan kanan segera meluncur mengenai perutnya, kulihat suara tercekak di tenggorokannya. Tubuh si kumis jatuh ke bawah, sambil mengerang kesakitan. Kutambah lagi tendangan sebagai bonus.

Si baju kotak-kotak seperti melihat kesempatan, tapi refleksku telah terlatih. Sebelum tangannya mendarat di wajahku, pukulanku lebih cepat mengenai dadanya disusul tendangan berputar seperti film Jet Li yang pernah kulihat. Tepat mengenai pipinya. Tubuh itu jatuh terjengkang. Wajah panik menggelayuti si penodong, didorongnya lelaki berumuran 40an itu. Tangannya bergantian melempar pisau, berpindah dari kiri ke kanan sambil mendekatiku. Senjata harus dilawan senjata, aku menarik kait ikat pinggang, dan memegang ujung agar memudahkan kepalanya bergerak. Saat si gondrong mengayunkan pisaunya, kepala ikat pinggangku telah lebih dulu tepat mendarat di jidatnya. Saat kurebut pisaunya, tangannya masih kuat mengayun. Lengan kiriku tergores, segera tangan kananku menyikut dengan kuat, di antara mata si gondrong, tubuhnya mental ke belakang. Pukulan yang kuat kurasa.

Aku mengambil dompet yang tercecer beserta Hp, “Jangan berbuat kejahatan lagi, carilah rezeki yang halal! Pergilah kalian!” mereka terhuyung-huyung pergi sambil mengucapkan terima kasih, moga-moga mereka mau sadar. Zaman yang semakin rusak, kadang aku heran ketika orang berkata, “Yang haram saja susah, apalagi mencari yang halal!” kata Bapak, itu hanyalah nafsu yang berbicara. Bukanlah halal itu indah dan menentramkan? Aku menggelengkan kepala sambil mendekati si pengemudi mobil.

“Ini dompet dan Hp anda,” kulihat wajahnya tenang walau tadi diancam, senyumnya seolah aku kenal. Mungkin hanya perasaanku.

Aku baru sadar, darah hangat mengalir di siku membasah di baju. Segera kusobek lengan kiri baju setelah dompet berpindah tangan, mengikat kencang agar darahnya berhenti, persis seperti ketika dulu sering menyabit rumput dan terkena sabit, maka segera kusobek baju atau mencari kain lain, lalu mengikatnya kuat. Alhamdulillah darahnya berhenti.

“Bagaimana kalau mas saya antar ke rumah atau Rumah Sakit terdekat?” lelaki itu melepaskan kacamatanya.

“Tidak usah Pak, aku tidak apa-apa,” aku memperhatikan ban yang kempes di sebelah kiri mobil, “Ban mobil anda bocor, tadi sempat kulihat mereka menusukkan benda di ban anda.”

“Iya, apakah di sekitar sini ada bengkel?”

“Maaf Pak, saya baru datang ke UI tadi siang, jadi belum tahu seluk-beluknya. Apakah Bapak punya kunci-kunci untuk memperbaiki mesin?”

“Iya, tapi saya tidak bisa mengganti ban.”

“Insyaallah saya bisa.”

Lelaki itu membuka bagasi, dan mengeluarkan sekotak kunci-kunci yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu nama-namanya, hanya saja sewaktu perjalanan naik tanki kemarin, mobil sempat bocor di Bandar Lampung, dan temanku si kenek mengajariku mengganti ban. Aku mulai praktek, baru kemarin aku melihat dan kini aku harus bisa. Mulai kupasang dongkrak dan melepaskan ban, lalu memasang ban serep, ternyata aku bisa walau durasi waktunya jauh lebih lama, tanpa terasa peluhku menghiasi wajah.

Lelaki itu ,memperhatikanku sedari tadi sambil berbincang denganku, namanya Abdullah Salim, biasa dipanggil Salim. Dia ke UI mengantarkan kedua adiknya yang kuliah disini, sekalian mengurusi permohonan tinggal di asrama UI, dan kutahu dari ceritanya, bahwa supirnya sedang sakit, sehingga dia sendiri yang mengemudikan mobil. Dia memintaku bercerita pula tentangku, kuceritakan tentang kenekatanku kuliah di UI dengan hanya membawa uang seadannya. Dia tersenyum dan memintaku untuk tetap tegar, pasti ada jalan jika manusia berusaha. Aku memasukkan kunci-kunci ke dalam kotak, dan memasukkannya kembali ke bagasi.

Aku berpamitan ingin kembali ke Asrama, malam telah larut. Pak Salim tiba-tiba memberiku kartu nama dan dua lembar uang seratus ribuan, aku sempat menolak, tapi pak Salim memaksanya. Aku menerimanya, karena memang aku juga membutuhkan banyak uang di UI. Aku mengucapkan salam padanya, kulihat dia belum masuk ke mobil dan selalu memperhatikanku, mungkin dia menungguku hilang dari pandangan. Aku meninggalkannya. Baru beberapa langkah, mataku berkunang-kunang, liyer-liyer, seperti ada ribuan ulat menari-nari dan semuanya menjadi serba putih. Lalu gelap.

* * *

Aku mendapati jasadku berada di antara cahaya putih, menyilaukan sekali, kupandangi sekelilingku. Sebuah ruangan yang bersih, tidak ada meja ataupun perabotan lainnya. Ada seseorang di depanku, tapi wajahnya berkilauan tak jelas. Dia semakin mendekat, langkahnya pelan gemulai.

Duhai, ibu…, napasku senggal, tak kuat bersuara.

Senyumnya seindah pawarna, seelok bunga serunai, semesra bintang yang setia menemani bulan. Ibu… aku tak bisa berbicara, bergerakpun aku tak kuat, hanya kakiku yang bertahan berpijak pada lantai yang bercahaya pula. Lantainya jernih, lebih jernih dari kaca.

Dia mendekatiku hingga sampai tepat di depanku, tangannya kirinya terbuka mengelus kepalaku pelan, dan tangan kanannya meraih tangan kananku, memindahkan sesuatu dari genggamannya. Lalu berlalu dan hilang entah kemana, sempat kulihat airmatanya mengalir lalu tak kelihatan lagi. Aku sendiri, kubuka pelan tangan kananku. Kini aku dapat menggerakkannya kembali. Tidak ada apa-apa di tanganku, padahal jelas tadi aku merasakan sesuatu berpindah dari tangan ibu. Tapi telapak tanganku terisi cahaya yang menyilaukan, mataku silau, dan cahaya itu merambat dari telapak tanganku ke seluruh ragaku. Cahaya ada dimana-mana, di hatiku, di mataku, di telingaku, di tanganku, di kakiku. Begitu indah menyilaukan. Dan mataku tak kuat lagi, semua tiba-tiba. Hilang.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!