Cincin Bulan Persahabatan

Antara Cinta dan Persahabatan

”Bagaimana anakku? Bukankah kau juga pusing?”

Aku mencoba mengembalikan semuanya pada Allah. Apakah ini keputusanMu ya Allah? Kau berikan surat cinta dari Ibu dan Adik-adikku. Mereka telah dapat mandiri, adikku, Yasmin telah menjadi seorang Penulis, adikku Fajar menyanyikan lagu-lagu nasheed. Dan Ibuku dia memintaku untuk segera menikah, lalu Ustadz Umair memintaku untuk menikahi puterinya. Kemarin juga aku telah dikarunia nikmat berupa pekerjaan. Apakah ini petunjukMu ya Allah?

Pak Salim yang akan mengatakan pada adiknya, wanita yang memakai cincin bulan itu. Persahabatan itu? Aku harus merelakannya. Allah sudah memberi jalanNya, aku akan mengambil jalan cinta padaNya. Bukankah dengan cinta sejati kita akan menemukan sahabat sejati? Jika memilih, maka aku memilih cinta. Persahabatan dapat hilang, tapi cinta akan selalu menemani selamanya, dia akan terus hidup di hati.

”Bagaimana Ali, jika kau tak mau tidak masalah. Aku akan mencari orang lain,” nada Ustadz Umair nampak tenang.

”Bolehkah aku menghubungi keluargaku dulu di kampung Tadz?”

”Silakan. Menikah bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan tergesa-gesa. Karena umurnya tidaklah sehari, satu bulan atau setahun tapi selamanya bahkan hingga di akhirat kelak.”

Aku mengambil Hp bututku, kupilih nomor Yasmin yang pagi tadi kuterima dari suratnya. Aku menghubunginya. Nada sambung, ”Tuut...tuut,” seolah berpacu dengan getaran dan deguban jantungku. Ustadz Umair tenang menatapku.

Sebuah suara lembut menyapa salam. Yasmin. Di malam hening, aku menjawab salamnya.

”Enten nopo malam-malam telepon Kak?”

”Ampun tilem Yasmin?”

”Tadi hendak Qiyamul layl jam tiga, tapi ini jam satu kakak udah bangunin. O ya, ada apa Kak?”

Aku lalu menceritakan semua keadaanku. Terjepit tapi mengasyikkan, aku sedikit bercanda dengan adikku. Ustadz Umair seolah penasaran dan menunggu-nungguku. Adikku kadang-kadang tertawa, dan lalu nadanya serius.

”Insyaallah Yasmin sangat setuju apa yang menurut Kakak baik, Yasmin juga akan mengatakan baik. Tapi sebentar ya Kak, Yasmin akan berbicara sejenak dengan Ibu dan kak Fajar.”

”Ok adikku. Aku tunggu segera,” hubungan terputus.

Aku kembali menatap Ustadz, dia menatapku kembali.

”Saya akan segera memutuskannya Tadz, setelah Ibuku memberikan ridhanya padaku untuk melangkah.

Menunggu detak jarum detik yang terus berputar, seirama dengan denyut nadi, setara dengan deguban jantung, seimbang dengan larikan napas, semua bertasbih menunggu segala keputusan Allah ’Azza wa Jalla. Setelah lima menit Hp-ku menjerit. Sms.

”Ibu sangat setuju, Ibu ingin segera menimang cucu. Insyaallah Ustadzmu tak akan menjerumuskanmu. Terima saja, Ibu sangat setuju. Fajar Insyaallah merestui, kami mendukungmu.”

Aku tersenyum, ”Tadz,” aku menatapnya. Kini aku mantap, ”Bismillaahirrahmaanirrahim, saya siap menikah dengan puteri bungsu Bapak.”

Ustadz Umair kembali tersenyum, ”Tapi ada syaratnya Ali.”

”Apa lagi Tadz?”

”Aku sangat tahu seleramu, maka syaratnya kau tidak boleh melihat isterimu dulu hingga zafaf , aku takut engkau berubah pikiran ketika melihat wajah puteri bungsuku.”

Kini aku yang terdiam. Aku mencoba meraba hatiku, kembali kuingat sms dari Ibu, ”Insyaallah Ustadzmu tak akan menjerumuskanmu.” Allah. Mantapkanlah langkahku dalam meniti jalanMu, ”Saya siap Ustadz, semoga Allah meridhainya. Saya akan menerima syarat Ustadz, tapi saya juga mempunyai satu syarat,” kulihat perubahan air muka Ustadz Umair.

”Apa itu Ali?”

”Ustadz harus mulai mengupayakan cinta kepada istri Ustadz, alangkah menderitanya seorang isteri yang melayani suami dan anak-anaknya, tanpa mendapatkan cinta dari suaminya? Ustadz harus memenuhinya,” Ustadz Umair manggut-manggut, airmatanya menetes di pipinya. Dia mencium keningku, ”Aku tak salah pilih memilihkanmu untuk anakku, Ali.”

”Tapi aku hanya orang desa yang miskin harta Ustadz,” aku teringat kembali statusku. Aku tak mau ada kecewa di belakang.

Mata Ustadz Umair menatapku, ”Kau pikir Ali bin Abi Thalib lebih kaya darimu pada saat menikahi Fatimah? Kau pikir anakku hanya akan kau beri makan? Dia hanya membutuhkan keimanan dan ketaqwaan seorang suami yang akan membimbingnya.”

Aku menundukkan kepalaku, ”Maafkan saya Ustadz.”

Ustadz Umair memegang pundakku pelan, ”Jadi, kamu mau berubah pikiran?”

”Tidak Tadz, Insyaallah saya siap menikah. Bukankah Allah yang memberi rizki pada hamba-hambaNya. Bukan saya, tugasku hanyalah berusaha,” kulihat ada senyum secerah mentari dari sudut bibirnya.

Kami sedikit berbincang tentang calon isteriku. Dia adalah mahasiswa UI juga, tapi Ustadz Umair lupa konsentrasi yang diambilnya. Calon isteriku adalah penulis, beberapa karyanya telah terbit, diantaranya sebuah novel yang begitu disukai Ustadz Umair adalah novel berjudul, ”Kudus Gelombang Cinta,” yang menceritakan ketegaran seorang lelaki yang merawat anaknya seorang diri, setelah isterinya meninggal dunia. Gelombang-gelombang kedukaan dihadapi dengan cintanya yang besar pada anaknya. Dia tidak ingin menikah lagi, untuk mengabdikan dirinya pada anaknya. Ternyata buku itu juga pernah kubaca. Aku beruntung akan mendapatkan seorang isteri Penulis. Cerita itupun selalu mengingatkanku akan almarhum Bapak.

Ustadz Umair merasa bahwa cerita itu ditujukan padanya, yang kurang memerhatikan anak-anaknya, namun cintanya amat melekat dari kejauhan. Betapa hati ingin dekat tapi cinta yang menghalangi.

”Semua telah diatur Allah. Kini, puteriku telah menyelesaikan skripsinya. Dia sekarang berada di Pesantren ini, menginap di salah satu rumah Ustadz. Setelah Maghrib tadi dia kesini. Di rumah Ustadz Wahid. Aku akan menikahkanmu saat ini juga. Bersiaplah, aku akan memanggil para santri yang lain,” kini aku yang melongo, benar-benar Ustadz Umair ini. Dia berlalu.

”Tapi Tadz,” beliau menengok kembali, ”Aku tidak mempunyai uang banyak untuk maharnya?”

”Kau tidak usah khawatir Ali, ada seorang jama’ah yang telah menyediakan mas kawin untuk pernikahanmu. Kalung emas seberat 100 gram.”

Aku kaget, ”Siapa dia Ustadz?”

”Pak Purwiro, dia merasa harus memberi hadiah kepadamu. Dia sebenarnya ingin menikahkan anaknya padamu, tapi Allah berkehendak lain sehingga dia ingin agar bisa membantumu, dalam menyediakan mas kawin untuk isterimu. Bersiap-siaplah!” Ustadz Umair berlalu. Aku terdiam tak dapat berkata apa-apa. Allah, alangkah dekatnya Engkau. Betapa cepat doa hambaMu Kau kabulkan. Mataku gerimis.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!