Cincin Bulan Persahabatan
Diakah Bidadariku?
Pak Hamdan melihat kearahku, ”Bisa kau antarkan aku ke Asrama Ali? Anakku disana, aku sendiri belum pernah kesana,” Ustadz Umair menganggukkan kepalanya kearahku. Mengizinkanku.
”Insyaallah, dengan senang hati Tadz.”
Aku mengganti bajuku sebentar di kamar lalu keluar kembali mengantar Pak Hamdan ke Asrama Mahasiswa. Kami naik bikun sambil mengobrol banyak hal, kami berasal dari pulau Sumatera jadi sudah merasa cocok dari awal. Kami turun di Asrama, tempat pertama kali aku tinggal di Depok dulu. Aku hendak pamitan tapi Pak Hamdan mencegahku, ”Kau pasti terkejut siapa anakku. Dia kenal denganmu,” beliau tersenyum dan mengambil Hp-nya. Suara percakapan lirih lalu hubungan terputus. Dia memintaku menunggu sejenak. Seorang wanita berjilbab keluar dari pintu Asrama Putri, sekilas aku kenal. Ya, dia Wanda Hamidah. Jadi, pak Hamdan adalah ayahnya?
Wanda mengecup punggung tangan ayahnya. Alangkah indah pertemuan, begitu rindunya aku pada Bapak dan Ibuku di Lampung. Kami berbincang sejenak, saat matahari mulai berada di ubun-ubun, aku pamitan. Aku langsung menuju Masjid, dzuhur sebentar lagi. Wanda? Diakah bidadariku? Yang tabirnya masih Kau tutupi. Wanita bermata lentik dan berhidung bangir itu? Aku tak berani berharap lebih, apalagi dia adalah seorang putri pemilik Pesantren di Aceh. Seolah menunggu hujan emas yang tak akan pernah jatuh.
Kembali lakon hidupku dimulai. Setelah dzuhur, aku bekerja kembali. Kerja bagiku adalah ibadah. Meniatkan untuk dapat berinfak, menghindari dari meminta-minta kepada makhlukNya, mempersiapkan biaya untuk naik haji, memberi makan fakir miskin, membantu biaya sekolah Fadli sementara, untuk persiapan nikah. Nikah? Kenapa kata-kata itu seolah selalu muncul tanpa kupersiapkan? Allah, jagalah hatiku agar selalu bersinar dalam naunganMu. Sore hari aku kembali ke Pesantren, Syahid mengatakan aku ditunggu seseorang, katanya teman Ustadz Umair. Berarti Ustadz Hamdan. Aku segera mandi, nanti insyaallah ketemu. Pukul 17,30 aku ke masjid sambil menunggu maghrib tiba, kuambil mushaf pemberian Sinta. Masih bagus hingga kini.
Sebuah senyum menyambutku, pak Hamdan. Dia mengajakku bicara empat mata di samping kolam.
”Kau tahu anakku, apa tujuanku kesini,” aku hanya menggelengkan kepalaku, ”Seorang temanku di Aceh, temanku sejak kecil tepatnya. Dia melamar putriku untuk putranya yang baru pulang belajar dari Malaysia,” pandangannya menatap tajam, ikan yang menghirup udara segar ke permukaan. Bibirnya bergerak kembali, ”Itulah masalahnya, Wanda tidak mau menikah dengan pemuda pilihan ayahnya, padahal dia juga belum pernah bertemu dengan pemuda pilihanku. Dia adalah anakku satu-satunya,” ada kesedihan dalam makna setiap katanya.
”Mungkin Wanda mempunyai alasan?”
”Itu dia,” aku sedikit kaget, ”Tadi dia telah terus-terang pada ayahnya, dan kami membuat kesepakatan. Ternyata dia telah mencintai seorang pemuda di Depok, dia sangat ingin menikah dengan pria itu. Dia ingin aku yang melamarkannya, jika pria itu tidak mau, maka dia akan menuruti kata-kataku untuk menikah dengan pemuda pilihanku,” pandangannya masih menembus air di kolam.
”Berarti masalahnya sudah selesai, hanya tinggal menyelesaikan kesepakatan itu,” aku berkomentar, kami merasa sudah akrab. Sama-sama dari Sumatera.
”Itu masalahnya!” aku semakin penasaran, ”Kau tahu siapa pilihannya?”
Aku menggelengkan kepalaku.
”Dia itu kamu,” matanya menatapku, namun aku tak tahu apa maknanya.
Aku? Kiamatkah dunia? Atau sudah gilakah dunia? Aku? Aku tersenyum tanpa tahu arti senyumku sendiri, ”Aku Pak?,” aku menunjuk dada dengan telunjukku, ”Ternyata selera humor Bapak bagus juga,” aku tersenyum lembut.
”Kaupikir aku bercanda anakku?” matanya kini terlihat tenang dan serius. Aku tak kuasa tersenyum, semua bungkam seperti ikan yang bungkam dalam ketenangan air. Hening tak ada suara, hingga adzan maghrib yang akhirnya mengakhiri percakapan kami. Dia menunggu jawabanku seminggu lagi, karena dia akan tinggal di Depok selama satu minggu, di Pesantren. Pak Hamdan menyerahkan biodata Wanda agar kupelajari. Allah, sekali lagi aku datang padaMu. ’Jadikanlah hatiku cahaya.’
Saat malam. Belajar Tafsir kepalaku benar-benar pusing. Aku tak bisa konsentrasi. Saat kajian ditutup aku lega. Kajian tadi benar-benar susah kupahami karena keadaan pikiranku yang sedikit kacau. Saat akan ke kamar, Samsul memanggilku, dia bilang aku dipanggil Syaikh Wahid di Masjid. Kebetulan, aku bisa meminta pendapat dari beliau. Senyum teduhnya menyambut kedatanganku yang kuyuh.
”Kau terlihat mengantuk. Wudhulah dulu, lalu shalat dua rekaat,” aku mengikuti ucapannya. Bukankah hati orang yang beriman hanya akan tenang dengan mengingat Allah? Aku shalat dua rekaat dengan memohon ketenangan dan mendatangi Ustadz Wahid kembali. Beliau mempersilakanku duduk.
”Sekarang kau sudah siap?” aku menganggukkan kepalaku.
”Sebelumnya agar kau tidak bingung aku akan bercerita sejenak. Aku mempunyai seorang kakak kandung. Beliau mempunyai empat orang anak. yang unik, dia melimpahkan semua tanggung-jawab akan hak pernikahannya padaku. tiga orang anaknya telah kuusahakan mencari jodohnya, hanya Allah yang Maha Menentukan sedangkan kita hanya berikhtiyar,” mata teduhnya menatapku sejenak, ”Masalahnya kini anaknya yang keempat memintaku mencarikan jodoh untuknya, terlepas nanti apakah jadi atau tidak. Manusia hanyalah berupaya.”
”Ustadz memintaku membantu mencarikan jodoh untuknya?”
”Tepat. Saya membutuhkan bantuanmu,” ustadz lembut itu menepuk pundakku. Apapun jika yang meminta tolong Ustadz Wahid, apapun akan kulakukan.
”Dia itu perempuan atau laki-laki tadz? Terus kriteria yang diinginkannya apa saja? Dia mencari yang seperti apa?” aku memberondong Ustadz dengan beberapa pertanyaan, aku begitu semangat. Kulihat senyum simpul darinya, legalah hati ini.
”Keponakanku itu wanita. Kriterianya terserah padaku, yang jelas dia bisa membimbingnya menuju jalan Allah. Akhlaknya diutamakan,” Ustadz tersenyum.
”Sulit jika kriterianya tidak jelas Tadz. Sesuatu yang umum akan sulit dicari,” aku mencoba berargumen.
”Aku sudah menemukannya, hanya tinggal menunggu kesiapannya. Dan langsung ta’aruf langsung antara kedua belah pihak.”
”Berarti tidak ada masalah. Lalu, apa yang bisa kubantu Tadz?”
”Ehm..., apakah engkau sudah siap untuk menikah?”
”Menikah? Saya Tadz?” Ustadz meminta jawabanku, ”Aku hanya orang miskin. Untuk kuliah saja aku harus berhemat, karena itu dari hasil kerjaku. Jika Allah, berkehendak mempertemukanku dengan jodohku. Aku akan menerimanya.”
”Alhamdulillah, berarti hanya tinggal proses ta’arufnya saja.”
Aku tidak mengerti, ”Maksud Ustadz?”
”Saya ingin menjodohkannya denganmu Ali,” seolah gempa kembali terulang. Dua orang besar yang melamarkan seorang bidadari untukku, hari ini. Ya Allah..., padahal pagi tadi aku berujar dalam hatiku, ’Apakah sudah saatnya aku menikah?’ ternyata kau buka pintu-pintu kearahnya. Masyaallah, alangkah cepatnya engkau menetapkan sesuatu. Alangkah cintanya Engkau pada hambaMu. Saat pamitan hendak ke kamar, Ustadz Wahid memintaku shalat istikharah, dan meminta izin pada orangtua dulu. Dia menyerahkan map, kata beliau biodata keponakannya.