Cincin Bulan Persahabatan

Suami Durjana

Sejak Adikku berangkat, jujur selalu ada kerinduan yang menyesak dalam dada. Tapi selalu kuobati dengan menyebut nama Allah, dalam setiap ruang jiwaku. Kuobati pula dengan menyibukkan diri dengan usaha, dan banyak meringankan beban fakir miskin. Walau tak bisa sepenuhnya menggantikannya, hingga suatu hari.

Datanglah seorang lelaki seumuran denganku. Bertandang ke rumahku di Klaten.

”Aku tahu sampai sekarang, kau sangat mencintai Sarah. Sampai sekarang pun, walaupun dia telah menjadi sah isteriku. Tapi dalam hatinya selalu dipenuhi oleh namamu Umair. Aku hanya ingin menawarkan segala kebaikan untuk kita berdua saudaraku. Jujur saja, aku membutuhkan uang banyak, untuk meneruskan hidupku yang sampai sekarang masih menjadi pengangguran.”

”Aku tidak tahu maksudmu saudaraku?”

”Aku akan menceraikan Sarah yang pernah membuatmu sakit hingga lama. Dan kau bisa menikahinya. Dan berikanlah santunan kepadaku sebesar lima puluh juta rupiah, bukankah itu sepadan dengan Sarah yang begitu cantik?”

Wajahku langsung memerah, bagai bara api yang di tambah dengan minyak. Darahku mendidih, sore yang sejuk itu seolah berubah bagai siang di Mesir kala musim panas menyenggat, lebih-lebih ketika matahari tepat beradi di atas ubun-ubun. Seluruh organ di tubuhku mendidih. Sarah, alangkah menderitanya kau di tangan seorang suami yang rela menjualmu. Hatiku bergumam marah.

”Ceraikanlah dia, akan kuberi kau uang itu. Tapi aku tak akan menikahinya!” emosiku meluap. Ingin sekali kutampar dia, tapi baginda Rasulullah saw mengajarkan pada umat muslim untuk memulyakan tamunya.

Aku menulis cek, lalu kuserahkan padanya, ”Terserah padamu, yang jelas ceraikan Sarah segera, dan kembalikan dia pada orangtuanya. Biarkanlah dia hidup bahagia tanpa lelaki bejat sepertimu.”

”Jangan marah saudaraku! Baiklah kau tidak mau menikahinya cukuplah bagiku uang ini untuk segera menceraikannya. Bukankah kenikmatan kuncup mawarnya telah kuhirup. Jika kau menikahinya kau hanya mendapatkan sepahnya. Ha..ha..ha..”

Aku sudah tak sabar lagi. Tamu yang keterlaluan. Aku memukulnya dari belakang. Dia mencoba melawan, saat berbalik ketendang dia sekali lagi. Saat kami bergelut, Satpam rumahku datang dan melerai kami.

”Baiklah! Aku terima pukulanmu ini! Tapi ingat, uang ini telah menjadi milikku dan Sarah akan kubuang!” pergilah dia, meninggalkanku yang masih memendam bara.

Aku merasa tak tenang dalam setiap tidurku, Setiap makanku, setiap gerakku. Jujur wajah Sarah terus membayang kembali dalam ingatanku, wajahnya tersenyum kepadaku. Aku langsung menuju ke rumah Kyai Husein, ayahnya.

Kabar dari Kyai Husein semakin membuat hatiku gerimis. Sarah dan suaminya telah meninggal dunia dalam perjalanan, saat mereka sedang menuju rumah Kyai Husein. Hatiku bergetar hebat.

”Dua malam yang lalu, Sarah menelepon kalau dia akan pulang ke rumah. Dari nada suaranya dia seperti terisak dan menangis. Saat kami tunggu kedatangannya, dia tidak datang juga, hingga kami ketiduran di ruang tamu. Hingga pagi, kami dikejutkan oleh kedatangan Polisi, yang memberitahukan bahwa Sarah dan suaminya kecelakaan dan keduanya meninggal di tempat.”

”Dari wajah Sarah selain bekas kecelakaan, terdapat bekas pukulan tangan. Dia baru saja dipukul. Lalu di mobil ditemukan surat cerai yang telah ditandatangani oleh kedua pihak suami dan isteri. Mereka telah resmi bercerai. Kami kehilangan Sarah, aku sangat menyesal menyerahkannya pada lelaki itu, bukan kepadamu anakku,” Kyai Husein menangis dan mengusap airmatanya. Kyai Husein menyerahkan secarik kertas yang ditemukan di dalam mobil, saat mobil itu kecelakaan dan digeledah Polisi, tertulis di atasnya, ”Untuk Umair sahabatku.”

Aku pamit pada Kyai Husein. Aku menjenguk Sarah di pekuburan. Semua ini telah digariskan Allah, tapi atas kesalahanku juga. Kenapa aku begitu angkuh! Tanah merah itu terasa lembab di pagi yang teduh. Embun masih menyelimuti gundukan itu.

Aku membuka surat itu.

Umair...

Maafkan suamiku yang aku tahu dia pasti memerasmu. Dia sangat marah ketika sampai di rumah, langsung aku di hajarnya. Setiap hari memang itu yang selalu dilakukannya. Aku selalu menunggumu dulu, tapi kukira kau telah melupakanku maka aku menerima keinginan Abah, untuk menikah dengan anak salah satu muridnya.

Bertahun-tahun aku bungkam dalam penderitaan. Aku tak katakan, apapun tentang perlakuan suamiku. Hingga malam itu dia hendak datang ke rumahmu, aku melarangnya dengan keras dan dia memukulku. Aku hanya bisa berdoa. Ketika dia pulang sambil membawa mobil, yang entah dia dapat dimana dia langsung memukulku dan memaksaku menandatangani surat perceraian.

Aku diaraknya masuk ke mobil sambil diseret. Aku menulis surat ini saat di mobil, saat mantan suamiku sedang bernyanyi sambil menyetir. Dia kelihatannya sangat gembira, aku yang sudah sangat menderita. Cukuplah rasanya, aku ingin memukulnya saat ini karena aku telah bukan isterinya lagi. Maafkan aku Umair, aku tak menepati janji kita dulu. Salamku

Sarah

Ada ciprat darah yang mengotori tulisan Sarah. Alangkah besar penderitaanmu Sarah. Maafkan aku, maafkan aku, semoga Allah memberimu tempat terindah, sehingga kau tak lagi merasa menderita. Aku meninggalkan pekuburan itu dan menatap matahari yang mulai meninggi.

Setelah itu hidupku kembali seperti biasa, walau wajah Sarah selalu membayangi setiap langkahku. Sebuah email dari Mesir masuk ke emailku, dari adikku. Dia memintaku untuk segera menikah, bukankah umur telah menginjak hampir kepala tiga. Kini, hidupku hanyalah untuk adikku. Aku balas emailnya, jika dia mau aku menikah, maka dia harus mencarikannya dan pulang untuk sejenak ke Indonesia.

Dia langsung terbang ke Indonesia. Walau kuliahnya masih ada, dia izin. Aku memarahinya, tapi dia malah tersenyum. Hilang pula selera marahku dan terganti kerinduan. Aku memeluknya.

”Sekarang mari kita ke pesantren dimana aku dulu pernah belajar menghafal Quran.”

”Untuk apa?”

”Untuk menjemput kakak iparku, menjemput bidadari Kakak!” semangatnya yang menggebu-gebu tak berani kutolak. Tak kuceritakan ada kejadian apa setelah dia ke Mesir. Saat di Pesantren di Jombang tempatnya dulu mondok. Dia mengatakan niatnya untuk mencarikan isteri untukku, dia mengumbar kata-kata bahwa kakaknya adalah lulusan Al-Azhar jurusan Hadits. Dasar adikku, dia menurun sifat promosiku. Aku kembali tersenyum.

Saat berhadapan dengan Kyai Amarullah, aku tak bisa berkutik apa-apa. Kuserahkan semuanya pada adikku, Kyai Amarullah menatapku teduh. Yang jelas aku percaya, adikku tak akan menjerumuskan aku, dialah orang yang aku cintai di dunia ini. Kyai Amar memintaku membaca beberapa Hadits tentang iman, tentang nikah, tentang dakwah, tentang kasih sayang. Aku membacakannya sesuai dengan riwayat dan atsarnya. Dia hanya manggut-manggut.

”Kau membawa orang yang tepat,” Kyai itu berkata pada adikku, ”Allah telah menggariskan garis takdirnya. Anakku yang terakhir kemarin memintaku mencarikan seorang suami yang saleh. Insyaallah puteriku itu Hafidz Quran, dia baru saja wisuda jurusan Kedokteran di Universitas Indonesia. Semoga kalian cocok, dia akan kupanggilkan.”

”Kakak saya setuju Kyai, dia memang mencari isteri yang Hafidz Quran, karena dia juga ingin belajar darinya, karena dia hanya tinggal kurang sedikit lagi untuk mengkhatamkan Quran,” dia melirikku dan mengangkat sebelah alisnya.

”Insyaallah saya bersedia, bukanlah Rasulullah saw bersabda, ”Sesudah taqwa kepada Allah, tidak ada yang bermanfaat bagi seorang mukmin yang lebih baik, daripada seorang isteri yang sholihah,”

”Baiklah, jika memang ini kehendak Allah. Mari kita ke masjid untuk melangsungkan aqad nikah. Akan kupanggilkan puteriku. Kau masih ingat masjidnya bukan?” adikku manggut, ”Inggih Kyai.” aku bangga pada adikku, walau dia telah kuliah di Mesir, sikap sahajanya selalu terpelihara.

Aqad sederhana itu terjadi di Masjid Baiturrahman, di Pesantren Baiturrahman tempat adikku dulu nyantri. Isteriku itu kuakui, dia lebih cantik dari Sarah. Tapi entah kenapa, hatiku kurang condong kepadanya. Hingga atas saran isteriku itulah, aku mendirikan pesantren Darussalam ini Ali.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!