Cincin Bulan Persahabatan
Tawaran Kerja
Malam itu sesudah kajian malam, aku menemui Ustadz Umair di serambi Masjid. Beliau selalu disana ketika malam, kadang sering itikaf. Begitu seringnya kulihat beliau di Masjid ketika waktu tak mengajar. Hatinya kurasa terpaut kuat pada Masjid.
”Assalamu’alaikum,” aku berdiri di depan Ustadz, beliau seperti melamun.
”Wa’alaikumsalam warahmatullah,” beliau menatapku sejenak. Tangannya mempersilakanku duduk di sebelahnya, ”Duduklah Ali.”
Keheningan tercipta, hanya desahan malam yang menusuk hati. Terasa dingin. Gemintang gemerlap menyinari dunia dengan hiasan lampunya, suara air yang berkecipak di kolam terdengar karena malam begitu tenang. Aku melihat kelelawar, yang berkelebat menyambar serangga-serangga kecil yang terbang di antara lelampu yang putih bercahaya.
”Boleh aku bertanya Tadz?”
”Boleh. Tanyalah,” Ustadz Umair tak menoleh sedikitpun kearahku.
”Apakah Ustadz yang mengirimkan uang enam juta ke rekeningku?” aku menatapnya penasaran, entah apa yang akan dijawabnya. Dan aku terus menunggunya.
Senyum kecil tercipta dari kedua ujung bibirnya. Lalu menoleh kearahku, ”Dasar orang Sumatera, walau kau asli Jawa tapi kau telah dididik di Lampung. Ewoh-pakewoh-mu telah bercampur dengan lingkungan. Tapi aku suka orang yang terus- terang, daripada disembunyikan dan jadi beban.”
Ustadz Umair tersenyum lagi, ”Memang aku yang mengirimkan uang itu, kau tahu kenapa?” aku hanya menggeleng, ”Karena aku takut,” beliau berhenti lama.
”Takut apa Tadz.”
”Aku takut kau tidak kembali lagi kesini, menemaniku. Jika kau tak kesini, aku tak akan bisa tertawa lagi, he...he...,” Ustadz Umair tertawa hingga gigi serinya terlihat, aku ikut tertawa renyah bersamanya. Malam itu kami bercanda, ada keakraban yang sulit kugambarkan atau pun kutuliskan. Ada semacam magnet yang berbeda haluan, kemudian menyatu dan seolah susah untuk dilepas. Kami seolah telah kenal lama sebelum kami bertemu, seolah dialah pengganti Bapak bagiku.
”Tapi aku tetap akan melunasi uang itu Tadz, walaupun mungkin waktunya akan memakan waktu lama. Aku akan berusaha, aku tidak mau berhutang,” aku menatapnya, dan beliau juga menatapku teduh.
”Baiklah. Tapi aku punya tawaran. Uang itu akan kuanggap lunas jika kau mau membantuku sesuatu. Apakah kamu mau?”
”Baiklah, saya mau tapi dengan satu syarat.”
”Apa itu?”
”Bantuan itu harus sesuai dengan nilai uang yang Ustadz kirimkan, jika tidak resiko maupun tanggung-jawabnya sesuai dengan uang enam juta itu,” jawabku mantap.
”Aku punya seorang kenalan. Kenalan baik. Aku ingin kau bekerja disana, aku ingin kau belajar tidak hanya teori tapi juga langsung praktek. Kau akan digaji, dan gaji itu bisa kau gunakan untuk mengangsur hutang-hutangmu padaku. Bagaimana?”
”Lalu bagaimana dengan kuliah dan mengajiku disini Tadz?”
”Pagi hari kau kuliah dan setelah pulang kau ke kantor, menyelesaikan tugas-tugasmu di kantor. Jika kerjamu bagus gajimu akan dinaikkan. Kantor pulang pukul 16.30, kecuali jika engkau mau lembur. Dan engkau masih bisa mengaji dengan baik disini bukan walau tidak semua kajian kau ambil.”
”Apakah bekerja bisa seperti itu Tadz?” aku bertanya keheranan.
”Kau mau tidak?” dia menatapku serius.
”Maau.., mmau Tadz,” aku menjawab mantap tapi gugup.
”Kau pasti belum percaya ada pekerjaan seperti itu, sudahlah itu tidak penting. Aku kau akan digaji setelah temanku itu melihat hasil kerjamu nanti. Bukankah nilaimu cum laude?”
Aku tak perlu menjawab, ”Tapi Tadz, aku belum mempunyai pengalaman apa-apa dalam dunia kerja?”
”Pengalaman akan datang seiring kau mengambil keputusan. Seperti itulah kau ketika tiba di Depok, dari sebuah desa. Kini, pengalamanmu telah membuatmu menjadi orang yang tahu bagaimana memaknai hidupmu.”
Aku hanya mengangguk. Ingin rasanya aku menjerit, hatiku menjerit tangis, menyebut asmaNya. Begitu mudahnya Kau balikkan dunia, begitu mudah pula Kau beri hambaMu sesuatu yang kuharapkan. Aku harus mawas diri, aku tahu siapalah diriku. Aku tak mau berharap lebih. Malam semakin merayap.
”Ali...,” suara Ustadz Umair terlihat basah dan berat, ”Kenapa engkau bekerja keras di Pasar Minggu. Kau angkut barang-barang, menjadi kuli. Kau menyembunyikan dirimu dari teman-temanmu. Ceritakanlah padaku, jangan kau buat aku bersedih dan menangis, melihat dirimu setiap hari bekerja tanpa ada yang memperhatikanmu. Semua orang banyak yang mengenalmu di Depok karena ceramahmu yang lembut, lalu kau bekerja membaur bersama kuli, dan kau tutupi wajahmu dengan kain agar kau tak terlihat. Kau pikir kau sendirian di dunia, sehingga hanya kau saja yang layak menderita? Dan kau sering membolos dari kajian di pondok.”
Aku terperangah kaget, Ustadz Umair benar-benar menangis. Kukira hanya kudengar lewat cerita Syahid. Kini beliau menangis di depanku.
”Saya..., saya melakukannya karena saya mencintai Ibuku, saya mencintai Bapak, saya mencintai kedua adik saya, Yasmin dan Fajar. Saya mencintai Allah sehingga tidak mau membiarkan diriku meminta-minta kepada orang. Sungguh..., jika seseorang berada dalam posisiku dia akan melakukan apa yang kulakukan. Jika, itu membuat Pesantren tercemar, maka saya siap untuk mundur Tadz,” tiba-tiba ada sedikit keberanian yang keluar. Rasa cintaku pada keluarga membuatku harus tegas.
”Kenapa kau berpikir aku akan mengeluarkanmu Ali?” beliau memelukku erat, dia menangis tersedu. Aku merasakan cinta Allah begitu dekat. Saat itulah terdengar desahan serak Ustadz Umair pelan, ”Aku tak akan melepaskan mutiara yang begitu langka di temukan di dunia,” aku meneteskan airmata. Allah, hanya sedikit musibah yang kualami, tapi karuniaMu begitu tak ternilai oleh apapun, walaupun itu dunia dan seisinya. Allah, aku rela, aku ridha, aku ikhlas Kau sebagai Tuhanku. Aku rela jika tubuh ini terluka dan tersiksa terkena apapun, asalkan aku bersamaMu.