Cinta Menyatukan Iman

Mengerjakan Tugas Kuliah

Sudah dua hari ini hobby Dinda membaca novel karena dia tidak tahu lagi harus ngapain, meski banyak tugas dia merasa malas jika tidak dikerjakan bareng David, sedikit lebay tapi itulah Dinda.

 

*Ratna

"Hallo Din, mau kapan ngerjain tugas kelompoknya?"

 

Terdengar notif pesan di ponsel Dinda membuatnya langsung meraih ponselnya yang tergeletak di sampingnya dia mengira bahwa itu pesan dari David ternyata dari Ratna teman kelasnya.

 

"Yaudah kamu ke rumah aku aja Rat, nanti ngerjain tugasnya di sini."

 

Setelah UTS kuliah berubah menjadi daring enak sih karena gak harus ke kampus lagi tapi tetap saja tugas bertambah banyak hampir semua dosen memberikan tugas dan tugas. Makalah, presentasi serta ppt membuat para mahasiswa gumoh dengan semua tugas itu.

 

*Ratna

"Oke otw."

Setelah membaca pesan Ratna, Dinda langsung beranjak turun ke bawah dia mau menyiapkan makanan terlebih dahulu untuk menemaninya mengerjakan tugas kuliah.

 

"Neng Dinda mau ngapain?" tanya Bi Siti pembantu rumah tangga Dinda yang sudah seminggu menemaninya di rumah karena Wilda pergi menemani Abinya di luar kota.

 

"Aku mau bikin cemilan Bi, soalnya di ruang tamu cemilannya udah habis," kata Dinda yang sibuk mencari bahan-bahan masaknya.

 

Bi Siti kadang suka heran dengan majikannya, bukankah lebih simple membelinya di supermarket tapi Dinda memilih untuk membuatnya sendiri karena bagi Dinda dia bisa sambil belajar dan hasilnya pun banyak jadi tidak boros uang begitu katanya saat dia bertanya kepada Dinda sendiri.

 

"Mau Bibi bantu neng?" tanya Bi Siti.

"Tidak usah Bi, Bibi udah mengerjakan tugas rumah seharian Bibi udah makan?" tanya Dinda tapi matanya tidak menatap pembantunya itu dia sibuk mencari bahan masaknya yang harus disiapkan.

 

"Belum neng, nanti saja Bibi belum beres-beres dapur," sahut Bi Siti sambil tersenyum.

 

"Biar aku saja Bi, yang beres-beres dapur sekarang Bibi pergi makan aja ya nanti sakit kalau telat makan mah," kata Dinda seraya menatap Bi Siti, dia memang tidak pernah menganggap Bi Siti sebagai pembantunya malah menganggap Bi Siti sebagai saudaranya sendiri.

 

"Baiklah Bi Siti pergi dulu ya Neng Dinda hati-hati masaknya," pesan Bi Siti sebelum pergi meninggalkan Dinda di dapur.

 

Saat ini Dinda ingin memasak cemilan kering yaitu stik kentang dan keripik kentang karena di kulkasnya cuma ada kentang saja yang sudah dikupas kulitnya.

 

Dinda sibuk memotong-motong kentangnya tiba-tiba ponselnya menyala menampilkan pesan dari Najma yang ingin ke rumahnya mengantarkan sepatu yang dipinjam Najma waktu itu.

 

Hari ini jadwal David pergi ke pusat perbelanjaan di Bali bersama Hamdan dan Alex.

 

"Dav, jujur gue baru kali ini pergi jalan-jalan jauh banget," pekik Alex saat berkeliling pasar.

 

"Bagus kalau gitu jadi kan kesannya Lo berdua pertama kali ke Bali bareng gue kan pasti nama gue jadi kesebut terus kalau kalian ingat Bali," sahut David sambil terkekeh kecil.

 

"Ya elah harusnya gue ke Bali bareng ayang ini," celetuk Hamdan mengingat begitu banyak pasangan yang asik memilih barang antik.

 

"Najma maksud Lo?" sahut Alex memperjelas.

 

"Iya Dan, kapan-kapan Lo ajak Najma ke sini gue sih niatnya mau bulan madu di sini sama Dinda," tukas David sambil tersenyum sebelah alisnya terangkat ke atas.

 

"Busett dahh Dav, Lo belum nikah Udah mikirin honeymoon aja," cibir Alex terkejut mendengar ucapan David yang sudah gak sabaran.

 

"Jangan disini Dav, di luar negeri aja bikinnya biar nanti kalau berhasil anak Lo jadi made bye Eropa gitu misalnya kan menarik tuh wkwk." Hamdan terkekeh membayangkannya.

 

"Btw Lo mau bikin anak berapa Dav, sama Dinda gue minta jangan satu ya bikinnya nanti gue sama Hamdan rebutan anak Lo lagi," tukas Alex yang maksudnya dia ingin nikah sama anaknya David.

 

"Gila lo mau nunggu anak gue lahir, yang ada udah jadi kakek-kakek lo," sahut Hamdan sambil menoyor kepala Alex yang kadang-kadang eror.

 

"Ya gak apa-apa siapa tahu anaknya David beneran suka sama gue," ujar Alex tanpa dengan gayanya yang sok cool.

 

David terkekeh, "Kalau bapaknya gak izinin gimana? Ya kali anak gue nikahnya sama om-om kayak seumuran dia gak ada yang tampan aja."

 

Hamdan menghampiri Alex yang sedang memandang pantai Bali, "Lex, gue punya cewek nih buat lo dia orangnya cantik deh Lo mau gak gue kenalin?"

 

"Ogah gue bisa cari sendiri, lagian cewek yang dikenalin sama Lo mah gak ada yang bener masa dia jodohin gue sama si Bella sih?" Alex memang selalu dijodoh-jodohkan oleh Hamdan karena dia selalu gagal dalam percintaan tidak seperti Hamdan yang calm jadi semua cewek naksir sama dia meski dia tidak menggodanya terlebih dahulu.

 

"Kalau menurut gue sih kayaknya Renata suka sama Lo deh Lex, lo sadar gak sih setiap kita main basket malam pasti Renata hadir dan gue yakin dia hadir buat nonton Lo doang," tukas David mengingat teman kelasnya yang selalu muncul di lapangan basket.

 

"Renata kelas akuntansi itu?" tebak Alex mencoba mengingat sosok wanita yang disebutkan David.

 

"Tapi Renata kan calm sedangkan Lo bar bar banget Lex kayaknya gak cocok deh Dav!" kata Hamdan sambil menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan usulan David.

 

"Eh kata siapa gak cocok? Renata calm sedangkan Alex bar bar mereka berdua itu saling melengkapi dong, kayak gue aja sama Dinda sikap gue emosian sedangkan Dinda layaknya es yang bisa menenangkan."

 

"Bucin banget Lo Dav, mentang-mentang udah berhasil dapetin Dinda ya jadi bikin iri kita-kita terus," celetuk Alex merasa tersindir terus.

 

"Eh eh stay halal brother! Gue yakin kalian berdua juga bakal menemukan jodoh kalian masing-masing kita sebagai cowok harus bisa kerja dulu biar mudah nyari ceweknya jadi kalau pun pengen langsung nikah finansial kita udah ada," pesan David kepada kedua sahabatnya dia juga belajar dari Raka sahabatnya yang di Eropa yang kini sudah menikah.

 

"Aamiin, yuk ke sana yuk gue pengen beli topi tau Dav!" ajak Alex sambil menunjuk penjual topi.

 

"Yuk!" Mereka bertiga pun akhirnya kembali berjalan untuk berbelanja.

Tok … tok ….

"Assalamualaikum," teriak Najma dengan kencang.

 

"Waalaikumsalam, cari siapa neng?" tanya Bi Siti yang membukakan pintunya.

 

"Dinda, saya Najma temennya ada di rumah kan Dindanya Bi?" untung saja Najma tahu jika di rumah Dinda ada pembantu baru jadi dia tidak kaget melihat Bi Siti yang keluar dari rumah sahabatnya ini.

 

"Oh kalau gitu masuk dulu Neng nanti Bi Siti panggilkan Neng Dindanya," ujar Bi Siti mempersilahkan.

 

"Dindanya di kamar ya Bi?" tanya Najma penasaran.

 

"Neng Dindanya di dapur lagi masak," sahut Bi Siti sambil tersenyum.

 

Najma pun terkejut mendengarnya dia buru-buru melepas sepatunya untuk masuk ke dalam rumah Dinda, "Makasih Bi, biar saya aja deh yang langsung temuin Dindanya," katanya sambil nyelonong masuk ke dalam rumah.

 

Dinda memang sedang asik menata kentang yang sudah digorengnya di toples, tiba-tiba sebuah tangan menutupi kedua matanya membuatnya terkejut.

 

"Duh siapa sih ini? Lepasin dong lagi masak nih nanti gosong," teriak Dinda seraya meraba pemilik tangan yang sudah menutupi matanya.

 

Begitu Dinda merasakan sesuatu dia akhirnya bisa menebak siapa pemilik gelang yang dipakai tangan itu.

 

"NAJMA LEPASIN!!" teriak Dinda dengan kencang. "Aku tahu ini kamu Najma?"

 

"Ya kok ketebak sih Din?" ujar Najma kesal dia meletakkan tasnya di atas meja.

 

"Aku kenal sahabatku punya gelang ini!" Dinda meraih gelang yang dipakai di sebelah kanan tangan Najma dengan huruf N.

 

"Oh iya pinter banget sih kamu eh bau apa nih kok kayak bau gosong ya?" tiba-tiba Najma mencium bau tak sedap.

 

Dinda langsung membalikan badan menatap kentang yang masih di penggorengan yang sudah gosong dengan cepat dia pun mematikan kompornya. "Najma ini tuh gara-gara kamu tahu aku jadi lupa mengangkatnya," rengek Dinda kesal karena cemilannya gosong.

 

"Ya ampun Din maafkan aku, aku tidak niat membuat kacau aku hanya ingin membuat surprise untuk kamu," sahut Najma ikut meringis melihat keripik kentangnya gosong.

 

Dinda pun tersenyum memaafkan Najma disa hanya kaget saja melihat keripik kentangnya jadi gosong.

 

Tidak lama kemudian Ratna pun datang dengan membawa leptop miliknya, Dinda mengajak Najma untuk ikut belajar bersama. Najma dan Dinda berbeda kelompok meski begitu Najma kebagian membuat makalah oleh teman-teman kelompok jadi mereka membuat malakah bersama. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!