Cinta Menyatukan Iman

Pergi ke Bandung

"Eh awas aja ya lo kalau ternyata lo duluan yang nyebar undangan," ancam David mendengar perkataan Alex yang terus mengejeknya karena sedang membahas masalah ini.

 

Lagi-lagi Hamdan dibuat tertawa oleh perkataan Alex. "Wkwkwk lo ada aja Lex."

 

"Hahaa ya kan takutnya Dav, santai aja kali." Alex menyahut dengan sisa tawanya.

 

"Udah-udah yang penting kita liburan nantinya tapi ke mana ya yang bagus?" ujar Hamdan bingung memikirkan tempat wisata yang menarik dan nyaman.

 

"Masih lama liburannya gak usah bahas sekarang nanti aja yang ada tidak jadi pergi lagi," gerutu Alex dengan kesal dia paling malas jika sudah ada rencana mau pergi ternyata batal.

 

"Wkwk ya udah kalau gitu nanti aja di omongin lagi eh nanti dulu ya ada tamu." David pun langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku baju.

 

Suara ketukan pintu membuatnya kaget dan David pun langsung masuk ke dalam ruangannya dia duduk di bangku kerjanya.

 

"Masuk!" pinta David dengan sedikit teriak.

 

Ternyata Lala yang telah mengetuk pintu ruangannya, "Permisi Tuan muda saya mau memberikan laporan keuangan kemarin," katanya dengan menunduk di tangannya sudah memegang map berwarna merah.

 

"Oh taruh saja di meja nanti saya akan memeriksanya," kata David tanpa menoleh ke arah Lala.

 

Mendengar arah dari bosnya Lala langsung menaruh map laporan yang sudah dia rapihkan tadi di atas meja kerja bosnya ini. "Saya permisi keluar Tuan muda."

 

Seketika David teringat akan sesuatu yang ingin disampaikan kepada Lala, "Tunggu dulu!" sergahnya menghentikan langkah kaki Lala.

 

"Ada apa Tuan?" sahut Lala yang kembali mendekat.

 

"Besok akan ada rapat di Bandung saya mau kamu ikut nemenin saya ya dan tenang saja untuk gaji saya akan tambah sesuai kinerja Mbaknya," ujar David membuat mata Lala berkaca-kaca.

 

"Ah seriusan Tuan?" tanya Lala dengan keraguan di dalam hatinya.

 

Dengan cepat David menganggukan kepalanya, "Iya benar saya, Mbak Lala dan Pak Hartono jadi bersiaplah untuk kepergiannya besok!"

 

"Siap Tuan terima kasih banyak atas kepercayannya saya permisi pergi," tukas Lala sambil berlalu keluar dari ruangan David.

 

Setelah Lala keluar dari memejamkan matanya pada lipatan tangannya di meja rasa kantuknya mulai menyerang dirinya.

 

Sedangkan Dinda pikirannya masih tidak fokus saat pergi dengan Mira dan Najma ke gudang buku selama perjalanan dia diam tanpa banyak suara membuat kedua sahabatnya itu bingung apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Dinda.

 

"Din," tegur Mira sambil menepuk bahu sahabatnya itu.

 

Mata Dinda langsung mengerjakan karena kaget, "Ya kenapa udah nemu bukunya?" sahutnya dengan panik.

 

"Hey aa apa kamu Din?" pekik Najma bingung dengan sikap Dinda akhir-akhir ini.

 

"Tidak ada apa-apa yuk cari lagi bukunya gue juga mau nyari di rak sana ya!" kata Dinda dan berjalan pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang mengernyit bingung.

 

"Kenapa dia Naj?" tanya Mira menepuk bahu Najma yang diam menatap kepergian Dinda.

 

Najma pun menoleh kepada Mira, pasti Dinda tidak bercerita dengan Mira tentang David jadi dia memilih untuk diam.

 

"Tidak tahu tuh yuk ke sana nyari buku lagi," ajak Najma mengalihkan perhatian Mira tentang urusan Dinda.

 

Mira baru pulang kampung satu bulan yang lalu jadi dia tidak tahu apa-apa mengenai Dinda, dan sepertinya Dinda pun ingin menyembunyikannya kepada orang-orang.

 

Sikap Dinda yang aneh hari ini membuat Najma bingung padahal terakhir dia dengar hubungan Dinda dan David baik-baik saja setelah sahabatnya itu mendapatkan hadiah dari David.

 

Karena besok akan berangkat David menghubungi orang tuanya terlebih dahulu di sana untuk mengabarkan kepergiannya.

 

"Hallo Mah," ujar David saat panggilan telah tersambung.

 

"David apa kabar Nak? Puji Tuhan Mamah rindu sekali sama kamu Nak, bagaimana kerjaannya tidak ada masalah bukan?" Anggelia terus memberikan David pertanyaan membuat anak laki-lakinya itu tersenyum.

 

Kebiasaan Mamahnya ketika David tidak memberi kabar padanya jadi akibatnya dia akan ditanya-tanya mengenai kesibukannya.

 

"Alhamdulillah David baik Mah, kerjaan pun berjalan dengan lancar," sahut David dengan santai.

 

"Puji Tuhan Mamah senang mendengarnya Nak," ungkap Anggelia dengan mengembuskan napasnya yang terasa ringan.

 

"Mah, Papah ada? Aku ingin berbicara dengan Papah boleh? Soalnya tadi aku menelpon Papah ponselnya tidak aktif," ujar David dia akan memberitahu Papahnya terlebih dahulu.

 

Anggeli pun langsung memanggil suaminya dengan berteriak sehingga David yang mendengarnya tertawa, pasti Papah akan marah mendengar rewelnya Mamahnya ini.

 

"Ada apa sih teriak-teriak?" tanya Nathan dengan kesal.

 

Anggelia pun memberikan ponselnya kepada Nathan membuat suaminya itu bingung, "David Pah dia mau ngomong kayanya," katanya yang mengerti akan kebingungan suaminya ini.

 

"Hallo Nak." Akhirnya terdengar juga suara Papahnya membuat David langsung menyahut.

 

"Iya Pah, bagaimana kabarnya? Dan kapan pulang Pah?" David berseru dia sangat merindukan orang tuanya terlebih dia ingin melepaskan kembali pekerjaan kantornya kepada Papahnya.

 

Nathan mengerti apa yang dirasakan David dia sudah mendengar aduan dari para pembantu rumahnya serta seketarisnya tentang David dan keseharian anaknya itu bahkan dia mendengar David yang bergadang hingga larut malam untuk mempersiapkan ujian kuliahnya membuat Nathan bangga memiliki anak yang disiplin dan menghargai waktu seperti David.

 

"Bulan depan Nak Papah dan Mamah akan pulang ke Jakarta kakakmu sedang hamil besar dia ingin ketika lahiran nanti ada Mamah di sampingnya," sahut Nathan dengan berat hati dia mengundurkan waktu kembalinya untuk anak beserta istrinya.

 

David pun menganggukan kepalanya kakaknya pasti membutuhkan Mamah di sana di saat hamil anak pertamanya, "Ya sudah Pah tidak apa-apa lagipula aku baik-baik saja kok di sini, dan besok aku harus berangkat ke Bandung untuk menghadiri rapat serta ada pertemuan dengan perusahaan industri," jelas David memberitahu sambil meminta nasehat Papahnya tentang bagaimana menghadiri rapat antar pengusaha.

 

Tanpa diminta pun Nathan akan memberitahu anaknya ini, akhirnya Nathan memberikan arahan-arahan untuk David serta trik-trik yang harus David lakukan.

 

Setelah memutuskan sambungan telepon secara sepihak David langsung memilih pulang setelah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di kantor.

 

***

 

Keesokan harinya David langsung pergi dengan mobil pribadinya yang membawa mobil kali ini adalah Pak Hartono langsung.

 

"Tuan muda David apakah nanti kita akan bermalam di villa?" tanya Lala ingin tahu apakah David akan memilih villa atau hotel untuk kamar inapnya.

 

Hal itu memang sudah David pikirkan dan untung saja dia punya kenalan di Bandung, "Iya kita akan bermalam di villa saya sudah memesankannya untuk kalian berdua," sahutnya santai.

 

Lala tersenyum senang, sejak kantor dipimpin oleh David dia mendapatkan kembali kepercayaan bos nya dan baru kali ini dia bisa ikut rapat semenjak masalah yang menimpanya dulu di kantor.

 

Perjalanan dari Jakarta ke Bandung cukup memakan waktu satu hari karena perjalanan yang tidak selalu lancar kemacetan terus terjadi yang membuat perjalanan mereka terganggu.

 

"Tuan David tidur aja dulu tidak apa-apa," tukas pak Hartono yang melihat David terus menguap menahan kantuk.

 

"Iya sepertinya aku harus tidur sebentar," katanya lalu David pun memilih tertidur saat merasa lelah sebab menunggu mobil kembali jalan dengan lancar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!