Cincin Bulan Persahabatan

Ramadhan Tiba

”Marhaban ya Ramadhan,” hati dan lisanku berujar syukur, Allah ’Azza Wa Jalla masih mencintaiku sehingga aku dipertemukan lagi dengan tamu yang ditunggu Umar bin Khattab ra. dengan riang, yang membuat Abu Bakar ash Shidiq ra. melakukan apa saja untuk mendapatkan keridhaanNya. Ramadhan telah datang, bulan yang dinanti-nanti Utsman bin Affan ra. untuk memperbanyak sedekahnya, bulan yang ditunggu-tunggu Ali bin Abi Thalib ra. karena kemulyaannya. Bilal bin Rabbah ra. pun mengunggunya dengan senyuman terindahnya.

Gembiranya hatiku pula, namun segera aku teringat sebuah hadits, ”Berapa banyak orang yang berpuasa dan dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar. Dan berapa banyak orang yang mengerjakan shalat malam (qiyamul layl), dan ia tak mendapatkan apapun darinya kecuali begadang semalam suntuk.” Ya Allah, ya Rabb, lindungilah hambaMu dari amalan yang sia-sia, dari kebaikan yang tak terangkat derajatnya hingga ke sisiMu. Mataku sembab, apakah amalku selama ini hanya sebatas rutinitas? Allah, ampunilah..., lindungilah..., hamba hanyalah manusia yang dhaif. Bantulah setiap hambaMu yang ingin memperbaharui imannya, termasuk diriku ya Rabb.

Setiap Ramadhan, Pesantren memiliki sebuah tradisi yang unik, mungkin sejak awal pesantren ini berdiri. Semua Ustadz menggelar ta’lim sendiri-sendiri, biasanya mendalami salah satu kitab dengan tafsir dan pendalamannya. Selama ramadhan, jadwal belajar pondok diliburkan kecuali untuk satu kajian setelah shalat tarawih. Setiap santri mendapatkan selebaran, berupa jadwal ruangan tiap-tiap Ustadz dan kitab yang akan ditelaahnya selama satu bulan Ramadhan. Santri diberi kebebasan memilih dengan Ustadz yang mana, atau memilih mendalami kitab yang mana. Tahun lalu, kadang di antara santri ada yang pindah karena kitab yang dibahas membosankan. Ada-ada saja.

Aku membaca selebaran itu. Ada sembilan orang Ustadz yang tertulis di selebaran. Ustadz Ali menelaah kitab Ruh karya Ibnu Qayyim al Jauziyah Rahimallah, Ustadz Firman menelaah kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi Rahimallah, Ustadz Arifin membahas kitab Shahih Bukhari karya Imam Bukhari Rahimallah, karena beliau memang ahli hadits, dan lain-lainnya. Hingga kulihat Ustadz lembut itu, Ustadz Wahid menelaah kitab Tauqul Hamaamah karya Ibnu Hazm al-Andalusy, seorang ulama besar tahun 400-an Hijriah, nama lengkapnya Syaikh Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm Adz-Dzahiry El Andalusy. Kulihat daftar lagi, Ustadz Umair menelaah kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd Rahimallah.

Sambil berpikir untuk menentukan pilihan, kusetel murottal Al-Mathrud juz 30, itulah musik kehidupanku kini. Cess...! rasanya berpikir seolah di tengah pulau indah, yang dikelilingi lautan nan sejuk, seumpama pepohonan dan bunga bermekaran menghijau, menyedapkan pandangan. Bagai menyelam di telaga kautsar, yang Nabi Muhammad saw bersabda, jika meminumnya maka tidak akan merasakan haus lagi selama-lamanya.

Pintu kamar terbuka pelan. Suara salam terdengar, aku menjawabnya lirih. Kini aku sekamar berdua dengan Syahid, karena pembangunan pesantren telah selesai. Syahid tersenyum menatapku, dalam senyumku masih terbesit pikiranku untuk memilih menelaah kitab yang mana. Aku bangkit, duduk di pinggir ranjang.

”Jangan lupa Akh, besok anta dapat jatah di masjid Ukhuwah Islamiyah lagi. Sudah disiapkan belum materinya?” Syahid membuka baju kokonya, dan menggantungkannya di dalam lemari kainnya. Beberapa buku yang tadi dipegangnya ditaruh di pojok meja belajar.

”Insyaallah udah saya siapkan saudaraku, doakan lancar ya Akh?

”Aamiin. O ya, boleh tahu apa materinya?”

”Urgensi dan keutamaan shalat. Sekarang lagi banyak dibahas tuh.”

”Menarik juga. Insyaallah besok saya shalat jum’at disana. Sekalian untuk bahan belajar untuk semester depan, karena aku pasti sudah dapat tugas,” Syahid manggut-manggut.

”Akh Syahid, kamu pilih siapa dan kitab apa di bulan Ramadhan kali ini?”

”Ehm..., kayaknya saya tertarik mendalami kitab Ruhnya Ibnu Qayyim, kalau Anta?

”Sepertinya aku tertarik dengan kitab Tauqul Hamaamahnya Ibnu Hazm, tahun lalu aku menelaah kitab Riyadhus Shalihin bersama Ustadz Firman, dan tahun ini entah kenapa, aku cenderung ingin belajar dengan Ustadz Wahid, walau kata yang lain yang mengikuti kajiannya sudah tua-tua.”

”Itu dia masalahnya Akh.”

”Maksudnya?” aku menatapnya keheranan.

”Kebanyakan yang mengikuti kajian Syaikh Wahid itu, yang kamu bilang sudah tua-tua, adalah alumni Pesantren kita. Mereka datang kesini hanya untuk belajar dengan syaikh Wahid sekalian untuk itikaf . Kalau aku sendiri merasa belum pantas, tapi kulihat anta sudah pantas mengkaji kitab Tauqul Hamaamah, karena tahun depan Akhi sudah menyusun skripsi, setelah itu tinggal mencari pasangan hidup. Iya kan?” matanya berkedip-kedip kearahku. Lagi-lagi dia mengejekku. Dia memang satu tingkat kuliahnya di bawahku. Tapi kata-katanya ada benarnya juga, hanya saja belum ada lintasan dalam pikiranku tentang bayangan menikah.

”Mulai lagi! Awas, aku tidak akan mau lagi menyimak hafalanmu,” aku sedikit menggertak kejahilannya, walau dalam hatiku aku membenarkan kata-katanya. Sudahkah waktunya aku melengkapi separuh dienku?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!