Cinta Menyatukan Iman

Komitmen

"Ya sudah aku mau beli air dulu ya!" Najma berpamitan untuk pergi setelah melihat jika tidak ada yang ingin David sampaikan.

 

"Heem makasih ya Naj," seru David sambil mengangkat tangannya.

 

"Oh ya jangan lupa kasih kepastian kasihan Dinda!" ujar Najma seraya berjalan pergi meninggalkan David yang masih diam terpaku mendengar ucapan Najma.

 

Alex pun menghampiri David yang terbengong, "Woy kenapa?" tegurnya.

 

"Dinda nangis Lex gara-gara gue," sahut David dengan meringis.

 

Jawaban David membuat Alex kaget bukan main pasalnya Dinda adalah cewek populer di kampus ini dengan prestasinya kini dia malah mendengar dia nangis gara-gara cowok dan itu adalah David.

 

"Serius lo Dav, parah banget sih udah buat seorang Dinda nangis," kata Alex dengan menggelengkan kepalanya.

 

"Ya mana gue tahu Lex kalau dia bisa nangis gara-gara gue tapi gue juga merasa bersalah sih ini pasti sebab gue gak ngasih dia kabar selama pulang dari Eropa."

 

"Dinda ngira lo ngilang gitu aja kali apalagi di saat lo sama dia sudah sama-sama saling terbuka, ya udah jelasin gih sana!" saran Alex kepada temannya ini dia takut berita ini akan panjang dan itu akan bahaya untuk David.

 

David terdiam sebentar sebelum melakukan tindakan selanjutnya. "Ya udah jelasin lewat chat tadi tapi mungkin gue harus ngomong lagi kali ya sama dia."

 

"Iya Dav mending ngomong langsung lebih enak masalah biar cepet selesai udah semester 5 sebentar lagi UTS takut keganggu kalau banyak masalah." Alex mengingatkan akan UTS yang akan segera datang.

 

"Baiklah baiklah gue ngerti Lex ya sudah gue duluan ya sampaikan salam gue buat Hamdan," kata David sebelum pergi padahal dia ingin bertemu dengan Hamdan hari ini tapi cowok itu tidak ada.

 

David pun berjalan ke kelasnya tinggal satu pelajaran lagi hari ini, di jalan David mencoba mengecek ponselnya apakah sudah ada balasan dari Dinda atau belum?

 

"Belum dibaca lagi," pekik David ketika melihat masih centang dua abu-abu di sana.

 

Akhirnya David menaruh kembali ponselnya ke dalam saku baju.

 

Kali ini ada Najma yang ikut kelasnya tidak sengaja bola mata David melihat Najma yang berada bangku depan pojok.

 

Selama pelajaran dimulai David berusaha untuk pokus dan berkonsentrasi memahami apa yang telah dijelaskan Dosennya.

 

"Baiklah kita akhiri pertemuan kita pada hari ini untuk tugasnya jangan lupa dikerjakan jangan sampai lebih dari deadline yang sudah saya tentukan," seru Dosen itu sebelum meninggalkan kelasnya.

 

Seperti biasa hampir setiap hari selalu ada tugas tambahan yang Dosen berikan entah itu berupa presentasi atau mengerjakan tugas pada buku paket.

 

"Dav, hadiah kamu sudah aku berikan kepada Dinda namun sepertinya dia belum bisa main ponselnya karena baterainya lowbet," ujar Najma sembari membetulkan tasnya.

 

"Iya tidak apa-apa Naj yang penting lo udah ngasih kotak itu ke dia thanks ya!" sahut David dengan tersenyum, "Sorry sudah banyak merepotkan lo."

 

"Santai aja kali ya sudah aku pulang duluan ya!" Najma pun berlalu pergi untuk menyusul Dinda di perpustakaan agar bisa pulang bersama.

 

Sedangkan David dia harus segera ke kantor tugasnya sudah menanti untuk segera diselesaikan.

 

"David!!" panggil Alex sambil melambaikan tangannya.

 

David pun menoleh dan mendapati ke dua temannya yang berada dibelakangnya.

 

Alex dan Hamdan berjalan menghampiri David dengan berlari kecil.

 

"Eh kalian belum pulang?" tanya David dengan ke dua alis yang terangkat ke atas.

 

"Ini kita mau pulang, oh ya Dav nanti malam lo bisa ikut pengajian enggak dimasjid soalnya ada acara syukuran di sana nanti malam," ujar Hamdan berharap David bisa hadir di masjid.

 

"Oh nanti malam ya?" seru David seakan-akan menerka-nerka kegiatan apa yang akan dilakukan nantinya.

 

"Iya lo sibuk enggak nanti malam?" tanya Alex kembali dengan mengerutkan keningnya.

 

David pun melihat ponselnya dan mencoba menerka-nerka apakah nanti dia kerja akan sampai malam atau tidak soalnya ada 20 berkas lagi yang harus dia periksa.

 

"Insya Allah gue akan menyempatkan untuk hadir," sahut David dengan tersenyum.

 

Insya Allah adalah jawaban yang tepat untuk saat ini, karena dia tidak bisa mengira akan waktunya.

 

Di dalam mobil David menyandarkan punggungnya rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya membuat dia memejamkan matanya perlahan agar stamina tubuhnya kembali, Pak Bayu menoleh pada kaca depan melihat bos mudanya sedang terpejam.

 

"Mungkin bos muda lelah habis belajar biarkan saja deh dia tertidur di mobil lagi pula perjalanannya masih lama," kata Pak Bayu awalnya dia ingin mengajak David mengobrol tapi melihat cowok itu tidur dia jadi bungkam.

 

Mobil sport milik David sudah membelah kota Jakarta gedung-gedung pencakar langit selalu tampak bersinar pugu monas terlihat sedikit dari jalanan atas.

 

Mobil terus berjalan hingga memasuki gang menuju Helac official, kebetulan juga David terbangun lalu cowok itu menoleh pada jalanan.

 

"Sebentar lagi sampai ya Pak?" tanya David kepada Pak Bayu sambil mengucek-ngucek matanya.

 

Pak Bayu kaget mendengar suara David refleks dia langsung menganggukan kepalanya, "Iya Den tuh perusahaannya sudah di depan," sahutnya sambil menunjukan dengan jari telunjuknya.

 

Sedangkan sesampainya Dinda di rumah dia langsung membuka ponselnya yang sudah dia cas.

 

"Astagfirullah kok hati aku jadi deg-degan gini ya?" ujar Dinda pas udah buka whatsapp nunggu loading.

 

"Assalamualaikum Din, kaifa haluki? Eh benar kan ya gitu bahasa arabnya maklum baru belajar, gimana kabarnya Din? Jujur gue rindu banget sama lo maaf gak pernah ngasih kabar soalnya gue masih takut buat dekatin lo untuk saat ini gue lagi sibuk di kantor Bokap beliau jatuh sakit di Eropa jadi terpaksa gue harus balik ke Jakarta di saat Bokap gue sakit untuk mengurus tugas di kantor, Din, gue harap lo bisa percaya sama gue dan mengerti keadaan gue sekarang gue mau kita berkomitmen Din lo bisa kan? Gue akan jaga lo dari perbuatan yang mendekati zina karena gue juga gak mau dengan hadirnya perasaan ini gue jadi membawa lo kepada perbuatan yang dibenci atau dilarang sama Allah, please maafin gue yang udah buat air mata lo menetes dan buat lo sedih karena ulah gue."

 

Membaca pesan dari David membuat Dinda hanya bisa beristigfar mengingat kepada Allah atas kesalahannya atas hawa nafsu yang kerap kali menguasai pikirannya.

 

Beruntung dia dicintai oleh David yang seorang muallaf tapi cowok itu masih punya rasa takut untuk mendekati dirinya.

 

"Waalaikumsalam alhamdulillah inni bil khoiri, kamu sendiri bagaimana kabarnya? Gak usah minta maaf Dav seharusnya aku yang minta maaf sama kamu sepertinya Najma bercerita sama kamu tentang aku ya? Sampai kamu tahu kalau aku telah menangis buat kumalu saja, aku juga baru dengar kemarin dari Najma tentang Om Nathan yang jatuh sakit dan kamu yang harus menggantikan posisinya di sana, terima kasih telah menjagaku dari perbuatan zina jujur saja sikapmu yang seperti yang membuatku percaya Dav, kau pasti tahu jika aku bukan wanita yang ingin berpacaran karena itulah kamu menjauh dariku dan baiklah aku bersedia berkomitmen dengan kamu Dav asalkan kamu memberiku kepastian apa maksud dan tujuan kamu ingin mendekatiku? Tolong jawab Dav karena aku butuh tahu soal itu!"

 

Dinda sedikit ragu untuk mengirim pesan itu kepada David tapi dia juga ingin membalas pesan panjang dari cowok itu yang sebagai penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan hatinya kini.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!