Cincin Bulan Persahabatan

Rahasia Kematian Bapak

Malam hening, di ruang tamu rumahku. Rumahku tak beda jauh dengan keadaan saat kutinggal pergi, hanya bertambah cantik dengan hiasan-hiasan di setiap sudut ruangan. Terdapat beraneka bunga-bunga nan menyejukkan di pekarangan depan, kala malam saat semburat bulan menyilau di langit, ketenangan Gedung Dalam Baru kembali menyentuh hatiku. Desa kelahiranku. Masih murni seperti dulu, hanya saja keriangan bocah-bocah bermain gobak sodor tidak lagi kelihatan, bocah-bocah pencari gangsir kala dengingannya yang keras juga tak menyuara. Apalagi permainan petak umpet yang tak lagi terdengar, jeritan-jeritannya kala si penyusup ketahuan penjaga. Dari cerita sekilas Yasmin tadi sore, banyak yang berubah dari desa. Sekarang banyak yang jadi TKI di Malaysia, Arab, Taiwan maupun Korea. Disana lebih makmur, dan kadang malah tidak mau pulang lagi atau meninggalkan suami atau isterinya di kampung ini.

Para remaja Gedung Dalam Baru, banyak yang setelah SMA langsung bekerja di luar Negeri atau melancong ke Jawa, dan bekerja apa saja karena disana katanya mencari pekerjaan lebih mudah. Setelah dirunut-runut dari mereka, ada yang bekerja sebagai tukang parkir, pedagang kaki lima, buruh yang lebih buruk, ada yang bekerja jadi tukang rongsokan , bahkan yang parah menjadi preman atau penjual narkoba, Naudzubillah. Begitulah akhir orang-orang yang ingin dunia berada di hatinya, membiarkannya mekar dan mempengaruhi pikirannya. Bukankah dunia ini hanyalah tempat menimba bekal, untuk bertemu dengan Allah?

Kami semua berkumpul di ruang tamu yang sempit, lantai tanah kami terlihat sedikit becek karena genting telah terlihat bolong-bolong. Setiap ada tamu, sandal harus selalu dipakai, jika masuk rumahku karena takut kakinya kotor. Kulihat Fajar terdiam menunduk, sejak kepulanganku dia terlihat sedih. Wajahnya bertambah tampan, wajahnya memang lebih putih dariku. Ingatanku melayang saat kecilnya dulu, sering kugendong dan kutidurkan. Aku ragu hendak memulai, karena aku merasa bersalah baru datang sesudah Bapak dikuburkan. Ibu juga terdiam sambil sesekali menyeruput teh buatan Yasmin. Yasmin sesekali memandangku, seolah ada yang ingin diceritakan tapi dia menahannya. Entahlah, siapa yang harus memulai…

“Maafkan Fajar…, maafkan Fajar…ini semua kesalahan Fajar,” Fajar sesenggukan sambil menutup wajah, dengan kedua tangannya. Aku kebingungan. Sebelum aku meminta kejelasan, Fajar meneruskan kata-katanya.

“Malam itu…, hiks,” Fajar masih sesenggukan. Kulihat Ibu dan Yasmin juga menunggu kata-kata Fajar, “Malam itu, Bapak memasuki rumah Rusli. Rumahnya di Metro. Bapak masuk ke rumah kontrakan itu, dan…, hiks! beliau menjerit-jerit, karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beliau memukuli punggungku dengan kayu, Bapak berteriak, ‘Anak tak tahu diri!’ saat itu, aku hanya bisa berlari tak tahu kemana. Sebelum pergi, kulihat Bapak memegang kepalanya dan terduduk sambil meringis, aku semakin takut dan berlari. Bapak…!, ampuni Fajar,” Fajar berteriak sambil mengacak-acak rambutnya.

“Apa yang kau lakukan Jar, apa yang kau lakukan hingga Bapak sakit! Katakan!” Aku memegang kedua pundaknya dan menggoncang-goncangkannya.

“Aku pantas mati!” Fajar menyibakku keras tiba-tiba, hingga aku terpelanting di kursi kayu. Dia berlari sambil berteriak di malam hening, yang tiba-tiba mencekam. Teriakannya meratap pilu, “Bapak… aku akan menyusulmu!”

Yasmin membantuku berdiri, hendak kukejar Fajar, tapi ingin kudengar keterangan dari Yasmin dan Ibu, “Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini Bu?” Ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak, “Ibu tidak tahu persis ceritanya Le, Ibu hanya tahu, malam sebelum Bapakmu meninggal, dia pulang dengan keadaan marah dan sering memegang kepalanya. Tapi, pertanyaan Ibu dijawab Bapak, “Bapak kepingin ketemu Ihsan Bu, Ibu kepingin berpesan padanya. Semoga dia besok datang,” setelah itu Bapakmu mengambil air wudhu, dan shalat dua rekaat lalu tidur. Dan paginya saat akan pergi shalat Subuh di Mushola, beliau tersenyum pada Ibu, “Insyaallah Bapak sudah bertemu Ihsan. Dia nanti pasti menjaga Ibu, dan kedua adiknya,” baru Ibu tahu, bahwa itulah pesan terakhir Bapakmu,” airmata Ibu kembali membasah.

Yasmin yang berada di belakangku maju dan memeluk Ibu dari belakang, menenangkan. Dia yang sedari tadi diam ikut angkat bicara, “Kak Fajar…, Kak Fajar adalah pemakai dan penjual narkoba,” mata Yasmin berkaca, mata jernih itu menatapku, “Maafkan Yasmin, sebenarnya Yasmin tahu sejak lama, tapi Yasmin menyembunyikannya dari Ibu dan Bapak, karena tak ingin ada kesedihan disini. Yasmin akan berusaha pelan-pelan menyadarkan Kak Fajar. Aku teringat Ibu yang tiap hari berjualan kue, Bapak yang selalu kelelahan di sawah. Aku tak berani menambah beban. Kak Ihsan berjuang di Depok untuk kuliah, Kak Fajar dan sekolah Yasmin, maka Yasmin bertekad berjuang seperti Kakak mengembalikan kak Fajar seperti dulu.”

“Hingga malam itu. Kak Fajar ingin berubah, dia berjanji tak akan mengecewakan kerja keras kak Ihsan di Depok yang bekerja sambil kuliah. Tapi, para bosnya yang dulu tidak terima dan memberi syarat, jika ingin bebas dari mereka dia harus mengganti uang sepuluh juta, jika tidak mereka mengancam akan menggangu keluarga kita. Kak Fajar menceritakannya, sambil memintaku memberikan nasehat. Maka kami memutuskan untuk menyimpan uang kiriman Kakak, selama enam bulan dan ditambah satu juta dari tabunganku. Maka malam itu Kakak berangkat ke Metro untuk membayar uang itu. Setelah itu, Yasmin tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa Bapak memergoki Kakak di tempat Rusli dan teman-temannya.”

“Fajar harus segera dicari,” saat langkahku hendak bergerak ke pintu. Suara ketukan pintu yang keras mengagetkanku. Langsung kubuka, semoga Fajar.

“Ada apa Lek?” ternyata Lek Dadal, dia masih saudara jauh Ibu.

“Fajar!” nadanya agak gamang.

“Ada apa dengan Fajar Lek?”

“Fajar kecelakaan, dia berlari saat sebuah truk yang mengangkut singkong lewat. Sekarang dia dilarikan di RS Islam Metro,” segera aku meluncur dengan motor butut Bapak bersama Ibu, nanti Yasmin kujemput setelah mengetahui keadaan Fajar. Tengah malam yang senyap itu kembali merenda segala kenangan. Jalinan ujian dan cobaan, kian semakin kuat merajut bagian kehidupanku.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!