Cincin Bulan Persahabatan
Aku Wardah
Akankah kulepaskan? Persahabatan yang selama ini kukumpulkan dari serpihan masa yang tak berujung. Tidak! Tapi dia bukanlah Mawar, namanya adalah Wardah. Apakah dia dulu membohongiku? Aku dalam kebingungan dan kebimbangan di setiap lini kehidupan. Aku harus memperjelas semuanya, agar tak ada lagi yang menjadi beban dalam perjalananku.
”Mawar!” suaraku agak keras tanpa terasa. Lidahku kelu kembali, wanita itu menghentikan langkahnya, si kecil Nurul menatapku sambil tersenyum, matanya sipit karena matahari menyengat panas.
” ’Ami mau ikut kami?” tanya Nurul polos.
”Tidak! Ti..., tidak! ’Ami hanya ingin tanya pada Bibimu?”
”Mau bertanya apa Akh? Tidak baik berlama-lama seperti ini. Saya juga harus segera mengantarkan Nurul, karena sudah ditunggu Uminya,” nadanya benar-benar datar, bahkan terasa seperti tanpa ada nada sama sekali.
”Saya..., saya hanya ingin bertanya. Apakah Anti bernama Mawar?” semua inderaku kutujukan untuk kepastian terakhir. Jika dia bukan, maka aku akan meneruskan hidupku, tanpa istilah Mawar lagi dalam bayang-bayang hidupku.
”Nama saya Wardah, artinya memang Mawar tapi belum ada yang memanggilku Mawar. Maaf, mungkin Akhi salah orang,” dia tidak melihat kearahku sedikitpun kecuali menunduk.
”Baiklah..., mungkin aku salah orang. Aku minta maaf atas kejadian kemarin waktu di Gazebo membuat anda berlari. Maafkan saya,” ada derai penyesalan, namun kelegaan pun tercipta pula.
”Tidak apa-apa, mungkin karena di dunia ini banyak sekali manusia, sehingga banyak yang kebetulan mirip satu dengan yang lainnya. Kukira anda begitu keras kepala mencari orang bernama Mawar itu. Boleh kutahu siapakah Mawar itu bagi anda?”
”Hmm..., bukan apa-apa hanya seorang teman lama.”
” ’Ammah! Ayo kita pulang! Kasihan Umi, nanti kelamaan nunggu,” suara si mungil benar-benar telah terlihat kepanasan. Wajahnya memerah.
Mereka pamit. Aku membalikkan diriku untuk segera menuju Masjid, beberapa panitia kulihat di depan Masjid sedang memegang buku. Mungkin buku tamu. Aku masih teringat kejadian barusan. Wardah? Aku seolah ingin melupakan semuanya. Apakah bisa? Aku juga tidak tahu lagi, untuk apakah aku hidup, selain selama ini hanya untuk persahabatan. Hidupku ke depan seolah bagaikan pepohonan yang layu, tak ada yang menyiraminya dengan air kesejukan. Tapi aku harus tegar kini, setidaknya aku masih punya tujuan. Keluargaku menantikanku, menjadi manusia yang bermanfaat bagi yang lain. Bagiku, itu tujuan yang maha berat, padahal untuk bermanfaat untuk diriku sendiri, aku belum bisa.
Bapak..., Ibu..., doakanlah. aku sangat takut karena belum ada ilmu yang tercerap dalam otakku. Adik-adikku, bantulah kakak dengan doa kalian, maafkanlah kekasaran kakak dulu. Seandainya waktu bisa diputar, aku tak akan mengorbankan kalian, hanya untuk persahabatan yang membuatku tergadai dan kehilangan harga diri. Tiada terasa mataku berkaca, ada serpihan air yang membuatku merasakan keteduhan dan kesedihan.
Aku mengisi biodata singkat di meja depan. Kulihat daftar telah banyak, peserta laki-laki telah mencapai angka 600 sekian. Aku membayar tiket, lalu panitia memberikan snack dan air minum. Aku memasuki masjid, kulihat AA Gym telah mengisi materi. Sedikit telat. Aku melihat Farhan, aku duduk di sampingnya.
”Assalamu’alaikum,” aku menghulurkan tanganku.
”Wa’alaikumsalam Warahmatullah,” Farhan menjabat tanganku, senyumnya mengembang tipis. Senyumnya begitu teduh, melupakan sejenak akan kepenatan hidup. Dia pernah memberi nasehat, bahwa dengan bertemunya telapak tangan sesama saudara muslim, dan mengharapkan ukhuwah terjaga di jalan Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran dari celah-celah jari, dan lebih indah lagi jika diselingi dengan senyuman keihklasan, yang menciptakan embun saling kepercayaan.
”Materi sudah lama?” tanyaku agak berbisik, begitu banyak orang.
”Belum lama, mungkin baru lima menit,” aku tidak mengganggunya lagi, aku menyimak dengan seksama. Tutur pemateri itu benar-benar lembut dan menyentuh. Jika di desa, aku teringat jika ada kajian maka bisa dipastikan menggunakan nada yang datar, hingga aku terlelap di pangkuan Ibu, atau ketika ada materi pengajian akbar yang diisi seorang Kyai. Bisa dipastikan aku akan pulang dengan tidak membawa ilmu karena aku ketiduran, hanya beberapa kata yang teringat saat Kyai itu mengisi dengan guyonan.
Kajian berakhir dengan mengharu biru, ketika AA Gym memimpin doa untuk memuhasabbah diri. Banyak yang meneteskan airmata, embun di mataku pun tak tertahan keluar juga. Kami shalat dzuhur berjamaah, setelah itu aku membantu Farhan untuk bersih-bersih setelah acara usai. Begitu menyenangkan. Ah! Hidup bagaikan sebuah roda, kadang kita bersedih lalu tiba-tiba kita tersenyum kembali.