Cincin Bulan Persahabatan
Tugas Khutbah Pertama
Usai kuliah aku langsung naik bikun. Giliran tugasku tiba juga. Aku datang pukul 11.15, karena tadi kuliah baru saja keluar. Untung saja dari rumah aku langsung memakai baju koko, sehingga hanya perlu bersih-bersih di serambi masjid. Aku memasuki Masjid dengan keadaan setenang mungkin, aku mengambil tempat di shof depan, beberapa orang telah duduk disana, ada yang masih shalat sunnah. Aku memberi salam kepada orang-orang yang sedang duduk dekat dengan mimbar. Sekilas di pinggir sebelah kiri, seseorang yang aku kenal menatapku. Ustadz Umair. Aku membalas senyumnya dan shalat dua rekaat. Jama’ah mulai berdatangan, aku masih menekuri Al-Quran pemberian Sinta. Jika teringat masa laluku, mataku seolah menetes kembali. Alangkah sayangnya Engkau padaku Ya Allah. Kau beri hamba pemahaman sehingga kini Engkau memberi amanah padaku untuk menyampaikan risalahMu. Alhamdulillah..., Alhamdulillah ya Allah.
Seseorang menepuk pundakku pelan, ”Silakan Ustadz,” ternyata akh Deri, salah seorang takmir masjid yang sering berdiskusi denganku. Aku tersenyum padanya dan berdiri memasuki mimbar, kuhadapkan wajahku ke seluruh jama’ah, ”Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” lalu aku duduk. Muadzin melantunkan adzan. Aku mendahulukan Alhamdulillah, syahadat, shalawat dan salam dan perkataan ’Amma ba’du, seperti yang diungkapkan Ibnu Qoyyim Rahimallah dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad. Lalu pesan taqwa.
Aku memendekkan khutbah, kumulai dengan membaca surat Ibrahim ayat 7, Jikalau kalian bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya siksaKu sangat pedih.” Aku mengambil tema, Hari Kiamat!.
Demikianlah, aku wasiatkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan dan waktu. Takwa, sebuah kata yang ringan diucapkan akan tetapi tidak mudah untuk mengamalkannya. Ketahuilah, wahai saudaraku Rahimakumullah, tatkala Umar bin Khattab ra. bertanya kepada Ubay bin Ka’ab ra. tentang takwa, maka berkatalah Ubay, ”Pernahkah anda berjalan di suatu tempat yang banyak durinya?” kemudian Umar menjawab, ”Tentu” maka berkatalah Ubay, ”Apa yang anda lakukan?” berkatalah Umar, ”Saya sangat waspada dan hati-hati agar selamat dari duri itu”. Lalu Ubay berkata, ”Demikianlah takwa itu. ”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Demikianlah takwa, kita harus senantiasa waspada dan hati-hati dalam setiap tindakan keseharian kita, dan juga dalam ucapan-ucapan kita. Oleh karena itu janganlah kita berbuat dan berucap kecuali berdasar ilmu. Hendaklah kita mencari bekal untuk kehidupan akhirat karena kita tidak tahu kapan ajal menjelang. Allah swt berfirman, ”Dan berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal. ” bagi orang yang tidak takut pada Allah ’Azza wa Jalla, seakan mereka ringan mengatakan neraka, adzab, ash-shirat dan lain-lainnya, tanpa ada rasa kalau mereka akan dihadapkan pada fitnah-fitnah yang dahsyat, Naudzubillah min dzalik. Allah swt berfirman tentang mereka, ”Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya maka dia berkata, ”Wahai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini) dan aku tidak mengetahui apakah hisab (perhitungan amal) terhadap diriku. Duhai seandainya kematian itu adalah kematian total (tidak usah hidup kembali). Hartaku juga sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, kekuasaanku pun telah lenyap daripadaku.”
Coba perhatikan ayat selanjutnya, ”Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” bagi orang yang beriman yang mengetahui makna ayat di atas, maka pastilah bergetar hatinya, akan menetes airmata mereka, terisaklah tangis mereka dan keluarlah keringat dingin di tubuh mereka. Seakan mereka saat itu, sedang merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut yang amat mendalam kepada Allah, kemudian berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang-orang yang celaka.
Saudaraku, jama’ah shalat jumat, Rahimakumullah
Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat, dan akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempertanggungjawabkan diri mereka. Allah berfirman, ”Dan dengarlah pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari dari tempat yang dekat, yaitu pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur).” dan Allah juga berfirman, ”Tidakkah orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan Semesta Alam. ” dan manusia akan dibangkitkan dalam keadaan mereka tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan, sebagaimana firman Allah, ”Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulangnya (mengembalikannya). ”
Manusia akan dikembalikan secara sempurna tanpa dikurangi sedikitpun, dikembalikan dalam keadaan demikian bercampur dan berkumpul antara laki-laki dan perempuan. Dan tatkala Nabi saw menceritakan hal itu kepada ’Aisyah ra. maka berkatalah ia, ”Wahai Rasulullah antara laki-laki dan perempuan sebagian mereka melihat kepada sebagian yang lain?,” kemudian Rasulullah saw bersabda, ”Perkara pada hari itu (kiamat) lebih keras dari pada sekedar sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya.”
Pada hari itu, laki-laki tidak akan tertarik kepada wanita dan sebaliknya, sampai seseorang itu lari dari bapak, ibu dan anak-anak mereka karena takut terhadap keputusan Allah pada hari itu. Sebagaimana firmanNya, ”Pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isterinya dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkan.” demikianlah peristiwa yang amat menakutkan yang akan terjadi di akhirat nanti, mudah-mudahan kita semakin takut kepada Allah dan menetapi keimanan serta ketaatan kepadaNya.