Cinta Menyatukan Iman
Untuk Dinda
"Huwa." David menguap dengan sangat lebar hingga telapak tangannya menghalangi mulutnya.
Banyak sekali berkas di kantor yang menumpuk membuat David merasa lelah dan mengantuk.
"Aku jadi merasakan apa yang dulu papah rasakan," gumam David sambil menyerka air matanya yang terus menetes sebab rasa kantuk yang mulai menyerangnya.
Tok, tok, tok
Terdengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang.
"Masuk!" jawab David cepat tanpa menoleh.
Pak Hartono pun masuk dan duduk di bangku depan David.
"Maaf Nak David hari sudah larut malam tapi Tuan muda belum pulang sebaiknya sudahi saja pekerjaan hari ini dan lekaslah pulang untuk beristirahat," ujar Pak Hartono memberikan nasehat kepada David.
Melihat David yang seperti membuat Pak Hartono tahu jika David tumbuh menjadi sosok yang pekerja keras seperti Papahnya sendiri.
"Iya Pak masih ada yang harus aku periksa dan tanda tangani dengan cepat," sahut David masih dengan tidak menoleh ke arah Pak Hartono.
"Tuan muda bekas itu bisa dilanjut besok lagi ingat besok kamu harus pergi kuliah bukan? jadi lebih baik sudahi dulu saja ya!" pinta Pak Hartono dengan lembut dia lebih kepada tidak tega dan simpati kepada David yang harus bekarja menggantikan posisi Nathan di saat dia juga harus kuliah besoknya.
Akhirnya David menurut dia tidak akan memaksakan dirinya untuk terus bekerja di kantor sedangkan dia mempunyai kewajiban untuk belajar besok.
"Baiklah Pak aku akan pulang berkas yang kemarin sudah aku periksa semuanya ada sedikit kesalahan pada hitungannya di beberapa berkas serta ada laporan yang kurang jadi aku pisahkan untuk ditanyakan kepada yang bertanggung jawab besok," jelas David seraya bangun dari duduknya dia pun melentangkan ke dua tangannya dengan telapak tangan yang menempel di mulutnya yang terus menguap.
Mendengar ucapan David menimbulkan rasa kagum sekaligus bangga dalam diri Pak Hartono apalagi jika Nathan saat tahu bahwa anaknya ini sudah paham tentang cara bekerja dan juga teliti saat memeriksa laporan dari kariayawan.
Setelah merapihkan kertas-kertas yang akan David bawa pulang mereka berdua pun keluar dari ruang kerja Nathan.
Pak Hartono merangkul bahu David mengiring cowok itu sampai lobi.
"Pak terima kasih sudah memberikan penjelasan tentang bagaimana aku harus menangani semua pekerjaan ini, ternyata kerja capek juga ya?" ungkap David merasakan capek pada tubuhnya.
Seketika tawa Pak Hartono pecah saat mendengar ucapan David barusan. "Hahaha iya Tuan muda kerja memang capek tidak ada kerja yang enak semuanya capek, Hidup ini memang keras jika tidak kerja mau makan apa kita ya kan?"
Apa yang dikatakan Pak Hartono memang benar hidup itu keras dan uang itu sangat sensitif semuanya harus makai uang jika tidak apalah daya kita hidup di dunia ini.
Di luar Pak Bayu sudah menunggu selama ini David mengenal baik supir pribadinya itu yang tidak pernah telat ketika dibutuhkan.
"Selamat tinggal sampai ketemu besok lagi Tuan muda," tukas Pak Hartono sambil melambaikan tangannya kepada David.
"Iya Pak sampai ketemu besok lagi, yuk Pak jalan," kata David seraya masuk ke dalam mobilnya.
Ketika sudah masuk ke dalam mobilnya David langsung melepaskan dasi serta jas hitam yang sejak tadi melekat pada tubuhnya dua kancing atasnya pun dia buka sebab kegerahan lalu dia sandarkan punggungnya pada bangku.
"Bagaimana Den kerjanya lancar?" tanya Pak Bayu ketika mobil sudah keluar dari gerbang perusahaan.
"Alhamdulillah Pak cukup melelahkan," sahut David lirih.
"Yang sabar aja Den kalau sudah biasa mungkin akan terasa ringan ini kan Den David baru mulai kerja jadi rasanya memang sangat melelahkan," seru Pak Bayu dengan terkekeh.
"Iya Pak aku ngerti kok apalagi ini kerjaan sudah dari kemarin ditinggal jadinya menumpuk," sahut David dia akan mencoba melakukan yang terbaik.
"Den David yang semangat ya kerjanya insya Allah semuanya akan berjalan dengan mudah," ujar Pak Bayu memberikan dukungan kepada bos mudanya ini.
Mengingat Papahnya hari ini dia belum dapat kabar dari Eropa tentang Papahnya. "Pak Bayu dapat kabar tentang keadaan Papah di sana?"
Untung saja dia barusan menerima kabar dari Bi Minah tentang keadaan Tuan Nathan yang sudah pulang dari rumah sakit dengan segera Pak Bayu pun menceritakannya.
"Syukurlah kalau begitu David senang dengarnya Pak," ungkap David dengan penuh syukur.
Tidak bisa dipungkiri bahwa David sangat senang mendengar kondisi Papahnya yang sudah membaik apalagi sudah pulang dari rumah sakit yang pastinya masih butuh waktu untuk istirahat agar bisa pulih total.
Di jam 01: 21 Wib ini Pak Bayu dengan setia menjemput David tidak telat sedikit pun karena dia memang belum tidur menunggu panggilan dari David ketika itu Pak Bayu merasa bahwa David bukanlah anak manja yang dia dulu lihat bosnya ini telah tumbuh menjadi sosok anak yang bertanggung jawab dan pekerja keras.
Sesampainya di rumah David langsung turun dari mobilnya dan disambut oleh ke dua pembantunya yang juga belum tidur.
"Lah Bi Minah dan Bi Yuli kenapa belum tidur?" David mengernyit bingung melihat ke dua pembantunya yang malah tersenyum.
Bi Minah tersenyum, "Kita belum tidur nungguin Den David atu, tadi juga sempat ngobrol bareng dengan Pak Bayu jadinya tidak ngantuk hehe."
"Iya Den kita sengaja belum tidur nungguin Den David kita juga sudah masak loh buat Den David," jawab Bi Minah dengan tersenyum.
Mengetahui kebaikan orang-orang ini David yang tadinya tidak lapar mendadak jadi lapar dan ingin mencicipi masakan Bi Minah di malam hari karena dia tinggal sendiri di rumah ini David menyuruh ke tiga orang rumah ini untuk makan bersamanya di meja makan.
"Tidak usah Den, Den David saja makan kita mah sudah kenyang," sahut Pak Bayu menolak tawaran David.
"Ya sudah kalau begitu kalian boleh istirahat sekarang kasihan besok kalian juga harus bangun pagi," ujar David dia awalnya mengira semua orang sudah pada tidur karena sudah larut malam tapi nyatanya mereka belum pada tidur.
Bi Minah dan Bi Yuli pun menganggukan kepalanya bersamaan, "Baiklah Den kita pergi tidur dulu ya!" katanya seraya berlalu pergi.
Sedangkan Pak Bayu yang biasanya bergadang memilih untuk menemani David hingga bosnya ini selesai makan.
Tidak butuh waktu lama David menyelesaikan makannya dan pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
"Huhf, untung saja besok tidak ada presentasi," gumam David saat melihat jadwal pada mading kamarnya.
Tiba-tiba pandangan David tertuju pada kotak biru yang berada di meja belajarnya itu dia pun langsung mengambilnya dan membuka kotak tersebut yang isinya masih ada.
"Besok deh gue kasih ke Dinda," kata David sambil tersenyum.
Setelah pergi mandi David langsung tertidur pulas hingga berada di alam mimpi.
***
"Den David bangun Den sudah pagi!!" teriak Bi Yuli sambil mengguncangkan tubuh David pelan.
David pun membalikan tubuhnya dan kembalu terpejam, rasa kantuknya masih mengusai diri David kelakuan David pagi ini membuat Bi Yuli tidak tega untuk membangunkannya karena dia tahu semalam David pulang malam dari kantor.
Bi Yuli pun memutuskan untuk membangunkan David kembali 5 menit lagi dia pun turun kembali ke bawah meninggalkan David yang masih terlelap dalam tidurnya.
Tidak lama kemudian alarm dari ponselnya David berdering dengan sangat nyaring menggema di seluruh ruangan.
"Duh berisik banget sih nih!" gerutu David matanya sedikit terbuka mencari jam alarm yang berada di atas nakas.
Ketika melihat jam sudah pukul 07: 23 Wib mata David langsung melotot setengah delapan yang artinya sebentar lagi kelas akan dimulai bisa-bisa dia ketinggalan ikut mata pelajaran pertama lagi.
Dengan bergegad David langsung turun dari kasurnya dan melemparkan bantal guling secara asal hingga bantal guling tersebut jatuh ke lantai.
Lima menit berlalu Bi Yuli kembali ke kamar David untuk membangunkan bos mudanya itu tapi melihat David sudah bangun membuatnya senang dia pun membereskan tempat tidur David yang merantakan lalu pergi turun ke bawah lagi.
Air shower terasa sangat dingin menusuk kulit David, tidak butuh lama akhirnya David keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Duh kok ngantuk banget ya? Apa jangan-jangan gara-gara semalam tidur jam dua ya tapi kenapa Bi Yuli tidak membangunkan gue lagi sudah tahu hari ini gue masuk kuliah." David terus mengoceh menyalahkan orang lain atas kesalahan dirinya sendiri.
Hari ini David memilih memakai kaos putih dengan dilapisi jaket kesayangannya tidak lupa dia menyisir rambutnya dulu sebelum pergi ke kampus.
Ketika semuanya sudah rapi David turun ke bawah terlihat Bi Minah dan Bi Yuli yang sedang beres-beres.
"Bi kok tidak bangunin David pagi ini?" tanya David dia penasaran apakah sudah ada yang membangunkannya apa belum.
"Maaf Den bibi sudah membangunkannya tapi Den David tidak kunjung bangun akhirnya Bibi tinggal pas bibi balik ke kamar Den David sudah bangun," terang Bi Yuli dengan menundukan kepalanya.
"Ya sudah bi, tidak usah minta maaf ini kesalahanku yang tidak merasa dibangunkan," kata David sambil memegang bahu Bi Yuli.
"Den David tidak sarapan dulu?" tanya Bi Minah ketika David malah berjalan keluar.
"Tidak Bi aku makan di kampus saja hari ini sudah telat soalnya," sahut David dia berjalan bergegas keluar rumah.
Dengan siap Pak Bayu sudah berada di dalam mobil siap untuk mengantarkan David pergi ke kampus.
Tidak lupa David membawa kotak biru yang akan dia berikan kepada Dinda hari ini ketika mobil melewati rumah Dinda rumah itu nampak sepi dan pastinya cewek itu sudah berangkat sejak tadi.
Sesampainya di depan gerbang kampus David langsung turun dari mobilnya.
"Hati-hati di jalan ya Pak," ujar David kepada supir pribadinya itu.
Pak Bayu hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum, ketika mobil sudah kembali jalan David pun pergi masuk ke kampusnya.
Selama perjalanan menuju kelasnya David membaca kertas yang harus dia pelajari untuk rapat nanti bersama dengan rekan-rekan kerja kantornya.
"Sepertinya gue emang harus melakukan promosi besar-besaran deh agar produk yang dijual bisa kenal banyak orang dan kayanya di seminar nanti seseorang harus melakukan percobaan produk agar semua penonton bisa tahu cara pemakaiannya," gumam David ketika melihat bahwa ada sebagian orang yang tidak tahu cara pemakaiannya.
"David!!" teriak Gio membuat nama yang dipanggil menoleh.
"Eh Gio ada apa bro?" ujar David ketika Gio sudah berada di dekatnya.
Sudah lama David tidak pernah mengobrol dengan Gio teman satu fakultasnya ini yang biasanya sering melakukan presentasi bareng.
"Gimana kabar lo bro?" tanya Gio sembari menepuk bahu David.
"Alhamdulillah baik Gi, lo sendiri bagaimana, udah lama gue gak ketemu sama lo," kata David dia menutup berkas yang dipegangnya barusan.
"I am fine Dav, sekarang lo super sibuk ya soalnya gue denger dari teman-teman lo kalau sekarang lo kerja di kantor Bokap lo sendiri," ujar Gio kemarin dia bertemu dengan Hamdan dan Alex sedang duduk berdua di pinggir jalan dan mereka mengobrol sebentar.
David terkekeh mengetahui bahwa ke dua temannya dekatnya itu berbicara seperti itu kepada Gio, "Iya nih Bokap gue lagi sakit jadi terpaksa gue yang harus terjun."
"Ya wajar sih lo kan anak laki-laki sendirian di keluarga lo tapi selamat ya itu artinya lo bakal jadi pewaris kekayaan Bokap lo sendiri dan pastinya tanggung jawab lo bertambah besar saja di masa depan."
Apa yang dikatakan Gio memang ada benarnya juga bagaimana pun dia adalah pewaris yang sah yang akan melanjutkan bisnis orangtuanya dan itu akan menjadi tanggungjawab yang besar dalam hidupnya. Siap tidak siap dia harus siap buat menjalankannya.
Mereka berdua pun mengobrol sepanjang perjalanan menuju kelasnya, David tidak sungkan-sungkan dalam berbagi pengalamannya ketika pulang ke Eropa yang mana tidak hanya Gio yang ingin mendengarkannya tetapi ke dua temannya pun meminta dirinya untuk bercerita tentang perjalanan pulangnya.
Pelajaran pun dimulai sang Dosen masuk ke dalam kelas dengan langsung memberikan materi serta mengerjakan soal sebanyak 50 soal beserta esainya.
Bagi David pelajaran bahasa inggris sudah diluar kepala namun tetap saja dia suka merasa pusing sendiri jika dihadapkan dengan soal-soal.
"Jika sudah selesai harap kumpulkan di ruangan saya kamu David Miss tugaskan untuk membawa buku teman-teman kamu ke ruangan saya!" pinta Miss Anggi kepada David.
"Baik Miss," sahut David dia kaget saat tiba-tiba namanya disebutkan oleh sang Dosen.
"Jika tugas tidak dikumpulkan hari ini saya akan beri kalian tugas tambahan hingga kalian menyelesaikannya, apa kalian mengerti!" ujar Miss Anggi lagi dengan suaranya yang cempreng.
"Mengerti Miss," sahut semua mahasiswa dan mahasiswi serempak.
Dengan segera mereka pun kembali mengerjakan tugasnya.
"Yahh salah lagi," gerutu Rita dengan wajahnya yang memelas dia pun merobek kembali kertas jawabannya.
Mengenai Miss Anggi Dosen satu ini tidak suka jika ada bekas coretan di kertas jawaban karena itu jika sudah salah maka mereka akan menyalin kembali jawabannya.
"Sabar Rit," seru Amel yang berada di samping Rita dia sendiri merasakan apa yang Rita rasakan karena dia mengalami.
Saat bel istirahat berbunyi David pun segera keluar dari ruangan dia berniat akan ke kamar mandi.
"Eh gays kumpulkan di meja Dosen saja ya gue mau ke toilet dulu," kata David kepada teman-temannya yang langsung disahuti oleh semuanya.
Ketika di perjalanan kamar mandi David bertemu dengan Alex yang sedang makan.
"Woy mau ke mana lo?" tanya Alex saat pandangannya bertemu dengan David.
"Toilet sebentar." David berlalu masuk ke dalam toilet.
Hari ini David hanya ada dua mata pelajaran saja namun dia juga ada acara rohis membuatnya punya kesempatan untuk bertemu dengan Dinda di saat acara nanti.
"Lex, Hamdan ke mana? kok tumben lo sendirian," tanya David setelah kembali dari ruangan Miss Anggi dia berjanji untuk kembali ke kantin.
"Eh Naj!" seru David ketika melihat Najma yang sedang berjalan di kantin.
Najma pun menoleh mencari sumber suara, Alex yang sedang berbicara dengan David terdiam sebab cowok itu malah pergi.
"Dinda mana Naj?" tanya David ketika sudah berada di depan Najma.
"Lagi di base camp nih aku mau beli minuman buat dia," sahut Najma dengan tersenyum.
Kemudian Najma bercerita tentang Dinda yang rindu dengan David sampai cerita kejadian semalam.
Mendengar bahwa Dinda menangis karena ulahnya membuat David merasa bersalah karena tidak memberitahu akan apa yang terjadi sehingga kesalah pahaman ini bisa terjadi dan bagaimana pun dia harus menjelaskannya kepada Dinda.
"Ya sudah nih tolong kasih ke Dinda ya terus bilangin buka Wa juga gue ngirim pesan di sana dan jangan lupa dibalas gitu." David memberikan kotak biru yang memang sengaja dia bawa untuk diberikan kepada Dinda.
Najma tersenyum mendengar permintaan David, sesering itukah Dinda mengabaikan pesan David? batinnya bertanya.