Cinta Menyatukan Iman
Pandai Mengambil Hati
"Senang bisa bekerja sama dengan Tuan David," ujar Pak Arif Wibowo manager PT cahaya group.
David menjabat tangan Tuan Arif yang bulan lalu pernah berjumpa dengannya di ruang meeting.
"Saya suka dengan gaya dan kinerja Tuan David ini, masih muda tapi sudah bisa mengatasi sebuah masalah bisnis," kata Pak Arif memberikan pujian kepada David karena berkat saran David perusahaannya kembali mengalami kenaikan dalam bisnis.
David tersenyum, "Sama-sama Pak, senang bisa membantu." Kemudian kedua matanya melirik ke arah Papa nya yang sedang memandangnya.
"Waduh Papa pasti denger ini, gawat dia pasti bakal puji-puji gue setelah ini dan nyuruh gue buat kerja di perusahaannya," batin David bergumam wajahnya meringis namun segera kembali tersenyum saat Pak Arif menepuk bahunya.
"Nak David gak usah sungkan-sungkan jika butuh bantuan nanti datang saja ke kantor saya ini kartu nama saya." Pak Arif mengulurkan kartu namanya beserta alamat kantornya.
"Oke siap Pak, terima kasih." David menundukkan punggungnya memberi hormat.
Meeting pun selesai David mengantar Pak Arif menuju mobilnya, ketika sudah pergi kini David terdiam bersama dengan Nathan.
"David ikut Papa ke ruangan!" pinta Nathan dingin dan berlalu meninggalkan David yang masih terpaku.
Dengan hembusan nafas pelan David melangkahkan kakinya mengikuti kepergian Papanya dari belakang.
Hari ini David mendapatkan kabar jika produk yang sempat tidak laku terjual kini malah banyak peminatnya.
"Alhamdulillah senang dengarnya terima kasih Tim sudah membantu." David mengirim balasan ke grup bisnisnya.
"Bagaimana apakah sudah mulai suka dengan pekerjaan ini?" Nathan menatap putranya dengan serius.
David tersenyum, "Pah, maafkan David, karena David belum siap untuk bekerja memimpin perusahaan, setelah lulus kuliah David mau menikahi Dinda dan membawanya ke Turky untuk melanjutkan S2 kami di sana, setelah itu baru aku mau bekerja di perusahaan papa," sahutnya dengan sopan.
"Kenapa tidak melanjutkan di Jakarta?" Nathan begitu kaget mendengar rencana David untuk masa depannya.
"Papa tahu sendiri bagaimana kualitas pembelajarannya, akan lebih bagus jika aku melanjutkannya di Turky," kata David dia memang sudah mengatur semuanya.
Nathan memang tidak bisa lagi membantah keinginan putranya, apalagi tujuannya benar dengan kuliah di luar negeri dia akan mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru untuk bisa diimplementasikan di perusahaannya kelak.
David anak manja kesayangan orangtuanya ini akan membuktikan jika dia sudah mandiri tidak bergantung dengan kekayaan orangtuanya.
"Mamah kamu sudah tahu tentang ini?" Nathan menoleh dia ingin dengar apa yang dikatakan istrinya mengetahui keinginan David.
David menggelengkan kepalanya, "Aku memang belum cerita sama Mamah tentang ini Pah."
"Lalu bagaimana kamu bisa mencukupi kebutuhan keluarga kamu dengan melanjutkan kuliah di Turky?" Nathan tidak mengerti jalan pikiran anaknya ini yang memang sejak dulu selalu keras kepala dan tidak bisa diatur.
"Aku akan bekerja di sana," kata David menyahut dengan begitu mudahnya.
Mendengar jika David ingin ke Turky dia jadi ingat sahabat bisnisnya yang memang beragama islam. Tuan Amir dia seorang pengusaha sukses di Turky.
"Papa akan menyetujui keputusan kamu asal kamu mau bekerja dengan sahabat bisnis Papa dia beragama Islam seorang pengusaha sukses di Istanbul," ujar Nathan sambil mengangkat alisnya menunggu jawaban David.
David memang selalu bangga dengan sosok Papanya sejak dulu, dia selalu memberikan solusi dan jalan untuknya. Papanya memang mempunyai banyak rekan bisnis dan sahabat di penjuru dunia. Bahasa Jepang serta bahasa Mandarin Papanya lebih jago dibandingkan David.
"Baik Pah, aku setuju dan malah senang kalau ternyata di sana ada sahabat Papa," kata David sambil tersenyum lebar.
"Nanti akan papa kabarkan jika kamu akan pergi ke sana, ya sudah kalau kamu mau pulang silahkan katakan sama Mamah kamu Papa akan lembur hari ini soalnya mau ada meeting dari pemilik saham." Nathan memberitahu dia mendudukan bokongnya di bangku kerjanya.
"Aku pamit Pah," David langsung beranjak meninggalkan ruangan kerja Papanya.
Dia lega karena Papa nya tidak menentang keputusannya dan mau menerimanya, tapi David tahu jelas dari raut wajah papa nya yang terlihat sedikit kesal begitu mendengar jika David akan pergi ke Turky untuk melanjutkan S2 nya.
"Tuan David!" panggil salah seorang wanita menghampirinya.
Merasa terpanggil David menoleh dan menghentikan langkah kakinya ya itu adalah Intan yang bekerja sebagai resepsionis di kantornya.
"Maaf kalau saya lancar ini … saya mau ngasih ini untuk Tuan David," ujar Intan menatap wajah David seraya mengulurkan sebuah bingkisan.
David tersenyum, "Untuk saya?" tanyanya memastikan.
Intan menganggukkan kepalanya, "Mohon diterima ya Tuan, itu akan membuat hati saya senang."
"Makasih ya!" David tersenyum setelah mengambil bingkisan itu dari tangan Intan.
"Sama-sama Tuan, saya pergi kerja dulu ya Tuan David hati-hati dalam perjalanannya." Intan berlalu pergi setelah mengatakan itu, hatinya sungguh senang seperti ada yang menari-nari riang di sana, Intan memegang jantungnya yang berdegup kencang.
"Cie yang habis ngasih sesuatu sama Boss muda," goda Fifi teman kerja Intan seraya menyenggol lengan temannya itu.
Intan terkekeh, "Padahal sama dia doang tapi gue kayak ketemu artis Korea gitu rasanya oh …." soraknya.
"Ganteng banget ya mirip siapa kira-kira?" Fifi menatap lekat wajah Intan yang ceria, dia menarik turunkan alisnya menunggu jawaban Intan.
"Ji Chan Wook?!" pekik Intan heboh sendiri, "Lihat potongan rambut David bak Oppa-Oppa Korea terus senyumnya astaghfirullah menggoda banget."
"Hahaha iya ya, gak percaya gue ketemu cowok tampan anak bos gue sendiri," seru Fifi sebagai wanita dia memang terpesona dengan ketampanan David.
Intan menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang dikatakan Fifi, "Tapi sayang Tuan David sudah bertunangan dan rumornya setelah wisuda mereka akan menikah." Tiba-tiba raut wajahnya menjadi sedih.
"Beruntung banget cewek itu bisa mendapatkan seorang David Nathantion," ujar Fifi dia penasaran sosok wanita yang sudah membuat David jatuh cinta.
"Sudahlah aku tak peduli dengan siapa ceweknya David yang penting sekarang aku senang banget dia menerima bingkisan ku, baik banget dan gak sombong orangnya." Intan mengakui sikap David memang jauh lebih baik daripada anak bos yang lainnya terlihat sombong kepada para pegawainya.
"Berbeda dengan David meski dia seorang anak bos yang kaya raya, dia tidak sombong meski terlihat cuek dari wajahnya," timpal Fifi menyetujui pendapat Intan mengenai sosok David di mata mereka.
****
Sore harinya David mengajak Hamdan dan Alex untuk ikut pengajian di rumah Dinda, begitu David menjelaskan kalau di sana banyak makanan mereka langsung semangat.
"Ada makanan gak?" tanya Alex dalam via telepon.
"Otak si Alex mah penuh sama makanan terus pantesan hafalannya hilang semua," celetuk Hamdan dengan logatnya yang unik.
David tersenyum, "Banyak kok tenang saja gue jamin kalau gak ada tinggal beli kan."
"Btw kita kita gak apa-apa ikut pengajian di rumah Dinda?" tanya Hamdan dia merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa gue tadi udah bilang ke Dinda kok katanya ajak aja kan umum siapa aja boleh ikut," jelas David mengulang kalimat perkataan Dinda.
"Oke lah gue ikut di rumah Dinda kan?" Alex kini bersemangat karena dia berpikir pasti akan ramai dan banyak makanan.
"Iya tapi kalian ke rumah gue dulu ya biar berangkatnya bareng, oke sampai jumpa nanti malam gays."
Sambungan telepon pun terputus, David kembali meletakkan ponselnya di nakas. Lalu pergi ke kamar mandi untuk melaksanakan ibadah sholat asar.
Perlu diketahui menjadi seorang mualaf seperti David ini tidaklah mudah, masuk Islam bukan hanya sekedar membaca dua kalimat syahadat saja akan tetapi kita harus belajar Istiqomah untuk melakukan kewajiban kita sebagai muslim yang beriman.
Tidak lupa David mengaji Alquran kecil yang dikasih ustad Syakir saat itu untuk pegangannya mengaji, seminggu sekali dia akan dites baca Al-Qurannya oleh ustad Syakir dan jika sudah lancar akan dinaikan ke Al-Qur'an yang besar, begitu kata ustad syakir.
Malam ini halaman rumah Dinda penuh dengan bapak-bapak dan anak kecil, Dinda sibuk menyiapkan makanan dan air hangat untuk para jamaah itu.
"Sayang, David jadi ikut kajian?" tanya Wilda menepuk bahu putrinya yang sedang merebus air.
Dinda menoleh, "Iya Mi, katanya sih bareng Hamdan dan Alex ke sininya aku gak tahu mungkin mereka sudah di depan Mi."
Mengingat gema sholawat sudah terdengar, Dinda mempercepat pekerjaannya dia membawakan termos itu ke depan dan memberikannya kepada saudaranya.
"Sep, tolong antarkan ke depan ya?" pinta Dinda bagi seorang wanita seperti Dinda dia malu untuk menunjukkan wajahnya di depan para jamaah laki-laki.
"Oke siap Tan," kata Asep dengan sigap mengambil termos dan nampan dari tangan Dinda.
"Tunggu Sep, kakak mau nanya di depan sudah ada David belum ya? Soalnya ponselnya gak aktif," tanya Dinda dengan wajahnya yang terlihat khawatir.
Asep tersenyum, "Om ganteng udah dari tadi datangnya sekarang lagi ngobrol sama Paman," ungkapnya.
Paman yang dimaksud Asep adalah ayahnya Dinda yaitu Azmi, mendengar itu hati Dinda lega sekali dan senang tentunya.
"Om ganteng pandai mengambil hati semua orang ya, aku suka dengannya Tan dia juga baik sekali suka ngasih jajan hehehe ya sudah aku ke depan dulu ya!" Asep umur 13 tahun dia keponakan Dinda, sangat mudah akrab orangnya apalagi sama David yang suka mengajaknya bercanda.
Senyum Dinda lepas sekali dia mengintai David yang sedang duduk bersama Abinya di teras entah apa yang mereka bicarakan tapi tampaknya tidak terlalu serius karena Abinya sering kali tertawa dengan David, apa yang dikatakan Asep benar David memang pandai mengambil hati semua orang termasuk hatinya yang sudah berhasil dia curi wkwk.