Cincin Bulan Persahabatan
Aku Mencintaimu karena Allah
Dua bulan berlalu begitu cepat. Hari yang ditunggu oleh santri tingkat dua itu akhirnya datang juga. Di gedung Munaqosah itu, semua santri tingkat satu dan dua sudah berkumpul. Ustadz Wahid, Umair dan Ustadz Saiful telah duduk di depan kami. Farid Abdullah Sidiq duduk di shaf terdepan. Sedari tadi kulihat senyumnya membuncah, berseri-seri. Acara dibuka. Ustadz Saiful memanggil santri yang ingin dahulu di test hafalannya, untuk memenangkan sayembara yang telah dinanti-nanti. Semua santri seolah tegang, akan dimenangkan siapakah sayembara ini? Kurasa banyak detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, termasuk jantungku.
Beberapa orang telah maju. Kemajuan yang pesat terjadi di setiap santri. Ada yang di tes selama dua bulan telah mencapai tiga juz, padahal sewaktu semester awal hanya menghafal satu juz selama enam bulan. Ternyata semua ingin mencoba. Hingga ahad ini, sampai ba’da dzuhur acara masih diteruskan. Sudah 25 orang yang maju, paling banter yang tertinggi adalah 7 juz, tiga juz selama dua bulan terakhir yang lain memang sudah dihafalnya sebelumnya. Syahid hafal hingga kini empat juz, dua juz waktu semester satu, dan dua bulan terakhir dia hafal satu juz saja karena dia cerita kuliahnya banyak sekali tugas.
Tinggal enam orang yang belum tes. Farid maju dengan tenang menghadapi ketiga orang yang mengetes. Mereka pembesar-pembesar pondok. Tak ada grogi, suaranya halus dan lancar, ketika meneruskan setiap ayat yang di baca Ustadz Wahid dari juz satu sampai juz 6, sedangkan tiga juz dia hafal juz 28 sampai 30. jadi totalnya 9 juz. Ketika di tes tidak ada yang salah, hanya kekeliruan kecil namun dapat segera diperbaikinya.
”Dari beberapa yang belum di tes, adakah yang masih ingin maju untuk mengalahkan Farid?” Lima orang yang belum ke depan hanya saling berpandangan, termasuk aku. Aku menunggu mereka maju duluan. Ayolah! Pasti ada yang bisa mengalahkannya, aku hendak maju terakhir.
Ustadz Umair seolah menunggu, ”Aku hitung sampai tiga, jika tidak ada akan kuketuk palunya. Satu..., dua...,” kutatap beberapa santri yang belum, mereka menunduk. Menyerahkah? Kutatap Ustadz Umair yang menatapku teduh, ”ti...,”
Aku mengangkat tanganku, ”Aku ingin mencobanya Ustadz,” aku maju ke depan. Banyak yang menatapku saat maju. Aku tersenyum kepada mereka semua.
”Dari juz berapa hingga berapa?” Ustadz Saiful, salah satu Ustadz yang mengetesku saat pendaftaran dulu. Kukira dia sangat ingat denganku.
”Dari juz satu sampai sepuluh,” kujawab pelan.
Pertama Ustadz membacakan ayat yang dia pilih, sepuluh pertanyaan setiap juz satu ayat. Aku meneruskannya tanpa kesalahan. Berulangkali aku memohon kepada Allah untuk memberikan yang terbaik untukku, karena Dialah yang menggerakkan seluruh organku termasuk pikiran dan lisanku, semua atas izinNya. Ustadz Wahid ingin mengetesku juga, dia membacakan ayat yang acak dan bervariasi tidak harus setiap juz. Aku meneruskan setiap ayatnya dengan lancar. Aku kembali bersyukur, tak kulihat reaksi ke-30 teman di belakangku. Aku hanya berkonsentrasi dan kulihat ada senyum kecil menghiasi Ustadz Umair kepadaku, Dia tidak mau mengetesku, karena dia sudah yakin dengan hafalanku. Dia hanya bertanya.
”Apakah hanya 10 juz hafalanmu?”
”Satu juz lagi Ustadz, juz 30.”
”Berbaliklah kearah teman-temanmu, dan ceritakan bagaimana engkau melakukannya. Jika engkau bisa tentu yang lain pasti bisa.”
Aku menghadap wajah teman-temanku. Wajah mereka, diantaranya ada yang meneteskan airmata terutama Syahid. Dia mengacungkan jempol tangan kanannya. Aku tersenyum padanya, ”Semuanya karena Allah, hanya karena Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali milikNya, aku hanya bisa berikhtiar dan berdoa padanya. Tak berpengaruh bagiku ada hadiahnya atau tidak. Aku melakukannya sebagai hobi, sebagai kebutuhan. Aku mendengarkan murottal dari sembilan kaset yang kudengar dengan walkman, ketika aku menyetrika, ketika berangkat kuliah, ketika jam senggang sambil membaca buku, ketika dari kalian terlelap tidur aku bertahan untuk menghafalnya, aku mengurangi tidurku, aku mengurangi makanku agar tak kenyang, aku menjaga mata, lisan, pendengaran, hatiku dari keburukan-keburukan. Dan aku menghafal sembilan juz dalam dua bulan. Allah memudahkan langkah hambaNya yang menujuNya. Man Jadda Wa jadda ! Kita semua bisa melakukan apapun kalau kita yakin bahwa Allah bersama kita. Kalian semua pasti bisa..., karena aku yang dari kampung ini bisa,” kutatap semua teman santri terutama Syahid, selama ini dia yang tahu aktivitasku.
Syahid tiba-tiba maju ke depan. Mendekatiku. Aku berdiri. Syahid merangkulku erat, tangisnya memburai. Kudengar sayup suaranya bergetar, ”Akh, aku mencintaimu karena Allah, aku bersyukur dapat mengenalmu,”
”Aku juga mencintaimu karena Allah,” airmataku tak tertahan, semua teman-temanku berdiri maju kearahku, termasuk Farid yang meneteskan airmatanya. Dia menepuk pundakku pelan, ”Aku banyak belajar darimu Ali, jadilah seperti Ali bin Abi Thalib karena dialah gembok ilmu Rasulullah saw. Kita akan belajar bersama-sama. Maafkan aku mungkin selama ini aku berbuat sombong kepadamu.”
Aku tersenyum kepadanya, ”Dan jadilah engkau orang yang selalu mengajariku, memberi nasehat kepadaku. Aku senang bersahabat denganmu dan dengan kalian semua,” jadilah acara hari ini acara saling mempererat ukhuwah, dan sampai kembali ke kamar kulihat senyum Ustadz Umair. Apakah semua ini skenario beliau? Aku tak mau menebak-nebak, kuanggap dia mampu membuat hati siapapun tersentuh oleh kata-katanya yang tegas. Aku menatap awan yang terus berarak di timpa cahaya rembulan, kadang membentuk kadang hilang lagi. Tapi Allah yang mengaturnya tak pernah tidur sejenakpun, dia melihatku dari singgasanaNya. Aku tersenyum menatap langit, mata yang menatap penuh kesyukuran, untuk berdzikir, bertasbih, dan bershalawat mengiringi alam.