Cincin Bulan Persahabatan
Tetangga Itu ...
Hari jum’at. Pagi itu cerah sekali, begitu sejuk. Aku melangkah hendak kuliah, baru beberapa langkah Syahid memanggilku. Katanya keluarga Pak Purwiro telah pulang dari Luar Negeri, barusan dia melihatnya masuk ke rumahnya saat Syahid lewat ba’da bermain bola. Hari ini dia lagi kosong, jadi tidak kuliah. Pak Purwiro adalah tetangga kami, rumahnya bersebelahan dengan pesantren, hanya saja orangnya jarang di rumah. Kata para Santri orangnya begitu pelit, tidak pernah terlihat di acara-acara pengajian ataupun untuk shalat di Masjid. Pernah ada santri yang datang meminta partisipasi untuk datang ke acara lulusan pesantren, tapi malah dimarahi, pak Purwiro mengiranya sebagai peminta dana untuk sumbangan Pesantren. Dua minggu yang lalu pun, dia pergi beserta keluarganya, pembantunya pun diajak karena takut mengambil harta di rumah. Hanya anjing yang menjaga di rumahnya. Begitu cerita Samsul padaku.
Aku berlari kembali lagi ke kamar, mengambil gulungan koran yang lumayan tebal. Aku berjalan mampir sejenak ke rumah pak Purwiro. Dari gerbang, aku memencet bel rumah. Seorang wanita keluar, wajahnya begitu bersih karena make-up yang berlebihan mungkin. Aku menundukkan pandanganku.
”Mas mau mencari siapa?” tanyanya sambil membuka gerbang.
”Pak Purwiro ada?”
”Papi sedang membaca koran. Sebentar akan saya panggilkan,” wanita itu berbalik dan kembali ke rumah. Beberapa menit kemudian, seorang lelaki tambun keluar tergesa-gesa. Seolah ada urusan penting.
”Anak Pondok, kamu mencari saya? Mau minta sumbangan! Sudahlah, kalian urusi saja urusan akhirat kalian. Dunia dan harta tak layak untuk kalian. Jika mau uang, seharusnya kalian bekerja keras bukan meminta-minta! Buat apa kalian belajar agama jika kerjaannya hanya meminta uang!” bibirnya sedikit sinis. Hatiku serasa terbakar sejenak, tapi Allah segera meniupkan cintaNya sehingga bibirku dapat tersenyum pelan. Bukankah lebih baik membalas keburukan dengan kebaikan?
”Saya kesini bukan untuk meminta sumbangan Pak, saya hanya ingin menyerahkan koran-koran Bapak, yang terkumpul di gerbang selama Bapak ke luar negeri,” aku menyerahkan koran itu. Dia menerimanya. Sangat banyak, karena satu hari mereka langganan beberapa koran dan tabloid, ”Jika saya mengganggu waktu Bapak, saya minta maaf. Sekarang saya ingin pamit untuk kuliah. Assalamu’alaikum.”
”Tunggu Nak,” sebuah nada yang pelan, membuatku berhenti. Pak Purwiro, ”Kenapa..., kenapa kamu bersusah-susah mengumpulkan koranku, dan kenapa engkau begitu sabar dengan sikapku?” matanya lekat menatapku heran.
Aku tersenyum padanya, ”Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama, terutama tetangga yang terdekat. Satu hari anda pergi, sewaktu pulang kuliah, saya melihat koran sudah bertumpuk di gerbang, saat itu saya mengumpulkannya dan akan saya berikan kepada Bapak sewaktu Bapak pulang nanti. Walaupun anjing Bapak selalu menyalak, sewaktu saya mengambilinya setiap pagi,” aku mencoba sedikit bercanda padanya, kulihat dia juga tersenyum kecil.
”Tapi kenapa engkau bersusah-susah untuk mengumpulkannya, kenapa tidak engkau tinggalkan saja?” dia masih bertanya penasaran.
”Bapak mungkin sering mendengar ungkapan, ’Kejahatan terjadi bukan hanya terjadi karena niat pelakunya, melainkan karena ada kesempatan’ jika koran yang ditinggalkan setiap harinya bertumpuk, maka akan ada orang yang melihat dan mengira bahwa rumah itu tidak ada penghuninya. Maka kejahatan bisa terjadi, tapi jika koran itu terambil setiap hari, maka akan terlihat seperti ada penghuninya. Saya hanya berjaga-jaga, semoga tidak ada orang yang ingin berbuat jahat terhadap rumah Bapak. Apalagi Bapak adalah tetangga dekat kami. Islam sangat menganjurkan bahwa kami harus berbuat baik, terutama tetangga yang paling dekat. Kalau begitu saya duluan Pak, kuliah mau dimulai, saya tidak ingin telat. Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumsalam..., Tunggu Nak.”
”Ada apa lagi Pak?”
”Apakah siang ini kamu ada acara? Saya ingin mengundang anda makan siang di rumah saya,” pandangan matanya penuh harap.
”Ehm..., mungkin lain kali Pak. Hari ini setelah kuliah, saya kebagian tugas mengisi khutbah jum’at di masjid Ukhuwah Islamiyah. Setelah itu saya harus kerja di pasar Minggu. Insyaallah lain kali saya bisa Pak.”
”Kerja? Setelah pulang mengisi khutbah? Kamu kerja apa?”
Aku hanya tersenyum, ”Saya bekerja sebagai kuli di pasar. Maklum Pak, di Depok saya sendirian membiayai kuliah saya. Orangtua saya di desa orang miskin, Bapak tentu lebih tahu bagaimana manusia harus bekerja, agar tak meminta-minta pada orang lain,” kulihat dari wajahnya agak merasa bersalah. Aku pamitan padanya, sempat kutangkap, bahwa dia akan menghadiri shalat jum’at di masjid Ukhuwah Islamiyah, katanya ingin mendengarkan khutbahku. Aku mengganggukkan kepalaku.