Cincin Bulan Persahabatan
Surat dari Desa
Semester empat berlalu. Hasilku memuaskan, IP-ku cum laude sekarang. Hatiku bersyukur akan kasih sayangNya, dan semoga saja bukan Istidraj dariNya. Aku mencintaiMu ya Allah, tapi cinta saja tidak cukup karena menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimallah. Seorang mukmin bertauhid menyembah Allah dengan tiga hal. Yaitu Cinta, takut dan harap. Beliau meneruskan keterangannya, ’Barang siapa menyembah Allah karena cinta saja berarti dia Zindik yaitu sebutan bagi orang yang tertipu oleh perasaan dan angan kosongnya. Barangsiapa yang menyembah Allah karena harap akan surga semata, maka dia Murji’ yaitu orang yang menganggap iman cukup dengan pembenaran lisan, sehingga memudahkan dan menggampangkan, seperti aliran liberal yang tidak membutuhkan shalat sebagai gerakan, cukup dengan mengingatNya semata. Dan barang siapa yang menyembah Allah karena takut saja maka dia Haruri, yaitu kelompok yang mudah mengkafirkan orang muslim karena berlebihan dalam rasa takutnya.’ Allah, aku cinta, harap dan takut kepadaMu. Aku mengazam.
Aku memasuki semester lima, selama ini aku tidak pernah pulang. Kerinduan akan Kampung halaman seolah memenuhi jiwaku, uang tabunganku tak akan kuutak-atik. Aku berupaya hidup hemat, bukan pelit. Kucoba meniru kebiasaan Ali bin Abi Thalib ra. Dia mempunyai tiga dirham, untuk disedekahkan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, lalu satu dirham untuk diperlihatkan kepada manusia agar ditiru, dan satunya untuk sedekah bagi keluarganya. Atau seperti Salman Al Farisi yang diberi amanah sebagai gubernur oleh Umar bin Khatab, tapi gajinya diserahkan semua ke Baitul Mal , kecuali diambil satu dirham untuk dikerjakannya menganyam, hasilnya dijual dan mendapat 3 dirham. Satu untuk makan sehari keluarga, satu disedekahkan, dan satunya untuk menganyam hari esok, seorang Gubernur yang susah dicari pada saat ini. Atau seperti Umar bin Khatab, yang suatu kali ketinggalan shalat gara-gara mengunjungi kebun kurma dan zaitunnya yang sebentar lagi panen, lalu beliau menyedekahkan kebun beserta isinya ke Baitul Mal.
Aku jadi iri pada mereka. Teringat sebuah hadist, ”Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang yang diberi harta oleh Allah lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar. Dan orang yang dikaruniai ilmu dan kebijaksanaan lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya ,” sekuat tenaga aku akan berusaha mengikuti mereka, sehingga harta yang diberikan Allah tidak membuatku lalai, lalu terjerumus seperti Qorun dan Fir’aun. Selain itu aku mengirim uang ke Kampung, mereka tidak tahu pekerjaanku disini. Kini Fajar baru lulus SMA, sedangkan Yasmin kini kelas 1 SMA. Aku membuka kembali surat dari Ibu sebulan yang lalu, setelah sebelumnya surat plus uang aku kirimkan.
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Salam terindah, dari Ibu, Bapak, dan adik-adikmu.
Le , rindu ibu membuat ibu harus menuliskan surat untukmu sebagai pelipur laraku. Ibu ndak bisa nulis jadi ini adikmu yang menulis, dia pintar sepertimu Le, seandainya kamu gak bisa pulang kami tidak akan bersedih, karena engkau berada di hati kami. Kami tidak mengharapkan uang, kabarmu disana baik, itu sudah cukup untuk ibumu yang telah lelah ini.
Bapakmu menitipkan salam rindunya dalam surat ini. Dia yakin engkau dapat memilih jalanmu sendiri, dia tidak meragukanmu sama sekali. karena dalam sholatnya namamu disebutnya tak pernah ketinggalan.
Kami tidak ingin engkau bekerja keras, hingga engkau terbebani, kuliahmu terbengkalai atau badanmu kelelahan. Kami tidak tahu kerja dan aktivitasmu disana, tapi kami semua yakin engkau memilih jalan yang benar. Namamu selalu menggema di setiap langkah gerak kami. Le..., rindu ibumu tak kuasa kutahan. Namamu ibu sebut di setiap gerak, di setiap detakan jantung ibu, yakinlah bahwa kita berdekatan tak ada jarak walau terpisah oleh sekat dinding-dinding kokoh.
Adikmu Fajar..., maafkan ibu dan bapak karena kurang bisa mendidiknya. Dia tidak bisa mendapatkan ranking seperti kamu dan Yasmin, tapi berdoalah selalu untuknya agar Allah membukakan rahmatNya pada adikmu. Le, tak banyak kata. Kami selalu merindukanmu, tapi janganlah pulang jika itu mengganggumu, tetaplah disana untuk mengejar citamu, jadilah orang besar, kami tidak ingin meminta apapun darimu. Cukup engkau menjadi orang yang banyak membawa manfaat bagi orang banyak, ibu lan bapak sudah tenang.
Ibu, Bapak dan adik-adikmu mencintaimu. Semoga rindu dan doa kami selalu menjadi pelipur laramu, menjadi teman kesepianmu.
Keluarga yang selalu merindukanmu, le...
Tambahan :
Kak ini aku Yasmin. Maaf sebelumnya aku banyak menambahkan dan mengurangi kata-kata yang Ibu sampaikan, soalnya ibu menyampaikannya sambil nangis dan cepat. Jadi, aku kesusahan menuliskannya, tapi intinya udah masuk semua.
Kak pesan dariku, ”Hmm..., tolong carikan Kakak untukku yang berakhlak baik, yang berjilbab, yang cantik dan lembut hatinya,” Kak..., aku mencintaimu karena Allah. Darimu dulu aku belajar banyak tentang kerja keras. Berjuanglah Kak! Yasmin.