Cinta Menyatukan Iman

Bukan Takdirnya

Dinda menghampiri Abinya yang sedang duduk di depan rumah sambil membaca koran.

 

"Abi," panggil Dinda sembari jalan di depan Abinya dan duduk di sampingnya.

 

Azmi pun menoleh mendapati putrinya yang sudah datang. "Kamu gak pergi kuliah hari ini?" tanyanya.

 

"Tidak Bi, hari ini libur paling ada tugas aja yang belum diselesaikan, Abi manggil Dinda ada apa?" Dinda memang selalu deg-degan jika dipanggil Abinya dia takut kalau ada sikapnya yang salah atau bahkan akan mengungkit hubungannya dengan David.

 

Azmi meletakkan korannya di atas meja lalu menyeruput secangkir kopinya, "Abi ingin tahu apa kamu benar-benar ingin menikah muda?"

 

"Na'am Bi, tidak ada lagi hubungan yang diridhai Allah selain pernikahan," jawab Dinda tegas.

 

Jika dulu dia selalu gemetaran saat ditanya soal fiqih atau hafalan sama Abinya tapi kini telah berubah Dinda sudah dewasa, pikir Azmi dalam hatinya.

 

"Apa kamu yakin David laki-laki baik yang akan kamu jadikan suamimu kelak?" Azmi masih melontarkan pertanyaan mengenai David yang kemarin malam datang melamar putrinya.

 

Dinda menelan ludahnya, tenggorokannya terasa kering sekali, "Insya Allah Bi, aku yakin jika David adalah laki-laki baik yang ditakdirkan Allah untuk menjaga dan menuntun Dinda ke jalan yang lebih baik."

 

"Bukankah David seorang mualaf? Apa karena kamu yang telah merubahnya?"

 

"David mualaf karena dia cinta dengan Al-Qur'an, dia cinta dengan Islam bukan semata-mata untuk bisa bersama dengan Dinda, apa Abi masih meragukan David sedangkan Abi tidak pernah tahu pengorbanan Dinda dan David selama ini?" Dinda jadi tersulut emosi mendengar Abinya meragukan laki-laki yang akan menjadi suaminya.

 

Azmi menatap putrinya, "Nak, kamu sudah tumbuh dewasa sejak kecil Abi sama Umi tidak pernah kekurangan dalam mendidik kamu, ketika kamu sudah memilih laki-laki yang akan menjadi suamimu kelak wajar saja jika Abi meyakinkan kamu terlebih dahulu dan mengenal calon menantu Abi nantinya," ujarnya pelan.

 

Dinda mengerti apa maksud Abinya, "Aku tahu pasti Abi masih tidak rela kan jika Dinda menikah muda?" Dinda meraih tangan Abinya, "Bi, Dinda sudah dewasa sudah waktunya Abi untuk melepaskan Dinda untuk laki-laki lain, aku percaya sama David dia laki-laki baik yang kukenal, Abi juga harus mendukung keputusan Dinda karena tanpa ridho Abi kehidupan Dinda tidak akan berkah Dinda akan menderita, Abi mau lihat putri Abi sedih?"

 

Dinda melepaskan tangannya dan menyerka air matanya yang menetes tepat saat itu juga Wilda datang membawa cemilan untuk suaminya dia mendengar pembicaraan suaminya dan anaknya itu.

 

"Nih mas cemilannya, sayang kenapa kamu menangis?" tanya Wilda sambil meraih wajah putrinya. "Kau apakah putrimu ini Mas?" Wilda menatap Azmi.

 

"Aku hanya bertanya kesungguhan dia ingin menikah muda dengan David," sahut Azmi.

 

"Sayang, kamu tidak salah kok mengambil keputusan untuk menikah muda malah Umi senang karena zaman dulu juga rasulullah SAW menikahi Aisyah di usia beliau yang masih muda, lebih baik memutuskan menikah muda dari pada lama-lama berpacaran yang ada Allah marah dengan hambanya yang suka berzina," tukas Wilda memberikan pengertian kepada putrinya.

 

"Sebenarnya Abi pengen kamu melanjutkan pendidikan kamu di Turky sayang, tapi saat Abi kamu pulang dia malah mendapat kabar bahwa anaknya akan dilamar seorang pemuda tampan," ujar Wilda memberitahu bibirnya tersenyum menatap Dinda yang terkejut mendengarnya.

 

"Apa, Abi izinkan Dinda kuliah di Turky?" Mata Dinda melotot sempurna menatap Abinya tidak percaya.

 

"Iya Nak, tapi kayaknya Abi batalkan deh perjanjian Abi dengan sahabat Abi ini karena ternyata anak Abi mau menikah," kata Azmi sambil menyeruput kopinya.

 

"Abi, Dinda mau kuliah di Turky tapi nanti setelah menikah sama David, boleh kan Bi?" Dinda merajuk dia senang akhirnya Abinya membolehkan dia kuliah di luar negeri.

 

"Kalau gitu kamu minta izin sama suami kamu lah bukan sama Abi atau umi lagi." Azmi menggelengkan kepalanya mendengar ucapan putrinya yang sudah pengen menikah.

 

"Hehehe iya juga ya, tapi kan kalau Dinda kuliah di Turky Dinda bakal jauh sama Abi dan Umi apa tidak masalah?"

 

"Sayang, kamu itu adalah titipan dari Allah untuk kami, apapun yang kamu inginkan Abi sama Umi akan mendukung yang penting baik untuk kamu, karena Umi dan Abi tidak bisa melarang kehendak Allah atas takdirmu," jelas Wilda sambil tersenyum memandang suaminya.

 

"Ahh Dinda senang sekali jadi anak Umi dan Abi." Dinda memeluk erat tubuh Wilda dia sangat senang sekali.

 

"Sekali-kali ajak David ke rumah Abi ingin lebih dekat dengan calon menantu Abi itu," pinta Abi kepada Dinda.

 

"Siap Abi, Dinda akan ajak David main ke rumah bertemu dengan Abi sebenarnya David juga pernah ke rumah tapi Abinya tidak ada saat itu ya kan Umi?" Dinda menatap Uminya meminta persetujuan.

 

"Iya bener." Wilda menganggukan kepalanya mengiyakan.

 

"Malam Jumat kita akan mengadakan pengajian suruh David untuk ikut ya," ujar Azmi dia memang selalu mengadakan pengajian di malam jumat bersama kerabatnya.

 

"Baik Abi nanti Dinda sampaikan ke David," sahut Dinda sambil tersenyum.

 

"Sayang, kamu masuk dulu ya Umi mau bicara sama Abi kamu," pinta Wilda seraya mengusap-usap kepala anaknya dengan lembut.

 

Sejak kepulangan Azmi dari luar kota Wilda memang tidak pernah menceritakan kedekatan putrinya dengan seorang laki-laki, tentu saja Azmi kaget saat mengetahui putrinya akan dilamar malam itu karena itu juga atas permintaan Dinda sebagai bukti keseriusan David terhadap Dinda.

 

Setelah Dinda masuk ke dalam rumah Wilda duduk di bangku Dinda sebelumnya, "Maaf Mas, aku tidak pernah bercerita hubungan Dinda dengan David karena aku juga baru tahu saat Dinda meminta pendapat kepadaku sebelum David datang melamar," ujarnya.

 

"Tidak ada yang salah sebenarnya, aku pun mendukung keputusan Dinda yang tidak mau berpacaran akan tetapi aku hanya belum yakin dengan David apalagi mendengar masa lalu cowok itu dan keluarga David apakah dia bakal menerima Dinda?"

 

"Aku tahu mungkin keluarga David akan mengira jika Dinda lah yang membuat David pindah agama tapi aku yakin mas, David bisa menjelaskan semua itu kepada keluarganya aku yakin David bisa menjaga putri kita dengan baik," tukas Wilda yang sudah mengenal baik calon suami anaknya itu. "Lagi pula aku kenal dengan Mbak Angelia dia teman arisanku, dia juga ibu yang baik dan sayang sama Dinda kok tidak ada hal yang menyangkut perbedaan agama, entah dengan Nathan aku dengar David pernah diusir Ayahnya karena pindah agama namun hubungan mereka sekarang sudah membaik," jelas Wilda mencoba mengingat kejadian itu.

 

"Ya sudah kita doakan saja yang terbaik untuk anak kita semoga semuanya berjalan dengan lancar," kata Azmi seraya mengambil gorengan pisang yang ada di meja.

 

****

 

Di dalam kamar Dinda mengambil buku diary nya akhir-akhir ini dia belum menulis kejadian penting dalam hidupnya.

 

"Aku percaya pada takdirmu ya Robb, karena sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari kehendak-Mu termasuk kisahku dan David"

 

Drettt … drettt

 

Ponsel Dinda bergetar menampilkan panggilan dari Najma.

 

"Assalamualaikum Dinda," sapa Najma terlebih dahulu.

 

"Waalaikumsalam ada apa Naj?" Dinda menutup bukunya untuk pokus mendengarkan.

 

"Tidak apa-apa aku hanya kangen sama kamu Din, kamu sedang apa?"

 

Najma sahabat Dinda yang tulus dan juga polos dia anti pacaran tapi banyak laki-laki yang menantinya sayang saja tidak ada yang mampu menikahinya membuat Najma terus menolak semua laki-laki itu.

 

Dinda tersenyum, "Aku sedang menulis nih, menurut kamu aku sama David cocok tidak sih?"

 

"Astaga Dinda, kamu ini ya kok masih bertanya cocok atau tidak sih udah jelas-jelas David udah melamar kamu ya jelas kalian berdua itu cocok pasangan yang ditakdirkan langit untuk bersama," ngomel Najma bak Emak-emak.

 

"Hehehe aku hanya merasa tidak cocok bersanding dengan David karena dia terlalu tampan Naj," pekik Dinda sambil terkekeh.

 

"Apaan sih Din orang kamu aja cantik kok, btw kamu udah bikin proposal belum buat ngajuin skripsi?"

 

"Belum, aku males ketemu Dosen pembimbingku Naj, aku pengen minta ganti aja deh jangan dia." Tiba-tiba muka Dinda berubah jadi bete mendengar proposal yang belum diajukan.

 

Najma tertawa renyah, "Hahaha aku yakin Din Pak Faza itu suka sama kamu makanya suka bikin kamu kesel," katanya.

 

"Suka apaan? Orang proposal aku aja dicoret-coret terus sama beliau, kalau orang suka mah pasti dikasih arahan atau gak ya dipermudah lah ini mah selalu dimarah-marahi aku sama beliau."

 

"Ya udah sabar ya bestie, eh besok ketemu yuk di tempat biasa sambil ngerjain proposal," ajak Najma dengan antusias.

 

"Boleh boleh ajak Amira juga ya!" pinta Dinda dia juga ingin berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. "Naj, kamu gimana sama Hamdan?"

 

"Gimana apanya?" Najma mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan Dinda.

 

"Hubungan kamu sama Hamdan gimana? Kalian bukannya saling suka ya? Kamu sempat kagum sama dia kan dulu?" Dinda kembali mengingatkan kejadian dimana Najma selalu tersipu saat melihat Hamdan.

 

Jika dulu Dinda pernah disukai Alex mungkin sampai saat ini Alex masih menyimpan rasa itu karena pada saat kemarin cowok itu masih menanyakan perasaannya kepada David, sedangkan Najma kagum dengan Hamdan namun dulu cowok itu cuek dengan Najma.

 

Flashback on ....

 

Saat kumpulan rohis Dinda dan Najma tidak sengaja bertemu dengan Alex dan Hamdan di depan ruangan rohis, cuma Alex yang menyapa Dinda dan Najma sedangkan Hamdan hanya diam saja.

 

"Dinda, pegang deh! Jantung aku kayak mau copot," pekik Najma seraya mengarahkan tangan Dinda ke depan dadanya.

 

"Astaghfirullah Najma, bahaya banget jantung kamu nih kalau setiap bertemu dengan Hamdan selalu begini," celetuk Dinda merasa prihatin dengan perasaan Najma.

 

"Bantu aku untuk move on Din, aku gak mau pacaran aku takut kena azab dosaku sudah banyak gak mau ditambah-tambah dengan hubungan tidak jelas (pacaran)"

 

Flashback off ….

 

"Tapi kan Hamdan belum mau nikah Din, Tidak seperti David yang sat set tiba-tiba datang melamar kamu padahal dia baru saja hadir di kehidupan kamu," ujar Najma dia memang menyadari perbedaan diantara David dan Hamdan.

 

Meski Hamdan sudah punya kerjaan sampingan tapi dia masih perlu waktu untuk menabung tidak seperti David yang jelas berasal dari orang kaya dia punya segalanya dan bisa melakukan apa saja dengan uangnya ditambah lagi sekarang David sudah bekerja dikantor Papahnya membuat cowok itu semakin terlihat jelas saja masa depannya.

 

"Kamu yang sabar ya Naj, siapapun jodoh kamu semoga saja yang terbaik untuk kamu dan tulus menyayangi kamu." Dinda memberikan semangat untuk Najma.

 

"Aku jadi ingin memeluk kamu Din," lirih Najma dengan manja.

 

Kehadiran sosok sahabat memang bisa digantikan dengan seorang suami tapi untuk Dinda sendiri Najma tidak bisa digantikan dengan siapapun dia janji setelah dia menikah akan terus menemani Najma dan selalu ada di saat dibutuhkan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!