Cinta Menyatukan Iman
Dinda Meminta Kejelasan
"Tidak usah, kalau lagi sibuk biarin saja," lanjut David ternyata ada Umminya Dinda di rumah membuatnya tidak enak jika harus mengobrol dengan Dinda di rumah.
"Saya mau ngomong sama kamu tapi takut Ummi denger gak apa-apa emang?" ujar David sambil melirik ke arah dalam rumah Dinda takut tiba-tiba Umminya dengar. Tiba-tiba mengganti subjek jadi ‘saya’
"Emang mau ngomong apaan?" tanya Dinda polos membuat David terkekeh melihat ekspresi cewek di depannya itu.
"Kok ketawa?" Dinda mengernyit bingung, apa ada yang salah dengan pertanyaannya ya? batin Dinda terus bertanya-tanya.
"Saya mau bahas hubungan kita sekaligus silaturahmi dengan Ummi kamu," jawab David dengan tersenyum simpul.
Mendengar jawaban David membuat Dinda sedikit gugup, "Ya sudah gak apa-apa ngomongnya di sini saja," pekik Dinda.
Kali ini David yang terkejut dibuatnya, "Seriusan gak apa-apa?" tanya David ragu.
"Iya gak apa-apa, di rumah cuma ada Ummi saja kebetulan Abi sedang ke luar kota untuk menghadiri acara di sana," terang Dinda dengan tersenyum tanpa David sadari Wilda sudah tahu tentang hubungan anaknya ini meski ya hanya sekadar dugaan saja.
"Okey, sebelumnya saya minta maaf sama kamu Din, kalau saya jarang kasih kabar bukan bermaksud menghilang atau menjauh tapi, seperti yang sudah saya jelaskan di chatting saya takut akan membawamu ke dalam kemaksiatan," ujar David memulai perbincangan dengan Dindanya langsung.
"Aku mengerti Dav, ini memang salahku yang mungkin terlalu egois tapi kamu gak usah khawatir aku baik-baik saja kok aku cuma sedikit bingung saja gitu."
"Dinda ada siapa?" tanya Wilda yang samar-samar mendengar suara laki-laki.
Dinda dan David langsung menoleh ke dalam rumah, "David Mah, anaknya om Nathan."
"Eh ada Nak David," ujar Wilda ketika mendapati David berada di rumahnya.
"Sore Tante," sapa David sambil mencium tangan Umminya Dinda dengan lembut.
"Sore juga Nak David, bagaimana kabarmu Nak?" seru Wilda sudah lama dia tidak mendengar kabar David lagi setelah kejadian pengusiran itu dan terakhir dia mendengar dari anaknya jika David pergi ke rumah kakek dan Neneknya di Eropa.
"Alhamdulillah Tante baik, oh ya ini ada oleh-oleh dari Mamah untuk Tante." David pun memberikan hadiah kepada Wilda atas titipan Mamahnya.
"Ya Allah dapat oleh-oleh makasih Nak David sampaikan juga salam Tante untuk Mamahmu di sana," kata Wilda terharu saat mendapatkan hadiah dari Angelia.
"Iya Tante nanti aku sampaikan salam dari Tante." David tersenyum hangat kepada Wilda hatinya deg-degan jika sudah berhadapan dengan orang tua Dinda.
Sesaat pandangan Wilda tertuju pada meja, "Dinda kok tidak diambilkan minum, Nak?" pekiknya sambil menatap anaknya yang sedang duduk.
Seketika Dinda pun menggigit bibir bawahnya, "Astagfirullah maaf Mi, aku lupa Dav, sebentar ya aku ambilkan minum dulu!" pamitnya kepada David membuat cowok itu menganggukan kepalanya.
"Ya sudah kamu ngobrol aja dulu sama Dinda ya, Tante sedang mendata tidak bisa ikut bergabung," terang Wilda yang kembali pergi masuk ke dalam.
Untung saja ada titipan dari Mamahnya untuk Umminya Dinda jadi dia bisa mengantarkannya langsung ke rumah Dinda sambil ketemu dengan cewek itu.
"Baik Tante." David menyahut sembari tersenyum dia senang mendapatkan sikap ramah Umminya Dinda kepadanya.
Seketika itu juga David bisa bernapas lega setelah kepergian Wilda detak jantungnya pun sudah kembali normal.
Tidak lama kemudian Dinda datang dengan membawa nampan berisi minuman serta makanan.
"Ya ampun Din, tidak usah repot-repot aku dah kenyang habis makan," pekik David sambil mengambil alih nampan yang dibawa Dinda dan menaruhnya di atas meja.
"Tidak apa-apa di rumahku tidak ada makanan enak jadi seadanya saja ya," ujar Dinda takut jika makanan bikinannya ini tidak berselera di lidah David.
"Ettt tidak apa-apa saya mah apa saja di makan kok lagi pula lidahku sudah terbiasa dengan masakan betawi serta makanannya," terang David sambil mengambil air minumnya.
"Tadi Ummi gak ngomong macam-macam kan?" tanya Dinda khawatir jika Umminya berkata hal yang tidak-tidak kepada David.
Mendengar Dinda bertanya itu David segera menggelengkan kepalanya, "Tidak ada memangnya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa sih ya takutnya kan." Umminya Dinda tahu jika Hakim suka dengan Dinda sedangkan hatinya sudah menyimpan nama cowok lain karena itu Dinda takut Umminya akan bercerita kepada David.
Dinda pun menarik napasnya yang terasa ringan mendengar jika Umminya tidak berbicara apapun kepada David.
"Bagaimana suka tidak bajunya? Aku beli samaan loh," kata David mengalihkan topik pembicaraan.
Seketika Dinda jadi ingat dengan baju dari David untuknya. "Ah aku sangat suka apalagi itu dari luar negeri tapi kenapa belinya samaan?" Dinda kembali bertanya dengan polosnya.
"Ya gak apa-apa buat kenangan saja kalau aku pernah beliin hadiah buat lo," sahut David dengan santainya padahal Dinda mengharapkan jawaban David yang lain.
Dinda pun terdiam pikirannya kembali teringat akan perkataan Najma waktu itu bagaimana pun jodohnya tidak ada yang tahu jadi dia tidak bisa bersikap egois untuk memilih laki-laki sebagai jodoh kita kelak begitu pun dengan David.
Melihat Dinda yang nampak sedih membuat David mengernyit heran. "Ada apa Din, kok kelihatan sedih gitu?"
Dinda berusaha menahan diri untuk tidak menangis di depan David, "Tidak apa-apa Dav."
"Jangan bohong Din! Kalau ada yang ingin ditanyakan silahkan tanyakan saja," pinta David yang mengetahui jika sebenarnya ada sesuatu yang sedang Dinda sembunyikan darinya.
Akhirnya Dinda pun mau berkata jujur sehingga hatinya bisa merasa tenang.
"Maaf sebelumnya Dav, aku ingin bertanya sebenarnya apa alasan kamu mendekatiku? Kamu tahu bukan, jika agama kita tidak boleh berpacaran maka dari itu aku ingin tahu kemana arah kedekatan ini?" pekik Dinda dengan lirih dia pun menundukan pandangannya dalam.
David ingat betul jika Dinda pun menanyakan hal ini di chatting namun tidak dia bahas mendengar pertanyaan Dinda sangat membuat David bingung bagaimana harus menjelaskannya.
"Aku mengerti Din, makanya aku menyuruh kamu untuk menjaga komitmen," sahut David menatap Dinda teduh berharap cewek ini mau mengerti.
"Dav, aku akan siap buat menjaga komitmen namun apa daya jika hubungan kita pun tidak jelas arah tujuannya." Dinda terus memancing David agar paham apa maksud hatinya.
David yang langsung mengerti arah pembicaraan Dinda dia pun merasa bingung sendiri pasalnya dia belum siap untuk menikahi Dinda apalagi dia masih sibuk dengan urusan kantor Papahnya itu.
"Lalu apa yang kau inginkan untuk bisa berkomitmen denganku?" ujar David dengan nelangsa dia ingin tahu apa yang Dinda inginkan untuk hubungannya selanjutnya.
Mendengar pertanyaan David membuat Dinda kesal karena David tak kunjung mengerti, "Ya aku ingin kau mendekatiku dengan niat untuk yang lebih serius bukan hanya sekadar hubungan biasa saja tanpa arah tujuan."