Cincin Bulan Persahabatan

Menjadi Kuli Pasar

Matahari kembali bersinar di ufuk timur, terlihat begitu indah dari samping kamar asramaku di tingkat tiga. Saatnya mandi, hari ini begitu indah. Pak Salim mengijinkanku menjual Hp pemberiannya, katanya terserah padaku mau diapakan. Toh Hp itu sudah menjadi hakku. Setidaknya untuk biaya sementara di sini. Pak Salim juga berpesan, jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubunginya.

Setelah mandi, aku mengenakan baju kotak-kotak. Aku harus segera berangkat. Aku teringat sesuatu. Kuambil Hp. Ku pencet beberapa nomor.

”Assalamu’alaikum, peu haba, na Wanda?” Sapaku dalam bahasa Aceh. Aku teringat Udin temanku waktu SMK, dia asli Aceh. Darinya, aku bisa sedikit bahasa pasarannya.

”Wa’alaikumsalam, haba get ini siapa?” nadanya agak sinis.

“Kamu lupa sama aku?” nadaku bercanda.

”Maaf! anda salah sambung, tut..., tut..., tut...,” aku sedikit kaget. Aku hanya sedikit menyapanya dalam bahasa Aceh, tapi aku mendapat reaksi tak terduga. Kuketik beberapa huruf untuk Wanda.

”Assalamu’alaikum, Maaf jika mengganggumu. Aku Ali, siapa lagi kalau bukan preman yang membaca Al-Qur’an di bus,”

Dalam hitungan puluhan detik, hp-ku berbunyi.

”Wa’alaikumsalam. Aku kirain siapa, aku minta maaf. Kudengar kamu masuk rumah sakit? Udah sembuh?”

”Alhamdulillah sudah, hari ini sudah bisa mulai kuliah.”

”Ali! Namamu kini terkenal di mana-mana. Di asrama putri, beberapa mahasiswi ingin kenalan. ”

“Dasar! Aku kan orang desa. Mana ada yang mau. Memangnya tahu ceritanya?”

“Oya! Katanya tidak punya Handphone?”

”Alhamdulillah dapat rezeki.”

“Iya. Udah ya, nanti telat. Ini hari kedua orientasi, jaga kesehatan! Wass.”

Kuambil beberapa buku ke dalam tas, sempat terpikir tentang perilaku Wanda. Mungkin dia merasa terganggu, di pagi hari meneleponnya sehingga dia agak marah. Toh setelah itu dia bercanda lagi seperti biasa, aku merasa akrab dengannya walau baru kenalan. Aku bergegas lalu mengunci pintu kamar, biaya kos di asrama UI memang lebih murah dari tempat lain. Aku memakai topi kesayanganku, pemberian dari Bapak.

Di depan Asrama, aku tidak langsung naik Bikun, aku menunggu seseorang. Itu dia baru datang, pak Bejan. Aku naik Bikun yang dikemudikannya, kuambil tempat paling dekat dengannya.

”Pulang kuliah, kamu sempatkan ke Pasar Minggu. Cari pak Surip, semua orang di pasar tahu. Dia pemilik toko emas Mulia. Bilang saja dari Bejan, dia sudah aku beritahu,” pesan pak Bejan, ketika aku turun di halte Fakultas Ekonomi.

”Terima kasih banyak Pak,” aku menganggukkan kepalaku. Lelaki setengah baya itu tersenyum tulus, lalu melaju kembali mengantarkan duta-duta penimba ilmu.

* * *

Hari ini matahari benar-benar bersinar indah, walau agak menyengat ubun-ubun. Sepulang kuliah, -hari ini masih orientasi mahasiswa baru- aku langsung ke Pasar Minggu, yang letaknya tidak jauh dari asrama, di dekat stasiun kereta api UI. Mencari pak Surip sangat mudah, beliau begitu ramah padahal toko emasnya begitu besar. Hari itu juga, aku langsung mulai bekerja. Melipat kemejaku dalam tas, dan segera antri dengan teman-teman kuli yang lain.

Menjadi kuli pasar tidaklah berat, tergantung orang yang menjalaninya. Hari pertama ini, kubuat kesan yang baik untuk penyemangat selanjutnya. Apa saja barang yang datang dan hendak di angkut pergi, semuanya harus siap diangkat. Entah itu; beras, cabai, bawang, snack, dan macam-macam lainnya. Rata-rata kuli itu baik padaku, setidaknya mereka selalu mengajakku bercanda, aku paling muda di antara mereka. Yang aku senangi dari mereka adalah, pekerjaan itu tidak membuat mereka lalai dalam beribadah. Saat adzan Ashar berkumandang, mereka istirahat untuk sholat berjamaah, walaupun tidak semuanya.

Aku pulang dari pasar pukul 17.00, sebagian besar kuli sudah pulang. Pasar juga sebentar lagi banyak yang tutup. Uang yang kudapat Alhamdulillah sudah banyak menurutku. Hari-hariku akan kumulai, aku harus terus bertahan. Besok aku harus segera memulai mencari Mawar, aku yakin dia di UI. Getaran persahabatan itu begitu terasa dekat. Tapi aku sedikit ragu, apakah dia mau bersahabat denganku? Seorang kuli. Setidaknya aku harus menetapi keyakinanku.

Semburat senja mengiringiku hingga ke Asrama, begitu merona jingga. Tadi siang ketika di pasar aku menjual Hpku di counter, Alhamdulillah laku satu setengah juta rupiah. Aku membeli Hp murah, nokia 3310 seharga dua ratus ribu. Itu sudah terlalu bagus bagiku, jika bukan karena pak Salim, aku malas membeli Hp. Langkahku mantap melangkah, melewati koridor menuju kamarku. Aku harus segera mandi, bauku apek sekali.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!