Cincin Bulan Persahabatan
Kabar Terburuk
Ba’da ashar, saat aku akan meneruskan bekerja. Hp-ku menjerit, nomor Pesantren. Aku mengucapkan salam, Syahid membalas salam dari seberang.
”Ada apa Akh?”
”Segeralah pulang. Sekarang juga.”
”Tapi...” tut...tut...tutt.. sambungan terputus. Ada apa lagi ini? Terpaksa aku pamitan dengan teman-teman di Pasar. Kusempatkan mampir di rumah Fadli dan meminta suratnya diberikan kepada Aisyah untuk diberikan pada Wanda. Sekaligus jika nanti tidak bisa datang, agar Fadli belajar sendiri.
Aku bergegas masuk Pesantren. Samsul menjawab salamku dan diam, dia menepuk pundakku pelan dan mengajakku ke ruangan tamu. Disana beberapa santri berkumpul, mereka semua menatapku aneh. Kadang ada yang lebih sering menunduk, seolah menunggu sesuatu.
”Ada apa ini? Jangan membuatku semakin bingung.”
Syahid berdiri dari duduknya dan mendekatiku, ”Kau sudah lama tidak pulang ke rumah, beberapa bajumu telah kumasukkan dalam ransel. Hari ini pulanglah karena Ustadz Umair mengizinkanmu pulang untuk beberapa hari. Obatilah rindumu bersama keluargamu, bukankah engkau selalu berbicara padaku alangkah rindunya engkau akan kampung. Kini kesempatan itu datang, pulanglah.”
”Pulang?”
Syahid menganggukkan kepalanya, ”Ayo aku antar ke Terminal,” senyumnya terasa aneh. Tidak seperti senyum sehari-harinya.
”Tapi aku belum pamitan dengan para Ustadz?”
”Kami sudah memamitkannya, ayo sekarang langsung berangkat. Kami juga telah beli tiketnya,” mereka menggiringku seumpama membujukku untuk tidak banyak berpikir. Akhirnya aku mengikuti mereka sampai ke Terminal. Saat aku mengucapkan salam, Syahid memberiku sebuah amplop, ”Maafkan kami tak bisa menyertaimu..., salam kami untuk keluarga,” aku menganggukkan kepalaku. Keherananku masih belum terobati. Bus melaju cepat, derunya halus. Kulihat mereka mengusap airmata saat aku bus menderu dan menjauh. Kusobek amplop itu. Uang? Beberapa ratus ribu atau mungkin satu juta. Tanganku segera mengambil sebuah kertas putih.
Assalamu’alakum sahabat kami
Maafkan kami yang tak bisa berterus-terang. Kami tidak sanggup melihatmu meneteskan airmata, cukuplah kami melihat keherananmu saja. Kami tak akan sanggup. Begitu banyak kau bercerita, bahkan terlalu sering bibirmu menyebut namanya. Kau ceritakan tentang ketegaran dan pengorbanannya.
Maafkan kami, surat inilah yang akan menjelaskan, walau saat kami tulis airmata kami bercucuran. Ali..., Bapakmu telah kembali pada Dzat yang menciptakannya, yang selalu kita harapkan perjumpaan denganNya, dengan perjumpaan yang terindah.
Maafkan kami, Akhukum fillah
Santri Darussalam
Bapak..., ”innaa lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’un, ” tak kuasa kubendung segala rasa tapi tetap airmataku menetes. Bukan, bukan karena kecewa padaNya. Tapi bukankah Rasulullah saw juga meneteskan airmata karena kematian Abdullah putranya, dan aku hanyalah manusia yang lemah bahkan sangat lemah. Kertas yang telah terdapat bekas-bekas air, karena airmata sahabat-sahabatku kutimpali dengan gerimis airmataku. Aku teringat ujaran Ustadz Arifin kala mengisi kajian, ’Suatu ketika Abu Sulamah ra. mendapatkan kesyahidan pada perang Badar, lalu sang istri Ummu Salamah ra. melantunkan sebuah doa, ”innaa lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’un. Ya Allah, berikanlah pahala kepadaku dari musibah ini, dan berikanlah ganti yang lebih baik darinya.”
Maka Ummu Salamah ra. duduk dan merenung, dia berkata, ”Siapa lagi orang yang lebih baik dari Abu Salamah? Dia adalah seorang yang mulia, ikut serta dalam perang Badar dan memperoleh mati syahid.” padahal bukankah Rasulullah saw bersabda, ”Bisa jadi Allah melihat hati para ahli badar, maka Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Lakukanlah apa yang kamu kehendaki... sesungguhnya aku telah mengampuni kamu.’ Akhirnya Allah menikahkan Ummu Salamah ra dengan RasulNya, karena bukankah Rasulullah saw jelas lebih baik dari Abu Salamah ra.
Aku melipat surat itu, memasukkan dalam tas. Kutatap kaca yang pemandangannya memburai karena kecepatan bus. Ya Allah, aku hanya berharap Engkau menetapi hatiku dalam kesabaran dan ketabahan, serta keikhlasan akan semua yang terjadi dalam hidupku. Karena itulah hartaku yang kupunya. Sepanjang jalan hanya kenangan bersama Bapak yang memenuhi pikiranku. Sebelum pergi ke UI masih jelas ingatanku pesan beliau, ”Walau engkau nanti jauh disana, hati kita mempunyai ikatan yang membuat kita bermesraan tanpa ada jarak. Jika Bapak kembali lebih dulu maka jagalah Ibumu, jagalah adik-adikmu,” Bapak? Tak kuasa apabila sempat kupandangi wajahnya yang tersenyum kaku. Kau ajari aku melawan buasnya kehidupan, kau ajari aku cinta, kau ajari aku silat yang kini kusadar engkau hanya asal mengajariku. Tapi aku sangat senang.
Bapak? Tangis hatiku semakin dalam. Belum ada yang kupersembahkan, hanya doaku..., begitu tak berbaktinya anakmu ini. Jika merenung sejenak, apakah engkau yang menyelesaikan ukiran cincin bulan, di malam ketika Mawar akan pergi meninggalkanku? Dialah malaikat itu? Kau tahu Pak, Mawar hanyalah serpihan masa lalu yang harus dilupakan. Untuk selamanya… dan kenapa. Kenapa Bapak hadir dalam mimpiku, kenapa Bapak datang hanya untuk menyerahkan seorang wanita yang memakai cincin bulan. Bukankah dia yang membuat kita terpisah? Aku mengejarnya dan meninggalkanmu. Bapak… maafkan Ihsan. Kuingat itulah nama yang engkau sematkan sebagai kebanggaanmu. Aku adalah Ihsan yang tegar, akan kujaga Ibu dan adik-adikku.