Cincin Bulan Persahabatan

Surat Terindah dari Ibu

Aku membuka surat itu perlahan, hatiku membuncah rindu tak terukur oleh apapun. Dalamnya lautan dapat diukur, tapi dalamnya hati tak ada yang bisa mengukur kecuali Rabb Semesta Alam.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Anakku tercinta di Depok

Salam terindah dari keluarga di Gedung Dalam Baru, salam terindah dari para perindu selayak bidadari-bidadari yang mengintip dari balik-balik daun, Yang mata mereka begitu lentik seumpama embun-embun yang jernih lagi jeli, yang siap menyatu dengan bumi menciptakan penghidupan bagi kehidupan.

Semoga cinta dan kasih sayang Allah selalu untukmu Le..., dimanapun dan kapanpun engkau berada, dalam keramaian ataupun kesendirian, dalam waktu luangmu maupun waktu sempitmu, dalam belajarmu menuntut ilmu maupun dalam pekerjaanmu, dalam lelahmu juga dalam tidurmu, Ibu tak pernah lupa selalu mendoakanmu, hingga wajahmu selalu terbayang dalam ingatan ibu siang dan malam, ibu selalu melihatmu bersinar dari segala ruang saat bintang menemani bulan yang purnama.

Airmataku menetes, aku tahu siapa yang merangkai kata-kata sehalus dan seindah ini, dia pasti Yasmin. Dia ingin memberikan segenap cintanya dalam setiap goresan penanya. Ibu, kaulah penyejuk kalbu, setiap tuturnya, setiap senyumannya, setiap kedipan matanya, setiap marahnya, gelisahnya, setiap desah nafasnya, tatapan cintanya, setiap gerak-geriknya, setiap lakunya, semuanya adalah cinta dan kerinduan yang nampak melekat padanya. Terlalu sedikit yang bisa kuceritakan tentang Ibu.

Buih dimataku menetes, bagaikan embun yang terkumpul di ujung daun dan jatuh menyuburkan bumi. Aku meneruskan membaca surat Ibu.

Umurmu kini telah 22 tahun. Mungkin sudah saatnya engkau menikah, dan mencari Bidadari yang akan memberikan ibu momongan agar ibu dipanggilnya ’Nenek!’ Ibu akan mengangkatnya tinggi-tinggi dan kudekatkan pada bintang yang gemerlapan menerangi langit, agar anakmu dapat memetik bintangnya kelak. Dari sorot matamu yang lelah, Ibu menangkap bahwa bidadari itu sudah dekat denganmu, kau pilihlah sendiri bidadarimu. Ibu sangat percaya padamu, karena keyakinan cinta kita yang kuat dan abadi.

Ibu mencintaimu dengan segala kelemahan Ibu. Ibu tak kuasa memberimu lebih, tapi bukankah Allah hanya melihat isi hati-hati kita, mana yang sungguh-sungguh menaatiNya, dan mana yang hanya berpura-pura mencintaiNya. Setidaknya hati Ibu telah kucurahkan sekuat Ibu, untukmu dan adik-adikmu, Ibu tak kuasa memberi kalian lebih, hanya doa Ibu..., hanya doa Ibu...

Aku memejamkan mataku. Genangan embun di mataku menetes, basah pipiku. Alangkah besar cinta yang kau berikan Ibu, dan kau masih merasa bersalah karena kurang mencintai kami? Ibu..., engkau bagai pelita di hati-hati kami yang merindukan surga, untuk melepaskan kelehan dan segala dahaga. Ibu, harus dengan apakah kami membalas cintamu yang tak bertepi?

Ibu tahu Le..., Ibu sudah berumur. Entah berapa lama lagi sisa umur Ibu yang digariskan Allah swt. Ibu tidak tahu Le..., sampai kapan Ibu bisa membersamai kalian bertiga untuk bertahan di bumi. Ibu juga sangat kangen sama Bapakmu. Ibu merasa bersalah, bersalah padamu Le..., karena tanggung jawabmu semakin besar. Entah sudah berapa banyak peluh dan darah yang kau peras untuk kebahagiaan Ibu dan adik-adikmu. Ibu merasa bersalah padamu Le...

Air mataku terus bercucuran. Ibu tak bersalah sama sekali, cinta Ibu sudah cukup membuatku bahagia, sangat bahagia. Ihsan-lah yang banyak menyusahkan ibu, membuat Ibu marah. Allah begitu agung Engkau. Kau kuatkan ikatan cinta kami, Kau kuatkan pula keimanan kami untuk selalu merindukanMu.

Banyak perubahan yang terjadi setelah kepulanganmu tempo hari, itulah yang membuat Ibu sangat berbahagia dan juga bersedih. Ibu tidak tahu seperti apa kehidupanmu di Depok, Ibu sangat tahu dirimu Le..., Ibu sangat tahu, karena ikatan darah kita berasal dari satu aliran. Kau tak ceritapun Ibu sudah tahu, kau sangat keletihan dan kepayahan, namun sandiwaramu begitu meyakinkan dunia bahwa kau tenang seolah tak ada beban. Tapi, Ibu tahu kau sangat kepayahan disana. Ibu merestuimu untuk menikah, tak usah kau risaukan tentang adik-adikmu. Yasmin dan Fajar juga ingin cerita kau baca saja surat mereka.

Ibu sangat mencintaimu Le..., sangat. Ibu mencintaimu karena Allah.

Ibumu

Tiada orang lain di dunia ini yang begitu memahamiku, kecuali kalian berdua, Ibu dan Bapak. Kita akan berkumpul lagi kelak, Allah izinkanlah pertemuan terindah kami nanti bersama barisan orang-orang mukmin.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!