Cinta Menyatukan Iman
Ke Kampus Bareng David
Mahasiswa dan siswa memang berbeda terlihat dari sistem belajarnya, tempatnya, lingkungannya, tugasnya bahkan liburannya.
Setelah melaksanakan ujian tengah semester hari ini perkuliahan kembali masuk, yang pastinya masih santai tidak ada tugas yang akan diberikan kecuali dari dosen-dosen killer.
"Assalamualaikum," teriak Najma di depan pintu rumah Dinda.
"Waalaikumsalam, eh Nak Najma mau jemput Dinda ya?" ujar Wilda begitu melihat kedatangan teman anaknya.
"Iya Tante, Dindanya udah siap belum ya?" Najma tersenyum kaku karena yang membuka pintu adalah Uminya Dinda.
"Sebentar Tante panggil dulu ya, masuk aja sini Najma!" pinta Wilda mempersilahkan dia membuka pintu lebar-lebar untuk Najma yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri karena Dinda sangat dekat dengan teman satunya ini.
"Tidak perlu Tan, Najma tunggu di sini aja." Najma menolak dengan lembut lalu dia duduk dibangku depan.
Di ponselnya terdapat pesan dari Hamdan yang menanyakan dirinya.
*Hamdan
"Assalamualaikum Naj, hari ini kamu ke kampus kan?"
"Udah berangkat belum?"
Pesan Hamdan yang akhir-akhir ini menjadi yang paling teratas di aplikasi hijaunya. Entah harus bagaimana menyikapi laki-laki yang suka kepadanya tanpa memberikan kejelasan rasanya itu hanya membuang-buang waktu saja, Najma tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki sebab hatinya mudah sekali terbawa perasaan berbeda dengan Amira yang suka meladeni cowok.
Kemudian Najma menatap jam di layar ponselnya, "Kok Dinda lama banget ya apa jangan-jangan dia kesiangan bangunnya?" pikirnya seraya menoleh ke dalam rumah.
*Amira
"Naj, kamu udah berangkat? Nanti izinkan aku dulu kayaknya aku bakal telat deh soalnya nunggu angkot gak datang-datang."
"Oke, nanti aku sampaikan."
Setelah Najma membalas pesan Amira bertepatan dengan keluarnya Dinda dari dalam rumah.
"Ayo Naj berangkat!" seru Dinda tanpa bersalah.
"Astaghfirullah Din, kamu lama banget deh," gerutu Najma memandang Dinda Yang sedang membetulkan hijabnya.
"Maaf, aku ketiduran jadi telat deh bangunnya, padahal udah pasang alarm loh Naj," kata Dinda sembari memasang wajahnya yang memelas minta dikasihani.
"Oh ya Naj, kemarin sore David dan teman-temannya sudah balik loh dia udah pergi ke kampus belum ya?" tanya Dinda seraya menoleh ke arah gerbang rumah David yang masih tertutup.
"Iya aku tahu kok, nih Hamdan aja ngechat nanyain ke kampus gak," ungkap Najma dia memang selalu berterus terang dengan Dinda hanya kepada cewek itu dia bisa terbuka.
Mereka berdua pun terus berjalan menuju jalan raya, untuk naik bis menuju ke kampusnya namun tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari atas samping membuat mereka berdua menoleh.
"Siapa sih Din?" tanya Najma dengan kedua alisnya yang mengkerut.
Dinda menatap dalam ke arah mobil itu yang sepertinya tidak asing, "Aku kayak kenal deh Naj mobil siapa itu," katanya.
"Pasti David ya?" tebak Najma yang tidak pernah melesat pasti selalu benar.
Dinda mengangguk, lalu benar saja cowok itu keluar dari balik pintu mobil dengan memakai almamater tercinta.
"Morning girls," sapa David sambil tersenyum.
"Morning, ngapain di situ Dav, kirain udah berangkat?" Dinda bertanya bingung dengan kelakuan David yang kadang-kadang tidak bisa ditebak.
"Nungguin calon istri, mau ngajak berangkat bareng karena aku mau jadi calon suami yang bertanggung jawab," tukas David dengan gayanya yang cool.
Astaga, ucapan David begitu sweet membuat Dinda terbang ke langit ke tujuh, tangan Najma meremas lengan Dinda dia cemburu dengan sikap David yang begitu romantis kepada Dinda.
"Sadar woy ada aku disini dilarang romantis-romantisan di depan aku!" teriak Najma dengan kesal
David dan Dinda terkekeh melihat tingkah laku Najma yang kayak anak kecil yang iri dengan temannya.
"Ane lupa ada jomblo," pekik David mengejek Najma yang masih sendiri. "Lagian ane jodohin nt sama Hamdan gak mau," lanjutnya
"Bukan gak mau David!!!" teriak Najma dengan greget ingin meleparkan pukulan kepada cowok itu.
Dinda terkekeh melihat kedua orang yang dia cintai sedang berseda gurau, jika disatukan pasti berantem.
"Udah udah, kamu gak bakal paham sama Najma Dav, gak usah Jaili dia!" sergah Dinda melerai keduanya.
"Yuk berangkat nanti telat kena hukuman," ajak David dengan sebelah alisnya yang terangkat dia juga memakai topinya kembali.
Dinda dan Najma menganggukan kepalanya dan berjalan mengikuti David. Kali ini Dinda duduk di belakang bersama Najma.
"Din, mau ke mana? Sini lah duduk di depan," pinta David menatap Dinda heran.
Najma tersenyum, "Belum halal bro, gak boleh berdua-duaan." Seraya masuk duluan ke dalam.
David mengangkat alisnya berharap Dinda mau duduk di depan, "Aku duduk di belakang dulu ya nanti kalau udah sah baru di depan," bisik Dinda pelan tepat di samping telinga David.
"Baiklah kalau begitu." Akhirnya David pasrah dengan keputusan Dinda.
Sikap Dinda memang berbeda dengan cewek-cewek yang lainnya David merasa dia tidak salah memilih calon istri.
Mobil pun melaju dengan kecepatan standar David menyalakan sholawat untuk memecahkan keheningan.
"Mulai sekarang aku akan antar jemput kamu Din, jadi kamu gak boleh nolak!" kata David sambil tersenyum menang.
Dinda mengerutkan keningnya, "Kok gitu?"
"Aku sudah izin sama Umi katanya memang seharusnya begitu, biar Dinda juga hemat ongkos katanya," sahut David mengulang perkataan Wilda.
Ini mobil David yang dibelikan oleh Nathan hadiah dari kinerja nya di kantor yang sudah menaikan mutu perusahaan.
"Tadinya sih aku mau jemput kamu naik motor tapi nanti aja deh kalau udah nikah baru naik motor berdua," ujar David terkekeh menceritakan keinginannya.
"Iya lah kalian berdua kan baru tunangan jadi masih gak boleh sentuh-sentuhan." Najma pun ikut menyahut mengomentari keinginan David.
"Iya siap Ustadzah Najma," seru Dinda menoleh memandang Najma sembari tersenyum.
"Din, aku jadi takut deh kehilangan kamu apalagi nanti kamu udah nikah pasti aku gak bakal bisa main sama kamu lagi." Najma memeluk Dinda dengan lebay.
Tangan Dinda menepuk-nepuk tangan Najma, "Ya gak gitu lah Naj, siapa bilang kamu gak boleh main sama aku lagi?"
"Tuh Abang supir, nanti kalau dia udah jadi suami kamu pasti waktu kita sedikit kebanyakan bareng dia," celetuk Najma mengungkapkan ketakutannya.
"David cowok yang baik kok dia pasti bakal izinkan aku main sama kamu, iya kan Dah?" Dinda menoleh memandang punggung David.
"Iya," sahut David seraya menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya yang tidak bisa dipisahkan.
"Din, hari ini ada berapa mata kuliah?" tanya David matanya melirik kaca depan yang mengarahkan ke arah bangku belakang.
"Tiga, tapi kayaknya Bu Dian gak masuk deh aku dengar anaknya lagi sakit," kata Dinda dia ingat perkataan Tati kemarin.
"Nanti kita ketemu di taman ya!" ujar David sambil membelokan mobil masuk ke dalam parkiran kampus.
Dinda hanya membalas dengan senyuman, kemudian mereka turun dari mobil setelah mobil berhenti.
"Makasih banyak ya Dav," ujar Dinda hanya tersenyum tipis.
"Makasih untuk?" David heran dengan sikap Dinda yang selalu rendah hati.
"Udah anterin kita ke kampus," sahut Najma mewakili.
Seketika David terkekeh, "Gak ada kata terima kasih untuk menjaga calon istriku, udah sana masuk! Aku mau ke kantin dulu ketemu Hamdan dan Alex."
"Oke sampai jumpa nanti," ujar Dinda sebelum beranjak pergi menaiki tangga.
Semua mahasiswa tahu berita pertunangan David dan Dinda, membuat mahasiswi yang dulunya ngejar-ngejar David jadi patah hati mendengar kabar itu. Bahkan ada yang menangis karena gak bisa menggapai seorang David.
"Din, kamu kok bisa sama David? Kan harusnya aku yang sama dia kamu mah gak cocok," kata salah satu mahasiswi teman kelas Dinda yang menyukai David.
"Takdir yang telah mempersatukan aku dan David mengenai cocok atau tidak itu hanya Allah yang mengetahuinya," sahut Dinda sambil tersenyum manis.