Cinta Menyatukan Iman
Cerita Pilu Amira
Begitu mendapat kabar tentang Amira dengan buru-buru Dinda meminta izin kepada orangtuanya untuk pergi membawa motornya menjemput Amira.
"Sayang ini udah sore loh, kamu minta temenin David aja ya!" Wilda salah satu Ibu yang selalu khawatir dengan apapun yang dilakukan oleh putrinya.
Maklum jika Wilda berlebihan dalam memperhatikan Dinda karena dia adalah anak perempuan satu-satunya, sedangkan Dinda mempunyai Abang yang sedang kuliah di Mesir jadi tidak bisa buat jagain adiknya ini.
"Dinda buru-buru Mi, lagipula ini kan masih sore, dah ya Dinda pamit." Dinda meraih tangan Wilda lalu bersalaman setelah itu berlalu pergi keluar.
Wilda mengikuti Dinda yang keluar rumah dia hanya ingin memastikan anaknya benar-benar pergi naik motor sesuai yang diinginkan Dinda tadi.
"Hati-hati ya nak, ingat jangan kebut-kebut bawa motornya!" pinta Wilda begitu mendengar suara motor Dinda.
Ketika gerbang dibuka muncul sosok David dari sana membuat Dinda terkejut.
"Astaghfirullah Dav, ngapain di sini?" tanya Dinda dengan kesal karena kemunculan David yang begitu tiba-tiba.
"Mau kemana kamu?" David malah mengabaikan pertanyaan Dinda.
Mendengar itu Dinda hanya bisa meringis, Wilda menghampiri kedua anak muda itu, "Dinda mau pergi nyusul Amira katanya dia lagi kabur dari rumah jadi Dinda mau jemput sekarang."
Amira? David memang tidak asing dengan nama-nama sahabat Dinda, dia tahu semuanya tapi jarang melihat dan tidak mengenalnya kecuali Najma yang selalu nempel kemanapun Dinda pergi, mungkin karena Najma jomblo sedangkan Amira sibuk dengan kekasihnya.
"Jangan bengong Dav, aku buru-buru mau pergi takut terjadi sesuatu dengan sahabatku udah mau malam soalnya." Dinda merengut kesal melihat David yang malah bengong setelah mendengar ucapan Wilda.
"Turun! Aku gak izinkan kamu naik motor sendirian," tegas David melarang calon istrinya untuk pergi sendirian naik motor lagi, dia memang begitu posesif dengan Dinda saking khawatirnya kadang suka berlebihan dan itu membuat Dinda kesal.
Tentu saja David begitu mengkhawatirkan calon istrinya dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Dinda mereka belum menikah.
Wilda tersenyum saat melihat raut wajah kesal putrinya mendengar David melarangnya.
"Gak mau! Aku harus pergi jemput Amira Dav!" pekik Dinda menolak perintah David.
David meraih helm yang digunakan Dinda membuat cewek itu tersentuh dengan apa yang dilakukan David saat ini.
"Aku antar kamu naik mobil," pelan David seperti sedang berbisik. Cowok itu memang selalu bisa meluluhkan hati Dinda.
Akhirnya Dinda turun dari motornya dan kembali memasukannya, Wilda pun masuk ke dalam rumahnya dia merasa tenang akhirnya David siap siaga untuk menjaga putrinya.
Setelah sampai di tempat tujuan Dinda tersenyum melihat sosok Amira yang sedang duduk di sana.
"Amira!" panggil Dinda seraya membuka pintu mobilnya.
Mendengar suara sahabatnya Amira langsung menoleh, "Dindaa!" Dia berlari menghambur ke dalam pelukan Dinda.
Tangisan Amira seketika pecah dipelukan Dinda, cewek itu langsung menangis sejadi-jadinya membuat Dinda melepaskan pelukannya.
"Beb, kamu yang kuat ya! Yuk kita masuk ke dalam mobil dulu," ajak Dinda menuntun tangan Amira untuk masuk duluan ke dalam mobil.
Amira menoleh ke arah pengemudi dan melihat sosok David di sana, ternyata Dinda datang bersama calon suaminya.
"Dav, kita pergi ke saung Angklung dulu aja ya gak apa-apa kan?" seru Dinda sambil menepuk bahu David dari belakang.
"Iya gak apa-apa, aku lagi gak sibuk kok." David akhirnya kembali menjalankan mobilnya menuju tempat yang ingin Dinda tuju.
Amira menyandarkan kepalanya di bahu Dinda dia masih terisak, "Makasih ya Din, kamu udah mau datang meski sedikit lama aku tadi sempat takut kamu gak bakal datang."
"Maaf ya tadi aku sempat berantem dulu tuh sama dia jadi lama deh datangnya, aku pasti datang kok Mira kan udah janji mau jemput kamu." Dinda tersenyum tangannya menepuk-nepuk punggung tangan Amira berharap ketakutan yang sedang Amira rasakan hilang setelah hadirnya.
David jadi tahu sosok Amira yang suka Dinda bicarakan ini, dia tersenyum senang melihat kekasihnya yang begitu baik dan peduli dengan sahabatnya.
"Kamu berantem sama David gara-gara aku ya, duh maaf ya Dav, Din, aku sudah merepotkan kalian." Amira menoleh melirik David di depan sana, sungguh hatinya merasa tidak enak karena sudah membuat Dinda dan David repot.
Dinda menggelengkan kepalanya, "Tidak Amira, kamu tidak merepotkan kok aku malah senang karena kamu langsung menghubungi aku kayak gini jadi aku tidak perlu khawatir saat tahu kamu kabur dari rumah malah jika kamu tidak memberitahuku aku akan repot mencari keberadaan kamu."
Amira memeluk Dinda dengan penuh kasih sayang, dia begitu senang memiliki sahabat yang baik dan begitu peduli dengan keadaannya.
"Makasih ya Din, aku gak tahu harus balas dengan apa kamu selalu baik denganku," ujar Amira bersamaan dengan menetesnya air matanya.
Begitu sampai di saung angklung Dinda mengajak Amira untuk makan dia tahu jika sahabatnya ini pasti belum makan.
"Kita makan dulu ya!" seru Dinda memberitahu alasannya membawa Amira ke tempat ini.
Amira memasang wajah baby face nya dia terharu, "Kamu emang selalu pengertian deh," katanya lebay.
"Belum makan kan?" tebak Dinda seraya menunjuk Amira dengan jari telunjuk tangannya.
Amira seketika langsung menganggukkan kepalanya, "Iya."
"Mira, kamu cari tempat aja dulu aku mau pesan makanan," pinta Dinda menyuruh Amira pergi mencari tempatnya duduk.
"Oke." Begitu Amira pergi, ini menjadi kesempatan Dinda untuk bicara sama David begitu pun sebaliknya.
"Dav, makasih ya udah mau nemenin aku," kata Dinda sambil tersenyum.
David menyentil jidat Dinda, dia gemas melihat sikapnya. "Tidak apa-apa sayang," sahutnya.
Mendengar itu Dinda tersenyum senang, "Kamu pesan mau makan apa?" tanya Dinda penuh perhatian.
"Apa aja deh terserah kamu," sahut David sambil menyentuh hidung Dinda.
Merasa disentuh David membuat tangan Dinda langsung memegang hidungnya yang pasti sudah merah bersama pipinya ya dia tersipu malu.
"Tangannya udah mulai nakal ya, awas aja nanti aku cubit nih," ancam Dinda sembari menyipitkan matanya menatap David.
"Coba saja? Aku gak takut, mau kamu pukul juga aku siap kok sayang," goda David dengan wajahnya yang sungguh menyebalkan menurut Dinda.
"Au ah ngeselin banget ihh." Dinda berjalan meninggalkan David dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum, kalau ditanya jantungnya aman? Sudah pasti Dinda akan jawab sedang tidak baik-baik saja.
Setelah makan Dinda memancing Amira untuk bercerita kejadian yang sebenarnya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana Din? Hubungan kedua orangtuaku sudah tidak bisa diperbaiki mereka sudah tidak saling mencintai, mereka terpaksa bersama dengan pertengkaran itu demi menunjukkan kepada anak-anaknya jika mereka baik-baik saja," ungkap Amira setelah menceritakan permasalahan awal yang terjadi.
Sebelumnya Amira juga sudah pernah bercerita kepada Dinda dan Najma tentang perselingkuhan Bapaknya, saran dari kedua sahabatnya itu membuat Amira percaya jika Bapaknya bukanlah orang seperti itu dia yang sayang sama keluarganya dan tidak akan pernah menduakan.
"Mira, kamu tahu peran anak itu apa?" Dinda menatap Amira lekat-lekat.
Saat ini otak Amira tidak berfungsi dengan baik, dia tidak bisa berpikir dia juga tidak mengerti dalam konteks apa yang dimaksud Dinda ini. Kepalanya pun menggeleng.
"Terkadang anak juga berperan sebagai penghubung antara ibu dan bapaknya, jadi hanya anak yang bisa menyatukan kembali hubungan orang tuanya yang sedang retak atau tidak baik-baik saja," ujar Dinda memberitahu sedikit ilmu yang dia dengar tentang anak. "Jadi cuma kamu yang bisa menyatukan hubungan mereka kembali tetapi jika memang Allah menakdirkan mereka untuk berpisah itu tidak akan berpengaruh cintanya terhadap seorang anak, karena ada istilah mantan istri tetapi tidak untuk seorang anak karena dia adalah darah dagingnya sendiri," lanjut Dinda.
"Aku sudah berusaha Din untuk menyatukan kembali hubungan kedua orang tuaku tapi tanpa sepengetahuanku di belakangku mereka masih bertengkar jadi aku bingung harus bagaimana?" Tangisan Amira mereda tapi air matanya terus mengalir menetes membasahi pipinya.
Dinda tersenyum, "Kamu yang sabar ya apapun yang terjadi nantinya sama orang tua kamu, kamu harus tetap menyayangi keduanya, kamu harus tetap berhubungan baik dengan keduanya dan kamu harus tetap berbuat baik kepada kedua orangtuamu, karena bagaimanapun ridhonya Allah terletak pada ridhonya orang tua kita," sahutnya lagi.
"Masya Allah Din, makasih banyak ya aku beruntung banget punya sahabat seperti kamu, ilmu agama kamu sudah semakin bertambah saja." Amira memeluk Dinda dia sangat merasa senang mendengar penjelasan dari Dinda hatinya jadi merasa tenang dan sedikit lega.
"Sama-sama Mira, oh ya nanti malam kamu menginap di rumahku ya sampai hati kamu serta pikiran kamu merasa tenang dan siap pulang ke rumah dengan keadaan yang mungkin akan berbeda," tukas Dinda sambil tersenyum simpul tangannya mengusap-usap punggung Amira.
"Oke Din, aku akan ikuti apa yang kamu katakan." Amira semakin mengeratkan pelukannya tangisan pun sudah berhenti karena hatinya sudah merasa tenang.
Seakan-akan hadirnya David tidak dianggap Dinda dan Amira terus bercerita sambil sesekali Amira menangis memegang erat tangan Dinda, semua itu bisa David maklumi karena saat ini Dinda sedang fokus mendengarkan cerita pilu sahabatnya, takut mengganggu kebersamaan dua sahabat itu David pun memilih untuk pergi meninggalkan keduanya dia memilih untuk jauh dari meja makan Dinda dan Amira memberi waktu memberi kesempatan untuk Dinda bersama sahabatnya.