Cincin Bulan Persahabatan
Mencari Hadiah untuk Kakak
Waktu seolah berkejaran, bagai sepasang burung yang saling kejar, atau bagaikan angin yang bertiup setiap saat, atau bagaikan air yang terus mengalir dari dataran yang lebih tinggi ke dataran yang lebih rendah, hingga air itu akan habis. Sudah setengah tahun aku di Pondok Darussalam, setelah pindah dari Asrama UI. Semua berjalan seperti biasa, tidak banyak yang berubah. Aku seminggu sekali masih juga belajar dengan kak Nugroho, dia masih sering memberiku motivasi-motivasi. Untungnya dia tidak bosan mengajari dan memberi saran kepadaku.
Pasca semester ganjil ini, liburan selama dua minggu. Beberapa teman di Pondok sebagian besar sudah pulang. Ada yang pulang kampung, tapi ada yang di kota di sekitar Jawa. Lelaki yang menerimaku saat pertama tes pada saat pendaftaran ternyata adalah pemilik Pesantren Darussalam, tentu saja dia punya otoritas yang paling tinggi, namanya Abdullah Umair. Biasa dipanggil Ustadz Umair, selama ini dia mengisi Ta’bir untuk tingkat satu, tingkat dua dia mengisi bahasa arab, untuk tingkat tiga dan empat aku sendiri belum tahu. Ketika mengajar dia sering terlihat serius walau wajahnya sebenarnya menyiratkan ketenangan dan keteduhan. Beberapa santri saat berbicara di ruang tengah antara kamar-kamar, katanya Ustadz Umair adalah Ustadz paling seram. Kadang ketika mengajar memang pernah nadanya meninggi, seperti kekesalan, namun wajahnya juga terlihat sendu dan seperti ada kesedihan yang disimpan. Mungkin hanya perasaanku saja.
Motivasi demi motivasi yang kudapatkan dari para Ustadz dan santri, ataupun dari teman-teman sesama aktivis membuatku semakin giat belajar dan bekerja. Bukan pada jumlahnya lagi, melainkan kerja yang terbaik. Aku mulai dapat melupakan penghalang-penghalang yang ada termasuk persahabatan yang kucari dari dulu, walau kadang aku sempat melihatnya, saat di bikun atau pada acara tertentu hatiku masih berdebar. Aku segera beristighfar, padahal satu semester kemarin aku hanya melihatnya tiga kali. Namun kenapa perasaan aneh itu, masih menyisa di salah satu ruang di hatiku?
Liburan kali ini aku manfaatkan untuk banyak meluangkan waktuku di Pasar Minggu, sekaligus melupakan kepenatan selama ini di kampus, IP ku juga naik, 3,50. tiada kata yang sanggup kuucapkan kecuali kesyukuran kepada Allah. Kini aku mulai mengerti arti kehidupan yang hanya sekali ini, terima kasih Ya Allah.
Saat mengangkat kardus berisi perabotan rumah tangga, sebangsa piring atau gelas. Mataku menatap seorang anak kecil yang terlihat pindah dari satu toko ke toko lainnya. Mencari sesuatu dan kebingungan, dia adalah Fadli, murid privatku. Setelah selesai memasukkan barang pecah-belah itu ke mobil pick-up, aku mendekati Fadli yang menjawab salamku dan mencium punggung tanganku. Dia tak merasa canggung dengan pakaianku yang terlihat lusuh, seperti rumahnya yang sebenarnya besar namun perabotannya seolah tak ada, seperti ruangan yang baru saja dikosongkan.
”Fadli mencari apa?” baju kotak-kotak birunya basah oleh keringat, karena panasnya matahari yang mengiringi manusia beraktivitas.
”Nyari hadiah untuk kakak. Aku bingung mau membelikan apa,” matanya masih sempat mengedar ke setiap penjuru toko.
”Bagaimana kalau kutemani mencarikan hadiah terbaik untuk kakakmu?”
”Benarkah Kak?”
”Insyaallah, berapa uang yang Fadli punya?” aku mencoba menakar.
Fadli diam agak lama. Dia menghela napas berat, tangannya mengambil sesuatu di kantong celananya, ”Hanya Rp. 3.000, aku tidak punya uang lagi,” wajahnya terlihat sedih.
”Ayo kita cari yang terbaik untuk Kakakmu,” aku tersenyum kepadanya. Fadli terlihat masih ragu, ”Aku akan menambah uangnya untuk membelikan hadiah, tapi ada syaratnya...,”
”Apa syaratnya Kak?” wajahnya berubah sumringah.
”Kamu harus rajin belajar dan tidak boleh lagi banyak main, mulai semester depan kamu harus masuk ranking tiga besar. Bagaimana?”
”Insyaallah Kak! Aku akan berusaha menepatinya,” wajahnya polosnya teramat ceria, aku merasakan kegembiraan pula.
Aku berkeliling bersama Fadli. Kadang kutunjukkan padanya boneka, tapi dia menggeleng, kutawari dompet atau tas yang menjadi kesukaan wanita tapi Fadli juga menggeleng, aku tawari yang lain tapi dia terus menggeleng. Aku belum pernah memberi seorang wanita pun hadiah, jadi aku tidak tahu apa hadiah yang terbaik itu. Saat melewati sebuah toko buku dan pakaian muslimah, Fadli menarik tanganku untuk menghentikan langkahku. Aku berjongkok karena sepertinya dia ingin membisikkan sesuatu. Benar. Aku mendekatkan telingaku.
”Apakah untuk menjadi bidadari di surga, wanita di dunia harus memakai jilbab?” aku sedikit heran. Kutatap wajah polosnya yang menatapku serius.
”Iya. Memangnya kenapa?”
”Ayo Kak! Kita beli jilbab untuk Kakakku,” dia menarikku masuk, aku mengikutinya.
”Apakah Kakakmu sudah memakai jilbab?” tanyaku pelan.
”Belum, tapi beberapa hari yang lalu kulihat dia memakai selendangnya untuk menutupi rambutnya di depan cermin. Saat dia melihatku, dia tersenyum padaku dan berkata, ”Apakah Kakak pantas memakai kerudung? Apa Kakak terlihat lucu?” aku menjawab bahwa Kakak begitu cantik lebih cantik dari bidadari. Wajahnya semakin bersinar dan dia tersipu, lalu melepaskan selendangnya lagi,” Fadli menatapku penuh harap.
”Apakah engkau mencintai kakakmu?”
”Iya Kak, hanya dialah yang aku miliki di dunia ini. Aku tak tahu dimana ibuku, sedangkan ayahku tak pernah pulang jika pulang dia selalu memukulku,” airmatanya menetes pelan, aku memeluknya. Kurasakan kepedihan itu dari setiap tatapan matanya ketika privat, dan untaian kata-katanya. Kubelai rambutnya, tak kuhiraukan pandangan orang yang mungkin terganggu.
”Kenapa Fadli ingin membelikannya jilbab? Kenapa bukan yang lain?”
”Karena aku ingin masuk surga bersama kakakku. Jika dia tidak masuk surga, aku tidak akan mau masuk surga sendirian. Aku tidak mau.”
Aku membeli dua jilbab. Satu warna pink dan satunya hitam. Sekalian satu Mushaf Al-Quran plus terjemahnya. Mungkin uang hasil kerjaku hari ini habis untuk membelikan hadiah untuk kakaknya Fadli, namun demi melihat cerianya Fadli, membuatku semakin merasakan kedekatan Allah yang membersamaiku setiap langkahku. Tak kukhawatiri rezeki, karena Dialah yang mengaturnya dengan seadil-adilnya, kapan rezeki itu akan aku dapatkan dan akan menghilang kembali. Aku menyerahkan segala urusan pada Allah ’Azza Wa Jalla. Uang Rp 3.000 Fadli aku kembalikan, aku memintanya untuk menyimpannya saja. Lagi-lagi dia menginginkanku mendekat padanya, ada yang ingin dibisikinya, ”Kak, aku mencintaimu karena Allah. Aku berjanji akan bersungguh-sungguh belajar untuk menepati janjiku,” aku terenyuh oleh kata-katanya, dia sangat mirip dengan kecilku dulu.
Dia pamitan sambil melambaikan tangannya, ada keceriaan di wajahnya. Liburan kali ini privat libur, menunggu hingga sekolah telah masuk. Jadi dua minggu ini aku tidak akan ketemu dengan Fadli. Aku hanya bisa mendoakannya.