Cincin Bulan Persahabatan
Mendapatkan Tugas Khutbah
Di masjid. Aku masuk dari arah samping, sehingga dapat tempat dekat dengan mimbar. Aku shalat dua rekaat. Selesai shalat aku menyalami sesosok pria di sebelahku, dia sangat kukenal. Kak Nugroho.
”Kaifa haluk ya Akhi?” sapanya lembut, senyumnya seteduh telaga kautsar.
”Khoir, wa anta?
Kami sedikit berbincang dan beliau menanyakan beberapa hal, aku menjawabnya dengan tenang. Bukankah kak Nugroho sudah menikah empat bulan yang lalu, dan itu bertepatan dengan kepulanganku ke Lampung.
”Maaf Kak, waktu Walimatul Ursy, saya tidak datang. Saat itu Bapak saya meninggal dan saya harus pulang ke Lampung.”
”Iya, saya paham tidak apa-apa, yang penting doanya,” kami tersenyum.
Waktu telah tiba, si Amir sang muadzin memberi isyarat kepadaku. Aku maju ke mimbar. Aku mengucap salam dan adzan menggema indah ketika aku duduk.
”Jama’ah shalat jum’ah yang dimulyakan Allah. Mari kita bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, bukan pasrah dan menerima tanpa kerja dan usaha. Ketika kita tawakkal, maka anggota badan kita mulai kaki, tangan dan lisan kita harus bekerja keras seolah tidak ada tawakkal. Karena kita jangan berfikir tawakkal, tapi kerjakanlah kebaikan dengan sekuat tenaga. Janganlah kita pasrah dan berdiam diri menunggu ketetapan Allah dan tidak mau merubah kebiasaan buruk kita.
Allah swt berfirman, ”Katakanlah, ’Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah, setiap hal harus dijemput dengan kerja keras dan kesungguhan. Berjihad di jalan Allah adalah menjemput kerja keras mengalahkan hawa nafsu kita. Dalam kehidupan ketika kita mencari rezeki, maka bertawakallah dengan sungguh-sungguh dengan bekerja secara profesional dan terarah.
Rasulullah saw bersabda, ”Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka Allah akan memberi rizeki kalian seperti Dia memberi rizeki kepada burung yang keluar pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore dengan keadaan kenyang, bertawakkal dalam segala hal, jangan sedetikpun terlintas untuk memenuhi pikiran kita untuk meminta-minta. Jagalah izzah kita dengan kesungguhan dan kerja keras bukan bermalas-malasan dan membiarkan negara dipimpin oleh orang-orang yang tak paham agama. Saatnya Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang mengerti agama, sehingga tahu mana jalan menuju Tuhannya.
Rasulullah mengajarkan nilai berharga, Nabi mengajarkan ilmu yang dahsyat pada Ibnu Abbas ra. sewaktu kecil, ketika beliau berumur sepuluh tahun, ”Wahai Ghulam, aku akan mengajarkan padamu beberapa kata : Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu; jagalah Allah, maka kau akan dapatkan Dia di hadapanmu; jika kau meminta, mintalah kepada Allah; jika kau minta pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah, sekiranya satu ummat berkumpul intin memberi manfaat, mereka tidak akan memberikan manfaat kecuali telah Allah tulis untukmu. Demikian pula sekiranya mereka berkumpul ingin mencelakakanmu, maka mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali dengan apa yang telah ditulis untukmu. Pena telah terangkat, dan kertas telah kering.”
Lihatlah keyakinan dan komitmen kita, masihkah ada keyakinan? Jika satu kota Depok sepakat memberi kita uang seratus ribu, mereka tidak akan mampu memberikan kepada kita kecuali dengan apa yang Allah tentukan. Pena telah terangkat, Ia tak akan menulis lagi. Maka tiada ada yang dihapus dari yang sudah ditulis? Tidak akan ada yang terdzolimi. Itulah keyakinan yang harus ummat Islam jemput untuk mencapai kemenangannya melawan hawa nafsu, untuk kemenangan dirinya dan umat Islam. Ingatlah, ’Jagalah Allah, maka Dia akan menjaga kita.”