Cincin Bulan Persahabatan
Surat Wali Privat
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Untuk Pengurus Perkumpulan Mahasiswa Pengajar Privat (PMPP)
Kutitipkan salam doa agar semua di PMPP, selalu dalam penjagaan terbaik dari Allah, menjadikan kalian semua diridhaiNya dan menjadikan kalian orang-orang yang diberikan hikmah, untuk menjadikan banyak generasi menjadi penerus Muhammad Rasulullah.
Saya tidak bisa menemui kalian secara langsung, siang ini jam kerjaku menjaga wartel dan internt. Kuharap kalian dapat berbincang-bincang dengan adikku. jadi kutitipkan surat ini kepada adikku Fadli. Sebelumnya kami berterima kasih karena kalian mau menerima rekomendasiku, karena kami memang keluarga yang kurang mampu. Kalian tentu sudah tahu keadaanku.
Saya berharap kalian bisa sabar menghadapi sifat tertutup adikku, itupun sebenarnya saya tidak membayar dengan uang lebih. Saya sangat berterima kasih sekali, pengurus PMPP mau membantu kami, walaupun dengan bayaran yang sedikit yang saya kita hanya cukup untuk biaya transportasi semata. Tapi saya berharap, adikku dapat menjadi anak yang sholih, itulah harapanku.
Kusampaikan salam terimakasih terdalam dariku untuk team privat, saya hanya dapat mendoakan kalian semua, agar Allah membalas kalian lebih banyak jika tidak di dunia, semoga di akhirat yang kekal, dapat menjadikan berkah yang melimpah saat berkah itu hanya untuk orang-orang yang ikhlas.
Terima kasih
Kakak Fadli
Siti Nur Aisyah
Aku menutup surat kecil satu lembar itu. Besok aku akan memberikannya pada Farhan, karena tadi sempat terlupa untuk membacanya bersama. Aku sedikit heran, ternyata kakaknya itu perempuan dan dia menulis, bahwa mereka keluarga kurang mampu? Bukankah rumahnya begitu mewah? Entahlah, mungkin suatu saat aku mengetahuinya, dan aku akan berusaha membimbing dengan baik karena Fadli kurasa tiada mempunyai teman. Entah kenapa, aku ingin berbagi kebahagiaan masa kecilku padanya.
Aku menutup pintu kamar. Panas menyengat. Aku melepas baju, tinggal kaus dan rebahan di atas karpet. Kuhidupkan kipas kecil, sejuk hingga menjalar ke seluruh kulit, terasa seumpama berada di dekat telaga Kautsar dan hanya kenikmatan yang ada.
Sore ini, aku pulang dengan membawa banyak teladan, aku banyak belajar dari anak-anak. Kuingat tadi sempat jengkel juga dengan kelakuan Rahma, adiknya Hasan. Ketika kedua orangtuanya memintanya belajar bersama Hasan kakaknya, kata yang terlontar adalah kata-kata kasar, lalu naik ke tangga. Orangtuanya meminta maaf pada kami, kulihat Farhan tersenyum, mungkin dia telah biasa melihat kejadian seperti itu, karena komunitasnya juga mengajar anak-anak dan aku belum terbiasa sama sekali.
Hari ini aku harus memulai planning baru dalam hidupku, yup! Merancang jadwal tetap, agar semua dapat dievaluasi, mana-mana kegiatan yang terlaksana dan terbengkalai, kemudian itu untuk perbaikan ke depan, itulah inti dari Manajemen. Mengatur. Aku harus dapat mengoptimalkan semua potensi yang dapat aku gunakan untuk berubah menjadi baik, harus dapat memilih skala prioritas, mana yang sebaiknya dilakukan dulu dan mana yang harus diakhirkan, atau di delete karena dinilai tidak mempunyai manfaat atau lebih banyak keburukannya.
Malam ini aku memulai lagi hidupku yang kurasa tak terarah. Hidup memang seperti air yang mengalir, tapi jika hanya terbawa arus kemanapun dan dimanapun, kita tidak akan menemukan diri kita. Aku tidak akan menjadi orang yang sukses, jika aku mudah terombang-ambing, mengalir begitu saja dan akhirnya tanpa terasa tenggelam dan mati tanpa kita sadari. Jadwalku kini, pagi kuliah hingga siang, kemudian ke Pasar untuk menguatkan otot-ototku, mengangkati barang belanjaan. Ba’da maghrib dan ba’da Isya’ aku mengisi privat. Aku akan memulainya dengan senyuman.
Mataku sedikit ngantuk. Sore itu aku tertidur dengan membawa senyuman kecil, ”Aku tidak akan pernah bangga pada setiap prestasi yang aku capai, tapi sebenarnya tidak saya rencanakan sama sekali. Tetapi aku juga tidak akan pernah menyesal pada setiap kegagalan yang aku temui selama aku telah merencanakannya dengan matang sebelum melakukannya.”
Mawar! Aku sudah dapat sedikit melupakanmu, aku harus sadar. Hidupku bukanlah semata untuk menepati persahabatan kita.