Cinta Kuli dan Misteri
Rumah Tua di Perbatasan Desa
Tempat kerja yang penuh bau dan juga banyak pekerja yang bermacam – macam karakter. Namanya juga buruh Bung, udah biasa tentunya dengan bau, seperti; bau limbah, bau keringat, bau olahan yang hancur, bau busuk dan lain sebagainya. Semuanya kalau di pabrik yang masih belum berstandar, maka sudah tentu kulit kita seperti banyak kotoran.
Tak mengapa, meskipun badan bau dan penuh debu, tapi inilah faktanya bahwa memang kita butuh dan kita harus berusaha dengan giat. Dunia mengajarkan pada kami untuk tekun bekerja, jika tidak maka bisa saja kami menjadi penjahat karena harus mencari penghidupan. Jadi, bisa kita lihat kan kalau orang jahat itu kadang hanya karena mereka butuh makanan dan ekonomi yang tidak tercukupi.
Tapi, yang paling aku jengkelkan dari penjahat adalah mereka mencuri atau merampas uang dari pekerja biasa atau kuli seperti kami. Kenapa mereka tidak mengambil uang dan memeras serta merampas dari para koruptor atau orang kaya saja sih! Kan kasihan, sudah bekerja memeras keringat namun masih saja ada penjahat yang ingi mengambil hak kami.
Hmm... itulah hidup.
Adanya hidup yang demikian inilah Bung! Orang baik masih saja dijahilin, gak sama orang jahat gak juga sama Setan. Ya, bicara hantu lagi.
Di pabrik sendiri, kisah – kisah hantu sering diceritakan sehingga para pekerja yang shift malam biasanya malas sendirian bahkan mereka berkumpul bekerja dan menghindari dari mereka sendirian. Tentunya, pasti kamu tahulah apa yang mereka takutkan dan pikirkan saat malam mencekam.
Padahal gak mencekam tuh di pabrik, bagaimana bisa mencekam suara gemuruh mesin hampir 24 jam berbunyi. Suaranya saja bising, lha gimana bisa mencekam. Mereka saja yang mungkin terbawa pada situasi cerita sehingga segalanya menjadi mencekam. Benar gak Bre?
Jadwalku tidak sampai malam, hanya sampai jam delapan malam. Namun, jika sudah mendekati maghrib ada saja orang-orang di pabrik yang sudah mulai para merinding dan bercerita hantu. Anehnya, sudah tahu mereka penakut kenapa masih sama – sama saling bercerita soal hantu. Ada ada saja.
”Mas Adnan,” pak Ranu yang berada dalam pengawasanku menepuk pundakku.
Aku pun mengangguk sambil memasukkan beberapa pecahan buah sawit yang tercecer, biasanya mereka tercecer saat berpisah dari bonggol dan diambil oleh petani untuk juga ditimbang.
”Ada apa pak Ranu?” Aku menatap lelaki berumur 40 tahun itu.
”Saya izin sebelum maghrib saja ya Mas, saya ada keperluan keluarga soalnya. Saya mohon ya Mas,” pak Ranu memohon dan wajahnya memelas. Aku sendiri tak tega melihatnya, ya kalau satu izin sih gak masalah tentunya masih bisa dikejar target hariannya.
”Ba...,”
”Mas! Pak! Pak! Mas!”
Aku belum sempat mengatakan sesuatu, beberapa orang datang lagi berkeroyokan, semua di bawah pengawasanku sekitar ada 15 an orang berkumpul di depanku. Ada apa lagi ini, jangan sampai mereka mau izin juga seperti pak Ranu tentunya.
”Kita juga izin Pak!”
”Kita juga izin Mas!”
”Kita juga izin Bos!”
Mereka berkata hampir berbarengan hingga membuat telingaku hampir saja bingung itu suara siapa yang bicara.
”Tidak! Cuma pak Ranu yang boleh izin, yang lain tetap biasa pulang jam delapan malam bareng dengan saya.”
Hufff! Kayaknya aku harus tegas, tidak boleh plin – plan lagi. Bagaiman bisa hampir seluruh orang dalam pengawasanku mau izin, kalau sampai target tidak tercapai, hilang bonus mereka, hilang juga bonusku, hilang juga bagian ikan asin Mamakku. Hah! Berantai kan tuh imbas yang terjadi?
”Terus bagaimana dengan Ranu Bos!” seorang lelaki tambun menyanggahku, dia Jono mungkin masih penasaran apakah si pak Ranu aku izinkan akhirnya atau tidak.
Wajah pak Ranu pun memelas padaku, matanya seperti mata bayi yang menginginkan mainan. Aku pun menghela napasku perlahan, tadi aku sudah hampir mengizinkan namun aku juga tak mau menelan ludahku sendiri. Sekali ini sajalah.
”Baiklah, pak Ranu boleh hari ini izin duluan.”
”Horeee!” pak Ranu mengepalkan kepalannya keatas, mirip anak kecil. Entah apa dengan izin yang sebenarnya hanya satu jam lebih itu. Tapi, mungkin acara keluarganya sangat spesial sehingga dia sangat bahagia mendapatkan izin dan segera berkumpul dengan keluarganya dan mengadakan suatu acara penting.
”Gak adil!”
”Gak adil Mas Adnan!”
”Gak adil Bos!”
Lagi – lagi mereka hampir berbarengan mengucapkan itu semua, telingaku sepertinya bingung lagi siapa yang bicara. Seperti anggota dewan yang sedang didemo sama para mahasiswa itulah yang di televisi. Semuanya berteriak, jadi telingaku rasanya pusing juga suaranya semua ada dan ricuh. Aku pun berpikir, kalau aku saja yang cuma 15 orang protes seperti ini, apalagi pusingnya para anggota dewan yang didemo sama mahasiswa ribuan ya? Pasti mereka tak akan bisa tidur malamnya.
Ha ha ha..., tapi kan mereka... ah sudahlah! Ngapain mikir anggota dewan sih, mikirin saja urusanku belum kelar ini.
”Oke. Kenapa gak adilnya coba, pak Ranu itu ada urusan penting buat keluarganya, itu urusan penting katanya dan gak bisa ditinggalkan,” penjelasanku detail dan aku membela pak Ranu, pak Ranu pun terlihat matanya berbinar mendengar aku membelanya, terlihat seperti ada bintang di sekeliling kepala pak Ranu, seperti di film animasi saja.
Jono melangkah dan melewati pundak beberapa orang di depannya, tubuhnya yang besar membuat beberapa orang yang dilewatinya tersingkir dengan sendirinya. Gesekan besarnya tubuh Jono membuat orang – orang yang dilewati itu seperti terdorong mesin saja hingga mereka tergeser ke kanan dan ke kiri.
Jono berhenti tepat di depanku, tangan kanannya terhulur kearahku. Mau apa dia? Apakah dia mau memukulku? Hancur tubuh kecilku ini kalau Jono sampai mau memukulku kawan.
Pluk!
Bukan ternyata, tangan kanannya itu menyentuh bahu kananku. Dia hendak berkata, bibirnya mulai bergerak dan mulai bergerak lagi, hingga dia berkata.
”Bos! Ranu bukan mau pergi karena ada acara keluarga yang penting. Dia itu takut hantu! Dia takut kalau malam melewati rumah tua di jalan masuk desa kita Bos! Kalau sudah isya’ hantu – hantu disana berkeliaran seperti pasar! Kalau maghrib masih belum buka pasarnya, jadi Ranu izin agar menghindari pasar malam Bos!”
Pffttt! Aku hampir tertawa, namun aku menahannya sekuat tenaga. Jono memang seorang pujangga yang selalu bisa membuat kata – kata, meskipun lucu tapi mengena, meskipun tak terkenal tapi dia seperti ikan buntal, lho?
He he he, yang jelas Jono memang penyair asli dari sebuah desa, meskipun buruh seperti aku juga, pokoknya dia pintar memutar – mutar kata. Nah, kali ini meskipun dengan kelucuannya, namun kata-katanya itu menjadi bahan pemikiranku kali ini. Jika itu benar, maka Pak Ranu hanya sekedar cari alasan saja untuk biar dia bisa pulang cepat.
Kini, aku menatap pak Ranu. Sepertinya pandangannya sedikit menunduk dan apa dia malu?
”Pak Ranu, apa benar apa yang dikatakan lek Jono? Pak Ranu ingin izin pulang cepat hanya karena takut melewati rumah tua di barisan perdu perbatasan desa kita?”
Jadi begini Sobat, di pabrik penggilingan sawit dan juga pabrik penerimaan karet serta singkong ini memang dalam satu blok. Dan, dalam setiap grup ada beberapa kelompok. Biasanya kelompok dikelompokkan dengan satu daerah atau satu desa, saya mendapatkan 30 kelompok yang harus saya awasi, jadi aku mandor dari 30 orang yang semuanya berasal dari desaku, di desa Bulan Indah.
Pak Ranu tak bisa berkata apa – apa lagi, dia merasa malu akhirnya, ”Yang dikatakan Jono benar Mas, saya takut melewati rumah tua itu. Kalau malam sering mengerikan, kalau masih sore belum terlalu mengerikan.”
Alasan apa lagi ini? Apakah ada bedanya pukul 8 an malam lebih atau waktu maghrib coba, ada – ada saja pak Ranu ini. Pak Ranu sendiri sebenarnya adalah kawan dari ayahku teman, makanya tadi aku izinkan. Tapi, melihat hal ini maka aku jadi jengkel juga hanya karena alasan hantu bisa minta izin dan mengorbankan kepentingan bersama untuk mengejar target dan tentu saja untuk mendapatkan bonus kelompok.
”Maaf pak Ranu, kali ini izinnya saya batalkan,” ada wajah kecewa dari muka pak Ranu, pasti dia kehilangan semangatnya yang tadi, ”Tapi pak Ranu, tidak usaha khawatir soal pulangnya nanti melewati rumah tua itu,” sebenarnya, rumah tua milik almarhum mbah Pati itu memang jalan satu-satunya yang menjadi akses jalan masuk ke desaku. Jadi, kalau mau ke desaku, harus melewati jalur itu. Sedangkan, jalur yang lain adalah hutan lebat yang dimana banyak binatang buas.
”Saya akan menemani pak Ranu nantinya, atau kita bisa pulang bersama sehingga tidak akan ada apa – apa pak Ranu,” aku mencoba menghibur pak Ranu. Pak Ranu pun merasa terobati kecewanya, dan benar saja dia langsung ceria.
”Benar ya Mas, nanti kita pulang bersama?”
”Tentu saja pak Ranu.”
Aku menjawabnya ringan. Pak Ranu pun berterimakasih dan dia pamitan berlalu untuk kembali bekerja. Sebentar lagi juga sudah maghrib, mereka akan berhenti izin sebentar untuk shalat dan bekerja kembali menyelesaikan target hari ini. Jika target lebih maka itu masuk perhitungan bonus. Dengan begini, beberapa rekan setimku mereka pun tersenyum puas semuanya dan merasa baru aku kini adil.
Mereka puas semuanya dan kembali bekerja. Namun, ada yang mengganjal dalam pikiranku sendiri. Bagaimana bisa soal hantu ini bisa menakuti banyak orang, bahkan pak Ranu sendiri takut pulang malam – malam hanya karena melewati rumah tua yang pemiliknya memang sudah meninggal dunia namun mbah Pati setahu dia adalah orang yang baik. Bahkan, dulu sempat mengajar ngaji dirinya waktu kecil.
Orangnya sangat baik, almarhum mbah Pati suka membantu orang dan dia sendirian saja tidak memiliki keluarga.
Kini, bekas rumahnya tak pernah dibersihkan atau diurus. Semua orang merasa takut karena rumah itu katanya sekarang angker. Hanya saja, itu mungkin isu yang terus didengungkan jadi seolah – olah semua orang kini takut melewati rumah itu.
Hmm.. aku mengelus dadaku sendiri. Ada – ada saja.