Cincin Bulan Persahabatan
Ternyata Aisyah itu
”Kak,” mata Fadli mengedip di sebelah.
”Kenapa? Ada yang aneh dengan Kakak?” tanyaku bingung.
”Malam ini ada kejutan,” Fadli membenarkan letak pecinya, ”Hari ini aku ulang tahun. Kakakku pasti minta izin pulang cepat dari kerjanya nanti, mungkin ba’da Isya’. Kakak pasti membawakan kue dan hadiah untukku,” senyumnya menerawang.
”Subhanallah! Tapi Kakak belum tahu. Bagaimana ini, Kakak kan tidak menyiapkan hadiah untuk Fadli,” aku benar-benar tidak tahu hari ulang tahunnya. Biasanya ulang tahun bagi seorang anak kecil, adalah moment yang penting.
”Tidak apa-apa. Asalkan nanti Kakak menemaniku waktu meniup lilin, aku sudah bahagia,” benar-benar ucapan yang polos.
”Insyaallah, nanti Kakak pasti akan menemanimu,” belum selesai kami asyik ngobrol, adzan menggema. ’Alhamdulillah! Isya’ telah datang, panggilan cinta itu datang lagi, pengobat rindu, tempat mengadu, tempat menikmati hidangan terindah dari Allah yaitu berbincang-bincang denganNya,’ batinku berucap lirih, mencoba menuai kesyukuran, ”Ayo ke masjid dulu. Nanti kembali kesini lagi, Kakak tidak akan langsung pulang, tapi menemani acaramu dulu,” kami berangkat ke masjid.
Alhamdulillah! ”Fadli tunggu di sini sebentar ya? Kakak ingin membeli sesuatu. Penting. Pokoknya tunggu Kakak disini,” aku meninggalkan sejenak Fadli di depan masjid setelah shalat Isya’. Aku segera berlari di toko buku, sampai malampun toko Taqwa masih buka. Aku buru-buru membeli dua buku dan minta kubungkus. Aku harus memberikannya hadiah. Buku, ’Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim’ karya Salim A. Fillah dan satunya, ’Kisah 20 sahabat untuk anak-anak’ karya Syaikh Muhammad Hamid. Kurasa pas untuknya, kini dia suka sekali membaca. Aku harus menjembatani.
Aku menyusulnya di masjid. Fadli manyun, ”Pasti Kakak telah menungguku di rumah. Kakak sih kelamaan,” aku hanya membelai rambutnya. Untung kadonya telah kumasukkan ke dalam plastik hitam. Jadi dia tidak tahu. Hp-ku menjerit di perjalanan ke rumah Fadli. Sms dari Kakaknya Fadli;
”Asw. Apakah Fadli sedang bersama anda?”
”Wasww. Iya, skrng sedang diperjlnan.” aku segera mengetik balasan.
”Mohon cepat pulang. Hari ini dia ulangtahun.” kukira dia agak khawatir.
”Fadli, mau kugendong!” tanpa babibu dia langsung merangsek di pundakku, aku berlari. Dia terlihat bahagia sekali. Keringatku bercucuran, walau jaraknya hanya setengah kiloan. Fadli turun langsung mengucapkan salam, terdengar jawaban lembut dari dalam. Aku masih terengah-engah. Mengipasi wajahku dengan telapak tangan.
Pintu terkuak, wanita berjilbab. Senyumnya tersungging kearah Fadli. Wajah itu terlihat kurang jelas, dari sorot lampu jalan yang hanya beberapa watt. Tapi, aku terkejut begitu wajah itu menoleh kearahku. Bibirku kelu tak kuasa berucap.
”Si..., silakan masuk,” wanita itu masuk ke dalam. Sedangkan Fadli menarik tanganku erat. Jadi selama ini, kakaknya Fadli adalah Aisyah teman sekelasku di kampus. Masyaallah! Kenapa aku sampai hampir setahun setengah tidak menyadarinya. Jika Hanif tahu pasti terjadi gempa, geger habis. Kenapa aku tidak tahu sama sekali. Alangkah malunya aku berada di rumahnya seminggu tiga kali, mengajari adiknya tapi aku tidak tahu siapa yang membayar honorku setiap bulan.
Wanita yang selalu diceritakan Fadli itu, selama ini adalah Aisyah teman kuliahku? Aku masih belum percaya. Wanita tegar itu ternyata Aisyah, yang kini telah berhijrah memakai hijab. Iman telah merasuk ke dalam dadanya, sebagaimana aku dulu menentukan pilihanku, untuk mempelajari dan memahami Islam sebagai lakon hidupku.
Aisyah keluar menyuguhkan minuman, ”Silakan diminum, beginilah keadaan rumahku,” lalu duduk di sebelah Fadli.
”Iya,” aku tak tahu harus bicara apa, ”Bukankah hari ini hari ulang tahunnya Fadli.”
”Benar!” Fadli langsung pindah di pangkuanku, ”Keluarkan kuenya dong Kak Ais, sudah lama kita tidak merayakan ulang tahun ada tamu seperti hari ini.”
Aisyah masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian keluar sambil membawa nampan berisi kue tart. Ada lilin yang menunjukkan angka 12, dan dipinggirnya ada beberapa lilin merah yang mengelilinginya. Acaranya sederhana itu dimulai, sikap kaku yang tercipta makin lama makin pudar. Aku mencoba menikmati acara ini setidaknya agar berkesan bagi Fadli. MC-nya Aisyah, mirip sekali sewaktu kami presentasi tugas kemarin, aku membaca tilawah dan doa. Fadli sangat senang, tertawanya lepas. Seolah hilang sudah kemurungannya sewaktu awal bertemu dulu.
Kami sedikit bercanda, agar Fadli merasakan bahagia. Sambil meniup lilin, Fadli berdoa khusyuk. Matanya terpejam. Aku jadi teringat diriku, belum pernah aku merayakan ulang tahunku sama sekali. orangtuaku pun tak pernah mengingatnya, kecuali hanya terpampang di raport, hanya saja kasih sayang mereka tercurah sepenuhnya untukku. Aku rindu mereka, rindu yang menyentak.
”Fadli, apa yang kau minta?” aku mencandainya seusai berdoa.
”Rahasia! Hanya aku dan Allah yang tahu.”
Aku menatapnya, ”Baiklah tunggu sebentar, Kakak punya kejutan untukmu,” aku keluar sejenak, untuk mengambil bungkusan plastik yang kutaruh di teras rumah.
”Ini hadiah untukmu, semoga Allah selalu mencintaimu,” aku mengelus kepalanya.
”Amiin..., Amiin...,” bibirnya berujar. Kudengar suara lembut juga mengamini ucapanku, Aisyah. Aku pamitan pulang, karena waktu telah menunjukan pukul 20.15 aku tidak mau ada fitnah. Mereka berdua mengantarku hingga di pintu. Aku melangkah pulang. Berjalan kaki. Sambil berjalan kuingat obrolan selama milad Fadli tadi. Ternyata mereka selalu berdua ketika milad diantara mereka. Sempat terucap ucapan terima kasih Aisyah, karena telah kembali menanamkan keceriaan di wajah adiknya. Bagaimana pula esok jika bertemu dengannya waktu kuliah? Semoga dia tidak memberitahukan kepada yang lain. Semoga. Tapi satu hal yang kusimpulkan, Aisyah membiayai kuliah dan biaya sekolah adiknya sendiri. Sama sepertiku. Aku dapat merasakan apa yang dia rasakan.
Ketika masuk areal pondok, Hp-ku berbunyi. Aisyah.
”Asw. Terimakasih untuk semuanya. Fadli sangat menyukai hadiahmu, akupun ingin ikut membacanya. Jadi kami membaca giliran. Satu-satu. Adikku kini ceria, aku sendiri kesusahan untuk membuatnya ceria. Aku juga mulai mengenalmu malam hari ini banyak hal dari Fadli. Tetap semangat akh.”
Aku masuk ke dalam Asrama. Semoga ini tidak membuatku sombong, apalagi menjadi bangga. Allah! Malam ini aku ingin mengadu banyak hal padaMu. Maka bangunkanlah hambaMu yang lemah ini di sepertiga malam nanti. Malam ini aku tidak masuk kajian kitab. Semoga aku bisa mengejar ketertinggalan ini.