Cincin Bulan Persahabatan
Zahra Corporation
Siang itu sepulang kuliah, aku langsung menuju Pesantren. Tiba di depan, Ustadz Umair memberiku secarik kertas, ”Pergilah dengan taksi ini, dia akan membawamu sampai ke tempat kantor temanku itu. Kau berikan surat ini dan tunggu apa reaksinya. Setelah itu, terserah kamu mau menerima tawaranku ini atau tidak?” aku menerima secarik kertas itu, dan menaiki taksi dengan tanda tanya besar dalam hatiku. Taksi hijau itu meluncur, membelah jalan aspal. Baru kali ini rasanya, aku naik mobil taksi. Begitu nyaman, aku duduk di belakang taksi. Sopir taksi beberapa kali melihatku dari spion di samping kanannya.
”Apakah biaya taksi ini sudah dibayar Pak?” tanyaku.
”Bapak tadi sudah membayarnya lebih Mas,” sopir itu kini lurus memandang jalan di depannya. Mungkin dia merasa aku curiga, ketika sebentar-sebentar beliau melihat spionnya.
Mobil melaju kearah utara UI, melewati jalan-jalan yang sedikit macet, namun masih tidak semacet di Jakarta, yang sering membuat mobil harus sangat memelankan laju kendaraannya. Mobil terus melaju melewati banyak kantor maupun usaha-usaha, baik kecil maupun sedang hingga yang besar. Walau sudah hampir tiga tahun lebih di Depok, aku sangat jarang berkeliling kota. Biasanya kalau pergi hanya ke Pasar Minggu. Namanya juga orang prihatin, aku tersenyum dalam hati.
”Bapak sudah lama jadi sopir taksi?” aku mengajaknya bercakap-cakap.
Nama sopir itu pak Rahman. Lengkapnya Rohmanuddin. Dia bekerja menjadi supir taksi juga karena kebaikan Ustadz Umair. Dulu dia adalah mantan perampok, setelah tertangkap dan disiksa di kepolisian karena timah panas menembus betis kakinya. Setelah bebas, dia kembali pada keluarganya, tetapi keluarganya tidak menerimanya lagi. Akhirnya dia putus asa, dan datang ke Masjid di Pesantren Mahasiswa. Disana pak Rahman bertemu Ustadz Umair, dan Ustadz Umairlah yang mendengarkan semua keluhanya hingga dia mau bertobat.
Esoknya di minta menjadi sopir taksi.Ternyata si pemilik perusahaan ’Buroq Taxi’ adalah teman Ustadz, nama pemilik ’Buroq Taxi’ adalah Pak Sofwan. Meskipun pak Rohman tidak bisa menyetir pada awalnya, namun dia toh tetap diterima dan di training selama seminggu belajar mengemudi, hingga benar-benar bisa menguasai. Setelah bisa dilepas. Pak Rahman resmi membawa salah satu mobil disertai kartu kelengkapan dan SIM. Semuanya diurus, dan dia tinggal menjalankan tugasnya dengan baik dan amanah. Setiap mendengar nama Ustadz Umair, seolah sosok beliaulah Bapaknya sendiri.
Berkat Ustadz Umairlah juga, dirinya dapat menikah dengan Siti Nur Anisa, salah satu santri jebolan pesantren ’Nurul Iman’ di Kudus. Isterinya yang lulusan Madrasah Aliyah, ternyata amat penyabar dan penyayang hingga kini mereka dikarunia tiga orang anak. Pak Rohman bercerita dengan serunya, aku mendengarkannya. Rata-rata manusia jika diminta cerita perjalanan hidupnya, pasti dia merasa senang jika diperhatikan. Tapi entah kenapa, diriku sendiri malas menceritakan pengalamanku sendiri. Sebenarnya bukan malas, tapi aku merasa cukuplah Allah yang tahu dan Dialah yang Maha Mengetahui. Biarlah kurasa cukup aku mengadu padaNya.
Tangan pak Rohman menunjuk sesuatu di sebelah kiri jalan, ”Kau lihat itu?”
aku mendekatkan kepalaku di kaca dekatku. Sebuah barisan gedung, ada satu bangunan yang warnanya unik, ’Hotel Mawaddah’ nama yang bagus. Pasti pemiliknya menginginkan agar usahanya diridhai Allah.
”Maksud pak Rahman, hotel Mawaddah?” aku balik bertanya.
Pak Rahman langsung menjawab, ”Itu salah satu usaha yang berada dalam manajemen tempat yang akan menjadi tempat kerjamu nanti,” aku hanya menganggukkan kepalaku, walau aku sendiri masih belum mengerti yang dimaksudnya.
Dalam perjalanan itu, pak Rahman beberapa kali menunjukkan usaha-usaha. yang dikatakannya sebagai usaha yang berada di bawah manajemen kantor yang akan menjadi tempat kerjaku. Ada rumah makan ’Barakah’ letaknya di dekat pasar, dan bersebelahan dengan Masjid Taqwa, Sebuah usaha Konveksi, juga ada Restorant dan beberapa usaha lainnya, dikatakan juga masih dalam satu manajemen. Mobil terus melaju, hingga masuk wilayah Jakarta Timur. Mobil berhenti di tempat parkir sebuah bangunan yang tinggi menjulang.
”Ayo turun,” aku mengikuti langkah Pak Rohman, lalu kami mendekati pintu masuknya. Gedung yang tinggi, besar dan tingginya kurasa melebihi gedung Rektorat Universitas Indonesia. Sungguh megah dan bersih, Rektorat saja masih kalah. Pintu kaca itu otomatis terbuka, ketika Pak Rahman masuk, aku mengikutinya dari belakang. Mobil taksinya diparkir di sebelah mobil-mobil lainnya.
Saat masuk, kulihat beberapa orang sedang duduk di ruangan itu. Rata-rata mereka mengenakan baju rapi dan ditutup jas. Pak Rahman mendekati custumer service, wanita berjilbab yang wajahnya selalu tersenyum itu.
Pak Rahman berbincang sebentar dengan wanita itu. Lalu wanita itu memencet beberapa nomor, dan terjadi percakapan pelan, lalu wanita itu berhenti lagi seolah menunggu suara dari seberang.
”Silakan masuk, anda ditunggu sekarang,” wanita itu mempersilakan.
”Sekarang kamu naik kesana sendiri, Bapak harus bekerja lagi. Ok? Semoga sukses Ali,” pak Rahman hendak berlalu.
”Pak,” pak Rohman kembali menoleh, ”Aku..., aku tidak tahu apa yang harus kulakukan?”
”Tenang saja, kau sama seperti aku sewaktu awal ditawari Ustadz Umair. Percaya dirilah, beliau tidak akan membantumu jika kau tak punya kemampuan,” pak Rahman tersenyum sambil berlalu, ”Assalamu’alaikum.”
Aku menjawab salamnya, hingga kulihat dia menghilang dari balik pintu.
”Maaf Mbak,” wanita itu tersenyum ke arahku, ”Dimana ruang orang yang menunggu saya?”
”Anda belum tahu?”
Aku hanya menggelengkan kepala. Wanita itu memanggil seorang OB dan memintanya mengantarkanku ke tempat ’Rapat pak Abdullah’, aku yang bingung, hanya mengikuti langkah lelaki muda berseragam hijau muda loreng itu.
Kami naik lift. Lift terbuka setelah hampir satu menit. Roni berjalan santai, melewati satu lorong. Begitu namanya ketika kami berkenalan barusan, dia orang yang supel.
Seorang wanita berjilbab duduk di tepi kiri, wanita itu tersenyum padaku dan memencet beberapa nomor telepon di depannya. Setelah hubungan telepon diputus, wanita itu mempersilakan aku masuk ke ruangan. Roni berpamitan untuk meneruskan tugasnya. Aku berjalan ke depan, tampak sebuah ruangan yang pintunya bergagang kaca bening bagaikan mutiara.
Di lorong itu, sebelum pintu terdapat banyak ukiran bertuliskan arab. Ada kalimat Laa ilaa haillallah, surat Al-Fatihah, dan lain sebagainya. Perusahaan yang mengutamakan unsur agama sebagai landasan dan Allah sebagai tujuan. Perusahaan yang luar biasa. Di depan pintu tertulis sebuah kalimat yang langsung tertancap dalam hatiku, ”Bekerja dan berusaha menjadi yang terbaik, untuk menggapai ridha Allah semata,” alangkah indahnya jika aku bekerja disini. Alangkah tidak terpisahkannya antara hidup, kerja maupun ibadah. Tidak seperti yang selalu diumbar oleh para Orientalis dan Liberalisme, yang mengatakan bahwa agama dan kehidupan apalagi urusan kerja, tidak akan pernah bisa digabung jika ingin maju.
Aku membuka pintu pelan sambil mengucapkan salam. Ruangan di dalam begitu besar, ruangan yang sangat besar. Di pinggir-pinggirnya terdapat hiasan-hiasan kaligrafi, ada bunga-bunga indah yang berada di tiap pojok, ada Aquarium ikan yang jernih airnya dan besar bentuknya. Di depanku ada meja besar, beberapa orang duduk di pinggir kiri dan kanannya. Wanita-wanita berjilbab saling berhadapan begitupun dengan para prianya. Setiap mereka memegang laptop masing-masing. Disana ada sekitar sebelas orang atau lebih, aku tak terlalu memerhatikan, karena dalam pandanganku adalah ruangan indah seperti ini ternyata ada di dunia ini. Begitu jernih dan bersih. Bagaikan jiwa yang murni, seperti bayi yang polos.
”Anda!” seseorang yang duduk paling ujung, yang berbeda dengan barisan lainnya yang saling berhadapan berteriak. Mungkin dia pemimpinnya. Aku menatap orang itu, bajunya teramat gagah, dengan setelan jas walaupun usianya kuterka sekitar 40an lebih,. mengingati wajahnya lebih seksama. Aku ingat!
”Anda,” Dia mengacungkan jari tengahnya kearahku sambil berdiri, ”kaukah yang menolongku sewaktu di UI?”
Aku tersenyum padanya, ”Iya Pak. Anda pak Salim kan?”
Beberapa orang di ruangan itu mengamatiku dan bergantian dengan pak Salim.
”Bapak pemilik usaha ini?” aku mendekati beliau lalu menyerahkan kertas pemberian Ustadz Umair, beliau membacanya pelan. Aku tak tahu sama sekali apa isi tulisan itu.
”Kata Ustadz Umair nama anda Abdullah, lalu bukankah nama bapak Salim?” aku bertanya penasaran. Aku dipersilakannya duduk, aku duduk tepat di hadapan pak Salim, jadilah aku seperti pemimpin rapat bersama pak Salim. Masih kulihat wajah keheranan dari setiap orang yang duduk disana.
”O..., itu. Nama lengkapku adalah Abdullah Salim Al-Jahsy. Biasanya teman-temanku di rumah maupun sewaktu kuliah dulu panggilanku adalah Salim,” senyumnya bagaikan keteduhan di sela-sela kebingunganku. Akupun belum merasa berada di dunia. Aku berada diantara orang-orang yang sukses? Aku mencubit pahaku, sakit! Ternyata ini tidak mimpi.
Setelah rapat diakhiri. pak Salim, meminta semuanya mendengarkannya, ”Aku menginformasikan bahwa Ali seorang Mahasiswa, dia orangnya pintar dan ulet. Aku ingin dia bekerja disini, aku tempatkan dia membantu di bagian pemasaran,” semuanya menatapku. Mereka semua menganggukkan kepalanya dan berkata, ”Selamat datang di kantor ini, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,”walau ada kekagetan dalam setiap wajah mereka kemudian rapat itu bubar. Hanya tinggal Aku dan pak Salim
Pak Salim mengajakku bicara santai. Dia akan membantuku selama disini, dia sekali lagi berterima kasih padaku, dan maaf karena setelah kejadian itu tak pernah mengunjungiku. Aku tersenyum, aku bagaikan orang penting. Dan Allah-lah yang membuatku menjadi seperti ini. Aku masih penasaran, Ustadz Umair ternyata mempunyai kolega yang banyak. Pekerjaan untuk pak Rahman saja dapat diusahakan dalam waktu sehari, sedangkan aku hanya beberapa menit. Orang seperti apa Ustadz Umair itu? Aku sendiri tidak tahu.
Hari itu, aku diajak keliling oleh Pak Salim, dikenalkan ke setiap bagian. Aku jadi ta’aruf di setiap bagian. Namaku seolah menggema di kantor itu, bagaimana tidak aku, diperkenalkan ke seluruh jajaran hingga satpam dan cleaning servicenya. Setahuku gambaran suatu kantor besar adalah mereka saling acuh tak acuh, menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri, egoisme diutamakan, kompetisi yang kurang sehat. Begitulah yang tergambar ketika dalam materi kuliah, terutama materi kuliah Management Personalia atau Teori Pengambilan Keputusan. Sungguh, ini adalah suasana kerja yang begitu nyaman pastinya.
Saat Ashar tiba, aku pamitan. Ternyata kantor itu tutup sementara. Semuanya shalat kecuali yang berhalangan bagi wanitanya. Ada yang shalat di Masjid dan ada yang shalat di Kantor, mereka berjamaah. Aku dan pak Salim keluar di Masjid yang letaknya sekitar 35 meter dari kantor, saat keluar aku melihat kantor itu dari luar. Aku tadi lupa belum membaca nama perusahaan itu. Aku mengeja huruf itu dalam hati, ’ZAHRA CORPORATION’ hatiku tiba-tiba sejuk membacanya. Nama-nama yang baik memang merupakan doa. Maka, banyak orang yang tidak asal dalam memberikan nama untuk anak-anaknya.
Setelah shalat kami pamitan pada pak Salim. Katanya besok, aku sudah bisa memulai kerjaku. Beliau akan membimbingku, lalu dia bertanya kepadaku tentang gaji, beliau menanyakannya padaku. Aku menjawab santai, ”Sesuaikan saja nanti dengan kinerjaku, aku siap dibayar berapapun, asal sesuai dengan kontribusiku terhadap ’Zahra Corporation’ mudah bukan?”
Saat kembali ke Pesantren. Aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Benarkah aku telah bekerja di suatu perusahaan yang begitu besar? yang menaungi beberapa usaha di dalamnya? Hatiku terus berdesir dan berdzikir.