Cincin Bulan Persahabatan
Ustadz Wahid
Selesai shalat jum’at aku duduk di depan masjid, udara panas menampar wajahku, membuatku agak malas hendak ke Pasar Minggu.
”Assalamualaikum,” seorang lelaki duduk di sebelahku. Keadaan sekitar sudah sepi.
Aku menjawab salam, dan menengok ke kanan tempat lelaki itu duduk. Aku terperanjat. Aku menyambut uluran tangannya. Sang khotib jumat. Senyumnya tampak tenang, sorot matanya begitu teduh dan nyaman. Wajahnya nampak putih bersih, bulu di dagunya tipis memanjang. Terlihat berwibawa.
”Adik menunggu seseorang?”
”Tidak. Hanya masih sedikit malas hendak keluar. Ustadz sendiri hendak kemana?” aku teringat panggilan sewaktu pemateri waktu di Rohis dulu, seringnya menggunakan Ustadz. Apa salahnya aku memakainya.
”Saya menunggu dua anak saya, tadi salah seorang mahasiswa mengajaknya keluar sebentar setelah shalat.”
Sang Khotib itu bernama Wahid. Ustadz Wahid, begitu aku memanggilnya. Umurnya membuatku tak percaya, 47 tahun. Padahal wajahnya masih sangat muda dan bersih. Beliau mengajar di pondok pesantren di dekat Terminal. Walau lebih tua jauh dariku, namun dia begitu akrab sehingga aku tidak canggung lagi, bahkan aku meminta saran darinya tanpa malu.
”Tadz, seandainya semua yang kulakukan selama ini untuk sebuah janji persahabatan. Apakah aku telah mengingkari cintaku pada Allah? Terus terang saya masih bingung dengan khutbah yang Ustadz sampaikan tadi.”
Ustadz Wahid tersenyum renyah. Matanya menatapku teduh, ”Semua hal, apakah itu cinta maupun persahabatan, asalkan untuk mendekatkan diri dan mengantarkan kepada kesejatian cinta pada Allah. Itu tidaklah mengapa, dan itu dianjurkan kecuali jika itu malah menjauhkan kita kepada Allah, maka tinggalkanlah. Dan aku yakin, engkau pasti dapat mencerna mana yang bisa membuatmu lebih dekat dengan Allah, karena kamu sudah baligh, sehingga mampu memilih mana yang seharusnya dilakukan dan ditinggalkan,” aku mengangukkan kepalaku, begitu nyaman kurasakan.
”Apakah mentoringnya sudah dimulai?” beliau bertanya, dia tahu aku semestar baru dari percakapan kami tadi.
”Insyaallah minggu depan Tadz.”
Samar-samar kulihat seorang lelaki menggandeng dua anak kecil, dari kilaunya sinar mentari yang menimbulkan liukan di sepanjang mata memandang, menguapkan panas bumi dan aspal. Mereka mendekati kami, mataku silau ketika mereka telah dekat. Ustadz Wahid tersenyum, setelah menjawab salam dari dua anak kecil itu. Ustadz merangkul kedua anak kecil itu dan menciumnya. Senyumku pun terukir kepada lelaki yang membawa kedua anak Ustadz Wahid.
”Kamu sudah kenal dengan Ustadz Wahid ya?” lelaki itu bertanya heran.
”Barusan saja Kak, barusan ketemu tadi,” lelaki itu adalah kak Nugroho, kedua bocah itu memegang plastik yang berisi juice mangga, warnanya kuning segar. Kami mengobrol bertiga walau sejenak, kedua bocah itu perempuan dan laki-laki, Fitri dan Muslim. Fitri berumur 13 tahun dan Muslim 11 tahun, mereka anak Ustadz Wahid yang pertama dan kedua, dan kedua anaknya yang lain di rumah bersama ibunya. Anak Ustadz ada empat kini.
Setelah agak lama, Ustadz Wahid pamitan pulang. Ada yang harus diselesaikan. Mereka naik bikun, jaraknya masih lumayan jauh dengan Terminal, apalagi panas menyengat. Tidak baik untuk kedua anaknya berjalan kaki, di bawah teriknya matahari yang memanggang. Sempat kuingat pesannya, ”Rajinlah belajar dan rajin mempelajari ilmu agama, belajarlah dari akh Nugroho selaku pembimbing mentoring.”
Aku dan Nugroho berpisah, dia hendak rapat di masjid Ukhuwah Islamiyah, sedangkan aku pamitan, tanpa memberitahukan hendak kerja di Pasar Minggu, kecuali kubilang ingin ke Pasar Minggu semata. Dia tersenyum tanpa menanyakan keperluanku kesana. Rahasiaku menjadi kuli aman, aku tidak mau memperoleh simpati. Aku lebih suka bekerja keras, dan mendapatkan hasil dari jerih payahku, yang akan membuatku merasa lega dan tenang.