Cinta Kuli dan Misteri
Janda Kembang Desa
Makanan yang disediakan pak Norman atau pak lurah ini benar – benar mantap semua. Rendang pun disediakan, bukan rendang ayam ya tapi rendang sapi. Wuihh, banyak banget. Selain itu ada Lele goreng dan lengkap dengan sambal, tinggal pilih yang mana. Ada rendang jengkol dan sayur nangka, masih ada lauk yang lain juga. Ini mah porsi lengkap ini.
Roni yang antre di depanku saja lama tidak selesai – selesai memilihnya. Dia malah ambil semuanya satu – satu meski sedikit demi sedikit tapi dia ingin mencicipi semuanya.
Beda lagi dengan Jono, karena saking cintanya dengan sastra, dia sampai menghitung ala cap cip cup. Itu lho lagu anak – anak yang siapa yang kena tugas jaga. Ingat gak? Nih lagunya, cip cap cip cup, kembang kuncup pilih mana yang mau dicup. Ampun, milih makanan bukannya memilih selera yang disukai malah milih yang kena cup.
Keren memang teman – temanku disini.
Roni sudah selesai, kalau aku daripada banyak pilihan seperti ini. Mending pilih rendang daging saja yang paling enak. Ngapain nyicip banyak satu persatu, mending pilih banyak yang paling mahal dan enak. Kan gak pusing.
Satu lagi, aku ajari kalau kamu lagi makan di prasmanan. Kamu balik aja ya, nasi jadi lauk dan lauk jadi nasi. Maksudnya gimana tuh?
Jadi begini, kita makan di rumah itu kan lauknya sedikit dan nasinya banyak. Nah, sekarang kalau lagi di prasmanan kita balik aja. Nasinya sedikit lauknya yang banyak. Lha, kalau kamu ambil nasi banyak di prasmanan buat apa kalau nasi mah di rumah banyak, kalau lauk sedikit. Makanya, ada yang protes pas aku selesai memilih.
”Mas Adnan, itu lagi diet ya, nasinya kok sedikit?”
He.. he... he... aku jawab saja iya. Soalnya kan lauknya yang banyak, diet darimana. Dia mengejek atau memuji, ah biarin aja. Yang penting makan enak kali ini.
Saat makan selesai, waktu juga mendekati siang. Giliran hiburan yang muncul dan menghibur para masyarakat. Ada MC khusus buat acara musik, dia seorang lelaki yang sering tampil di acara musik organ. Dia pun membuka acara musik dengan penuh semangat dan candaan yang sebenarnya sih garing, tapi seolah diiyakan saja oleh semua orang.
Bukan dia sebenarnya yang ditunggu, pasti yang ditunggu itu biduannya. Biduan yang siap menemani bernyanyi, dan aku sebenarnya paling malas kalau ada acara organ dan lagu – lagu seperti ini. Entah kenapa aku tak suka. Tapi aku bertahan sebentar, kalau sebentar lagi juga mau dhuhur dan aku harus bersiap lagi untuk kerja.
Sang MC hiburan memanggil dengan nada MC seperti biasanya. Dia memanggil biduan terkenal kita, katanya. Mbak Murni.
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan, seorang wanita naik ke panggung dari arah belakang panggung itu. Wanita itu cukup seksi, tubuhnya begitu sempurna untuk ukuran wanita. Tapi aku tahu siapa dia. Dia adalah mbak Murni, seorang janda kembang di desa kami dan hobinya memang menyanyi.
Dia naik panggung dan mulailah dia bernyanyi. Kali ini, sawerannya pasti dapat banyak seperti biasanya.
Aku cukupkan untuk berada di balai desa, aku pamitan pada Roni. Roni ingin menonton sejenak lagi katanya, Jono pun ikutan pulang bersamaku. Dia juga akan pergi kerja siang ini. Kami pun melewati beberapa kursi dan lewat belakang lalu keluar dari balai desa.
”Kenapa kamu langsung pulang Jono? Kamu tak suka musik dangdutan?”
”Setengah suka dan setengah tidak sih Bos.”
Aku lupa sedang bicara dengan siapa, Jono pasti punya jawaban aneh. Tanya kenapa aneh, bagaimana tidak ada jawaban setengah suka dan setengah tak suka. Memangnya ada orang tak aneh kalau menjawab setengah sehat dan setengah sakit ketika ditanya apakah kamu sehat? Atau ditanya mati atau hidup, dia menjawab setengah mati dan setengah hidup.
Aku memegang jidatku, ”Oke Jono, sampai ketemu di markas kerja kita.”
”Oke Bos!” Jon menjawab lantang.
Nah ini dia, kalau sudah jawaban begini kan enak didengar. Artinya jawabannya jelas dan tidak membuat pusing lagi.
”Bos! Nanti pulangnya bareng lagi ya?”
Masih sempat Jono mengatakan itu saat aku sudah menstater motor dan hendak pergi. Masih takut hantu lagi dia? Ah! Misteri ini sampai kapan akan terkuak, biar desaku menjadi pemberani. Jangan hanya pemberaninya siang hari saja.
Hmmm... aku pun mendesah dan melajukan motorku. Siap untuk kerja lagi.
@ @ @
Di pabrik, seperti biasa. Meskipun aku mandor, namun aku juga sebagai buruh. Aku membersamai, pak Ranu, Jono, Bondan, Bondan, Woko dan yang lainnya. Ada juga yang perempuan, mereka hanya memilih dan memilah sawit. Biasanya ketika sawit datang hanya ditimbang di dalam mobil dan langsung ditumpahkan.
Sebelum masuk penggilingan, banyak yang tercecer, para wanita mengumpulkan yang tercecer. Mereka juga mengumpulkan karnel yaitu bagian kecil dari sawit yang paling mahal untuk dibuat minyak standar internasional dan hanya untuk diekspor. Kita yang kebagian di luar karnelnya sehingga minyak kita yang dijual di pasaran itu sebenarnya minyak biasa dibandingkan dengan karnel yang dibuat minyak terbaik dari buah sawit.
”Tadi tidak ke balai desa pak Ranu?” aku bertanya pada Pak Ranu, dia sendiri tadi tak terlihat di tempat balai desa. Mungkin ada kesibukan di rumahnya.
”Bagaimana bisa ikut pak!” sela Sinta sambil memilah sawit yang lepas dari tandannya.
”Memangnya kenapa Mbak” mbak Sinta sendiri merupakan ibu yang baru memiliki satu orang anak, suaminya juga bekerja disini yaitu Aji.
Mbak Sinta menatapku sejenak, ”Pasti dilaranglah sama isterinya, apalagi kalau bukan karena ada janda kembang, mbak Murni yang seksi itu!”
Aku kaget, memang benar begitu? Dalam hatiku berbicara sendiri, takutnya tersinggung pak Ranunya.
”Ah! Itu omongan bohong tuh mas Adnan. Mana mungkin isteriku melarangku ke balai desa, aku memang lagi capek karena kerja di pabrik jadi istirahat saja di rumah.”
Oooo, aku menganggukkan kepalaku.
”Bohong bos Adnan! Benar yang dikatakan mbak Sinta,” kini, mbak Ratih yang lebih tua dari mbak Sinta ikut bicara, ”Lha isterinya pak Ranu kan cemburuan, dia kan sahabat baik saya. Itu pak Ranu kalau ngelihat janda kembang mbak Murni. Matanya melotot gak mau kedip – kedip dia!”
Mata pak Ranu jadi melotot kearah mbak Ratih. Waduh, bisa perang lagi ini. Belum juga target harian masih jauh, malah perang lagi. Aku jadi mandor mereka ini, mereka semua banyak gak cocoknya. Akhirnya, kalau sampai gak tembus target harian, aku pasti yang kena sial dimarahin bos pabrik.
”Sudah – sudah! Lanjutkan bekerja, kalau sampai ribut nanti target gak kekejar dan kita diminta lembur. Lalu kita akan melewati rumah tua di ujung jalan desa kita...”
Lunas, tak ada lagi yang mendengarkan kata – kataku lanjutan. Semuanya langsung diam dan meneruskan kerjaannya kembali dengan sungguh – sungguh. Ada baiknya juga mereka takut pada rumah tua itu meskipun itu tak baik sebenarnya. Mbah Pati itu orang baik, bahkan rumahnya pun sekarang dijadikan orang dengan isu rumah angker, bahkan disebut arwah mbak Pati bergentayangan.
Aku jadi salah lagi sekarang karena menyebar isu aneh itu. Aku menyesal.
”Oke semua! Lanjutkan kerjaan biar cepat pulang, dan gak usah takut dengan rumah tua. Mbah Pati orang baik, gak mungkin jadi arwah!”
Entah mereka dengar atau tidak apa yang aku ucapkan, itu sebagai pembela karena kelancangan omonganku barusan. Kalau bisa, semua orang harus mengerti kalau kita sebagai manusia itu tidak boleh takut dengan setan atau hantu.
”Tapi Bos!” kali ini Jono lagi yang bicara.
”Ada apa mas Jono?” jawabku pelan dan santai.
”Sudah ada yang bertemu dan bercerita bahwa dirinya bertemu dengan arwah mbah Pati. Saat itu, lek Mukri namanya. Dia bertemu langsung dengan arwahnya saat maghrib dan belum pulang saat tengah mengairi air dengan mesin di sawahnya yang berada dekat dengan barisan pohon bambu di sekitaran rumah mbah Pati.”
Semua orang di sekitar kami seolah mendengarkan, soalnya mereka bekerja dengan pelan. Apa mereka juga takut hal itu dan membenarkan cerita itu?
”Itu benar Bos...! Arwah...”
”Cukup! Darimana si pak Mukri itu tahu kalau itu arwah mbak Pati? Memangnya hantu itu sama wajahnya dengan mbah Pati?”
Jono menggelengkan kepalanya, ”Jadi ceritanya begini Bos! Saat itu, pak Mukri belum pulang karena tinggal sedikit lagi mengairi sawahnya yang berada di dekat barisan pohon bambu. Terus, ada suara yang datang dari arah belakangnya. Suara itu mengatakan, ’Gek balik Kri!’,” Jono menghentikan ceritanya sebentar. Dia sendiri memegang leher belakangnya, sepertinya dia ketakutan atau bulu kuduknya sendiri berdiri mungkin.
Orang – orang rekan kami bekerja juga mendengarkan dengan seksama, bahkan ada yang bergidik dan terlihat gerakannya menggetarkan punggung mereka saat duduk atau berdiri. Mereka semua ketakutan mungkin namun tetap saja mendengarkan kisah Jono.
”Lalu..., apa yang terjadi setelah itu?” aku bertanya penasaran lagi, ”Apa setelah pak Mukri menengok dia melihat mbah Pati?”
Jono agak memelankan ucapannya, ”Bukan begitu mas Bos! Jadi, pak Mukri dulu cukup dekat dengan mbah Pati dan dia hapal betul dengan suara mbah Pati. Dan, dia mulai ketakutan saat itu, hendak menengok ke belakang dia juga ragu. Saat itu, tubuh pak Mukri gemetaran dan hampir saja dia pingsan, lalu dia bertanya apakah akan menengok ke belakang atau tidak, lalu....”
”Sudah cukup Jono! Lihat semua oran sedang mendengarkanmu, mereka ketakutan semua. Katakan apa yang terjadi setelah dia menengok! Gak usah berbelit – belit!”
”I.. iya Mas Bos, maaf,” Jono memajukan kedua tangannya ke depan tanda meminta maaf padaku, ”Saat menengok itu, di balik pohon ada bayangan putih. Itu katanya sudah gelap dan temaram dan juga ada kabut. Dia berbaju putih dan itu adalah pocong Pak!”
Semua orang selain itu berjingkat dan bergidik, mereka semua sedari tadi memang mendengarkan dengan khusyuk cerita dari Jono ternyata. Aku sendiri saja yang masih diam dan masih berpikir keras, aku juga tak berjingkat sama sekali seperti yang lain.
Saat yang lain ketakutan dan bergidik, aku malah berpikir aneh. Kenapa pak Mukri mengatakan dan bercerita kalau dia bertemu dengan arwah mbah Pati? Padahal katanya itu pocong yang dilihatnya.
”Tunggu Jono, Sebentar,” aku memajukan tangan kananku tanda memperingati Jono untuk mendengarkan ucapanku, ”Pertanyaanku adalah, kenapa pak Mukri bisa yakin kalau setan yang menakutinya saat maghrib itu adalah arwah mbah Pati? Bukankah tadi katamu dia pocong berbaju putih?”
Jono menghembuskan napasnya agak cepat, sepertinya dia ingin menjawab pertanyaanku dengan yakin sekali, ”Pocong itu pasti arwah mbah Pati, itu kata pak Mukri. Pak Mukri itu adalah salah satu orang yang sering berbincang dengan mbah Pati selama hidupnya mbah Pati. Jadi, pak Mukri pasti paham akan hal itu.”
”Oke, tetapi apa buktinya? Apa wajah hantu pocong itu kelihatan dan wajahnya sama dengan mbah Pati?”
Jono sedikit berpikir, ”Jadi begini mas Bos! Waktu aku bertanya dan pak Mukri cerita, katanya itu pocongnya itu pakai peci...”
”Pffttt!” aku menahan tawaku, hampir saja aku meledak tawanya karena hal itu sungguh di luar dugaanku. Hampir saja aku tak bisa menahan diriku dan memukul bahu Jono karena hal itu sangat lucu dan goyonan yang tak lucu juga sama sekali. Namun, begitu aku melihat wajah Jono yang begitu serius aku jadi menggagalkan tawaku dan berusaha dengan keras menahannya. Pocong pakai peci?
”Oke Jono...” aku hampir tak bisa menahan tawaku lagi, ”Jadi, kenapa ada pocong memakai peci, dan apakah itu peci putih juga atau peci hitam?” semakin aku ingin menahan tawaku, semakin aku kesulitan berkata. Aku terus menahan tawaku karena Jono masih saja serius wajahnya. Yah! Itulah Jono salah satu buruh di bawah pengawasanku, humor dan serius tak ada bedanya.
Jono menurunkan bahunya lagi dan mencoba menjelaskan, ”Pocong itu pakai peci hitam mas Bos! Itu cerita dari pak Mukri dan semasa mbah Pati hidup dulu, dia tak pernah melepas peci hitamnya. Jadinya, pak Mukri begitu yakin kalau hantu itu arwah mbah Pati. Dia ingat betul bagaimana mbah Pati semasa hidupnya, dan juga suaranya, dan juga pecinya. Jadi..., hantunya juga pasti seperti mbah Pati yang selalu memakai peci hitam. Itu ciri khas hantu mbah Pati, pocong dengan peci hitam!”
Aku hampir saja pingsan dibuatnya, cerita Jono ini benar – benar lawakan hantu paling spesial yang ada di dunia ini. Kalau para produser film horor dan hantu – hantuan tahu akan hal ini, pasti mereka akan punya inspirasi.
Judul film terbaru mereka adalah Arwah Pocong Berpeci, dan ceritanya ada seorang lelaki tua yang meninggal di rumahnya sendirian dan selalu memakai peci. Dia berkeliling menakuti orang hidup sambil memakai peci saat berpocong atau pakaian pocongnya.
Aku menepuk jidatku sendiri!
Ya Allah! Kenapa ada humor hantu seperti ini, pocong pakai pecilah, pecinya hitam lagi, ini malah jadi layar kaca televisi jaman tahun 80 an, yaitu hitam putih. Hantunya hitam putih. Masyaallah!
”Baiklah Jono! Kita lanjutkan lagi kerjaan kita, target harus terpenuhi kalau kalian ingin bonusnya dapat!”
Semua orang kembali bekerja dan fokus kembali.
”Tapi pak,” Jono lagi, ”Anda percaya kan ada pocong pakai peci hitam?”
Seandainya aku punya tendangan super, pasti kali ini Jono sudah aku tendang dan tembok di pabrik itu roboh semuanya karena tertimpa tubuhnya karena tendanganku. Ya Allah..., sabarkanlah diriku ini...