Cinta Kuli dan Misteri
Pocong di Pagi Hari?
Napasku sengal, seperti remuk semua badanku. Bagaimana tidak, olahraga malam-malam begini, lari setengah mati yang kutahu hanya sampai di desa. Benar juga, ini sudah sampai desa dan rasanya Setannya gak mungkin mengejar.
Hufff! Aku menstandar motor maticnya, aku kelelahan di rumah pertama setelah jembatan masuk desa dan setelah melewati barisan perdu di rumah tua itu. Aku benar-benar kelelahan. Kini sudah terang, lampu berpijar dimana-mana.
Karena tak kuat lagi kakiku melangkah, aku duduk di teras dekat jalan. Rumah itu milik Anto, rumah pertama saat masuk desa Bulan Indah. Napasku masih kembang kempis, tengah malam begini orang lewat tentu sudah tak ada. Bengkel tak mungkin buka di desaku. Aku ingin mengobati lelahku sejenak, kuselonjorkan kedua kakiku lurus ke depan.
Plak!
”Ya Allah ya Kariim! Allahuakbar!” Aku latah berteriak karena pundakku ditepuk begitu saja dan tiba-tiba. Aku pun mengangkat badanku sedikit karena kaget, napasku kembali ngos-ngosan karena terkejut.
Siapa ya? Aku belum berani menoleh, seolah kepalaku terpaku dan tak berani menoleh. Benar-benar takut, biasanya ini adalah saat-saat paling menegangkan kalau di film horor karena jika menengok...
”Malam malam ngapain kamu ronda disini Nan!”
Perasaanku langsung lega, suara manusia.
”Motorku tiba-tiba bocor ini lho,” aku pun langsung menengok ke belakang, sosok tanpa wajah kecuali hanya muka yang kotak-kotak tak jelas, tak karuan dan hanya seperti kain melayang.
”Setaaannnn! Setaannn!” Aku berteriak-teriak, tak peduli hanya itu yang bisa kulakukan karena kakiku tiba-tiba kelu dan kaku tak bisa bergerak untuk lari.
Plak! Pipiku tiba-tiba panas karena setan itu menamparku tiba-tiba saat aku berteriak.
”Kalau mau mimpi ya jangan disini! Setan, Setan! Aku Roni tahu!” Pemuda itu membuka penutup kepalanya, sarungnya yang kotak kotak itu digunakannya untuk menutupi wajahnya biar tidak dingin. Dia Roni, sahabatku sejak kecil. Mungkin, kini dia tugas ronda malam sehingga mungkin baru keluar dari rumahnya.
”Kamu ini Ron! Gak tahu apa aku barusan dikejer sama pocong!” Aku merasa lega karena bukan hantu, tapi aku malu juga dikerjain teman dan aku menjerit seperti seorang penakut.
”Hei! Sejak kapan Adnan takut dengan Hantu? Bukankah kamu yang selama ini selalu menolak percaya pada kisah warga kalau ada Hantu di rumah tua itu!”
Benar juga kata Roni, aku selalu menyangkal kisah hantu yang sering diceritakan banyak orang. Meskipun sudah banyak orang yang menceritakan dan menjadi saksi mata kalau mereka benar-benar ditakuti, namun aku sendiri tidak pernah percaya akan hal itu.
Aku tak percaya dengan arwah hantu dari mbah Pati karena beliau adalah orang yang baik. Semua orang selalu mengkaitkan hantu dengan mbah Pati. Lalu..., hantu yang tadi lompat di perdu, apakah itu hantu yang ingin mencemarkan nama baik mbah Pati?
”Jadi begini kisahnya Ron, aku lembur hari ini dan motorku tiba-tiba bannya bocor. Saat aku menuntun hingga perdu bambu itu, ada sosok yang melompat-lompat diantara pohon bambu. Terang saja karena malam aku berlari sekencang-kencangnya hingga ketemu kamu disini.”
Roni tampak manggut-manggut saja mendengar ceritaku.
”Pantas saja kamu ketemu hantu. Mana ada orang jam segini keluruyan yang ada Setan yang keluyuran!”
Yah sudahlah! Yang jelas sudah sampai di desa, ”Kamu ronda ya Ron? Jam segini baru keluar nih!”
”Iya, aku giliran jaga nih. Bapak lagi sakit jadi aku yang menggantikannya.”
Aku manggut-manggut dan pamitan padanya. Lelahku juga sudah mulai pulih, aku pun pamitan dan mendorong motorku lagi. Rumahku tinggal dekat, Roni ternyata mau mengantarku ke rumah sekalian mau keliling ronda dan memanggil yang lain untuk jadwal tugas rondanya.
Aku berterimakasih padanya, setidaknya ada teman ngobrol sampai di rumah nanti. Kabut tipis masih menyisa menemani perjalanan kami. Hanya saja, kenapa bau kabut ini juga sampai di desa ya, apakah ada yang membakar kemenyan untuk sesuatu yang ghaib? Ataukah seperti cerita banyak orang kalau ada pesugihan yang memang membutuhkan pembakaran kemenyan untuk makan jin yang mereka pelihara?
Ah! Sudahlah, aku sampai depan rumah. Roni tak mau mampir walaupun sudah kusuruh beberapa kali, setidaknya untuk minum secangkir kopi. Dia pun pamitan dan lanjut ronda, aku masuk rumah orangtuaku. Aku membawa kunci serep dan membuka pintu dengan kunci serep tersebut.
Saat istirahat, aku juga sudah lelah sekali hari ini.
@ @ @
Pagi menyapa, aku bangun saat adzan subuh berkumandang. Aku menggeliat santai, waktunya untuk bangun.
Aku bergegas bangun, melewati kamarku dan kulihat Bapak sudah mengenakan peci dan membawa sajadah. Sudah siap ke masjid tuh Bapak. Mamak sendiri pasti sudah di dapur seperti biasanya, dia akan masak terlebih dahulu baru ketika sudah memasak beberapa menu maka dia akan shalat sendiri di rumah.
Aku melewati dapur hendak ke kamar mandi belakang, benar saja Mamak masih memasak di kompor gas. Sepertinya sudah memasak nasi dan tinggal memasak sayur dan lauknya.
”Motorku kenapa Nan? Pulangnya kamu tuntun?”
”Iya Mak,” aku menjawabnya sambil menguap, benar-benar masih mengantuk karena lembur tadi malam, ”Pas dari beli kopi di warung Mang Krimo baru pulang di jalan langsung bocor. Ya udah, Adnan tuntun saja sampai rumah.”
”Ya udah kalau begitu, yang penting kamu selamat sampai rumah dan juga sehat. Oya, buruan wudhu sebentar lagi iqomat itu.”
”Iya Mak,” aku mengangguk dan menuju kamar mandi terlebih dahulu. Selesai wudhu aku mengambil peci dan sarung yang sudah kupersiapkan tadi. Aku memakai sarung dan peci itu dan berangkat ke masjid.
Aku tidak mau cerita lebih lanjut soal hantu tadi malam, Mamak pasti akan tidak setuju dan menolak hal itu. Mbah Pati merupakan orang yang dekat dengan Mamak, mungkin Mamak dulu pernah menjadi anak angkat mbah Pati. Mbah Pati sendiri selalu menolong orang yang kesusahan dan juga guru mengaji.
Dalam perjalanan yang sekitar 150 meter jauhnya dari rumah. Bapak sudah berangkat duluan, suasana masih agak gelap karena memang masuk fajar dan siluet dari timur hanya semburat saja. Capek rasanya badanku, kerja lembur belum juga lari jauh sambil menuntun motor.Ya Allah, capeknya.
Aku mengangkat kedua tanganku keatas, menggeliat dalam berdiri, he he he, ada ada saja. Aku menguap dengan nikmat sambil menutup mulutku. Masih di perjalanan, saat tengah menutup mulutku karena menguap itu sesosok putih berkelebat cepat melewatiku karena aku memang tengah diam karena menggeliat sambil berdiri. Aku kaget setengah mati karena bayangan putih itu melewatiku tanpa aku kira-kira dan bersebelahan denganku dan melewatiku. Baunya juga wangi.
”Pocoonngg!”
Suaraku tercekat begitu saja, dan tiba-tiba latah terucap.
Bayaangan putih itu langsung berhenti dan menoleh kearahku, aku terpaku kelu menanti begitu saja seperti dunia berhenti berputar kecuali kepala sosok putih itu yang memutar kearahku.
”Mas Adnan ngapain sih? Buruan sudah mau iqomat,” suara yang lembut, lha kenapa pocong suaranya merdu begitu?
Kesadaranku kembali dan kuperhatikan wajah bersih dan cantik itu, lha..., itu kan Nadia. Namanya Nadia Jovita anak dari pak Kusrin yang merupakan imam masjid kami. Wajahnya memag sangat cantik dan menjadi rebutan dan ditaksir banyak pemuda, termasuk aku tentunya. Sayang, dia anaknya pak Kusrin, terkenal galak dan juga taat beragama karena sudah Haji dan juga Kyai. Lha aku? Ah, sudahlah!
”Maaf Nadia..., saya kira tadi apa mengagetkan saja soalnya kelebat begitu saja. Mas Adnan tak sadar.”
Aku menyebut diriku sendiri dengan Mas, biar TP-TP, cari perhatian, cihuy!
”Makanya Mas, kalau mau menggeliat tuh di kasur. Masak ke masjid saja bisa sambil menggeliat.”
Nadia pun bergegas meninggalkanku yang masih terdiam. Benar saja, air hujan yang mengenai rumah jatuhnya juga di emperannya gak jauh dari situ juga. Buah pohon jatuh yang di bawah pohonnya kecuali dibawa pergi kelelawar yang memakannya. Lha, kok malah peribahasa?
Iya, intinya Nadia mirip sama Bapaknya. Galak dan ceplas ceplos, meski cantik sih. Bahkan, sangat cantik. Tapi, aku memang sukanya bermimpi, he he he. Nadia sendiri masih semester 6 kuliah, sebentar lagi dia lulus.
Adakah aku berani melamarnya?
Ah! Paling langsung ditolak. Aduh kasihan, mimpi mimpi, kemana engkau hanya datang pas tidur. Apa apaan malah nyanyi.
Iqomat berkumandang cepat.
Lha! Aku ditinggal, malah melamun terus. Tunggu imam, jangan tinggalin makmum dong!