Cincin Bulan Persahabatan
Undangan Makan
”Hari ini, isteri dan adikku sedang memasak makanan kesukaanku. Bagaimana kalau untuk memperkuat ikatan kerja ini, kau makan di rumahku. Kau juga belum pernah sekalipun ke rumahku. Bagaimana?”
”Tapi Pak, aku belum mengganti pakaianku. Saya juga harus menyelesaikan skripsi saya,” aku berusaha menolak, tapi bingung alasannya.
”Skripsi itu tidak usah ngoyo, jika kau mau, aku yakin kau dapat menyelesaikannya dalam waktu dua hari saja. Atau kau ingin kupaksa, siapa tahu kau tertarik dengan adikku si Zahra. Siapa tahu kalian berjodoh. Dia cantik lho, banyak pemuda yang terpikat padanya, tapi selain cantik, dia Insyaallah shalihah.”
Mendengar itu aku tak berani lagi menolak. Mendengar kata jodoh, sebuah harapan tiba-tiba terbersit untuk mengukuhkan keimanan dan ibadah kenikmatan. Kenikmatan, agar manusia dapat mencicipi surga dunia. Bukankah ini juga termasuk ikhtiar untuk mencari istri? Terpaksa aku masuk ke mobilnya, lalu kami meluncur. Ternyata rumahnya tak terlalu jauh dari kompleks Terminal Depok. Rumah yang tidak semewah yang ada dalam bayanganku, rumah pak Salim sederhana dan anggun. Taman yang indah terhampar mesra di sekeliling rumah itu.
”Ayo masuk, Insyaallah makanannya telah tersedia.”
Aku turun. Pak Salim memencet bel, dan sejurus kemudian seorang wanita keluar sambil menggapai tangan pak Salim dan menempelkannya di keningnya. Mereka mempersilakanku masuk, pak Salim masuk ke dalam rumah sebentar, lalu keluar lagi dan menemaniku berbincang-bincang.
”Aku mempunyai seorang Paman di Pesantren Darussalam. Mungkin engkau kenal.”
”Siapa dia Pak?”
”Dia salah satu Ustadz disana, namanya Muhammad Wahid Al-Faza. Biasanya beliau sering dipanggil Ustadz atau Syaikh Wahid.”
”Subhanallah, jadi beliau itu paman pak Salim?”
”Iya,” aku jadi teringat tentang lamaran yang beberapa bulan yang lalu. Dalam hatiku ingin menolak, tapi ternyata calon yang diajukan Ustadz Wahid ternyata juga sama denganku.
Istri pak Salim keluar, membawa teh dan satu toples kue. Nama istri pak Salim adalah Nurul Fadhilah. Wanita itu lalu di dekat suaminya, saat teh yang telah mulai hangat itu kuangkat dan kuminum sedikit, seorang wanita berjilbab keluar dari dalam dengan membawa buah-buahan. Mataku terpana sejenak melihatnya, bukan karena cantiknya, tapi karena aku kenal betul siapa wanita itu. Dia adalah Mawar.
Aku tersedak tiba-tiba. Mata kami sempat bertatapan sejenak, lalu kami sama-sama menunduk. Tiba-tiba desiran halus itu menyusup, menciptakan suasana aneh di hatiku. Segera kutata hatiku sekuat tenaga, bukankah dia sudah menikah. Aku harus sadar, Allah tolong hambaMu. Mawar menaruh piring berisi buah-buahan itu di meja.
”Tadi itu Adikku yang terakhir, namanya Zahra. Mungkin kau kenal karena dia juga kuliah di UI. Kau ingat sewaktu menolongku di komplek UI. Saat itu aku baru saja mengantarkan kedua adikku. Adikku yang ketiga dan keempat kembar, saudara Zahra yaitu Wardah sudah menikah dengan Ilham, Mahasiswa pasca sarjana dan kini sedang menyelesaikan program Doktornya, dia membawa Wardah ikut ke Mesir, karena kebetulan suaminya juga diamanahi menjadi bekerja di kantor KBRI di Mesir sekaligus meneruskan S3. Bagaimana? Aku tidak bohong kan, adikku cantik bukan?”
Aku menyambut senyum ejekan pak Salim, hatiku semakin mendesir-desir mendengar penjelasannya. Hanya Allah dan diriku yang tahu, apa yang ada di dalam hatiku mencerna kata-kata pak Salim barusan. Jika kembar, yang manakah yang Mawar, ataukah tidak ada dari keduanya?
”Bukankah engkau yang mengisi Tausyiyah acara Walimatul Ursy saat pernikahannya Wardah?” aku hanya mengangguk, ”Setelah acara, aku mencarimu tapi kau telah pulang,”