Cinta Menyatukan Iman
Masa Lalu Alex dan Dinda
"Bukan gitu Lex, di saat cewek takut untuk pacaran dia memang ingin si laki-laki yang mendekatinya itu berniat untuk menikah bukan untuk main-main saja makanya Dinda menyuruh David menjauh karena dia mengira bahwa David tidak serius padahalkan dia ingin mempunyai istri seperti Dinda, hanya saja waktunya mungkin yang kurang tepat." Hamdan membenarkan apa yang dikatakan Alex tidaklah benar, dia tahu benar Dinda yang takut jika didekati oleh cowok apalagi saat Alex jatuh hati kepada Dinda.
David tertawa mengingat bahwa Alex pernah menembak Dinda, "Tuh dengerin Lex wanita seperti Dinda tuh patut diperjuangkan dan diberi kepastian jika tidak mungkin saja akan ada cowok lain yang menikahinya duluan itulah yang gue takutkan Dan," ujarnya lirih.
"Ya mungkin saja Dav, tapi ya emang pas gue PDKT sama Dinda sumpah gue deg-degannya minta ampun Dav, apalagi pas ketemu sama Abinya huhf panas dingin gue," ungkap Alex akhirnya berterus terang.
"Lah lo udah bertemu dengan Abinya Dinda Lex? Wihh keren juga lo gue aja belum baru dekat dengan Umminya doang," seru David tidak percaya dengan kejujuran Alex kali ini.
Tawa Alex pun pecah menyadari jika dia sudah membuka rahasianya kepada David yang kini sedang jatuh cinta kepada Dinda, "Wkwkwk iya Dav, dulu kan gue ngira kalau mau mendekati Dinda ya harus langsung bertemu dengan orangtuanya dulu sorry nih bro kalau gue ngomong kaya gini tapi itukan udah lalu jadi tidak usah dibahas lagi ya!"
Alex meminta maaf karena merasa tidak enak hati dengan David.
"Eh seharusnya gue yang minta maaf sama lo Lex jangan-jangan lo masih ada benih-benih cinta sama Dinda lagi sekarang," sergah David dia ingat akan cerita Gio dulu saat di perpustakaan tentang hal ini.
"Hahaha nah kan Lex kebuka juga rahasia lo," tukas Hamdan sembari tertawa perdebatan ke dua temannya yang saling menjelaskan satu sama lain membuatnya terkesan lucu sehingga tidak bisa lagi untuk menahan tawanya.
Alex pun mengusap wajahnya mengingat kejadian dulu dia berniat untuk merahasiakannya dari David saat tahu jika cowok itu kagum dengan Dinda, "Iya Dav, tidak masalah lo santai aja gue udah lupa kok sama Dinda tapi ya kalau udah kebuka gue mau jujur sama lo Dav, kalau gue pernah kesal saat denger cerita Hamdan pas lo mulai suka sama Dinda namun seiring berjalannya waktu gue bisa lupain Dinda dan mencari pengganti cewek itu lagian menurut gue ya gitu Dinda mau menjalani hubungan dengan cowok yang serius sedangkan gue waktu itu hanya ingin kenal lebih dekat saja sama dia," ungkap Alex akhirnya berterus terang.
"Ya Allah Lex gue jadi gak enak sama lo maafin gue Lex, sebenarnya gue juga udah tahu dari Gio waktu itu kalau lo pernah nembak Dinda," terang David akhirnya.
"Nah kan ternyata kalian sama-sama udah tahu tapi diam-diam aja ya," pekik Hamdan dengan terkekeh mengetahui kenyataan itu.
"Ya baguslah kalau begitu lebih baik diam dan menjaga perasaan orang dari pada musuhin orang tidak jelas gara-gara cewek," sahut Alex dengan santai rupanya dia sudah melupakan semuanya.
Dalam hati David ingin tertawa namun kini dia hanya bisa senyum mengetahui kenyataannya, "Bener tuh gue setuju yang lalu biarlah berlalu terus apa pendapat kalian tentang ini sumpah gue bingung banget Dan, Lex."
Hamdan menarik napasnya dan mengembuskannya perlahan sebelum menjawab pertanyaan David, "Ya gue sih gak bisa ngasih jawaban Dav, karena semua jawabannya sudah ada pada diri lo, kalau lo gak mau kehilangan Dinda ya berta'aruf dengannya lagian juga kalian belum saling mengenalkan, dan gue mau nanya sama lo target nikah lo berapa Dav?"
"Di saat umur gue 24," sahut David dia memang merasa di umur segitu sudah pas untuknya bisa menikahi seorang gadis.
"Nah kalau begitu kembali lagi sama diri lo mau melepaskan Dinda untuk diambil cowok lain atau mengikatnya terlebih dahulu dalam ikatan yang suci?" tanya Hamdan lagi.
"Iya Dav, lo itu sudah hampir mendekati sempurna pintar iya, ganteng iya, tajir iya kurang apalagi coba kalau bukan ilmu agama lo yang mungkin butuh mempelajari lebih dalam lagi." Kini giliran Alex yang membuka suara.
David terdiam semuanya memang ada pada dirinya sendiri tapi kenapa dia ragu untuk menikahi Dinda. "Menurut lo pada setelah wisuda apakah itu pas untuk langsung menikah?" tanyanya.
"Pas-pas aja buat lo tapi tidak buat gue yang belum punya kerjaan tetap, dalam Al-quran kan menganjurkan 'menikahlah jika kau sudah mampu' dan lo udah mampu untuk itu Dav," sahut Hamdan dengan tegas, dia sendiri sebenarnya jika sudah mendapat pekerjaan mau menikahi gadis orang tapi kan siapa? Belum ada cewek yang bisa membuka hatinya untuk saat ini.
"Coba pikirkan lagi Dav, baik-baik kita berdua akan mendukung apapun keputusan lo tapi ya sangat disayangkan jika lo mengambil keputusan yang salah dalam hal ini," tukas Alex sumarah pada keputusan David namun dia takut temannya ini akan salah mengambil keputusan.
"Ya sudah thank ya bro mungkin nanti gue kabarin lagi kalau gue udah ambil keputusan."
Ke dua temannya ternyata menyerahkan semuanya kepada dirinya sendiri tapi ya David senang karena mereka sudah memberikan saran dan dukungan atas apa yang akan dia lakukan.
"Ya sama-sama bro," sahut Hamdan dengan tersenyum.
David jadi ingat akan sesuatu yang harus dia sampaikan kepada teman-temannya juga.
"Ah ya besok gue mau pergi ke luar kota buat hadirin rapat sekalian gue mau buka bisnis di sana," ungkap David seraya memberitahu kepada teman-temannya akan kepergian dirinya besok.
"Wahh enak banget bisa sekalian liburan nih," seru Hamdan mengetahui jika David pergi rapat setelah ujian selesai.
"Iya ajak kita atuh Dav, liburan," pekik Alex merajuk ingin ikut bersama David berlibur.
Mendengar ucapan Alex membuat David bingung sedangkan dia tidak ada waktu kosong untuk mengajak kedua temannya jalan-jalan.
"Gue bukan mau liburan ke Bandung tapi ada kerjaan kalau kalian mau liburan bareng tunggu gue balik ya!" sahut David akhirnya membuat keputusan.
Hamdan tertawa mendengar ucapan David dia mengerti apa yang terjadi, "Iya Dav gue paham kok lo jangan dengerin omongannya si Alex dia mah emang gitu."
"Ya gue juga ngerti kok Dav tapi berapa lama lo di sana hah?" Alex pun buka suara saat Hamdan membicarakannya.
"Satu minggu," sahut David sambil berjalan duduk kakinya terasa pegal sejak tadi terus berdiri.
"Lumayan lama juga ya, yaudah gak apa-apa yang penting nanti kita bisa pergi liburan bareng," pekik Hamdan dia akan sabar menunggu kepulangan David nanti.
Alex pun mendengus mendengar bahwa David akan pergi selama satu minggu, "Iya gak apa-apa deh yang penting nanti liburan bareng yang ada nanti David keburu nikah duluan lagi terus kita belum liburan bareng."